SAYANG

SAYANG
Episode 96


__ADS_3

“Nah.. Sampai..” Senyum David menghentikan motor metiknya tepat di depan gerbang tinggi menjulang kediaman keluarga Smith.


Melisa terdiam menatap kediaman mewah di depan nya. Melisa yakin nyonya besar Smith akan mengenalinya jika melihatnya. Nyonya besar Smith pasti juga akan sangat marah padanya mengingat apa yang pernah di beritakan di media kemarin kemarin.


David mengeryit karena kakaknya tidak juga turun dari boncengan nya. Karena penasaran, David pun menilik Melisa lewat kaca spion nya. Keryitan itu kembali muncul di kening David ketika mendapati kakaknya yang diam dengan tatapan mengarah pada kediaman mewah keluarga Smith.


David menghela napas kemudian segera memencet tombol klakson motor metiknya. Dan itu berhasil membuat Melisa tersadar dari lamunan nya.


Pak satpam yang bertugas sebagai penjaga keamanan di kediaman mewah itu langsung berlari untuk membukakan pintu gerbang.


“Motornya masuk saja nggak papa kan kak?” Tanya David pada Melisa.


“Ah yah, nggak papa kok Vid. Semalam kata nyonya Smith boleh langsung masuk saja. Pak satpam nya juga pasti sudah di beritahu.” Jawab Melisa.


David menganggukkan kepalanya. Dia kembali melajukan pelan motor metiknya setelah pak satpam membukakan pintu gerbang.


“Permisi ya pak..” Senyum David pada pak satpam tersebut.


“Ah ya den.. Monggo monggo.” Sahut pak satpam ramah dengan logat jawanya yang begitu kental.


Melisa merasakan detak jantungnya begitu cepat diluar normalnya. Wanita itu merasa sangat gugup sekarang. Melisa tidak tau harus bagaimana menghadapi nyonya Smith nanti.


“Yee.. Si kakak ngelamun lagi..” Geleng David setelah menghentikan motor metiknya tepat di depan teras rumah keluarga Smith.


“Kak ayoo.. Masih ada pesanan yang harus kita antar ke tempat lain kan?”


Melisa mengangguk tanpa bersuara. Dia segera turun dari boncengan David dengan membopong satu kresek besar yang berisi beberapa dus kue yang memang di pesan oleh nyonya besar Smith padanya.


“Kamu tunggu sebentar ya..” Ujar Melisa yang hanya di angguki oleh David saja.


Melisa melangkah pelan menuju teras rumah kediaman mewah keluarga Smith. Dia memencet bel dan tidak lama kemudian keluarlah nyonya besar Smith yang memang sudah menunggunya sejak tadi.


“Akhirnya kue nya datang juga.” Senyum nyonya besar Smith.

__ADS_1


Menyadari nyonya besar Smith yang mulai mendekat, Melisa buru buru mengenakan masker agar nyonya besar Smith tidak mengenalinya. Melisa berusaha untuk bersikap tenang agar nyonya besar Smith tidak curiga padanya.


“Selamat pagi nyonya. Ini kue pesanan nyonya..” Ujar Melisa dengan ramah.


“Selamat pagi. Ya, silahkan masuk mbak.” Sahut nyonya besar Smith dengan sangat ramah.


Melisa mengangguk. Dia melangkah masuk mengikuti nyonya besar Smith yang kemudian menyuruhnya agar meletakan satu kresek besar kue tersebut diatas meja di ruang tamu.


“Sebentar. Saya nggak bayar cash ya, saya transfer saja. Boleh minta nomor rekening kamu?”


Nyonya besar Smith mengeluarkan ponselnya sembari membuka aplikasi bank yang ada disana.


“Ah iya nyonya, sebentar.” Angguk Melisa yang kemudian langsung memberikan nomor rekeningnya pada nyonya besar Smith.


“Oke.. Sebentar.”


Tidak sampai satu menit menunggu, nyonya besar Smith pun menunjukan bukti transaksi transferan nya pada Melisa.


“Baik nyonya. Kalau begitu saya permisi nyonya. Terimakasih sudah membeli kue saya.”


“Ya sama sama. Saya beli juga karena rekomendasi dari teman saya. Katanya kue buatan kamu enak sekali. Kapan kapan saya akan beli lagi ya sama kamu. Saya simpan kontak kamu.” Senyum nyonya besar Smith begitu ramah.


“Iya nyonya.” Melisa mengangguk saja.


“Kalau begitu saya permisi nyonya.”


“Ah ya, silahkan.”


Nyonya besar Smith tersenyum menatap Melisa yang berlalu dengan begitu sopan dari hadapan nya. Wanita itu merasa mengenali tatapan Melisa namun dia tidak ingin menebak nebak sehingga akhirnya berpikir simpel saja. Mungkin Melisa hanya mirip dengan seseorang yang nyonya besar Smith kenal.


Nyonya besar Smith kemudian memanggil pelayan nya dan menyuruh untuk segera menata kue yang di belinya dari Melisa karena sebentar lagi teman teman arisan nya pasti akan berdatangan.


Sedangkan Melisa, dia hanya bisa menghela napas merasa lega. Karena ternyata nyonya besar Smith tidak mengenalinya. Tentu saja karena Melisa mengenakan masker. Tidak sopan memang mengenakan masker saat sedang berbincang dengan pelanggan barunya. Tapi itu terpaksa Melisa lakukan karena Melisa tidak ingin mendapatkan masalah baru.

__ADS_1


“Semoga nggak beneran pesan lagi deh.” Gumam Melisa berharap.


Melisa kemudian kembali melangkah mendekat pada David yang duduk santai di motor metik mereka.


“Sudah?” Tanya David pada Melisa.


“Sudah. Ayo kita antar pesanan selanjutnya.” Jawab Melisa.


David mengangguk saja. Remaja itu sebenarnya bingung karena Melisa mengenakan masker saat memberikan pesanan nya pada pelanggan baru. Padahal biasanya, Melisa tidak pernah seperti itu. Melisa selalu mengenalkan diri dengan beramah tamah. Tapi sekarang, Melisa justru terkesan menyembunyikan dirinya. Ingin sebenarnya David bertanya, tapi kemudian David berpikir jika itu tidak terlalu penting untuk di tanyakan.


Dengan kecepatan sedang, David melajukan motor metiknya berlalu dari kediaman mewah keluarga Smith.


----------


Lena menghela napas merasa sangat jenuh duduk sendiri di taman belakang rumah. Perutnya memang sudah tidak sakit lagi. Tapi mood nya masih naik turun. Lena bahkan tadi pagi tidak mengantar Erlan sampai depan rumah saat Erlan hendak berangkat bekerja. Itu karena Lena sebenarnya ingin Erlan di rumah saja menemaninya. Namun Lena juga tau bahwa suaminya mempunyai tanggung jawab yang besar yang tidak bisa di abaikan jika hanya untuk alasan menemaninya dirumah. Itu akan terdengar sangat konyol. Tapi sekarang Lena merasa kesepian. Lena tidak punya teman untuk mengobrol. Lena juga tidak tau harus melakukan apa sekarang.


“Nyonya..” Suara pelan si mbok membuat Lena menoleh. Lena tersenyum tipis ketika mendapati si mbok yang sudah berdiri dengan sedikit membungkukkan badan nya di samping kursi panjang yang Lena duduki.


“Iya mbok.. Ada apa?” Sahut Lena.


“Nyonya, saya hendak pergi keluar sebentar untuk membeli sesuatu. Karena di dapur ada beberapa bumbu dapur yang harus di beli. Apa nyonya ingin di belikan sesuatu?”


Ekspresi Lena langsung berubah sumringah mendengar apa yang si mbok katakan. Dengan sangat antusias Lena bangkit dari duduknya.


“Kalau begitu saya ikut mbok.” Katanya membuat si mbok terkejut.


“Tapi nyonya..”


“Tenang saja, Erlan pasti akan mengizinkan saya keluar dengan mbok. Saya akan meminta izin nanti. Ayo mbok.” Sela Lena.


Dengan penuh semangat Lena melangkah lebih dulu dari si mbok. Senyumnya mengembang begitu lebar menghiasi bibir tanpa lipstiknya. Lena seperti anak kecil yang akan ikut ibunya pergi ke pasar. Begitu antusias dan semangat.


Sementara si mbok, dia tentu tidak bisa melarang. Si mbok melangkah mengikuti Lena yang sudah mendahuluinya berlalu dari taman belakang rumah.

__ADS_1


__ADS_2