
Kejadian aneh itu terus saja berulang selama beberapa hari. Bibi bahkan mengatakan pada Alex bahwa Arkana sangat bahagia juga anteng jika di beri photo Sherin. Hal itu semakin membuat Alex merasa sangat mustahil. Bagaimana bisa hanya karena photo Sherin, Arkana bisa sebahagia itu. Arkana juga sampai tidak menghiraukan Alex jika sedang asik bermain sendiri sambil menatap photo Sherin.
Tidak hanya Alex saja yang merasa heran dan terkejut, nyonya besar Smith juga demikian. Apa lagi Arka juga tampak sangat excited saat memamerkan photo Sherin padanya.
Hal itu membuat nyonya Smith kemudian berpikir untuk menyuruh Alex membawa Arka ke makam Sherin.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Alex yang baru saja turun dari ranjang nya menoleh. Pria itu sudah bisa menebak siapa yang ada di balik pintu kamar nya. Sudah pasti itu adalah mamahnya karena tidak mungkin jika bibi yang berada di sana.
Alex menghela napas pelan kemudian melangkah menuju pintu untuk membuka nya. Benar saja, begitu pintu dia buka sosok cantik mamahnya lah yang berdiri di sana.
“Mah maaf, sepertinya Alex nggak bisa nganterin mamah pulang kali ini.” Ujar Alex yang sebenarnya sedang memikirkan tingkah dan perilaku aneh putranya Arkana akhir akhir ini.
“Mamah bukan minta di antar pulang. Mamah hanya merasa ada yang perlu kita bicarakan Alex. Ini tentang Arkana.”
Alex menelan ludah. Alex yakin mamahnya juga menyadari keanehan pada tingkah Arkana yang memang begitu sangat mencolok.
Alex kemudian menoleh kearah Arkana yang terlelap diatas ranjang. Pria itu menghela napas sekali lagi kemudian kembali menatap sang mamah yang berdiri di depan nya.
__ADS_1
“Oke.. Kita bicara di meja makan saja. Kebetulan Alex juga sedikit lapar.” Kata Alex.
Nyonya Smith mengangguk menyetujui. Wanita itu membalikkan tubuhnya kemudian melangkah lebih dulu dari Alex menuju meja makan.
Begitu sampai disana, nyonya Smith langsung mendudukkan dirinya di salah satu kursi di meja makan. Sedangkan Alex, dia lebih dulu mencari camilan untuk mengisi perutnya yang terasa lapar. Alex membawa sepotong puding di dalam mangkuk kecil dan membawanya mendekat pada sang mamah.
“Mamah mau juga?” Tanya Alex pada nyonya Smith.
“Tidak Alex. Mamah masih kenyang.” Jawab nyonya Smith.
Alex mengangguk. Pria itu kemudian mulai memotong sedikit puding tersebut dan memasukkan ke dalam mulutnya. Rasa segar seketika dia rasakan dalam tenggorokan nya karena puding dingin tersebut.
“Mamah rasa kamu perlu membawa Arkana ke makamnya Sherin.”
“Apa? Bawa Arka ke makam Sherin? Mamah yang bener aja, Arka itu masih kecil. Masa iya aku bawa ke pemakaman.”
Nyonya Smith tertawa merasa lucu dengan sahutan dari putranya. Sampai sekarang Alex tidak pernah terlihat menyesal dengan apa yang sudah dia lakukan.
“Ayolah Alex, tidak ada salahnya juga. Sherin itu adalah mamahnya Arka. Dia yang berjuang melahirkan Arka ke dunia ini. Kamu tidak boleh seperti ini. Bagaimanapun juga bahkan meskipun Sherin sudah tidak ada lagi di dunia ini, tidak ada satupun orang yang bisa mengingkari kenyataan bahwa Arka adalah anak yang di kandung Sherin selama hampir 9 bulan lamanya.”
__ADS_1
Alex melengos. Dia merasa kesal jika harus menerima kenyataan bahwa Sherin lah wanita yang menjadi ibu dari putranya.
“Kamu sudah mempersulit keluarga Sherin untuk bertemu dengan Arka. Dan sekarang kamu juga ingin mempersulit Arka hanya untuk tau siapa wanita yang telah melahirkan nya. Alex, memang nya kamu tidak kasihan melihat Arka yang begitu sangat bangga dengan hanya di beri photo Sherin? Apa kamu tidak sadar dengan tingkah Arka? Dia membutuhkan sosok Sherin sebagai mamahnya Alex. Dia butuh Sherin walaupun Sherin sudah tidak ada lagi di dunia ini.”
Alex tertawa sinis mendengar apa yang mamahnya katakan. Menurutnya sikap sang mamah sangat lah berlebihan. Alex berpikir tidak ada untungnya juga jika dia membawa Arka ke makam Sherin karena Sherin sudah tidak ada lagi. Kenyataan bahwa Sherin adalah ibu kandung putranya juga tidak akan membuat Sherin kembali hidup lagi. Itu hanya akan sia sia saja menurut Alex.
“Sudahlah mah, Alex nggak mau membahas apapun lagi tentang Sherin. Dia sudah tidak ada sekarang. Dan itu memang yang paling terbaik. Karena Alex sedikitpun tidak mencintai Sherin.” Alex menghela napas enggan untuk membahas apapun lagi tentang Sherin. Yang Alex pikirkan sekarang hanya bagaimana dirinya mengurus Arka dengan baik meski tanpa sosok Sherin sebagai mamah Arka.
Nyonya Smith menggelengkan kepalanya. Wanita itu benar benar tidak menyangka dirinya akan melahirkan seorang putra yang begitu keras kepala dan tidak punya hati. Alex bahkan tidak merasa iba dengan apa yang di lihatnya dari tingkah putranya sendiri. Alex terus saja egois dengan memikirkan dirinya sendiri tanpa sedikitpun mau perduli dengan apa yang sebenarnya sangat di inginkan oleh putranya.
“Mamah benar benar tidak menyangka ternyata putra yang mamah kandung selama lebih dari 9 bulan dan mamah asuh dengan penuh kasih sayang menjelma menjadi laki laki yang begitu keras kepala dan tidak punya hati. Kamu bahkan tidak punya sedikitpun rasa iba pada mendiang istri kamu sendiri setelah apa yang kamu lakukan dulu.”
“Mah Alex...”
“Diam kamu Alex. Mamah paling tidak suka jika ada yang menyela apa yang sedang mamah katakan.” Bentak nyonya besar Smith tidak terima jika ucapan nya di sela oleh Alex. Wanita itu terlihat sangat marah pada putranya yang begitu ngeyel tidak mau mendengarkannya.
Alex menghela napas kasar. Mamahnya terlalu melebih-lebihkan apa yang sudah seharusnya di lupakan menurutnya. Karena Alex merasa apa yang dia lakukan pada Sherin memang sudah sepantasnya Sherin dapatkan. Karena Sherin sendiri yang tidak mau mendengarkannya dan terus saja ngotot ingin hidup bersama nya. Sherin bahkan sepertinya tidak pernah berniat meninggalkan nya meski Alex sudah membuatnya menderita selama mereka hidup satu atap.
“Alex, Arkana adalah cucu mamah. Itu artinya mamah juga berhak menentukan yang terbaik untuk cucu mamah. Kamu tidak bisa egois dengan mementingkan perasaan kamu sendiri. Karena kalau sampai Arkana merasa tidak bahagia dengan kehidupannya di masa depan kelak kamu adalah orang pertama yang akan paling di salahkan. Ingat itu.”
__ADS_1
Setelah berkata dengan penuh penekanan pada Alex, nyonya Smith pun bangkit dari duduknya. Wanita itu berlalu dengan amarah menggebu karena ke keras kepalaan Alex yang tidak mau di kasih tau yang benar.
Sementara Alex, dia hanya bisa diam saja. Apa yang di katakan oleh mamahnya mulai masuk ke dalam pikiran nya dan mengambil alih seluruh fokusnya.