
Sebelum sore Erlan sudah berada dalam perjalanan pulang. Pikiran nya terus tertuju pada apa yang Kenzie katakan padanya. Erlan juga merasa khawatir kalau kalau istrinya mengalami sesuatu yang sengaja di rahasiakan darinya.
Semakin tidak tenang memikirkan hal tersebut, Erlan pun menambah laku kecepatan mobilnya. Kebetulan jalanan sedang sangat lenggang sehingga Erlan bisa mengatur dengan leluasa kecepatan laju kendaraan yang di kemudikan nya. Erlan ingin cepat cepat sampai di rumah dan bertemu dengan istrinya. Erlan mungkin tidak akan bertanya. Erlan akan menunggu Lena menceritakan sendiri. Erlan hanya ingin memastikan istrinya baik baik saja. Selebihnya Erlan percaya Lena adalah wanita yang bisa dia pegang kepercayaan nya. Lena adalah wanita yang baik dan pastinya setia.
Tidak sampai 20 menit Erlan sampai tepat di depan teras depan rumah mewahnya. Pria itu buru buru turun dari mobilnya tanpa menunggu body guard membukakan pintu mobil untuknya. Padahal saat itu posisi body guard yang akan membukakan pintu mobil untuknya sudah tepat di samping mobilnya.
“Selamat sore tuan..” Sapa body guard tersebut sedikit membungkukkan badanya begitu Erlan melewatinya.
“Ya.. Sore..” Balas Erlan dengan tetap melangkah kemudian masuk ke dalam rumah.
Body guard yang menyapa Erlan mengeryit. Tidak biasanya Erlan seperti itu. Erlan tampak tidak tenang dan seperti sedang sangat terburu buru. Namun body guard itu tidak ingin mencari tau dan lebih memilih untuk segera memarkirkan mobil mewah Erlan pada tempat yang seharusnya.
Sedangkan Erlan, dia langsung menuju kelantai dua dimana kamarnya berada. Erlan yakin Lena sedang berada di kamar mereka sekarang.
Si mbok yang melihat Erlan melangkah begitu sangat terburu buru menaiki satu persatu anak tangga merasa sangat penasaran. Padahal si mbok pikir semuanya tidak ada yang aneh. Lena juga baik baik saja. Apa lagi Lena juga mengatakan sudah meminta izin pada Erlan sebelum pergi dengan Sasha siang tadi pada si mbok. Lena juga menolak di antar oleh body guard dan lebih memilih membonceng pada Sasha yang mengendarai sepeda motor.
“Apa tuan marah?” Batin si mbok bertanya tanya.
Si mbok kemudian menggelengkan kepalanya. Wanita tua itu tau bagaimana Erlan mencintai Lena. Dia yakin Erlan tidak akan mungkin marah pada Lena. Erlan bukan pria kasar yang akan berteriak atau berbuat yang tidak sepantasnya pada wanita yang di cintainya saat sedang marah.
Tidak mau memikirkan sesuatu yang belum tentu akan terjadi, si mbok pun memilih untuk melanjutkan langkahnya menuju dapur. Si mbok hendak menyiapkan bahan bahan makanan yang akan dia masak untuk makan malam Lena dan Erlan malam ini.
Untuk Erlan, dia menghela napas begitu sampai di depan pintu kamarnya dan Lena. Erlan mencoba untuk tenang dan seolah tidak tau apa apa. Erlan tidak mau Lena tau jika dirinya tau tentang Lena yang keluar bersama teman nya siang ini tanpa sepengetahuan nya.
__ADS_1
Setelah merasa tenang, Erlan pun meraih handle pintu kamarnya kemudian memutar dan mendorongnya membuka pintu bercat coklat gelap tersebut. Saat Erlan masuk ke dalam kamarnya, Erlan tidak mendapati Lena disana. Namun kemudian gemericik air dari kamar mandi membuat Erlan menghela napas lega. Lena pasti sedang berada di dalam kamar mandi.
Erlan melangkah pelan menuju ranjang dan mendudukan dirinya disana. Pria itu membuka jas hitam yang di kenakan nya yang kemudian di susul dengan membuka sepatu hitam mengkilat beserta kaos kakinya.
Tepat setelah Erlan membuka kaos kaki dan sepatunya, Lena keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk kimono warna putih dengan rambut basah yang di biarkan terurai.
Saat itulah pandangan mereka bertemu. Lena tidak langsung mendekat. Dia berdiri mematung di depan pintu kamar mandi menatap Erlan yang sudah duduk di tepi ranjang. Pria itu sudah melepas jas dan sepatunya yang menyisakan kemeja lengan panjang lengkap dengan dasi yang melingkari kerah kemeja yang di kenakan nya. Erlan tersenyum manis kemudian merentangkan kedua tangan nya memberi isyarat pada Lena agar segera mendekat dan memeluknya.
Lena yang mengerti dengan maksud suaminya tertawa pelan kemudian melangkah dengan cepat mendekat pada Erlan dan berhambur memeluk Erlan erat.
Erlan tersenyum dan membalas pelukan erat Lena. Semerbak aroma lembut mawar menguar dari rambut dan tubuh segar istrinya.
“Kamu wangi banget sayang..” Puji Erlan berbisik.
Erlan yang tidak ingin berjarak dengan Lena, Meraih pinggang ramping Lena dan mendudukan kekasih hatinya itu di pangkuan nya.
“Eum.. Erlan, ada yang mau aku omongin sama kamu..” Ujar Lena pelan.
Seketika itu pula Erlan kembali merasa tidak tenang. Namun Erlan tetap berusaha untuk tenang di depan Lena.
“Oh ya? Apa itu sayang?” Tanya Erlan dengan sangat lembut. Pria itu mendekatkan wajahnya pada leher Lena mengendus aroma lembut mawar yang sangat menenangkan nya.
Sesaat Lena meragu. Namun kemudian Lena kembali yakin. Lena percaya suatu hubungan yang sehat adalah hubungan yang tidak ada rahasia apapun sesama pasangan.
__ADS_1
“Sebelumnya aku minta maaf sama kamu. Aku nggak bermaksud bohong. Aku juga minta maaf karena nggak minta izin sama kamu.” Jeda sejenak. Entah kenapa Lena mendadak menjadi sangat bertele tele.
Erlan yang mendengarkan tersenyum menatap penuh perhatian pada Lena. Pria itu sangat yakin Lena pasti akan jujur padanya perihal kepergiannya tadi siang.
“Jadi, tadi siang aku pergi sama Sasha kerumah sakit. Aku memeriksakan kesehatan dan kesuburan aku. Dan dokter bilang aku baik baik saja. Aku bisa hamil, hanya saja mungkin belum saatnya.” Lanjut Lena menundukan kepalanya tidak berani membalas tatapan Erlan.
Erlan tersenyum. Dia menganggap hal tersebut wajar. Semua wanita yang menikah pasti menginginkan untuk segera hamil begitu juga dengan Lena istrinya. Erlan paham bagaimana perasaan Lena.
“Jadi apa aku juga harus periksa sayang?” Tanya Erlan membuat Lena dengan cepat menegakkan kepalanya. Lena menggeleng menatap tidak percaya dengan apa yang Erlan tanyakan.
“Erlan aku..”
“Ssshhtt.. Biar adil sayang. Aku nggak keberatan jika aku juga harus periksa. Besok temani aku ya sayang..” Sela Erlan dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya.
“Tapi Erlan..”
Cup
Erlan mencium sekilas bibir Lena membuat Lena langsung diam.
“Satu yang aku yakin, kita sama sama sehat. Kita pasti akan punya anak. Tapi karena kamu sudah periksa, biar adil aku juga harus periksa. Ya mungkin kita juga bisa mengikuti program hamil. Tidak ada salahnya kan kalau kita berusaha semakin giat hem?”
Lena benar benar tidak percaya. Respon Erlan benar benar jauh dari pemikiran nya. Erlan sedikitpun tidak terlihat tersinggung apa lagi marah. Sebaliknya, pria itu justru mengajukan diri untuk di periksa juga. Merasa sangat terharu dengan sikap bijaksana dan lembut Erlan, Lena pun kembali berhambur memeluk Erlan dengan erat. Rasa syukur kembali Lena panjatkan pada Tuhan karena menjadikan pria sebaik Erlan sebagai jodohnya.
__ADS_1
Erlan tersenyum di balik punggung Lena. Pria itu membalas pelukan erat Lena dan sesekali mencium rambut basah Lena.