
Hari hari selanjutnya Lena dan Erlan pun banjir hadiah dari para rekan bisnis Erlan. Mereka mengirim hadiah khusus untuk Lena karena tau akan kabar baik kehamilan Lena. Hal itu membuat Lena benar benar sangat tidak menyangka. Hadiah hadiah yang di kirim oleh para rekan bisnis Erlan bahkan sampai memenuhi beberapa ruangan di rumah mewah berlantai dua itu.
“Aku benar benar bingung harus membuka yang mana dulu dari hadiah hadiah ini.” Ujar Lena sambil menggelengkan kepalanya menatap banyaknya bingkisan yang memenuhi ruang keluarga. Bahkan bingkisan itu juga sampai ada yang di taruh di ruang tamu dan ruangan lain nya saking banyaknya.
Erlan hanya tertawa saja. Karena Erlan sendiri juga tidak menduga semua rekan bisnisnya akan memberikan berbagai hadiah pada dirinya dan Lena. Bahkan dari hadiah hadiah itu satupun belum ada yang mereka berdua buka. Hadiah hadiah itu di kumpulkan dan di taruh saja di ruangan ruangan yang menurut mereka luas dan cukup untuk menampung tumpukan bingkisan tersebut.
“Memangnya mau kita kemanakan semua ini? Dan juga, aku tidak berani membayangkan akan secapek apa kalau kita berdua membuka semua hadiah hadiah ini.” Tambah Lena dengan helaan napas berat.
Erlan menghela napas pelan kemudian merangkul lembut bahu istrinya itu.
“Kita bisa minta tolong mbok dan mbak yang lain sayang. Kalau memang dari hadiah hadiah itu ada yang mereka butuhkan kita juga bisa menyuruh mereka mengambilnya. Bagaimana? Toh tidak mungkin juga kalau kita mengambil semuanya kan?”
Lena menoleh menatap Erlan. Seulas senyum kemudian terukir di bibirnya. Lena setuju dengan apa yang Erlan katakan. Lagi pula tidak mungkin juga semua hadiah itu akan dia ambil.
“Memangnya nggak papa kalau kita kasih lagi ke orang lain pemberian semua teman teman kamu ini?” Tanya Lena.
“Ya nggak papa lah sayang. Kan dari pada nggak di bagiin terus di biarin begini saja juga kan sayang banget.” Jawab Erlan dengan bijak.
“Ya sudah kalau memang begitu. Tapi mungkin para bodyguard di luar juga akan membutuhkan nya. Entah untuk anak atau istri mereka. Bagaimana kalau kita buka sama sama dulu sama mbok dan mbak yang lain. Abis itu baru kita bagiin sama mereka?” Lena mengusulkan.
“Itu juga bagus sayang. Ya sudah kamu tunggu disini biar aku yang panggil mbok agar mengajak semua mbak membuka satu persatu bingkisan ini yah..” Senyum Erlan sambil mengusap lembut puncak kepala Lena.
“Oke...” Angguk Lena setuju saja.
__ADS_1
Saat Erlan berlalu menjauh darinya untuk memanggil si mbok, Lena pun mendudukkan dirinya di sofa. Dia menghela napas dan menggelengkan kepalanya menatap semua tumpukan bingkisan yang di kirim oleh rekan rekan bisnis suaminya. Dari itu semua Lena semakin yakin bahwa Erlan memang adalah sosok yang banyak di sukai orang lain. Bahkan hanya karena kabar kehamilan nya tersebar saja berbagai bingkisan itu langsung di kirim untuknya dan Erlan. Benar benar sesuatu yang sangat di luar dugaan Lena. Mempunyai suami yang banyak di segani oleh orang lain membuat Lena hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya saja.
Tidak lama kemudian Erlan pun kembali mendekat pada Lena. Namun si mbok dan mbak yang lain tidak langsung ikut dengan nya. Mereka masuk beriringan setelah Erlan duduk disamping Lena.
Satu demi satu hadiah hadiah itu di buka oleh si mbok dan para pelayan lain nya. Erlan dan Lena juga ikut andil membukanya. Mereka semua tertawa sembari mengobrol setelah melihat isi isi dari bingkisan tersebut. Erlan dan Lena sama sekali tidak membedakan statusnya sebagai majikan pada para pekerjanya. Mereka tertawa dan bercanda bersama seolah mereka adalah teman dan bukan majikan dengan pekerja.
Karena banyaknya hadiah tersebut, aktivitas membukanya pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Bahkan karena itu si mbok sampai tidak bisa memasak. Erlan yang tau bagaimana capeknya membuka semua bingkisan itu memilih untuk memesankan makanan dari luar untuk dirinya dan Lena juga semua pelayan. Namun sebelum memesan Erlan meminta agar si mbok menanyakan pada para pelayan yang lain menu makanan apa yang mereka ingin makan siang itu.
“Erlan..” Panggil Lena sambil melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar Erlan yang sedang fokus dengan ponsel nya untuk memesan makanan.
Tidak mau mengabaikan sedikitpun istrinya, Erlan pun memilih untuk mengesampingkan memesan makanan dari ponselnya itu. Erlan menoleh pada Lena yang memperlihatkan wajah memelas dan penuh harapnya.
“Kenapa sayangku?” Tanya Erlan sambil memberikan kecupan singkat di kening Lena.
Erlan tersenyum geli. Gemas sekali rasanya melihat Lena yang begitu manja padanya.
“Kita makan siang dulu ya sayang.. Tunggu sebentar saja. Abis itu kita istirahat.” Kata Erlan dengan lembut dan penuh perhatian.
Lena mencebikkan bibirnya mendengar itu. Rasa lelah dan kantuknya benar benar tidak bisa dia tahan kali ini. Namun selain itu juga Lena sedang menginginkan sesuatu dari suaminya.
“Aku mau ke kamar sekarang pokonya.” Lena tidak mau di bantah kali ini dengan sifat ke kanak kanakan nya. Wanita itu benar benar sedang sangat menginginkan yang tidak bisa dia tahan. Lena juga tidak ingin Erlan menolak ataupun memintanya untuk bersabar.
“Tapi sayang...”
__ADS_1
“Aku belum lapar.. Tadi aku sudah makan kue lapis legit sama buah yang di potongin sama mbok.” Sela Lena dengan sangat manja pada Erlan.
Erlan tersenyum lagi. Sikap manja dan menuntut dari Lena membuatnya merasa sangat gemas. Erlan juga menjadi tidak tega jika harus menolak apa yang sedang di inginkan oleh istrinya untuk istirahat siang bersama.
“Ya sudah kalau begitu. Tunggu satu menit saja sayang. Aku akan memesan makanan untuk kita dan yang lain. Kasihan mereka juga harus makan siang. Mereka juga pasti sangat lelah setelah membantu kita membuka semua hadiah hadiah ini kan?”
Lena menganggukkan kepalanya setuju. Lena sendiri tau para pelayan di rumah nya memang kelelahan setelah membuka semua hadiah di kirim oleh para rekan bisnis suaminya. Apa lagi setelah membuka semua hadiah itu juga para pelayan nya langsung menatanya dengan rapi di sudut ruangan yang bahkan masih tetap memakan tempat.
Lena diam saja sembari menyenderkan kepalanya di bahu Erlan. Dia menunggu sampai Erlan selesai memesan dan membayar langsung makanan untuk mereka berdua dan para pelayan nya.
Setelah selesai memesan makanan tersebut, Erlan pun memasukan ponsel miliknya ke dalam saku celana pendek selutut yang di kenakan nya. Hari libur ini memang Erlan benar benar menghabiskan waktunya untuk menemani Lena di rumah.
“Ayo..” Ajak Erlan.
“Gendong..” Pinta Lena manja.
Erlan tertawa, pria itu kemudian langsung menuruti permintaan istri tercintanya. Dia menggendong Lena dan membawanya menuju lantai dua dimana kamar mereka berada. Sesampainya di dalam kamar, ternyata Lena bukan hanya meminta di temani istirahat saja. Tetapi wanita itu malah menggoda Erlan yang tentu saja langsung membangkitkan gairah pria itu.
“Sayang tapi kan kamu...”
Cup
Lena mengecup singkat bibir Erlan. Wanita itu mendorong pelan bahu Erlan sehingga Erlan berbaring diatas tempat tidur dan dirinya berada diatasnya.
__ADS_1
“Aku mau...” Untuk yang kesekian kalinya Lena kembali merengek. Erlan yang sebenarnya juga sudah tidak bisa menahan nya mengiyakan saja. Pria itu pun mengambil inisiatif menguasai Lena dengan penuh kelembutan dan cinta di hari Minggu siang itu.