
Penglihatanku sedikit kabur, menatap seseorang di depanku, aku bisa merasakan tangannya menyentuh rambutku dengan lembut.
“Kau tidur nyenyak, Quinzha Leva?” Sapanya, Aku diam. Mulutku terkatup, bukankah kami terlalu dekat? “Apa kau masih ingin tidur di sini? Semua orang sudah turun. Hanya tinggal kita berdua.”
“Fairel?” Kata yang pertama kuucapkan setelah beberapa saat terdiam menatapnya.
“Ya?”
“Kupikir, kau harus menuntut ayah untuk ini.”
“Untuk ap-”
PAAK! Aku menamparnya dengan keras. Fairel terdiam menatapku, bingung. “Apa alasannya?”
“Menyentuhku ... itu adalah pelanggaran. Dan, menamparmu untuk hukuman. Itu adalah peraturan, kata ayah.”
Dia terdiam sejenak. Menatapku takjub.
“Benarkah? Hahahahaha.” Tawanya meledak. “Ayo turun, tapi jangan lakukan itu pada orang lain, ya?” Pintanya.
“Kenapa tidak?”
“Nanti kau akan kena masalah. Ayahmu itu bodoh! Dia tidak mengerti situasi dan kondisi.” Katanya.
Aku senang dia mengatakan ayah bodoh, soalnya sekarang aku punya teman sesama bodohnya di rumah.
Fairel menarik tanganku, “Tidak masalah jika kau tampar aku sepuasmu.” Lanjutnya sambil tertawa ringan.
“Bagaimana dengan tas?” Tanyaku.
“Kedua pelayanmu sudah membawanya turun.”
“Ramona dan Marlyn?”
“Ya, siapa lagi? Enaknya punya pelayan.”
“Kenapa?”
“Kenapa kata ‘kenapa?’ selalu menjadi kalimatmu yang sangat familiar? Sudahlah!” Gumamnya sendiri.
Pesawat kami mendarat di Komodo Airport Labuan Bajo, Guide yang kami sewa sudah menunggu.
“Selamat datang di pulau Komodo, Tuan dan Nona!” Kata Guide ramah.
“Panggil saja Tiwa!” Kata Tiwa.
“Vicky.”
“Ramona.”
“Marlyn.”
“Sutarsono.”
“Abi.”
__ADS_1
“Adit.”
“Fajar.”
“Abdul.”
“Fairel.”
Mereka semua tanpa jeda memperkenalkan dirinya. Guide-nya kebingungan.
“Katakan saja, ayo kita buat kesan pertama yang membingungkan.” Bisik Adit di telingaku. Jadi ini sudah direncanakan?
“Qu-Quinzha Leva!”
“Oh, begitu!” Kata Guide sambil menggaruk kepalanya. “Kalau begitu silahkan ikut saya, aaa …” Dia sudah lupa! Dalam 10 detik. “Kalian bisa memanggil saya Jason Albano Rafia Softera Hardia Lamonta Ardian Safero Rahadi Laveto Syu Ardiles!”
DIA MEMBALAS! Sudah kuduga ini pasti terjadi, hahahaha. ****** kalian! Apa namanya benar-benar sepanjang itu?
Semuanya terlihat kesal.
Setelah itu Jason Albano Rafia Softera Hardia Lamonta Ardian Safero Rahadi Laveto Syu Ardiles membawa kami ke pantai Pede Labuan Bajo. Kami akan menginap di Laprima Hotel Komodo. Untuk sampai di sana, kami menggunakan Speed Bood, kami menempuh perjalanan sekitar 15 menit.
Karena hari semakin gelap, kami tidak sempat menyaksikan pemandangan di sekitar hotel, kami langsung masuk ke dalam dan membagi kamar. Aku satu kamar dengan Vicky, sementara itu Tiwa bersama dengan Ramona dan Marlyn. Semoga Tiwa akan baik-baik saja. Ramona dan Marlyn sempat protes, tapi begitu kami menyinggung tentang tiket gratisnya, mereka tidak banyak bicara, langsung menurut seperti anak kucing.
“Ah senangnya, setelah perjalanan seharian yang melelahkan akhirnya kita bisa istrahat. Benarkan, Leva!?” Kata Vicky sebelum kami semua berpisah untuk ke kamar masing-masing. “Kita akan masuk kamar, setelah itu kita tidak akan langsung tidur. Kita akan melakukan banyak aktifitas perempuan, benarkan Leva?” Kata Vicky lagi sambil memelukku dari samping.
“Aktifitas perempuan?” Tanyaku.
“Sudah, ayo kita masuk saja.” Ajak Vicky, “Sampai jumpa besok pagi Ramona, Marlyn, semoga tidur kalian berdua nyenyak!” Kata Vicky sambil tersenyum.
Kami berdua masuk kamar, begitu juga dengan yang lainnya. Dari ujung mataku, bisa kulihat Ramona dan Marlyn yang masih memandangiku sampai pintu kamar tertutup.
“Selamat pagi, Putri!”
Suara yang menyebalkan itu lagi, di pagi sekali. Sinar matahari memancar lewat jendela, pemandangan di luar ruangan sangat indah, aku meliriknya sekilas. Jendela kamarku menghadap ke arah laut. Ramona dan Marlyn berdiri di dekat jendala menghadap ke arahku.
“Selamat pagi, Putri!” Kata mereka berdua, sekali lagi. Serentak.
“Pa-gi!” Kataku dengan suara yang sedikit parau. Aku masih terbungkus rapi dengan selimut di atas tempat tidur. Vicky keluar dari kamar mandi, kami bertiga memperhatikannya.
“Ah, mandi pagi di hotel memang sangat enak.” Katanya sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk, tanpa memperhatikan kami bertiga, “Udara di sini sangat sej―AAAAAAAAA.” Teriaknya, seperti melihat hantu. “Ka-kalian berdua―BAGAIMANA KALIAN BISA MASUK!!???” Tanya Vicky marah pada Ramona dan Marlyn.
“Lewat pintu!” Jawab mereka berdua santai.
“LEWAT PINTU! Aku sudah mengun …”
“Tidak dikunci!” Potong Ramona dengan cepat.
“Ha?” Vicky kebingungan. Dia bergegas memeriksa pintu, “Apa aku benar-benar tidak menguncinya, ya?” Gumamnya pelan. “Lagi pula, meskipun pintunya tidak dikunci, kalian tidak boleh seenaknya masuk di kamar orang lain!” Kata Vicky tegas.
“Putri! Silahkan mandilah dengan cepat, karena kita akan segera berangkat!” Kata Marlyn. Vicky dicuekin.
__ADS_1
“Tunggu, KALIAN BERDUA DENGARKAN AKU!” Teriak Vicky, dia berjalan cepat mendekati Ramona dan Marlyn.
“Putri, bangunlah sekarang!” Kata Ramona padaku. Vicky benar-benar tak dihiraukan.
“AAAAAAA! Sudah kukatakan dengarkan aku!” Kata Vicky marah. Dia menarik tangan Ramona dan Marlyn dengan sangat kuat, hasilnya dia berhasil mengeluarkan mereka berdua dari kamar dan memastikan kamar terkunci dengan baik.
“Nah Leva, sekarang kau harus mandi.” Katanya kemudian. Raut wajahnya berubah, terlihat lebih santai dan manis.
“Nanti saja.” Kataku ketus, aku masih belum beranjak dari tempat tidur. Mataku masih terasa berat untuk dibuka.
“Ayolah!” Paksa Vicky. Dia menarik selimutku. Kemudian dia menuntunku sampai di kamar mandi. “Gunakan ini jika kau ingin menggunakan air panas, ini untuk air dingin. Kemudian yang ini shampoo, ini sabunnya, dan―” jelasnya.
Kenapa dia harus menjelaskan semua itu, aku tahu. Kami menggunakan fasilitas yang sama di rumah.
“Kau mengerti sekarang?”
“Ya!”
“Kalau begitu mandilah.” Katanya sambil tersenyum.
Aku diam memperhatikannya, kenapa dia masih berdiri di sini?
“Ayo, cepat buka bajumu.”
Apa maksudnya? Kenapa aku harus membuka bajuku di depannya, kenapa dia tidak kunjung pergi?
“Leva, kau tidak bisa membuka bajumu? Biar aku yang melakukannya, ya?” Katanya sambil tersenyum gaya prederator, dia mendatiku.
“Jangan mendekat, aku tidak mau.” Kataku menolak.
“Kenapa kau tidak mau? Kau ingin mandi dengan bajumu? Itu tidak bagus Leva!”
Itu aku mengerti dan aku mengangguk setuju. “Aku ingin kau keluar dari kamar mandi sekarang juga.”
“Kenapa? Padahal aku ingin melihatmu telanjang!?”
Apa? “Tidak! Tidak boleh, keluar!” Bentakku.
“Jangan malu begitu, kita ini sesama perempuan!”
Lalu kenapa? “Pokoknya tidak boleh! Vicky harus keluar!” Bentakku lagi.
“Aku ingin di sini, bersama Leva. Dan, melihat Leva yang sedang mandi …” Katanya, “KARENA TUBUH PEREMPUAN ITU SANGAT INDAHHHH!” Teriaknya semangat. “Aku selalu menyukai setiap kali melihat perempuan!” Matanya berbinar-binar. “Dan aku penasaran dengan tubuhnya Leva seperti apa!”
Seperti tubuhmu, itu sangat jelas, kan.
“Pasti sangat indah, indah dan indah! Karena Leva pasti sering merawat tubuhnya di rumah!”
Tidak pernah!
“Leva, ayo cepat buka bajumu. Aku sudah tidak sabar!” Katanya bergairah. Dia sangat semangat, matanya berubah menjadi hitam dan bisa kulihat tanda bintang di tengah-tengahnya.
Dia membuatku takut, serius aku takut! Karena kebetulan dia berdiri membelakangi pintu, aku memutuskan mengambil shower air panas, kemudian menyiramnya.
“AAAA, Leva!” Vicky menjerit, dengan reflex Vicky mundur kebelakang. Dia keluar, secepat mungkin aku menutup pintu kamar mandi. Masalah selesai.
__ADS_1
Vicky menangis di depan pintu kamar mandi. Tersedu-sedu. “Leva … padahal ini adalah kesempatan baik untukku melihatmu mandi, tapi kau mengusirku. Leva …” Vicky menangis meronta-ronta.
Ternyata dia lebih berbahaya dari pada Ramona dan Marlyn.