
Alex menatap wajah Melisa yang menyiratkan ketakutan. Alex tidak pernah tau seperti apa Melisa memandangnya sehingga wanita itu tampak sangat ketakutan begitu tau kehadiran nya. Bahkan sepertinya Melisa juga sudah menyiapkan ancang ancang untuk lari darinya.
Alex berdecak pelan. Sejak kehadiran Alvin, Melisa memang menjauh darinya. Bahkan Melisa bersikap seolah tidak pernah mengenalnya. Melisa juga bersikap seolah tidak pernah terjadi apa apa di antara mereka berdua. Padahal sebenarnya hubungan mereka lebih intim dari hubungan Melisa dan Alvin sekarang.
“Kamu tidak bisa bersikap seperti ini padaku Melisa. Kamu bersikap seolah kita tidak pernah saling mengenal. Kamu menjauh dariku sejak kehadiran laki laki itu.”
Melisa tersenyum sinis mendengarnya. Alex berkata seolah dulu mereka mempunyai hubungan yang baik. Padahal pada kenyataannya, Melisa selalu tertekan dan tertindas karena sikap arogan nya.
“Alvin itu calon suamiku tuan Alexander. Alvin laki laki yang baik dan tulus. Alvin tidak arogan seperti anda.” Tekan Melisa yang merasa sangat muak dengan sikap Alex saat ini.
Rahang Alex mengeras mendengar itu. Alex tidak suka di banding bandingkan dengan Alvin. Karena menurut Alex dirinya tentu lebih segalanya dari Alvin.
“Oh ya? Memangnya apa hebatnya dia hem? Apa dia lebih kuat dari aku?” Alex tersenyum meremehkan pada Melisa. Pria itu sengaja menutupi kekesalannya dengan berusaha bersikap santai dan melontarkan pertanyaan penuh hinaan pada Melisa.
Kedua tangan Melisa mengepal erat mendengar apa yang Alex pertanyakan. Pertanyaan itu jelas sedang sangat merendahkan harkat dan martabatnya sebagai seorang wanita. Walaupun memang pada kenyataannya semua itu sudah di renggut dengan paksa oleh Alex dulu.
“Memangnya sekuat apa sih Alvin itu? Seberapa lama dia bertahan di atas tubuh kamu hem?” Alex tersenyum meremehkan pada Melisa.
Tidak mampu lagi menahan emosi dalam dirinya, Melisa pun melayangkan tamparan kerasnya pada pipi kanan Alex. Dan tamparan keras itu membuat Alex sampai menoleh ke samping kanan. Rasa panas, perih juga ngilu Alex rasakan setelah tamparan keras dari Melisa dia terima.
Alex menelan ludah. Tamparan itu langsung membuat nya sadar. Ucapannya sudah sangat keterlaluan pada Melisa.
“Jaga mulut anda tuan. Saya tidak sehina itu. Dan Alvin, dia bukan laki-laki seperti anda. Dia menjaga dan menghargai saya dengan baik. Dia tidak bejat dan kejam seperti anda.” Ujar Melisa dengan emosi meluap luap. Kedua mata Melisa juga berair akibat dari rasa sakit di hatinya karena hinaan dari Alex.
Alex terdiam. Pria itu benar benar tidak tau kenapa ucapan kotor selalu saja terlontar dari bibirnya begitu berhadapan dengan Melisa. Padahal niatnya bukan seperti itu. Alex berniat menemui Melisa karena ingin melihat dan tau bagaimana kabar wanita yang ternyata sukses mencuri hatinya.
__ADS_1
Pelan pelan Alex kembali menoleh menatap pada Melisa yang menatap nya dengan penuh rasa sakit dan amarah yang menjadi satu. Dari tatapan itu Alex tau Melisa sangat membencinya.
“Jangan anda berpikir anda lebih baik dari pacar saya tuan. Karena seujung kuku pun di mata saya anda sama sekali tidak mempunyai kebaikan dan hati nurani.” Melisa kembali meluapkan amarahnya pada Alex yang hanya diam saja. Perasaan sakit nya benar benar tidak tertahankan sehingga membuat rasa takut yang sempat hinggap di hatinya sirna begitu saja berubah menjadi rasa benci yang menguatkan keberanian dalam dirinya. Sehingga tanpa sedikitpun rasa sesal dan ragu, Melisa melayangkan tamparan ke wajah tampan Alex.
“Sumpah demi Tuhan saya sangat membenci anda tuan. Bahkan rasanya saya ingin membunuh anda dengan kedua tangan saya sendiri.” Lanjut Melisa dengan penuh nada penekanan.
Alex benar benar sangat terkejut mendengarnya. Melisa begitu sangat berani padanya.
“Kamu..”
“Lebih baik sekarang anda pergi dari hadapan saya dan jangan pernah lagi muncul di hadapan saya tuan. Pergi !!” Melisa membentak di akhir katanya. Saat itu tidak ada sedikitpun rasa takut yang Melisa rasakan di hatinya pada sosok Alex.
“Pergi !!” Teriak Melisa sembari menangis. Dia juga mendorong kasar dada Alex saking emosinya. Setelah itu kemudian dia merogoh kembali tas selempang nya dan langsung menemukan kunci yang sejak tadi dia cari dengan susah. Melisa masuk ke dalam rumahnya dengan berurai air mata. Dia tidak menyangka hari ini akan bertemu dengan Alex lagi.
Tubuh Melisa bergetar hebat dengan Isak tangis yang sangat memilukan. Ucapan Alex benar benar membuat hatinya sakit. Alex menghinanya, dia merendahkan harga diri Melisa sebagai seorang wanita.
Sementara di teras rumah sederhana Melisa, Alex masih terdiam. Ucapan dengan nada membentak dan penuh amarah Melisa membuatnya tersadar. Di tambah lagi tamparan keras yang dia terima di pipi kanan nya.
Alex tidak paham dengan dirinya sendiri, kenapa ucapan itu terlontar begitu saja tanpa bisa dia tahan. Ucapan yang jelas jelas pasti sangat membuat Melisa merasa sakit dan terhina. Ucapan yang tidak seharusnya Alex lontarkan pada Melisa.
“Apa yang aku lakukan...” Gumam Alex lirih.
Untuk yang kesekian kalinya Alex merasa sangat menyesal. Alex tidak bisa menahan kata kata tidak pantas yang terlintas di benaknya pada Melisa. Padahal setiap menghampiri Melisa niat nya tidak untuk menghina Melisa. Alex hanya ingin bisa menatap wajah cantik Melisa dari dekat. Alex ingin tau keadaan Melisa. Tapi pada akhirnya dia justru tanpa sadar melontarkan kata kata penuh hinaan pada Melisa.
Alex mendesis merasa kesal pada dirinya sendiri. Merasa tidak ada gunanya terus berdiri di teras depan rumah Melisa, Alex pun memutar tubuhnya kemudian melangkah dengan cepat menuju mobilnya menjauh dari rumah Melisa.
__ADS_1
Alex menyesal telah berkata seperti itu pada Melisa. Namun Alex juga sadar, penyesalannya sama sekali tidak ada gunanya. Melisa sudah terlanjur membencinya. Melisa bahkan tidak ingin lagi melihatnya.
Alex masuk ke dalam mobilnya. Dia menghela napas kasar sembari merutuki dirinya sendiri. Ketika hendak menghidupkan kembali mesin mobilnya, tiba tiba ponsel dalam saku dalam jas abu abunya berdering.
Alex langsung meraih benda pipih itu kemudian mengangkat telepon yang ternyata dari bibi.
“Halo.. Ada apa bi?” Alex langsung melontarkan pertanyaan begitu mengangkat telepon dari bibi.
“Halo tuan.. Maaf kalau saya mengganggu anda tuan. Anu tuan, tuan muda Arka..”
Alex mengeryit. Nada suara bibi terdengar seperti orang yang sedang sangat kebingungan. Terlebih saat menyebut nama Arka, suara wanita itu sedikit bergetar dan itu bisa terdengar dengan sangat jelas di telinga Alex.
“Kenapa dengan Arka bi? Dia baik baik saja kan?”
Alex menelan ludah, rasa khawatir mulai menyerangnya.
“Anu tuan.. Tuan muda Arka, tuan muda Arka demam.” Jawab bibi dengan suara terbata bata.
Kedua mata Alex membulat dengan sempurna. Bagaimana mungkin Arka demam mendadak. Karena sebelum Alex berangkat saja Arka masih sangat ceria dan baik baik saja. Tapi sekarang bibi memberitahu bahwa Arka demam. Alex tentu saja langsung percaya. Karena bibi tidak mungkin berani berbohong padanya.
“Saya akan pulang sekarang. Bibi tolong jaga Arka dengan baik.” Ujar Alex kemudian.
“Baik tuan..” Balas bibi dari seberang telepon.
Alex langsung memutuskan sambungan telponnya. Setelah itu Alex pun segera tancap gas berlalu dari halaman rumah kediaman sederhana Melisa. Pikiran nya benar benar kacau sekarang. Melisa sangat membencinya sampai tidak mau lagi melihatnya dan putranya mengalami demam.
__ADS_1