
Lena terus saja menangis sembari menyusui Rezvan. Akibatnya Rezvan pun tidak kunjung tenang. Sebaliknya, bayi tampan itu semakin menggeliat tidak nyaman di pangkuan Lena. Rezvan seperti merasakan apa yang sedang Lena rasakan sekarang.
Erlan yang tidak tega segera mendekat. Pria itu meletakan jas miliknya beserta lipatan secarik kertas yang tidak dia buka sama sekali di tepi ranjang tepat di samping Lena yang terus saja menangis terisak sambil berusaha menenangkan putranya yang juga menangis.
Erlan memejamkan sesaat kedua matanya. Menyaksikan istrinya yang menangis begitu pilu karena kebodohannya benar benar sangat keterlaluan kali ini.
Erlan kembali membuka kedua matanya kemudian berlahan menurunkan tubuhnya bersimpuh tepat di depan kedua kaki Lena. Erlan mengakui dirinya bersalah. Lena tersakiti karena kebodohan nya yang melupakan tanpa sedikitpun mengingat apa yang ingin dia katakan pada Lena malam itu.
Erlan menelan ludahnya susah payah. Hatinya benar benar sangat sakit melihat istrinya menangis terisak karenanya sendiri. Erlan mengangkat tangannya dan mendaratkan nya dengan lembut di lutut istrinya. Erlan terima kemarahan istrinya. Tapi Erlan tidak bisa menerima sakit hati yang di rasakan oleh istrinya meskipun itu karenanya sendiri.
“Sayang aku mohon tenang.. Rezvan pasti juga akan tenang kalau kamu tenang sayang.. Aku bisa jelaskan semuanya.” Lirih Erlan menatap penuh harap pada Lena.
Lena memalingkan wajahnya. Dia tidak perduli dengan apapun yang Erlan katakan padanya kali ini. Erlan sudah menggoreskan luka di hatinya. Luka yang tidak pernah Lena duga akan di rasakan nya. Luka yang selama dua hari ini membebani hati dan pikirannya. Luka yang juga membuat air mata bercucuran dari kedua matanya. Luka dari pria yang sangat di cintai nya.
“Sayang.. Percaya sama aku. Tenangkan dirimu dengan begitu Rezvan akan tenang. Saat ini ketenangan nya bergantung pada suasana hatimu.” Erlan terus berusaha menenangkan Lena. Erlan tau penjelasan apapun darinya tidak akan bisa membuat Lena percaya jika Lena saja sedang emosi dan tidak tenang.
Lena memejamkan kedua matanya. Perasaannya saat ini benar benar sangat hancur karena apa yang sudah di lakukan suaminya. Sesuatu yang Lena sendiri tidak tau namun melibatkan Chilla di dalamnya. Dan itu Lena anggap sebagai hal intim yang mungkin saja memang sengaja di sembunyikan oleh suaminya dari dirinya.
Lena menarik napas dalam dalam. Meski hatinya sedang sanga hancur, namun bukan berarti Lena tidak perduli dengan putranya. Wanita itu mencoba menenangkan dirinya agar putranya juga bisa tenang dalam gendongan nya sekarang. Lena tidak mau apa yang dia rasakan saat ini berimbas pada perasaan putranya yang masih begitu suci dan belum tau apa apa.
Erlan tersenyum dan menghela napas merasa lega setelah Lena terlihat tenang. Dan perlahan Rezvan pun mulai tenang. Bayi tampan itu bahkan kembali memejamkan kedua matanya di pangkuan Lena. Pria itu berharap setelah Lena tenang Lena bisa mendengarkan penjelasan nya dengan baik.
__ADS_1
“Sepertinya Rezvan sudah nyenyak sayang. Bisa aku bicara?” Tanya Erlan dengan lembut.
“Terserah.” Jawab Lena tidak perduli.
Erlan tersenyum tipis. Dia mengerti jika Lena marah padanya. Erlan sendiri pasti akan sangat marah jika berada di posisi Lena sekarang.
Erlan menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya perlahan. Pria itu mencoba meraih tangan Lena namun dengan cepat Lena menghindar.
“Aku minta maaf karena aku nggak langsung cerita sama kamu sayang. Tapi demi Tuhan, apa yang saat ini berada di pikiran kamu itu tidak benar sayang. Aku tidak melakukan apapun dengan Chilla. Aku hanya menolong nya malam itu karena Chilla sedang dalam keadaan terancam. Dan sebagai seorang laki laki aku tidak bisa membiarkan kejahatan terjadi di depan mataku tanpa aku melakukan apa apa. Dan tentang jas itu, aku tidak menyangka Chilla akan mengembalikan nya. Aku bahkan sudah melupakan jasnya. Itu juga yang membuat aku pulang terlambat dua hari lalu sayang. Aku membawa Chilla ke rumah sakit karena saat itu tangan Chilla terkena sayatan benda tajam dan lukanya cukup serius.”
Lena memejamkan kedua matanya mendengar penjelasan panjang lebar suaminya. Penjelasan itu rasanya tidak cukup bagi Lena karena hatinya masih terasa sakit dan hancur.
“Sayang.. Aku bersumpah. Aku tidak berbohong. Aku hanya menolong Chilla yang dalam keadaan bahaya malam itu.” Lanjut Erlan menatap Lena penuh harap.
Erlan memang sudah menyakiti hatinya, tapi bukan berarti Erlan harus merendahkan dirinya sebagai seorang suami dengan bersimpuh memohon dan menyentuh kakinya.
Erlan terkejut karena Lena yang menghindar darinya. Pria itu menatap tidak percaya pada Lena dengan kepala menggeleng pelan.
“Sayang aku...”
“Aku butuh bukti.” Sela Lena cepat. Sesekali Lena mengusap air mata yang masih saja menetes dari kedua matanya.
__ADS_1
Erlan mendongak menatap Lena yang berdiri memunggunginya. Pria itu tidak keberatan dengan bukti apapun yang Lena inginkan. Pria itu siap membuktikan apa saja jika itu bisa membuat Lena kembali percaya lagi padanya.
“Apapun akan aku lakukan sayang. Asal kamu percaya dan nggak marah lagi sama aku. Aku akan menghubungi Chilla supaya kamu mendengar sendiri apa yang akan Chilla katakan.”
Lena menoleh menatap Erlan dengan kedua matanya yang sembab serta ujung hidung nya yang memerah karena menangis.
“Jadi kamu punya nomor perempuan itu? Kamu masih berkomunikasi dengan dia?” Tanya Lena.
Erlan mendesis. Lena akan semakin salah paham karena kebodohannya.
“Tidak, bukan seperti itu maksud aku sayang. Aku sama sekali enggak menyimpan nomor Chilla. Aku akan menelepon Kenzie yang menyuruh nya untuk menghubungi Chilla. Kita akan bertemu secara langsung supaya kamu percaya sama...”
Deringan ponsel Lena menyela apa yang sedang Erlan coba jelaskan. Itu membuat Erlan langsung berhenti berbicara karena Lena juga langsung meraih benda pipih yang berada di atas nakas itu.
Erlan hanya menghela napas. Pria itu tidak berani protes meski Lena lebih memilih ponselnya yang berdering.
Sedangkan Lena, dia menarik napas dalam dalam saat mendapati nama kontak Natasha yang tertera di layar ponselnya. Meskipun sekarang dirinya sedang berselisih paham dengan Erlan, namun Lena tidak ingin siapapun tau tentang masalah rumah tangga nya sekalipun itu adalah tuan besar Harrison dan Natasha, mertuanya.
Setelah merasa tenang, Lena pun mengangkat telepon tersebut. Lena berharap Natasha tidak menyadari suaranya yang sedikit berbeda karena sedang menangis.
“Halo mom...”
__ADS_1
Erlan hanya diam saja di tempatnya. Pria itu tau istrinya sedang berusaha tenang di tengah kekalutan hatinya.