
Lena menatap puas hidangan makan siang di atas meja yang baru selesai dia tata dengan bantuan si mbok dan pelayan lain nya. Lena lumayan banyak memasak menu makan siang hari ini. Dan Lena berharap Erlan akan suka dengan beberapa menu yang dia masak dengan si mbok.
“Makasih ya mbok, mbak sudah bantuin saya membuat makan siang. Kalian boleh kembali dan selamat makan siang.” Senyum lebar Lena merasa sangat berterimakasih atas bantuan para pekerja di rumah mewah itu.
“Sama sama nyonya. Kalau begitu kami pamit undur diri kembali ke belakang.” Senyum si mbok membalas. Si mbok dan pelayan lain nya kemudian berlalu dari hadapan Lena dengan sopan. Mereka bermaksud untuk membersihkan dapur dan mencuci alat memasak yang tadi digunakan kemudian sama sama makan siang karena Lena juga sudah menyisihkan sendiri makanan untuk mereka dengan alasan agar para pekerja di rumah suaminya tidak memakan makanan bekasnya dan Erlan.
Lena menghela napas kemudian meraih ponselnya yang dia letakan diatas meja makan. Dia menilik waktu dan sekitar 10 menit lagi waktu makan siangnya dengan Erlan tiba. Tapi sampai sekarang Erlan belum juga pulang.
Penasaran juga khawatir, Lena pun memutuskan untuk menghubungi Erlan. Tidak menunggu lama, Erlan pun mengangkat telepon dari Lena.
“Ya sayang...” Suara Erlan begitu lembut saat mengangkat telepon dari Lena yang menandakan bahwa pria itu baik baik saja.
“Sebentar lagi waktu makan siang tiba. Aku juga sudah menyiapkan nya di meja makan. Kenapa sampai sekarang kamu belum juga sampai?” Tanya Lena pelan.
“Ya sayang.. Maaf, tadi ada sedikit kendala yang membuat aku harus menunda sebentar waktu pulang. Tapi sekarang aku sudah di gerbang kompleks. Tidak sampai 5 menit aku sampai di rumah.” Jawab Erlan yang memilih untuk jujur. Jika Lena bertanya tentang kendalanya Erlan juga tidak akan keberatan menceritakan tentang Chilla yang datang ke perusahaan untuk menemuinya.
“Oke.. Aku tunggu.”
“Ya sayang...” Sahut Erlan.
Lena kemudian menutup telepon nya. Dia meletakan ponselnya dan mendudukkan dirinya di kursi yang ada di samping kursi tempat Erlan biasa duduk. Lena menatap lagi hidangan yang masih mengepulkan asap di atasnya. Lena berharap Erlan akan menyukai menu makan siang hari ini.
Tidak sampai 5 menit menunggu, Erlan muncul. Dia tersenyum menatap Lena yang duduk sendiri di meja makan menunggunya. Erlan mempercepat langkahnya dan langsung memeluk Lena dari belakang. Itu membuat Lena terkejut karena Lena memang tidak menyadari kemunculan suaminya tadi.
“Selamat siang sayangku...” Sapa Erlan berbisik sembari mendaratkan ciuman di puncak kepala Lena.
__ADS_1
Lena tertawa mendengar sapaan tidak biasa suaminya. Lena mengusap lembut kulit lengan kekar suaminya yang melingkar di lehernya.
“Kali ini kamu sukses membuat aku menunggu.” Katanya.
Erlan tersenyum geli.
“Maaf sayang.” Balasnya.
“Baiklah, lebih baik sekarang kita makan. Mumpung makanan nya belum dingin.” Senyum Lena mengangguk pelan. Lena sebenarnya tidak mempermasalahkan tentang dirinya yang di buat menunggu. Lena hanya merasa tidak biasa mengingat suaminya adalah orang yang selalu tepat waktu.
“Oke..” Senyum Erlan setuju. Pria itu kemudian mendudukkan dirinya di kursi. Dia tersenyum menatap Lena yang begitu telaten meladeninya. Bahkan meski ada si mbok sebagai tukang masak di rumah itu, Lena tidak keberatan turun tangan sendiri untuk ikut memasak di dapur dengan alasan selagi dirinya masih belum di sibukan mengurus anak.
Lena yang memang sudah merasa terbiasa di perhatikan seperti itu oleh suaminya hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Toh jika dirinya protes Erlan pasti akan punya jawaban manis yang akhirnya akan membuat Lena merasa tersipu sendiri.
Dengan pelan Lena meletakkan sepiring nasi serta lauk dan sayur di depan Erlan. Wanita itu juga tidak lupa menuang segelas air putih untuk suami tercintanya.
Erlan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali saat mendengar panggilan “Suamiku” dari bibir istrinya. Jelas saja, ini adalah kali pertama Lena berkata begitu manis padanya.
“Hah apa? coba ulangi lagi sayang?” Kejut Erlan membuat Lena tertawa geli.
“Selamat makan suamiku...” Turut Lena mengulang kembali kata manisnya.
Erlan tersenyum merasa sangat senang. Lena mau berkata manis padanya itu adalah suatu yang sangat membanggakan bagi diri Erlan.
“Haha.. Iya iya.. Selamat makan juga istriku, sayangku, cintaku..” Sahut Erlan yang kemudian memborong sebutan manis untuk Lena.
__ADS_1
Lena tertawa karena hal itu. Tidak ingin terlalu banyak bercanda, Lena pun segera menyantap makan siangnya di ikuti oleh Erlan. Mereka berdua makan dengan di selingi obrolan ringan. Erlan yang terus bertanya tentang apa saja yang di lakukan istrinya selama seharian di rumah yang tentu saja di jawab dengan sangat jujur oleh Lena.
“Ah ya.. Tadi kamu bilang ada sedikit kendala yang membuat kamu harus sedikit menunda waktu pulang. Apakah kendala itu sudah selesai? Semuanya baik baik saja kan?” Tanya Lena yang berpikir bahwa Kendala yang di maksud oleh suaminya adalah kendala dalam urusan pekerjaan.
“Yah.. Semuanya sudah teratasi sayang. Semuanya baik baik saja.” Jawab Erlan tersenyum.
Lena menganggukkan kepalanya.
“Kalau boleh tau apa kendalanya? Apa kendala itu begitu berat sampai kamu harus menunda waktu pulang? Memangnya Kenzie tidak bisa menghandle nya?” Serentet pertanyaan itu terlontar kembali dari bibir Lena membuat Erlan tersenyum. Erlan tau Lena pasti memang akan bertanya karena merasa penasaran. Apa lagi selama ini juga Erlan tidak pernah menceritakan apapun kendala di perusahaan nya.
“Kendala itu adalah Chilla, Sayang..” Jawab Erlan yang berhasil membuat Lena langsung berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya.
“Apa?” Lena terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin Chilla yang menjadi kendala sehingga suaminya harus menunda kepulangan untuk makan siang bersama nya.
“Chilla datang ke perusahaan dan mengatakan pada Kenzie ingin bertemu denganku. Tapi aku menolak dan menyuruh Kenzie agar mengatakan aku sedang sibuk dan tidak bisa di ganggu. Itu yang membuat aku harus sedikit menunggu agar begitu aku keluar dari kantor Chilla sudah pergi. Tapi nyatanya Chilla malah menungguku di parkiran. Aku dan Chilla sempat berbincang sedikit. Tapi aku menolak ajakan nya untuk makan bersama karena aku tau kamu sudah menyiapkan makan siang untukku di rumah sayang. Aku langsung pulang dan meninggalkan Chilla di parkiran begitu saja.” Jawab Erlan sejujur jujurnya.
“Tunggu tunggu, jadi maksudnya kalau misalnya aku tidak memasak, kamu akan mengiyakan ajakan makan siang bersama dengan teman masa lalu kamu itu?” Tanya Lena dengan kedua mata menyipit curiga menatap Erlan.
Erlan tertawa dengan tudingan sepihak serta tatapan penuh curiga istrinya itu. Lena sudah beberapa kali cemburu padanya dan Chilla. Dan itu Erlan artikan bahwa cinta Lena padanya kian membesar.
“Ya nggak begitu juga dong sayang.. Mana mungkin sih aku malah pergi sama perempuan lain sedangkan perempuan yang harus aku gandeng kemana mana itu adalah kamu. Istri tercintaku.” Jawab Erlan tersenyum manis.
Lena berdecak dan menahan senyuman di bibirnya mendengar apa yang Erlan katakan.
“Suka banget sih ngegombal. Dasar laki laki.” Gerutu Lena sambil tersipu malu.
__ADS_1
Erlan terkekeh geli mendengar dan melihatnya. Apa yang dia katakan memang benar adanya. Sebaik apapun dan secantik apapun wanita di luar sana, yang dia cintai tetaplah Lena. Tidak perduli meskipun wanita itu adalah Chilla, cinta pertamanya.