
Alex membanting tubuh lelahnya ke atas ranjang. Pria itu menghela napas mencoba mengusir rasa kesal dan emosi yang dia rasakan karena apa yang Sherin katakan padanya tadi.
Alex menghela napas dengan tatapan lurus ke langit langit kamarnya. Pria itu sadar dirinya memang salah karena lebih memilih mengajak Melisa dari pada Sherin, istrinya sendiri. Tapi Alex juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dirinya merasa enggan untuk mengajak Sherin. Alex sedikitpun tidak punya keniatan mengajak Sherin. Dan lagi, Alex merasa sangat tidak terima ketika Sherin menyebut Melisa adalah wanita murahan. Alex merasa sangat terganggu dengan kata kata itu. Entah kenapa Alex merasa Melisa adalah sosok yang tidak sepantasnya mendapat hinaan dari siapapun sekalipun itu dari Sherin. Istrinya sendiri.
“Melisa...” Gumam Alex pelan. Tiba tiba bayangan wajah cantik Melisa muncul membuat Alex tanpa sadar tersenyum. Suasana hatinya berubah seketika. Melisa mulai berpengaruh untuk Alex.
“Ya Tuhan.. Nyonya !!”
Pekikan bibi membuat Alex tersentak kaget. Bayangan Melisa pun hilang seketika.
Alex berdecak merasa sangat kesal karena lamunan indahnya tentang Melisa terganggu oleh suara bibi.
“Ck, ada apa lagi sih?!” Geram Alex bangkit dari berbaringnya kemudian melangkah lebar menuju pintu kamarnya yang memang tidak sepenuhnya dia tutup rapat.
“Nyonya bangun nyonya, Ya Tuhan.. Nyonya..”
Alex melangkah menuju sumber suara. Bibi terdengar sangat panik di ruang tamu dan itu membuat Alex merasa sangat penasaran dengan apa yang terjadi namun juga kesal secara bersamaan.
Begitu sampai di ruang tamu, Alex mendapati bibi yang sedang berusaha menyadarkan Sherin yang tergeletak di lantai dengan posisi miring.
Alex menelan ludah melihat Sherin yang tidak sadarkan diri. Dia kemudian bergegas mendekat dan mencoba menepuk pelan pipi Sherin untuk menyadarkannya. Namun Sherin tidak juga bangun.
“Kenapa dengan Sherin bi?” Tanya Alex menatap bibi yang menangis ketakutan melihat keadaan Sherin sekarang.
“Nggak tau tuan. Saya melihat nyonya sudah seperti ini..” Jawab bibi sambil menangis.
Alex berdecak. Tidak mau sesuatu terjadi pada Sherin juga janin yang sedang di kandungnya, Alex pun bergegas membopong tubuh Sherin. Dengan sedikit berlari Alex membawa Sherin keluar dari apartemen untuk di larikan kerumah sakit.
__ADS_1
“Ya Tuhan... Semoga nyonya tidak apa apa..” Lirih bibi yang hanya bisa berharap.
Alex mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata rata sambil sesekali melirik Sherin yang dia baringkan di kursi belakang lewat kaca yang ada di depannya. Alex tidak menyangka itu akan terjadi pada Sherin. Padahal biasanya meskipun Alex berbuat kasar sekalipun Sherin akan tetap baik baik saja.
Setelah sampai di rumah sakit, Sherin langsung mendapat penanganan. Sedang Alex, dia langsung menghubungi kedua orang tuanya memberitahukan perihal tentang keadaan Sherin sekarang.
PLAKK !!
Satu tamparan keras mendarat di pipi Alex. Tamparan yang berasal dari telapak tangan besar sang papah, tuan besar Smith. Tamparan itu juga berhasil membuat Alex diam seribu bahasa karena itu adalah kali pertama sang papah main tangan padanya.
“Keterlaluan kamu Alex.” Tekan tuan besar Smith marah.
Sedangkan nyonya besar Smith, dia hanya diam saja. Dia tidak tau lagi harus bagaimana memberitahu putranya agar menjadi pria yang bertanggung jawab. Jiwa juga hatinya ikut tersayat sebagai seorang wanita karena apa yang di lakukan oleh putranya sendiri.
“Selama ini papah diam bukan berarti papah tidak perduli. Papah diam bukan berarti papah membebaskan untuk kamu melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya itu pada istri kamu sendiri. Kamu juga sudah mencoreng nama baik keluarga kita dengan mengajak Melisa datang ke acara keluarga Gilbert. Kamu membuat spekulasi tidak baik pada publik. Apa kamu tau itu Alex?!”
“Keluarga nyonya Sherin..”
Nyonya besar Smith bergegas mendekat pada dokter yang baru saja selesai menangani Sherin. Sementara Alex, dia hendak mendekat namun di halangi oleh sang papah.
“Kamu tidak perlu tau apapun yang terjadi pada Sherin sekarang. Pergi dari sini atau papah akan melakukan hal yang tidak pernah kamu bayangkan Alex.” Ancam tuan besar Smith yang membuat Alex menggeleng tidak percaya.
“Pergi !!” Bentak tuan Smith.
Alex tidak bisa berbuat apa apa. Pria itu memilih untuk mengalah. Alex tidak ingin semakin membuat papahnya kecewa dengan melawan. Karena Alex sendiri juga menyadari kesalahan yang telah di perbuat nya.
-------------
__ADS_1
Tok tok tok
Suara ketukan pintu membuat Melisa yang belum lama terlelap harus kembali terjaga. Melisa merenggangkan otot ototnya sembari melenguh. Sebelum bangkit, dia menyalakan lebih dulu lampu yang berada di nakas samping tempat tidurnya.
“Hoammh.... Hhh..” Melisa menutup mulutnya yang terbuka lebar karena menguap. Dengan tubuh lunglai dia bangkit dari berbaringnya lalu turun dari tempat tidur dan melangkah menuju pintu untuk membuka nya.
“Ada apa Vid? kakak capek.. Ngantuk juga..” Ujar Melisa begitu membuka pintu kamarnya dan mendapati David yang berdiri di depan pintu.
“Maaf kak David mengganggu. David tau kakak capek dan mengantuk setelah bekerja seharian. Tapi kak, di depan ada pak Alex. Dia duduk di kursi di teras depan rumah.”
Kedua mata Melisa langsung membulat dengan sempurna mendengar apa yang David katakan. Alex sudah pulang dari dua jam yang lalu setelah mengantarnya pulang. David juga melihat itu. Tapi sekarang David mengatakan Alex ada di depan rumah dan sedang duduk di kursi.
“David ini nggak lucu. Jangan bercanda.” Bukan tidak percaya pada adiknya sendiri. Hanya saja Melisa merasa itu sangat tidak mungkin. Alex sudah pulang dan Melisa melihatnya sendiri.
“Ya ampun kak.. David nggak bercanda. Lagian buat apa juga David bercanda malam malam begini. Pak Alex itu baru datang dan tiba tiba duduk begitu saja di kursi.” Kata David yang memang sudah mengatakan apa yang sebenarnya.
Melisa berdecak. Penasaran ingin melihat sendiri, Melisa pun melewati adiknya dan melangkah menuju pintu utama rumah sederhana nya. Benar saja, begitu Melisa membuka pintu Melisa menemukan Alex yang sedang duduk terdiam dengan punggung yang di sandarkan. Tatapannya lurus ke depan seperti orang yang sedang memikirkan sesuatu.
“Kan bener.. David nggak bohong.” Bisik David berdiri di belakang Melisa.
Melisa menelan ludah. Dia benar benar tidak tau kenapa Alex datang lagi ke rumahnya.
“Eum.. David, kamu temenin pak Alex yah.. Biar kakak bikinin minum dulu.” Ujar Melisa menoleh menatap adiknya.
“Oke kak..” Angguk David dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Melisa menghela napas kemudian masuk kembali ke dalam rumah. Dia berniat membuatkan minuman untuk Alex.
__ADS_1