
Erlan mengawali hari pagi ini dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Rasa bahagia selalu Erlan rasakan setiap detiknya sejak menikah dengan Lena.
“Pagi tuan..” Sapa seorang karyawan yang pagi itu berpapasan dengan Erlan.
“Ya.. Selamat pagi.” Balas Erlan tersenyum manis dengan di sertai anggukan pelan kepalanya. Erlan kemudian masuk ke dalam lift setelah membalas sapaan dari karyawan nya.
Sedangkan di kediaman mewahnya, tepatnya di dalam kamar, Lena baru saja hendak meraih ponselnya saat pintu kamarnya di ketuk dari luar. Lena mengeryit menatap pintu kamarnya dan Erlan kemudian melangkah pelan untuk membuka pintu tersebut.
“Mbok.. Ada apa?” Tanya Lena saat mendapati si mbok yang berdiri di depan pintu kamarnya dan Erlan.
“Maaf mengganggu nyonya. Ini ada undangan untuk tuan.” Si mbok menyodorkan sebuah undangan pada Lena yang meskipun bingung namun tetap menerimanya.
“Undangan dari siapa mbok?” Tanya Lena penasaran.
“Saya tidak tau nyonya. Kalau begitu saya permisi nyonya.”
“Ah iya mbok, makasih ya mbok..” Angguk Lena tersenyum pada si mbok yang kemudian berlalu setelah pamit pada Lena.
Lena menatap undangan yang ada di tangan nya. Undangan berwarna pink itu terlihat sangat privat. Tidak ada pemberitahuan di sampul luar undangan tersebut.
“Aneh banget undangan nya.” Gumam Lena sambil menutup pintu kamarnya lagi.
Lena melangkah kan kedua kakinya pelan menuju ranjang sembari terus membolak balikkan undangan yang di pegangnya. Lena sebenarnya tidak ingin membuka undangan tersebut tanpa sepengetahuan suaminya, namun karena sampul undangan itu yang sepertinya sangat di privat, Rasa penasaran ingin tau itu pun semakin besar.
“Aku buka nggak papa kali yah.. Erlan pasti nggak akan marah.” Gumam Lena tampak berpikir.
Setelah beberapa saat menimang nimang akhirnya Lena pun memutuskan membuka undangan yang di tujukan untuk suaminya.
“Apa apaan ini?” Lena mendelik tidak percaya begitu tau isi dari undangan tersebut. Undanga itu bukan undangan resmi melainkan undangan yang hanya di tujukan per individu. Dan undangan itu adalah undangan agar Erlan menghadiri acara reuni teman teman sekolahnya dulu.
__ADS_1
“Peraturan macam apa ini? Nggak boleh bawa pasangan dan harus datang sendiri?” Lena menggelengkan kepalanya merasa sangat aneh dengan isi dari undangan reuni tersebut. Padahal yang Lena tau biasanya, acara sepertk itu justru di wajibkan membawa pasangan agar bisa saling di kenalkan.
“Nggak jelas banget peraturan nya.” Dumel Lena merasa tidak terima.
Lena menyipitkan kedua matanya curiga begitu membaca siapa si penyelenggara acara tersebut.
“Oh.. Pantes aja nggak boleh bawa pasangan. Ternyata Chilla yang membuat acara ini.. Dasar perempuan nggak jelas. Udah tau Erlan sudah menikah dan punya istri dan itu aku. Tapi dia masih saja mencari cari cara. Awas aja, aku nggak akan biarin siapapun berusaha masuk ke dalam celah rumah tangga aku dengan Erlan.” Hela napas Lena merasa kesal.
Lena kemudian meraih ponselnya yang ada diatas nakas. Dia memotret isi dari undangan tersebut kemudian mengirimnya pada Erlan. Lena ingin tau bagaimana tanggapan suaminya setelah membaca undangan reuni dari Chilla dengan aturan yang menurut Lena sendiri sangat aneh itu.
Lena berdecak karena Erlan tidak langsung membuka pesan yang dia kirim. Hampir saja Lena terbawa emosi jika saja tidak menyadari bahwa mungkin suaminya sudah mulai di sibukkan dengan pekerjaan yang menumpuk di perusahaan.
“Oke tenang Lena.. Jangan terpancing emosi. Kamu harus percaya pada suami kamu. Erlan bukan pria yang mudah di goda.” Gumam Lena sembari menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya perlahan.
Lena berusaha untuk berpikir positif. Lena juga tidak mau terpancing oleh emosi hanya karena undangan yang belum tentu akan di hadiri oleh suaminya itu.
Saat sampai dirumah, Lena adalah orang yang pertama kali ingin Erlan temui. Pria itu mencari Lena ke seluruh sudut rumah mulai dari kamarnya dan Lena sampai ke taman belakang rumah. Namun Erlan masih juga tidak menemukan istri tercintanya itu. Merasa lelah mencari, Erlan pun akhirnya bertanya pada salah satu pelayan yang sedang mengelap elap. Dan si pelayan tersebut memberitahu Erlan bahwa Lena sedang berada di dapur bersama si mbok untuk menyiapkan makan siang.
“Ya ampun.. Kenapa aku nggak kepikiran mencari Lena ke dapur.” Gumam Erlan merasa bodoh sendiri.
Pelayan yang mendengar gumaman Erlan diam diam tersenyum. Baru kali ini Erlan bergumam dan menganggap dirinya sendiri bodoh. Dan itu karena seorang perempuan yaitu Lena.
Setelah itu, Erlan pun melangkah cepat menuju dapur. Erlan tidak sabar ingin bertemu dengan istri tercintanya sekaligus untuk membahas tentang undangan reuni yang baru datang pagi hari ini.
“Mbok, saya boleh nanya sesuatu nggak sama mbok?”
Pertanyaan Lena pada si mbok membuat langkah Erlan yang baru memasuki dapur langsung berhenti. Pria itu mengeryit dan memutuskan untuk tetap di tempatnya sampai Lena selesai mengutarakan pertanyaan dan mendapat jawaban dari si mbok sesuai dengan yang ingin Lena tau.
“Tentu saja boleh nyonya. Silahkan nyonya bertanya. Saya akan menjawabnya jika saya tau.” Jawab si mbok sambil mengaduk sup yang ada di dalam panci di atas kompor menyala.
__ADS_1
Lena menghela napas lebih dulu. Dia masih merasa kesal karena undangan yang dia terima pagi ini.
“Mbok sudah berapa lama kerja disini?” Tanya Lena.
Erlan mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir istrinya. Entah kenapa Erlan merasa pertanyaan itu pasti akan berhubungan dengan nya.
“Saya sudah lama bekerja disini nyonya. Tepatnya sejak tuan muda kecil.” Jawab si mbok.
Lena segera mematikan kompor karena memang dirinya sudah selesai menggoreng ayam.
“Oh ya? Lama banget dong berarti ya mbok.. Terus sejak mbok kerja disini pernah tidak Erlan membawa teman perempuan nya kesini yang namanya Chilla?”
Erlan tidak bisa menahan senyuman di bibirnya sekarang. Lena sedang mencari tahu tentang dirinya dan Chilla lewat si mbok. Itu sebuah kecurigaan yang manis menurut Erlan. Karena dengan begitu artinya Lena sangat mencintainya dan Lena takut kehilangan nya.
“Seingat saya tidak pernah nyonya. Hanya nyonya satu satunya perempuan yang dibawa pulang oleh tuan muda. Yang datang kesini dan mencoba mendekati tuan memang banyak, tapi tuan tidak pernah merespon nyonya. Itu yang saya tau selama saya bekerja disini pada tuan dan keluarganya.” Jawab si mbok dengan jujur.
“Begitu ya mbok.. Berarti mbok tidak tau dong teman perempuan Erlan yang namanya Chilla?”
“Saya memang kurang tau nama nama teman perempuan tuan yang pernah datang kesini nyonya. Tetapi yang saya tau memang nyonya lah perempuan pertama yang tuan bawa pulang ke rumah ini.”
Lena mengangguk anggukkan kepalanya. Wanita itu merasa bodoh sendiri karena menanyakan tentang Erlan pada si mbok.
“Ya sudah kalau begitu. Maaf ya mbok kalau saya banyak nanya.” Senyum Lena menatap pada si mbok sebentar.
“Nggak papa nyonya. Nyonya bisa menanyakan yang lain kalau memang nyonya ingin tau apa yang nyonya belum tau.” Ujar si mbok.
“Iya mbok.. Makasih ya mbok.”
Erlan yang merasa sudah cukup mendengarkan pun memilih berlalu sebelum Lena menyadari kehadiran nya. Erlan akan menunggu di meja makan saja karena Lena dan si mbok pasti akan menghidangkan hasil masakan nya disana sebentar lagi.
__ADS_1