
Tidak mau memancing kemarahan Alex, Sherin pun berusaha untuk secepat mungkin sampai di restoran yang memang sejak dulu sering mereka berdua jadikan tempat bertemu diam diam di belakang Lena. Sherin sebenarnya sangat penasaran karena tiba tiba Alex memintanya untuk datang.
“Ada apa Alex?” Tanya Sherin begitu sudah duduk berhadapan dengan Alex.
Alex melirik Sherin dengan sinis. Pria itu meraih ponselnya yang berada di atas meja yang menjadi pembatas posisinya dan Sherin sekarang.
“Kamu telat 10 menit Sherin. Kamu membuat aku membuang buang waktuku yang berharga.” Katanya.
Sherin hanya bisa menghela napas. Segala yang dia lakukan memang akan selalu salah di mata Alex.
“Jarak dari rumah sangat dekat dari sini. Apa lagi kamu menggunakan mobil papah. Dari mana dulu kamu tadi hah?”
Sherin menelan ludah. Dia tidak menyangka Alex akan seteliti itu.
“Eum.. Perut aku sedikit terasa tidak enak tadi. Jadi aku meminta pak supir untuk sedikit memelankan kecepatan.” Lagi, dengan sangat mulus Sherin mengatakan kebohongannya. Wanita itu sendiri tidak menyangka kenapa kata kata yang tidak benar adanya itu bisa begitu mulus keluar dari mulutnya.
Alex menyipitkan kedua matanya penuh selidik. Pria itu berusaha membaca tatapan mata istrinya itu.
“Kamu berbohong. Jangan kamu pikir aku bodoh Sherin. Tapi ya sudahlah itu bukan urusanku juga. Aku cuma mau kamu bilang sama mamah dan papah kalau kamu ingin tinggal hanya denganku saja di apartemen. Kalau kamu berhasil membuat mamah dan papah setuju, aku akan mengakui anak dalam kandungan kamu itu. Tapi kalau tidak berhasil, maka begitu anak itu lahir aku akan menceraikan kamu dan mengambil anak itu dari kamu. Asal kamu tau Sherin, yang papah dan mamah mau itu hanya anak dalam kandungan kamu. Bukan kamu sebagai menantunya.”
Sherin terdiam mendengarnya. Sherin tau tentang kedua orang tua Alex yang memang tidak benar benar menganggapnya sebagai menantu. Dan tawaran Alex kali ini membuat Sherin merasa di lema. Sherin ingin terus bisa bersama Alex dan sama sama membesarkan anak yang akan lahir dari rahimnya nanti. Tapi Sherin juga tau kenapa Alex mengajaknya untuk tinggal hanya berdua di apartemennya. Tentu saja agar Alex bisa leluasa menyakitinya tanpa di ketahui oleh mamahnya.
__ADS_1
“Kamu nggak perlu khawatir, aku nggak akan menyakiti kamu asal kamu tidak mencampuri urusanku.” Lanjut Alex.
Sherin menatap Alex bingung. Sherin tidak tau harus bagaimana sekarang. Di ceraikan setelah melahirkan kemudian dirinya harus kehilangan bayinya karena Alex akan memanggilnya membuat Sherin tidak berani untuk membayangkan. Tapi tinggal berdua hanya dengan Alex juga tidak menjamin dirinya juga janin yang berada dalam kandungannya baik baik saja. Alex pasti akan melakukan berbagai cara untuk menyakitinya.
“Aku beri kamu waktu sampai besok Sherin. Kalau kamu tidak bisa memilih salah satu dari apa yang aku bilang tadi, itu artinya kamu sudah siap dengan segala yang akan kamu tanggung ke depannya.” Senyum sinis Alex.
Setelah berkata demikian, Alex pun segera bangkit dari duduknya. Pria itu berlalu begitu saja meninggalkan Sherin yang masih tidak tau harus berkata apa.
Tes
Air mata menetes tanpa bisa Sherin bendung sepeninggal Alex. Sherin tidak menyangka jika bayangan hidup bahagia bersama Alex itu hanya angan angannya saja karena cinta sepihak yang Sherin miliki. Sedangkan Alex, jangan kan mencintainya, menatapnya saja Alex sepertinya enggan. Saat itulah Sherin sadar bahwa selama menjalin hubungan secara diam diam dengan Alex di belakang Lena selama ini Alex hanya menganggapnya sebagai pemuas nafsunya saja.
---------------
Erlan turun dari mobil mewahnya tanpa menunggu body guard membukakan pintu untuknya. Pria itu menghela napas pelan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya begitu menatap rumah mewahnya dimana Lena, istri tercintanya sedang berada di dalam sana. Erlan sengaja tidak memberitahu Lena tentang kepulangannya siang ini seperti biasanya.
Tidak sabar ingin bertemu dengan wanita yang sangat di cintainya itu, Erlan pun segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Tempat pertama yang selalu dia tuju adalah kamarnya dan Lena dimana biasanya Lena sedang berada disana dan merenung seorang diri.
“Kamu sudah pulang?”
Baru saja Erlan hendak melangkahkan kakinya di anak tangga pertama menuju lantai dua saat tiba tiba suara Lena terdengar. Kali ini pemikiran Erlan salah. Lena tidak sedang berada di kamar mereka.
__ADS_1
Erlan menolehkan kepalanya dan mendapati Lena yang berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu berdiri tidak jauh dari tangga dengan celemek yang masih menempel di tubuh rampingnya. Melihat itu Erlan langsung bisa menebak bahwa istrinya pasti baru saja melakukan aktivitas di dapur.
Erlan segera melangkah mendekat pada Lena yang tanpa di duga tiba tiba berhambur memeluknya. Tidak hanya memeluk, Lena juga memberikan ciuman singkat di pipi kanan Erlan. Itu cukup mengejutkan bagi Erlan karena tidak biasanya Lena melakukan hal seperti itu.
“Aku tau kamu akan pulang walaupun kamu nggak kasih tau aku lebih dulu.” Senyum Lena manis menatap wajah tampan Erlan.
Perlahan seulas senyum terukir di bibir Erlan. Lena bersikap seolah Lena sudah bisa mencintai Erlan layaknya Erlan yang mencintainya sejak dulu. Itu membuat Erlan semakin percaya diri bahwa dirinya bisa membuat Lena tetap berada di sampingnya selamanya.
“Kamu pasti sudah lapar kan? Ayo kita ke meja makan. Aku sudah masak banyak untuk kamu Erlan. Di bantu sama mbok sama mbak yang lain juga sebenarnya. Dan karena siang ini aku masak sepesial buat kamu, jadi kamu harus makan yang banyak, oke? Aku jamin rasanya tidak akan mengecewakan deh.”
Lena begitu semangat meraih lengan kekar suaminya, mengapitnya dengan dua tangan lalu menuntunnya melangkah menuju meja makan dimana berbagai menu makan siang sepesial yang sengaja dia siapkan untuk Erlan sudah tertata rapi disana.
Sementara Erlan, dia hanya tersenyum dan menurut saja membiarkan Lena melakukan apa yang dia mau. Bahkan saat Lena menyuruhnya untuk duduk di kursi paling ujung di meja makan Erlan juga pasrah pasrah saja.
“Tunggu sebentar, aku akan ambilkan untuk kamu.” Kata Lena yang begitu cekatan mengambilkan makanan di piring Erlan. Setelah itu Lena menyendok nya sedikit dan menyodorkannya pada Erlan yang tentu dengan senang hati Erlan terima.
“Bagaimana rasanya?” Tanya Lena dengan senyuman yang menghiasi bibirnya menanyakan tentang bagaimana rasa masakannya pada Erlan.
Erlan mengunyah pelan makanan yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Seperti ekspetasi Erlan begitu melihat hidangan diatas meja, rasanya benar benar tidak mengecewakan. Begitu lezat dan sangat cocok dengan lidahnya.
“Ini sangat enak sayang..” Jawabnya.
__ADS_1
Erlan kemudian meraih pinggang Lena dan menariknya lembut sehingga Lena duduk di pangkuan nya. Sementara Lena yang terkejut dengan apa yang Erlan lakukan hanya diam saja. Apa lagi saat tatapannya bertemu dengan tatapan lembut penuh cinta Erlan. Rasanya Lena seperti terhipnotis.
“Terimakasih sudah membuatkan makan siang yang begitu lezat sayang. I Love you so much.” Bisik Erlan.