SAYANG

SAYANG
Episode 153


__ADS_3

Di dapur, Melisa mulai menyiapkan bahan bahan yang akan dia perlukan untuk membuat kue. Melisa sebelumnya sudah mengambilkan kursi dan menyuruh agar Lena menunggu selagi dirinya menyiapkan alat dan bahan bahan yang akan di butuhkan.


Lena yang merasa tidak enak karena hanya duduk menunggu saja pun memilih untuk bangkit dari duduknya. Dia melangkah menghampiri Melisa yang sedang mengambil mixer serta baknya untuk mengaduk telur nanti.


“Biar aku bantu kak..” Ujar Lena yang langsung membuat Melisa menoleh padanya.


Melisa kemudian tersenyum. Itulah sikap Lena yang membuat dia sangat di segani oleh para karyawan di perusahaan Alex dulu. Lena senang membantu sesama terutama pada orang yang sedang kesusahan.


“Tidak nyonya. Anda lebih baik duduk saja. Biar saya saja yang menyiapkan semuanya. Anda adalah tamu yang harus saya hormati sekarang.” Kata Melisa menolak dengan halus bantuan yang ingin Lena berikan padanya.


Lena berdecak pelan. Sikap Melisa terlalu formal padanya. Dan sikap Melisa yang seperti itu membuat Lena merasa risih.


“Tidak apa apa kak. Aku tidak bisa hanya menunggu dan duduk manis sementara kak Melisa sibuk menyiapkan segala bahan dan alat yang akan kita berdua gunakan untuk membuat kue.”


“Saya sudah terbiasa dengan ini semua nyonya. Silahkan anda menunggu sebentar lagi.” Balas Melisa cepat.


“Kak, jangan memanggilku seperti itu. Panggil saja aku Lena seperti biasa. Bagaimana pun juga kita pernah sama sama bekerja di perusahaan Alex dulu. Meskipun kita dulu tidak akrab, tapi bukannya kita tetap teman satu kantor dulu?”


Melisa diam mendengar apa yang Lena katakan. Lena benar benar tidak berubah sedikitpun. Lena bahkan tidak sombong meskipun dirinya sekarang adalah seorang nyonya muda di keluarga Harrison. Lena tetap ramah dan bersikap baik pada siapapun.


“Tapi nyonya...”


“Lena kak, panggil saja Lena. Tidak perlu dengan embel embel nyonya. Aku akan merasa lebih nyaman kalau kak Melisa memanggilku dengan namaku saja seperti dulu.” Sela Lena.


Melisa kemudian tersenyum. Ada sedikit penyesalan di benaknya mengingat dulu dirinya pernah bersikap tidak baik pada Lena. Dulu Melisa sangat sombong dan bersikap seenaknya pada Lena yang berstatus sebagai bawahan nya.

__ADS_1


“Kak Melisa mau kan berteman dengan aku?” Tanya Lena kemudian.


Melisa lalu menganggukkan kepalanya setuju.


“Baiklah Lena. Terimakasih karena masih mau menganggapku sebagai teman.” Jawabnya.


Lena tersenyum lebar mendengarnya. Lena kemudian mengambil alih mixer yang sedang di pegang oleh Melisa.


“Sebagai teman, akan lebih baik kalau kita bekerja sama saling membantu dalam segala hal kak.” Ujarnya kemudian berlalu menuju meja makan untuk meletakan mixer yang akan mereka berdua gunakan dalam proses membuat adonan kue.


Melisa terdiam sesaat sebelum akhirnya kembali tersenyum. Seketika rasa canggung itu sirna karena apa yang Lena ucapkan tadi. Meski sekarang statusnya dan Lena seperti langit dan bumi karena dirinya yang hanya seorang penjual kue dan Lena adalah istri dari seorang pengusaha kaya raya namun nyatanya semua itu tidak membuat Lena sombong dan seenaknya. Lena masih tetap baik dan ramah seperti saat mereka masih sama sama bekerja di perusahaan Alex.


“Tidak heran tuan Erlan sangat mencintai kamu Lena. Bahkan Tuhan dengan begitu baiknya menunjukan tabiat buruk Alexander karena ingin menjauhkan kamu dari Alexander yang memang tidak pantas bersanding dengan perempuan sebaik kamu.” Batin Melisa dengan senyuman kagumnya.


Dulu Melisa memang tidak menyukai Lena. Bukan karena Lena yang adalah kekasih Alex, tapi karena memang pada dasarnya Melisa juga memiliki sikap iri dan dengki. Melisa menganggap Lena hanya mencari perhatian teman teman sekantor saja dulu. Tapi sekarang, Melisa yakin bahwa Lena memang adalah wanita yang berhati baik dan tulus.


Tidak butuh banyak basa basi Melisa pun mulai memberi interupsi pada Lena untuk mencampur beberapa bahan. Sementara itu dirinya mulai memecahkan beberapa telur dan mulai mengaduknya dengan menggunakan mixer.


Dengan mengobrol ringan seputar kue yang akan mereka berdua buat, mereka pun bekerja sama. Sesekali mereka berdua juga bercanda yang membuat keduanya tertawa. Ini lah pertama kalinya mereka berdua mengobrol begitu dekat dan akrab selama mereka mengenal. Dan itu terjadi setelah mereka berdua tidak lagi bekerja di perusahaan Alex.


Namun meskipun begitu Melisa tetap berusaha menjaga attitude nya mengingat siapa Lena sekarang. Melisa tidak mau sampai menyinggung Erlan yang tentu mempunyai kuasa lebih besar dari Alex. Erlan mungkin memang terkenal baik dan bijaksana. Tapi bukan tidak mungkin juga seorang yang baik seperti malaikat akan sangat murka jika orang yang sangat di cintai nya di singgung meski itu tanpa di sengaja.


Tidak sampai dua jam kue lapis legit yang mereka berdua buat pun matang. Lena merasa sangat bahagia karena berhasil membuat kue tersebut langsung dengan si penjualnya yaitu Melisa. Lena bahkan dengan sangat semangat memotong kue lapis legit yang masih hangat itu dan mencicipinya.


“Bagaimana rasanya Lena?” Tanya Melisa pada Lena.

__ADS_1


“Eemm.. Ini benar benar enak banget kak. Apa lagi di makan pas anget anget gini. Ya Tuhan.. kue lapis legit buatan kak Melisa adalah kue lapis legit terenak yang pernah aku makan. Serius.” Jawab Lena sembari memuji Melisa.


Melisa tertawa mendengarnya. Lena terlalu berlebihan menurutnya. Meski Melisa sendiri memang sudah sering mendapat pujian dari para pelanggan nya. Namun dari pujian itu pujian Lena lah yang terlalu berlebihan menurut Melisa.


“Ini buatan kita berdua. Kamu juga ternyata pintar membuat kue.” Ujar Melisa.


“Aku cuma bisa sedikit sedikit kak. Makanya aku pengin banget bisa membuat kue langsung sama penjual kue yang hebat seperti kak Melisa.”


“Hahaha.. Ayolah nyonya muda Harrison. Anda benar benar terlalu berlebihan. Kue yang aku buat sama saja seperti kue kue yang lain nya.” Tawa Melisa.


Lena ikut tertawa. Dia tidak bohong. Kue buatan Melisa memang lain dari pada yang lain.


Setelah selesai membuat kue lapis itu Lena pun berpamitan pada Melisa. Dan Melisa membawakan semua kue yang bersama sama mereka berdua buat pada Lena secara gratis. Lena sangat bahagia dengan apa yang Melisa lakukan dan mengatakan akan datang lagi kapan kapan.


Melisa melambaikan tangan nya saat mobil Erlan mulai melaju dari halaman rumah sederhananya. Begitu mobil mewah Erlan menghilang dari pandangan nya, satu notifikasi masuk ke ponsel yang selalu Melisa kantongi itu.


Melisa berdecak, dia berpikir itu pasti adalah notifikasi dari pelanggan nya yang tidak sabar menunggu pesanan nya di antarkan.


Melisa merogoh saku celana kulot selutut yang dia kenakan. Begitu membuka pesan tersebut kedua matanya melebar dan mulutnya terbuka. Itu bukan notifikasi dari pelanggan nya melainkan dari bank yang memberitahukan bahwa ada dana yang masuk ke rekeningnya. Dan dana yang nominalnya tidak sedikit itu berasal dari rekening atas nama Erlan Dallin Harrison.


“Ya Tuhan ini...”


Belum selesai Melisa bergumam, tiba tiba ponselnya berdering dan nama kontak Erlan tertera disana. Dengan ragu Melisa pun mengangkatnya.


“Halo tuan...”

__ADS_1


“Kak ini aku Lena. Tolong di terima ya kak. Itu buat tambah tambah modal kakak menjual kue. Semoga jualan kak Melisa semakin laris dan sukses.” Itu adalah suara Lena, bukan Erlan.


__ADS_2