
Di kediaman mewah Harrison, Lena benar benar tidak berani keluar dari kamarnya. Setelah sarapan bersama Erlan dan mengantar Erlan sampai teras depan rumah, Lena juga langsung kembali naik ke lantai dua lalu masuk ke dalam kamarnya. Lena tidak para pekerja di rumah itu menertawakan dirinya yang penuh dengan tanda merah dari leher sampai lengan. Itu baru bagian yang terlihat. Belum lagi di bagian yang tertutup seperti bagian perut dan dada. Di tambah dengan bibirnya yang sedikit membengkak karena ciuman Erlan pagi tadi. Erlan benar benar meninggalkan tanda kepemilikannya begitu banyak di tubuh Lena.
Lena juga masih merasa sedikit nyeri pada area intimnya akibat ulah Erlan tadi pagi. Padahal pria itu sudah melakukannya dengan begitu lembut. Tapi Lena tetap saja merasakan nyeri.
“Kenapa rasanya sangat tidak nyaman? Bukankah saat itu Erlan sudah pernah melakukannya? Tapi tadi pagi..”
Lena menggantungkan ucapannya sendiri. Dia ingat, pagi tadi saat dirinya selesai di jamah oleh suaminya, di atas seprei tempat mereka bergumul terdapat darah yang menandakan bahwa dirinya masih perawan sebelum Erlan menyentuhnya.
“Apa iya Erlan bohong sama aku tentang malam itu? Tapi kan pagi itu juga aku bangun tanpa mengenakan apapun.”
Lena mulai berpikir. Jika memang Erlan sudah pernah melakukan itu padanya, Lena pasti tidak akan merasakan sakit tadi pagi. Lena juga pasti tidak akan merasakan nyeri seperti sekarang karena Erlan tidak kasar memperlakukannya. Tapi nyatanya Lena justru merasa seperti mereka baru pertama kali melakukannya. Sedangkan Erlan mengatakan saat itu bahwa Lena lah yang memintanya untuk melakukan itu di malam setelah Lena memergoki perselingkuhan antara Alex dan Sherin.
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat lamunan Lena buyar. Lena menoleh ke arah pintu kamarnya dan Erlan yang memang sengaja dia kunci dari dalam.
“Apa mungkin itu Erlan?” Gumam Lena bertanya tanya sendiri.
Saat hendak melangkah menuju pintu, Lena lebih dulu meraih cardigan yang pagi tadi juga dia kenakan untuk menutupi tanda kepemilikan yang Erlan tinggalkan di sekitar lengannya. Lena mengenakannya sambil melangkah menuju pintu kemudian membuka nya.
“Permisi nyonya, maaf kalau kami mengganggu. Apa nyonya baik baik saja?”
Lena meringis malu ketika mendapati 2 pelayan yang berdiri di depan pintu kamarnya dan Erlan. Padahal Lena pikir yang mengetuk pintu adalah Erlan.
“Eum.. Ya.. Saya baik baik saja. Seperti yang kalian berdua lihat. Ada apa?” Jawab Lena kemudian bertanya pada kedua pekerja di rumah mewah suaminya itu.
__ADS_1
2 Pelayan itu saling menatap sesaat sebelum akhirnya kembali menatap pada Lena.
“Tidak ada apa apa nyonya. Kami hanya merasa khawatir karena nyonya tidak keluar dari kamar sejak tuan berangkat ke perusahaan pagi tadi. Kami takut terjadi sesuatu pada nyonya.”
Lena tersenyum mendengarnya. Pekerja suaminya benar benar bekerja dengan hati, bukan sekedar hanya untuk uang saja.
“Saya baik baik saja. Saya hanya sedang ingin di kamar saja. Terimakasih untuk perhatian kalian berdua. Saya merasa sangat tersanjung untuk itu.”
2 Pelayan itu saling menatap lagi kemudian tersenyum. Memastikan Lena baik baik saja adalah tugas tambahan dari Erlan untuk mereka. Dan sebagai pekerja yang baik mereka merasa tidak boleh sampai lalai mengerjakan tugas yang diamanatkan tersebut.
“Sama sama nyonya. Kalau memang nyonya baik baik saja, kami akan segera kembali ke pekerjaan kami. Jika nyonya membutuhkan sesuatu silahkan anda panggil saja kami nyonya.” Ujar salah satu pelayan itu.
“Hem.. Ya.. Saya mengerti.” Angguk Lena dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
“Kami berdua permisi nyonya. Sekali lagi maaf kalau kami berdua sudah mengganggu waktu istirahat nyonya.”
“Kamu benar benar keterlaluan Erlan..” Gumam Lena.
Lena kembali melangkahkan kakinya menuju ranjang dengan sangat pelan pelan. Apa yang Erlan lakukan padanya pagi ini benar benar banyak membekas di tubuhnya. Seperti rasa nyeri dan tanda merah yang begitu banyak yang membuat Lena tidak bisa berkutik.
Lena merebahkan tubuhnya diatas ranjang dengan posisi terlentang. Tiba tiba Lena teringat akan apa yang baru saja dia lakukan secara sadar dengan Erlan pagi tadi. Sentuhan Erlan begitu sangat lembut dan memabukkan membuat Lena merasa tidak berdaya. Lena bahkan merasa seperti melayang saat Erlan terus menjamah setiap inci tubuhnya. Hanya saja Lena merasa sedikit tidak nyaman saat Erlan melakukan intinya. Rasa sakit dan nyeri itu lebih dulu mendominasi sebelum rasa nikmat itu muncul.
Ya, Erlan begitu kuat dan mempesona. Erlan membuat Lena merasakan kenikmatan yang selama hidup tidak pernah Lena rasakan.
Sekali lagi suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Lena tentang Erlan. Dia berdecak. Entah apa lagi yang akan di katakan pelayan itu padanya. Padahal Lena tadi sudah menjelaskan kenapa dirinya tidak keluar dari kamar.
__ADS_1
“Apa lagi sih..” Lena yang merasa sedikit kesal bangkit dari berbaring terlentang nya diatas ranjang kemudian melangkah lagi menuju pintu secara perlahan.
Begitu pintu Lena buka, bukan dua pelayan tadi yang berdiri disana, melainkan Erlan, suaminya.
“Hey, kenapa mengunci pintunya dari dalam sayang? Kamu baik baik saja?” Tanya Erlan memperlihatkan ekspresi khawatirnya pada Lena.
Lena berdecak pelan. Jika bukan karena tanda tanda itu di tubuhnya, mungkin Lena tidak akan mengurung dirinya di kamar setengah harian ini.
Merasa malas menjawab, Lena pun memutar tubuhnya dan melangkah menjauh dari Erlan yang langsung mengikuti dari belakang dan tidak lupa menutup dan mengunci kembali pintu kamar mereka.
“Kamu memakai baju hangat sejak pagi, kamu sakit sayang?” Erlan kembali bertanya dan semakin merasa khawatir karena Lena yang mengenakan baju berkerah tinggi serta cardigan layaknya orang yang sedang tidak enak badan.
Lena memutar tubuhnya menghadap kembali pada Erlan begitu sampai tepat di depan ranjang mereka. Lena membuka cardigan berwarna coklat susunya yang dia kenakan juga sedikit menurunkan kerah baju berkerah tinggi itu guna menunjukkan banyaknya tanda yang Erlan tinggalkan di tubuhnya.
“Jadi aku harus bagaimana untuk menutupi semua tanda ini suamiku?” Tanya Lena merasa gemas.
Erlan melongo. Dia sama sekali tidak sabar begitu banyak meninggalkan jejak di tubuh istri tercintanya. Apa lagi tanda kepemilikannya itu begitu jelas menghiasi leher juga lengan Lena.
Detik berikutnya Erlan tertawa. Pria itu melangkah mendekat pada Lena. Di raihnya pinggang ramping Lena dan di peluknya dengan sangat mesra.
“Maaf sayang.. Aku benar benar kalap. Apa kamu merasa tidak nyaman?”
“Ya.. Bukan hanya tentang tanda ini. Tapi disana juga terasa sedikit nyeri Erlan.” Jawab Lena memilih berkata jujur pada Erlan.
Erlan yang mengerti dengan maksud istrinya hanya bisa tersenyum saja. Pagi tadi Erlan benar benar hampir lupa daratan. Meski sudah berusaha untuk lembut nyatanya gairah itu begitu meledak dalam tubuhnya membuat Erlan secara tidak sadar sedikit memaksa saat masuk ke dalam Lena.
__ADS_1
“Maaf sayang. Lain kali aku akan lebih lembut lagi.” Bisik Erlan kemudian mencium lama kening Lena.