
Lena benar benar tidak bisa menerima apa yang Alex katakan padanya. Hatinya terasa sangat sakit karena Alex sudah merendahkan martabatnya sebagai seorang wanita. Alex berbicara seolah Lena adalah wanita gampangan yang begitu saja tergiur dengan apa yang Erlan miliki.
“Nyonya, apa nyonya baik baik saja?” Tanya si mbok pada Lena yang sejak tadi diam di sampingnya.
Lena menoleh kemudian tersenyum tipis. Kini rasa benci itu muncul kembali ke permukaan. Rasa benci yang sempat menghilang karena Lena yang berpikir untuk mengikhlaskan segala apa yang telah dia alami.
“Ya.. Saya baik baik saja.” Jawab Lena.
Lena tidak akan mengatakan apapun pada Erlan tentang apa yang Alex katakan padanya karena Lena enggan mempunyai masalah dengan masa lalunya. Tapi Lena bersumpah tidak akan mau lagi mengenal sosok brengsek Alex apapun alasannya.
“Syukurlah kalau begitu nyonya.”
Si mbok dan dua pelayan itu sebenarnya mendengar apa yang Alex katakan pada Lena, namun mereka pura pura tidak mendengar saja. Mereka tidak mau ikut campur urusan Lena dengan Alex karena mereka juga tau bahwa Lena dan Alex dulu pernah memiliki hubungan. Tidak heran jika Alex marah karena Lena menikah dengan Erlan.
Tidak lama mobil yang membawa Lena dan tiga pelayannya pun sampai. Dan saat Lena turun dari mobil, disana sudah ada mobil mewah Erlan yang artinya Erlan sudah berada di rumah sekarang.
Lena menghela napas. Pria itu pasti pulang untuk menemaninya makan siang. Lena kemudian melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah untuk menemui Erlan.
“Hey.. Darimana?” Erlan pura pura tidak tau darimana Lena meskipun sebenarnya dia sudah di beritahu oleh body guard yang mengantar Lena dan tiga pelayannya itu.
Lena melangkah mendekat pada Erlan lalu duduk tepat di samping pria itu di sofa panjang yang ada di ruang tengah.
“Aku baru saja ikut dengan mbok dan mbak yang lain ke super market. Maaf tidak minta izin lebih dulu. Aku bosan di rumah tidak melakukan apa apa.”
Erlan mengeryit. Pria itu merasa aneh dengan ekspresi Lena yang seperti sedang tidak dalam keadaan hati yang baik. Padahal seharusnya Lena tersenyum senang karena baru saja keluar dari rumah untuk mengusir rasa jenuhnya.
__ADS_1
“Aku ke kamar dulu.” Pamit Lena yang langsung bangkit dari duduknya tanpa lebih dulu mendengar sahutan dari Erlan.
Erlan semakin merasa penasaran. Lena tidak mengatakan apapun padanya tapi ekspresinya seperti sedang tidak bahagia.
“Apa sesuatu terjadi?” Batin Erlan bertanya tanya sendiri.
Sesaat Erlan terdiam dengan ekspresi berpikir. Pria itu lalu bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari rumah untuk menemui si mbok yang masih sedang mengeluarkan apa yang baru saja di belinya.
Erlan langsung menanyakan perihal tentang Lena yang tentu saja di jawab dengan jujur oleh si mbok. Si mbok juga mengatakan apa yang di dengarnya dari mulut Alex pada Erlan.
Mendengar itu emosi Erlan langsung memuncak. Mendengar Lena di rendahkan seperti itu membuat Erlan tidak terima. Lena adalah tanggung jawabnya. Dan apa yang membuat Lena merasa tidak nyaman juga akan membuat Erlan tidak nyaman. Apa lagi Alex sudah berani menghina Lena yang berarti Alex juga menghina Erlan.
“Brengsek !!” Gumam Erlan dengan kedua tangan mengepal erat.
Erlan memutar tubuhnya dengan cepat kemudian kembali melangkah masuk ke dalam rumah dengan rasa kesal yang menguasai hati juga pikirannya. Erlan tidak terima dengan apa yang Alex katakan pada Lena.
Begitu sampai di depan pintu kamarnya, Erlan menarik napas panjang kemudian menghelanya perlahan. Pria itu meraih handle pintu dan memutarnya pelan membuka pintu kamarnya dengan Lena.
Begitu pintu dia buka, Erlan tidak menemukan Lena di kamarnya. Pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan dan mendapati pintu balkon yang terbuka lebar. Erlan yakin Lena berada di balkon sekarang.
Benar saja, Lena sedang berdiri di balkon dengan kedua tangan berpegangan pada pagar tralis.
“Sayang...” Erlan memeluk mesra Lena dari belakang. Pria itu juga mencium tengkuk Lena yang ter ekspos karena Lena menguncir tinggi rambut panjangnya.
Lena memejamkan kedua matanya merasakan bibir panas Erlan menyentuk kulit tengkuknya. Seketika itu juga lamunannya buyar. Amarahnya pada Alex sirna seketika karena pelukan mesra dan sentuhan hangat bibir Erlan di tengkuknya.
__ADS_1
“Apa ada sesuatu yang mengganggumu sayang?” Tanya Erlan ingin tau apakah Lena akan berkata jujur padanya atau memilih menyembunyikan darinya.
“Ya.. Tapi itu tidak terlalu penting.” Jawab Lena pelan.
“Oh ya? Memangnya tentang apa?” Erlan kembali bertanya berharap Lena akan berkata apa yang sebenarnya padanya.
Lena terdiam dan menghela napas pelan. Lena tidak ingin lagi ada masalah dengan Alex. Lena sudah cukup puas dengan melayangkan tinjunya pada sudut bibir Alex. Dan Lena pikir apa yang Alex katakan tidak perlu dia adukan pada Erlan.
“Hanya ada sedikit kesalah pahaman tadi dengan Alex. Tapi tidak apa apa.” Senyum Lena yang kemudian memutar tubuhnya menghadap pada Erlan.
Erlan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pria itu berusaha mengerti. Lena pasti punya alasan kenapa memilih tidak menceritakan padanya. Dan Erlan percaya Lena tidak punya maksud terselubung dengan hubungan mereka. Namun meski begitu bukan berarti Erlan akan diam saja. Alex sudah merendahkan Lena yang artinya juga sudah merendahkannya. Erlan akan membuat perhitungan pada Alex dengan cara yang sama. Yaitu merendahkan harga diri pria itu.
“Bagaimana kalau kita makan diluar siang ini?” Tanya Erlan kemudian.
Lena mengeryit dan tampak berpikir. Waktu makan siang memang sudah hampir tiba dan si mbok selaku juru masak di rumah itu baru saja pulang dari berbelanja. Pasti akan sangat melelahkan jika si mbok juga harus langsung memasak untuknya dan Erlan.
“Eemm.. Boleh.” Angguk Lena kemudian.
“Ya sudah ayo..” Ajak Erlan meraih tangan Lena menggenggamnya dan sedikit menariknya untuk mengajak istrinya berlalu dari balkon kamar mereka.
“Eh tapi aku harus ganti baju dulu Erlan.” Ujar Lena yang membuat Erlan kembali menatapnya. Pria tampan dengan setelan jas hitam itu menatap penampilan Lena dari atas sampai bawah. Dress simpel tanpa lengan warna peach yang begitu pas melekat di tubuh ramping Lena juga begitu kontras dengan warna kulit putih bersih Lena.
“Kamu sudah cantik dengan penampilan seperti ini sayang. Kamu juga masih wangi. Tidak perlu ganti baju lagi. Ayo..” Erlan menarik lembut tangan Lena mengajaknya berlalu dari balkon masuk kembali ke dalam kamar lalu keluar dari sana.
Lena yang mendapat pujian secara tidak langsung dari Erlan tersipu diam diam. Erlan benar benar tidak pernah menuntut apapun darinya. Pria itu juga tidak pernah menyuruh Lena untuk berdandan jika hendak mengajak Lena keluar rumah. Itu membuat Lena merasa di terima apa adanya oleh Erlan.
__ADS_1
Sebelum pergi, Erlan lebih dulu memanggil si mbok guna mengatakan agar wanita tua itu tidak perlu menyiapkan makan siang karena Erlan dan Lena berencana mencari makan di luar.