
Begitu sampai di dapur, Melisa melepaskan lengan David. Dia menghela napas kasar bersiap untuk menjelaskan pada David perihal tentang kedatangan Erlan dan Lena pagi ini pada David yang masih tidak bisa berkata apa apa dengan mulut terbuka. Melisa tau adiknya pasti sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya sehingga Melisa memaklumi sikap bodoh David kali ini.
“Kak itu itu...” David tergagap tidak bisa melanjutkan ucapan nya. Keterkejutan benar benar mengambil alih segala yang ada di pikiran nya sekarang.
“Ya.. dua hari yang lalu tuan Erlan dan asisten nya datang kesini. Dia meminta untuk kakak mengajari istrinya membuat kue lapis legit yang sangat di sukai oleh istrinya itu. Kakak nggak bisa menolak karena suatu hal. Kakak merasa tidak sepadan jika harus menolak. Apa lagi mengingat siapa tuan Erlan. Maka dari itu kakak memutuskan untuk setuju. Dan pagi ini tuan dan nyonya Harrison datang untuk nyonya Lena belajar membuat kue lapis legit kita.” Jelas Melisa.
David tidak bisa berkata apa-apa. Bertemu dengan Erlan secara tiba tiba benar benar membuatnya tidak tahu harus bagaimana. Rasanya lebih menegangkan dari bertemu dengan gadis di sekolahnya yang David sukai.
“Sudah, kakak akan membuatkan minuman untuk tuan Erlan dan Lena, istrinya. Kakak minta kerja sama kamu ya dek nanti. Selama kakak membuat kue lapis dengan Lena, tolong kamu temani tuan Erlan mengobrol.” Kata Melisa lagi.
David hanya diam saja. Dirinya belum siap sedikitpun. Tapi itu juga merupakan kesempatan langka bagi David. Kapan lagi dirinya bisa bertemu dengan Erlan secara bebas. Apa lagi Erlan sendiri yang datang ke rumahnya.
“Oke Vid, kamu pasti bisa. Ajak tuan Harrison mengobrol dan jangan melakukan hal bodoh yang bisa mempermalukan diri kamu sendiri.” Batin David meyakinkan dirinya sendiri.
David menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya berlahan lewat mulut. David kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan mantap pada Melisa.
“Oke kak..” Balasnya dengan penuh percaya diri. David yakin dirinya bisa.
“Bagus kalau begitu.” Senyum Melisa kemudian segera membuatkan minuman untuk Lena dan Erlan yang sudah duduk di ruang tamu nya.
Melisa membuatkan teh hangat di lengkapi dengan beberapa potong kue yang masih hangat sebagai pelengkap suguhan nya. Meski Melisa sendiri sebenarnya tidak yakin bisa melakukan nya. Namun Melisa bertekad dirinya harus benar benar bisa kalau tidak ingin malu di depan Lena hari ini.
“Silahkan nyonya, tuan.” Senyum Melisa saat memindahkan dua cangkir teh hangat juga sepiring kue di atas meja kaca di ruang tamu tepat di depan Erlan dan Lena.
__ADS_1
“Terimakasih kak..” Senyum Lena yang mulai bisa menguasai keadaan.
“Sama sama nyonya..” Angguk Melisa tersenyum juga.
Lena sebenarnya merasa sangat risih dengan panggilan nyonya yang di lontarkan kepada nya oleh Melisa. Ingin sekali dirinya protes namun itu tidak mungkin dia lakukan di depan suaminya.
Sedang Melisa, untuk yang kesekian kalinya dia menghela napas. Melisa kemudian duduk di sofa tunggal yang ada di depan sofa yang di duduki oleh Erlan dan Lena. Melisa sebenarnya tidak akan merasa secanggung seperti sekarang jika tidak ada Erlan di antara dirinya dan Lena. Tentu saja karena Melisa sendiri sudah lumayan lama mengenal Lena. Apa lagi mereka juga tidak sebentar bekerja bersama di perusahaan Alex.
“Eumm.. Kak, kalau boleh tau sejak kapan kak Melisa berjualan kue?” Tanya Lena untuk menghilangkan suasana hening di antara mereka bertiga.
Sementara Erlan, pria itu hanya diam saja disamping istrinya. Dia merasa sangat lega karena Melisa mau mendengarkan nya dan menerima kedatangan nya dan Lena pagi ini.
“Sebelumnya belum lama sih. Tepatnya sejak saya memutuskan berhenti bekerja di perusahaan pak Alex. Kebetulan saya sangat senang membuat kue, dan tiba tiba saja saja mendapat ide untuk menjualnya. Dan yah, usaha berjualan kue ini saya tekuni sampai sekarang.” Jawab Melisa.
Lena mengangguk anggukan kepalanya mengerti. Tidak heran jika Melisa bisa merintis usaha berjualan kue itu dengan sangat cermat mengingat Melisa sendiri memang adalah wanita pintar dan tanggap.
Lena tersenyum lebar merasa sangat senang dengan ajakan dari Melisa. Tanpa sedetikpun berpikir, Lena pun langsung menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan dari mantan atasan nya itu.
“Emm.. Erlan, aku membuat kue lapis legitnya dulu ya sama kak Melisa.” Lena menoleh menatap dengan kedua mata yang memancarkan kebahagiaan saat berbicara pada suaminya.
“Ya sayang...” Angguk Erlan balas tersenyum. Erlan merasa bahagia melihat istrinya yang terlihat sangat antusias untuk membuat kue lapis legit bersama Melisa.
“Ayo kak...” Ajak Lena semangat sembari bangkit dari duduknya.
__ADS_1
“Ah ya, silahkan nyonya. Untuk tuan, adik saya David akan menemani anda disini. Kebetulan adik saya juga sangat mengagumi anda.” Senyum Melisa berbicara dengan sopan pada Erlan.
“Oh ya.. Oke.” Angguk Erlan mengerti. Sekarang Erlan tau kenapa David terlihat sangat bodoh saat mendapati dirinya dan Lena yang ada di depan pintu utama kediaman keluarganya.
“Silahkan nyonya, kita langsung ke dapur saja.”
“Iya...”
Lena dan Melisa beriringan masuk ke dalam dapur untuk sama sama membuat kue. Sementara Erlan, dia diam menunggu di ruang tamu yang tidak lama kemudian di hampiri oleh David, adik Melisa.
“Se selamat pagi tuan Harrison.” Sapa David tergagap.
Erlan tersenyum geli menatap David yang baru saja mendudukkan diri di depan nya. Erlan tidak menyangka jika akan ada remaja laki laki yang mengaguminya. Biasanya sebagian besar orang yang mengagumi nya adalah wanita. Baik remaja maupun orang dewasa.
“Ya, selamat pagi.” Balas Erlan pelan.
David menghela napas. Dia benar benar tidak tau apa yang harus dia lakukan sekarang. Berhadapan secara langsung dengan Erlan ternyata benar benar menegangkan baginya. David bahkan sampai merasa bodoh sendiri. Padahal saat tau Lena menghubungi Melisa beberapa hari yang lalu David sangat antusias. David bahkan merasa jengkel pada kakaknya saat kakaknya menolak apa yang Lena inginkan. Tapi pagi ini tanpa di duga duga olehnya tiba tiba Erlan dan Lena datang langsung berhadapan dengan nya. David yang terkejut di buat tidak bisa berkata apa apa. Sungguh, David tidak tau kalau rasanya akan begitu sangat luar biasa jika berhadapan secara langsung dengan Erlan, pengusaha sukses yang terkenal dengan sikap bijaksananya. Itulah yang membuat David merasa sangat kagum pada sosok Erlan. Apa lagi belum lama ini juga tersiar berita bahwa Erlan membantu puskesmas memenuhi alat alat medis, menyumbang di panti asuhan, juga membuatkan tempat tinggal untuk anak anak jalanan. Rasa kagum itu semakin besar David rasakan pada sosok Erlan. David bahkan bercita cita ingin bisa seperti Erlan suatu hari nanti.
“Boleh saya tau siapa nama kamu?” Tanya Erlan yang memang belum tau siapa nama David.
“Nama saya David tuan. David tristanto.” Jawab David pelan.
“Oke.. Kelas berapa sekarang? Dan kamu sekolah dimana?”
__ADS_1
“Saya kelas 12 tuan. Dan saya bersekolah di sekolah Kartini yang berada tidak jauh dari sini.” Lagi David menjawab.
Erlan mengangguk anggukan kepalanya. Pria itu merasa sangat tergelitik karena tingkah David yang seperti sedang berhadapan dengan gadis yang di sukainya.