SAYANG

SAYANG
Episode 198


__ADS_3

Mendengar apa yang mamahnya katakan, Alex pun langsung mengatakan pendapat nya pada sang mamah tentang ketidak mungkinan Melisa menjual makanan yang tidak higenis. Ya, Alex membela Melisa di depan nyonya besar Smith agar pandangan wanita itu tidak lagi buruk terhadap Melisa. Karena Alex sangat yakin itu semua pasti hanya akal akalan Sherin dulu untuk memfitnah Melisa yang memang sangat tidak di sukainya karena Sherin yang menganggap Melisa berniat merebut Alex darinya.


“Alex, Sherin itu istri kamu. Seharusnya kamu lebih percaya sama Sherin dari pada Melisa. Dia itu hanya orang luar yang tidak seharusnya kamu bela bahkan sampai kamu tega menyalahkan istri kamu sendiri.”


“Mah, Alex bukan menyalahkan Sherin. Tapi karena memang Alex tau siapa Sherin dan siapa Melisa. Kalau memang jualan Melisa tidak higienis, tidak mungkin kue kuenya lalu sampai sekarang kan? Bahkan setiap hari pelanggan nya semakin bertambah.”


Nyonya besar Smith menghela napas. Sebenarnya dulu dia juga meragukan penuturan Sherin. Namun karena saat itu Sherin memberikan bukti, nyonya besar Smith pun tidak bisa berkata apa apa selain membela apa menantunya sendiri. Apa lagi saat itu Sherin sedang ngidam.


“Sherin itu sangat membenci Melisa mah.. Bahkan dia juga memfitnah Melisa mau merebut Alex. Sherin itu tidak sebaik yang mamah kira. Alex tau siapa dan bagaimana Sherin. Alex...”


“Alex cukup. Sepertinya kamu dan Melisa dulu memang sangat dekat. Tidak heran kalau istri kamu bahkan sampai berbuat demikian. Mamah yakin Sherin punya alasan melakukan itu. Seharusnya kamu sebagai suami yang baik tau apa maksud istri kamu. Sherin melakukan itu pasti punya alasan. Dan mamah yakin alasannya adalah karena kamu dan Melisa yang terlalu dekat. Jadi lebih baik kamu tidak perlu lagi menyalahkan istri kamu yang sudah tidak ada. Kamu harusnya introspeksi diri kamu sendiri. Kamu harusnya menyadari dimana letak kesalahan kamu, bukan malah terus terusan menyalahkan Sherin. Mamah juga perempuan Alex, mungkin mamah juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang di lakukan Sherin kalau berada di posisi seperti itu.” Tegas nyonya besar Smith menyela ucapan Alex. Wanita benar benar tidak suka dengan cara Alex yang selalu saja menyudutkan istrinya sendiri. Apa lagi sekarang Sherin sudah tidak ada.


Alex melengos. Dia merasa sangat kesal karena mamahnya justru menyalahkan nya. Padahal Alex hanya ingin meluruskan. Alex tentu percaya bahwa Melisa tidak mungkin sembarangan melayani pelanggan nya. Dan Alex sangat yakin apa yang Sherin katakan saat itu menang hanya akal akalan Sherin saja agar bisa menjatuhkan nama Melisa.


Tidak ingin terus mendapat amukan dari mamahnya, Alex pun memilih untuk bangkit dari duduknya. Dia melangkah berlalu dari hadapan nyonya besar Smith menuju kamarnya. Alex tidak ingin berdebat terlalu panjang dengan mamahnya karena apapun alasan nya Alex pasti akan tetap salah di mata mamahnya.


Nyonya besar Smith yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Wanita itu tidak habis pikir dengan sikap putranya yang begitu keras. Alex bahkan masih kukuh mengakui tidak mencintai dan membutuhkan Sherin setelah semua yang terjadi.


------------------


Beberapa hari kemudian.

__ADS_1


Lena sedang mengayun putranya di taman belakang rumah sore itu sembari menikmati semilir angin yang terasa sangat sejuk saat menerpanya.


“Permisi nyonya...” Suara si mbok berhasil mengalihkan perhatian Lena. Wanita itu menoleh pada si mbok yang membawa sesuatu di tangan nya.


“Ya mbok.. Ada apa?” Tanya Lena dengan suara pelan.


“Maaf mengganggu nyonya. Ini ada undangan untuk nyonya dan tuan. Tadi ada seorang pemuda yang memberikan nya pada bodyguard di depan.” Kata si mbok sembari menyodorkan undangan bersampul merah hati itu pada Lena.


Lena mengernyit namun tetap menerima undangan tersebut. Wanita itu tersenyum begitu mendapati nama Melisa yang tertera disana.


“Ah ya mbok.. Makasih yah..” senyum Lena menerimanya.


“Sama sama nyonya. Kalau begitu saya permisi mau kembali bekerja nyonya.”


Setelah berpamitan pada Lena, si mbok pun berlalu karena memang masih ada pekerjaan yang belum selesai dia lakukan.


Lena melangkah menuju kursi yang berada tidak jauh darinya. Wanita itu mendudukan dirinya sembari terus menyusui Rezvan yang sudah terlelap dengan tenang di gendongan nya.


Lena pelan pelan mulai membuka undangan tersebut. Senyum nya kembali mengembang begitu membaca nama Melisa dan Alvin. Lena memang belum tau siapa dan seperti apa Alvin. Namun Lena yakin Melisa tidak mungkin salah memilih. Lena yakin Alvin adalah yang terbaik untuk Melisa. Dan Lena ikut bahagia dengan pernikahan itu. Lena berharap keputusan Melisa untuk menikah dengan Alvin tidak salah.


Setelah memastikan putranya benar benar terlelap, Lena pun bangkit dari duduknya. Dia melangkah masuk ke dalam rumah bermaksud untuk menghubungi Melisa dan menanyakan tentang pernikahan Melisa dengan Alvin secara langsung. Lena juga ingin memberikan selamat pada Melisa.

__ADS_1


“Sayang...”


Suara Erlan berhasil menghentikan langkah Lena. Wanita itu menoleh dan tersenyum lebar. Satu kakinya yang sudah berada di anak tangga pertama kembali dia turunkan.


“Kok kayanya lagi seneng banget. Ada apa sayang?” Tanya Erlan begitu sampai tepat di depan Lena. Pria itu merasa sangat penasaran melihat wajah istrinya yang tampak sangat sumringah.


“Ini...” Lena tersenyum sembari menyodorkan undangan yang di pegang nya pada Erlan.


Erlan mengernyit dan menerima undangan tersebut. Begitu melihat nama Melisa dan Alvin, Erlan pun paham. Lena pasti bahagia karena teman nya akan melangsungkan pernikahan.


“Aku pikir kamu tersenyum begitu manis dan cantik karena aku pulang. Ternyata karena undangan pernikahan dari Melisa toh..” Canda Erlan dengan wajah yang di buat kesal.


Lena terkekeh geli mendengar nya.


“Apaan sih? Dasar lebay.” Sahut Lena.


Erlan ikut terkekeh. Pria itu kemudian mengecup singkat kening istrinya. Erlan tau istrinya memang wanita yang baik. Tidak heran jika Lena ikut merasa bahagia dengan kabar baik dari Melisa dan Alvin.


“Ya udah mending kita ke kamar. Rezvan juga sepertinya sudah nyenyak banget tidurnya. Kamu tidurkan dia di kamar biar kamu nggak kecapean.” Ajak Erlan sembari memberi saran.


“Iya...” Angguk Lena tersenyum dan setuju.

__ADS_1


Mereka berdua kemudian melangkah beriringan menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua rumah nya. Dan begitu sampai di kamar, Erlan pun bergegas membersihkan dirinya. Sedangkan Lena, dia menidurkan Rezvan di atas tempat tidur dengan sangat pelan dan hati hati. Lena tidak ingin mengusik tidur lelap putranya yang pasti akan menangis tidak terima jika tidurnya terganggu.


Setelah Rezvan berbaring dengan tenang di atas tempat tidur, Lena pun meraih ponsel nya yang ada di atas nakas samping tempat tidur. Dia mencari kontak Melisa kemudian menghubungi nya. Tidak menunggu lama Melisa pun mengangkat telepon dari Lena dan mereka berdua mengobrol dengan sangat akrab juga hangat. Lena juga tidak lupa memberikan selamat pada Melisa atas pernikahan yang akan di selenggarakan seminggu lagi.


__ADS_2