
Sekitar dua jam perjalanan akhirnya Alex sampai di rumah sakit. Saat itu operasi untuk menyelamatkan nyawa Sherin dan bayinya sudah sedang berlangsung. Alex menghela napas pelan melihat kedua orang tuanya juga keluarga Sherin yang sedang menunggu dengan cemas. Sampai sekarang perasaan iba itu belum juga Alex rasakan. Bahkan Alex berprasangka buruk bahwa apa yang terjadi sekarang pada Sherin hanya akal akalan Sherin saja untuk menarik perhatian nya. Begitulah pemikiran Alex terhadap Sherin yang sedang sekarat sekarang.
Alex melangkah santai menghampiri kedua orang tuanya. Alex bahkan melewati keluarga Sherin begitu saja. Dia tidak menganggap keluarga Sherin sebagai keluarganya juga dengan alasan dirinya yang tidak mencintai Sherin dan hanya terpaksa menikahi Sherin karena paksaan dari sang mamah, nyonya besar Smith.
Melihat putranya yang begitu santai melangkah menghampirinya, nyonya besar Smith pun langsung berdiri dari duduknya. Wanita itu benar benar tidak habis pikir dengan sikap putranya yang sama sekali tidak terlihat khawatir dengan kondisi Sherin saat ini.
“Kamu ikut mamah.” Ujar nyonya besar Smith langsung menarik tangan Alex agar mengikuti nya.
Sementara Alex yang memang tidak terlalu perduli dengan apa yang terjadi pada Sherin sekarang tampak tenang tenang saja.
Tuan besar Smith yang melihat sikap putranya hanya bisa menggeleng saja. Entah kenapa putranya bisa begitu sangat keras hati nya. Bahkan pada istrinya yang sedang berjuang antara hidup dan mati demi anak mereka saja Alex tetap terlihat tidak perduli.
Begitu sudah cukup jauh dari keluarga Sherin, nyonya besar Smith pun menghentikan langkahnya. Wanita itu langsung berbalik dan melayang kan tamparan keras pada wajah tampan Alex.
Alex yang mendapatkan tamparan keras di pipi kanan nya secara tiba-tiba itu terkejut.
“Kok mamah nampar Alex? Memangnya Alex salah apa mah?” Tanya Alex dengan raut keterkejutan di wajahnya. Pria itu memegangi pipinya yang memerah akibat tamparan keras dari tangan sang mamah.
__ADS_1
“Salah apa kamu bilang? Kamu ini sebenarnya punya hati apa tidak sih Alex? Mamah sudah menghubungi kamu sejak tadi tapi kamu baru datang sekarang? Memangnya kamu nggak khawatir sama keadaan Sherin hah? Oke mamah tau kamu terpaksa menikah dengan Sherin karena mamah yang memaksa. Tapi setidaknya kamu cobalah perduli pada janin yang saat ini sedang di perjuangkan hidupnya oleh Sherin. Bagaimana pun juga itu adalah anak kamu Alex. Darah daging kamu.” Marah nyonya besar Smith dengan kedua mata berkaca kaca.
Alex menelan ludah tidak menyangka mamah nya akan semarah itu padanya.
“Jujur Alex, Sherin memang bukan menantu idaman mamah. Tapi bagaimana pun dan apapun alasannya Sherin itu tetap istri kamu. Dia tanggung jawab kamu. Kamu tidak seharusnya bersikap tidak perduli seperti ini pada Sherin.”
Alex tidak bisa berkata apapun sekarang. Meskipun hati nya menolak apa yang mamah nya katakan. Namun Alex tidak berani menyangkal. Alex tidak mau membuat mamah nya semakin merasa sedih karena sikapnya.
“Kamu tau Alex? Sherin sedang berjuang di ruang operasi untuk melahirkan anak kamu ke dunia ini.”
“Ayolah mah.. Belum tentu juga anak itu adalah darah daging Alex. Mamah tidak perlu berlebihan.”
“Kita lakukan tes DNA mah. Dengan begitu semuanya akan jelas. Alex akan bersikap sebagaimana seorang ayah jika memang anak itu adalah darah daging Alex. Tapi kalau ternyata apa yang Alex katakan selama ini benar bahwa anak itu bukan darah daging Alex, Alex akan segera menceraikan Sherin mah. Dan mamah nggak bisa menghalangi apapun keputusan Alex.” Ujar Alex dengan tegas.
Nyonya Sherin menyipitkan kedua matanya mendengar ucapan tegas Alex. Nyonya besar Smith benar benar heran kenapa Alex terus saja menyangkal bahwa anak yang di kandung Sherin adalah darah daging nya sendiri.
“Ya Tuhan.. Mamah tidak pernah mengajarkan kamu untuk merendahkan seorang perempuan Alex. Karena mamah sendiri juga adalah seorang perempuan.” Lirih nyonya besar Smith merasa sangat kecewa pada putranya sendiri. Wanita itu merasa tidak pernah mengajarkan Alex untuk tidak menghargai seorang wanita. Justru sebaliknya, nyonya besar Smith selalu mewanti-wanti Alex agar selalu bersikap baik, menghargai, serta menjaga seorang wanita.
__ADS_1
“Sudahlah mah, ini nggak ada hubungan nya dengan apa yang mamah ajarkan ke Alex. Kita buktikan saja nanti. Kita lakukan tes DNA, dengan begitu kita akan tau apakah anak itu benar anak Alex atau bukan.” Kali ini Alex begitu keras dengan keinginan nya sendiri. Meski dia melihat sendiri bagaimana Mamah nya yang begitu sangat kecewa padanya.
“Terserah kamu saja Alex. Tapi mamah harap kamu tidak akan menyesal di kemudian hari.” Lirih nyonya besar Smith yang kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Alex sendiri.
Nyonya besar Smith kembali duduk di tempatnya semula yaitu di samping suaminya, tuan besar Smith. Rasa kecewanya begitu sangat besar kali ini pada Alex. Rasanya nyonya besar Smith ingin menyerah saja. Alex sangat susah di beri pemahaman tentang apa yang seharusnya dia lakukan sebagai seorang suami.
Tuan besar Smith yang sudah bisa menebak apa yang terjadi antara istri dan anaknya hanya bisa mengusap lembut bahu istrinya itu. Dalam hatinya tuan besar Smith merasa sangat menyesal karena ternyata sikap buruknya di masa lalu menurun pada putranya.
Beberapa saat kemudian operasi pun selesai. Dokter yang menangani Sherin keluar beriringan dengan bayi Sherin yang di dorong oleh perawat dan di letakan di boxnya. Bayi itu menangis begitu kuat membuat tangis haru meliputi keluarga Sherin, begitu juga dengan nyonya besar Smith.
“Bayinya sehat dan sangat tampan nyonya, tuan. Tapi ibunya, kondisi nya memburuk setelah selesai operasi.” Jelas dokter itu saat nyonya dan tuan besar Smith juga keluarga Sherin mendekat padanya.
“Ya Tuhan...” Lirih bunda Sherin menutup mulutnya.
“Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk menantu saya. Berapapun biaya nya itu tidak masalah. Yang penting menantu saya baik baik saja.” Kali ini tuan besar Smith bersuara.
Alex yang berdiri tidak jauh dari dokter yang sedang di kerubungi oleh keluarga Sherin dan kedua orang tuanya hanya berdecak saja. Pria itu masih merasa tidak perduli sedikitpun pada Sherin.
__ADS_1
“Tolong selamat kan anak saya dokter..” Suara ayah Sherin melirih dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Pria itu benar benar merasa tidak berdaya sekarang. Putrinya sedang berjuang antara hidup dan mati sendirian tanpa keperdulian dari suaminya, pria yang sangat di cintai nya namun sedikitpun tidak pernah mau menganggapnya ada.
“Kami akan mengusahakan yang terbaik untuk pasien nyonya, tuan. Tapi untuk hasilnya kami serahkan semuanya pada Tuhan. Kita sama sama berdoa saja untuk keselamatan pasien.” Kata dokter itu dengan bijak.