
“Kamu nggak papa kan?”
Erlan bertanya dengan kedua tangan menangkup lembut kedua pipi Lena. Tatapannya yang tadi sempat penuh amarah kini berubah seketika menjadi begitu sangat lembut dan penuh perhatian pada Lena. Dan tatapan itu berhasil merontokkan rasa takut yang merayapi hati Lena.
Lena menghela napas pelan kemudian tersenyum untuk menenangkan Erlan yang saat ini pasti sangat mengkhawatirkannya.
“Aku baik baik saja, Erlan.” Jawab Lena pelan.
Erlan menghela napas lagi. Pria itu kemudian merengkuh tubuh Lena ke dalam pelukannya. Pria itu mendekap tubuh Lena dengan sangat lembut. Melihat Lena yang di perlakukan seperti pelayan oleh Natasha membuat Erlan tidak bisa menahan emosinya. Padahal selama mereka bersama Erlan selalu menjaga dan memperlakukan Lena dengan sangat baik. Tapi Natasha, mommy sambungnya itu dengan semena mena memperlakukan Lena, istri tercintanya. Hal itu tentu saja tidak bisa Erlan terima.
“Apa yang mommy katakan sama kamu sayang? Katakan semuanya dan jangan ada sedikitpun yang kamu tutupi dari aku..” Bisik Erlan sambil mengecup puncak kepala Lena yang berada di dalam dekapannya.
Lena tersenyum mendengarnya. Lena tau Erlan sedang sangat mengkhawatirkannya sekarang. Tapi Lena juga tidak mungkin mengadukan semua yang Natasha katakan padanya. Lena mencoba berpikir positif mungkin Natasha bersikap demikian padanya karena belum mengenalnya dengan baik.
“Mommy hanya memintaku untuk memasak Erlan. Tidak perlu bersikap berlebihan. Jangan bersikap seperti itu lagi ya sama mommy dan daddy. Kamu harus tetap hormat pada mereka berdua karena mereka adalah orang tua kamu juga.” Balas Lena dengan pelan dan tenang.
Erlan menelan ludah mencoba untuk menahan emosi yang kembali menguasai hatinya setelah mendengar apa yang Lena katakan. Apa yang di katakan si mbok padanya memang benar adanya. Erlan yakin Natasha sengaja melakukan itu agar Lena tidak betah berada di samping Erlan kemudian memutuskan untuk meninggalkan Erlan karena tidak tahan dengan sikap ketus dan seenaknya Natasha.
“Kita makan di luar yah..” Ujar Erlan yang langsung membuat Lena melepaskan pelukannya.
__ADS_1
“Tapi aku sudah masak banyak Erlan..” Lena mendongak menatap Erlan yang langsung mengembangkan senyuman di bibirnya menatap wajah polos Lena.
“Aku sedang ingin makan steak sayang.. Kamu mau kan temenin aku?” Erlan memberi alasan karena tidak mungkin jika Erlan mengatakan bahwa dirinya sangat tidak nyaman jika harus makan satu meja dengan Natasha yang sudah berani bersikap seenaknya pada Lena.
Lena menghela napas pelan kemudian menganggukkan kepalanya menurut saja. Setelah mendapat anggukan tanda persetujuan dari Lena, Erlan pun segera menggandeng tangan Lena dan kembali mengajaknya keluar dari kamar. Erlan bahkan sama sekali tidak menyapa mommy dan daddy saat melewati meja makan. Hal itu membuat Lena kembali merasa apa yang di lakukan oleh suaminya adalah salah. Namun Lena tidak berani berkomentar. Apa lagi setelah melihat bagaimana Erlan saat marah. Lena khawatir komentarnya tentang sikap Erlan akan kembali membuat emosi suaminya itu tersulut.
Erlan terus berusaha tenang di tengah amarah yang terus merayapi hati dan pikirannya. Pria itu tidak ingin membuat Lena ketakutan seperti tadi.
Tidak memerlukan waktu lama, mereka pun sampai di tempat makan yang Erlan maksud. Seperti biasa, Erlan selalu memperlakukan Lena dengan sangat istimewa baik saat mereka sedang berdua maupun di depan khalayak umum.
Lena yang merasa perlakuan Erlan terlalu berlebihan padanya hanya bisa menurut saja. Namun tidak bisa di pungkiri Lena merasa bahagia dengan perlakuan manis dan istimewa suaminya itu.
Lena menoleh ketika tidak sengaja mendengar komentar pedas dari salah seorang penjunjung yang letak mejanya tidak jauh dari mejanya dan Erlan. Disana ada dua wanita dengan penampilan elegant yang sedang menatap sinis kearahnya.
“Susah memang kalau orang biasa menikah dengan konglomerat. Kebiasaan buruknya pasti akan dia bawa tanpa dia sadari.” Balas satunya lagi.
Lena menghela napas. Entah apa yang salah dari penampilannya. Padahal dress simpel yang saat ini sedang Lena kenakan juga sudah cukup fantastis harganya. Dan Erlan, dia sama sekali tidak pernah keberatan dengan penampilan Lena.
“Hey...” Erlan meraih tangan Lena dan mengusapnya lembut. Pria itu juga mendengar apa yang dua wanita itu katakan tentang Lena. Tapi Erlan tidak perduli. Yang terpenting baginya adalah dirinya juga Lena merasa bahagia dengan apa yang mereka berdua jalani. Erlan tidak mau mendengarkan apapun yang orang lain katakan tentang Lena. Cintanya pada Lena sudah terlalu besar bahkan mengalahkan cinta Erlan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Lena membalas tatapan Erlan sendu. Lena berpikir tidak heran jika mommy sambung Erlan menilainya rendah. Orang lain saja bahkan sampai berkata begitu pedas karena penampilannya yang terlalu biasa.
“Tidak perlu mendengarkan apa kata orang sayang. Karena apa yang kita rasa belum tentu mereka juga merasakannya. Mungkin mereka bahagia dengan kemewahan yang mereka jalani. Tapi kita.. Kemewahan saja tidak cukup bukan? Harus ada cinta yang menyertai untuk menyempurnakan kebahagiaan kita.” Kata Erlan pelan dan lembut.
Lena terdiam sesaat. Wanita itu berusaha mencerna apa yang Erlan katakan. Sedetik kemudian seulas senyum menghiasi bibir Lena. Lena merasa setuju dengan apa yang Erlan katakan. Karena sebuah kebahagiaan tidak cukup dengan kemewahan saja. Kasih sayang dan cinta lebih dari segalanya.
“Yah.. Kamu benar. Aku tidak seharusnya memikirkan apa yang mereka katakan. Kebahagiaan yang aku rasakan berbeda dengan kebahagiaan yang mereka rasakan.”
“Gitu dong.. Istri Erlan Dallin Harrison tidak boleh lemah dan gampang di pengaruhi oleh orang lain. Kamu harus tetap bisa menjadi diri kamu sendiri sayang. Karena aku menyukai dan mencintai segala apa yang ada pada diri kamu.”
Lena tertawa geli mendengarnya. Ada rasa bahagia bercampur haru tapi juga rasa konyol bersamaan karena ucapan berlebihan Erlan. Tapi Lena percaya Erlan tidak mungkin berbohong. Lena percaya Erlan mengatakan apa adanya.
Setelah selesai makan steak, Erlan mengajak Lena jalan jalan. Namun sebelumnya pria itu menghubungi Kenzie lebih dulu untuk memberitahukan bahwa Erlan tidak akan kembali lagi ke perusahaan.
“Kita mau kemana? Memangnya kamu nggak kembali ke kantor lagi?” Tanya Lena saat mereka sudah dalam perjalanan setelah selesai makan steak.
“Kita jalan jalan.. Abis itu kita ke hotel. Malam ini kita menginap di hotel saja. Aku malas pulang.”
Lena mengeryit mendengar apa yang Erlan katakan. Namun kemudian Lena mengerti mengapa Erlan mengajaknya untuk menginap di hotel. Tentu saja karena Natasha.
__ADS_1