SAYANG

SAYANG
Anak Baru yang Populer - bag. I


__ADS_3

Gadis baru itu benar-benar menarik perhatian banyak orang, setelah seminggu dia pindah, dia menjadi sangat terkenal. Ada saja orang yang datang mencarinya, tidak hanya laki-laki, tapi juga para gadis yang ingin bergabung dengan genk-nya‒dia sekarang membentuk genk, lho. Genknya beranggotakan gadis-gadis populer yang ada di sekolah, mulai dari kelas satu sampai kelas tiga, semuanya dia rektrut. Yah, meskipun anggotanya hanya empat orang dengan dirinya, tapi tetap saja itu sangat mengganggu. Pasalnya, begitu mereka berjalan, semua mata melihat dan melihatnya, bukan urasanku sih. Tapi yang menjadi masalahnya, sejak satu minggu yang lalu aku, sudah tiga kali ditabrak oleh orang yang sama, penggemar fanatiknya Tysha yang berlari mengejarnya ketika dia berjalan di koridor, tidakkah dia tahu kalau aku juga sedang berjalan di jalan yang sama?


“Oh Leva, kau baik-baik saja?” Kata Tysha.


Baik-baik saja? Aku baru saja ditabrak, mulutku dipenuhi oleh pasir.


“Sepertinya kau jatuh!”


Aku memang jatuh, memangnya tidak lihat?


“Sepertinya sakit!”


Dia mengatakannya dengan lembut dan tersenyum, manis sekali. Kenapa aku menjadi kesal, ya? Karena senyumnya? Aku tahu tersenyum itu baik, tapi jika dalam keadaan seperti ini, apakah masih bisa dikatakan baik?


“Leva, berhati-hatilah. Kau harus menyingkir ketika ada orang yang berlari ke arahmu.”


Oooo, aku akan mengingatnya seumur hidupku! Dia orang pertama yang membuatku tahu rasa ‘benci’ itu seperti apa. Meskipun ini rasa benci yang singkat yang hanya berlangsung selama 8 detik, tapi aku punya alasan untuk itu, karena dia tersenyum saat aku jatuh? Aku jatuh karena dia, bukan?


“Leva, kau tidak boleh tetap di sini. Kau akan diinjak!”


Bantu aku, sialan! Dan dia memang membantuku, menarik tanganku, membantu membersihkan bajuku.


Ketika kami di kelas tambahan, inilah yang terjadi.


“Aku mengadakan pesta malam ini di rumahku, pastikan kalian semua datang!” Tysha memberi penguman‒ala sinetron.


Dia menarik perhatian semua orang di kelas, dalam sekejap aku tiba-tiba merasa ditinggalkan. Hanya sekejap, setelah itu perasaanku kembali normal ketika dia mengatakan, “Leva, pastikan kau memakai gaun yang bagus!”


Tysha membuat emosiku mudah berubah. Ini sangat membingungkan, sebelumnya belum pernah terjadi yang seperti ini. Dia seakan mengaduk-aduk perasaanku. Dia membuatku benci kemudian menerima kehadirannya, kemudian benci dan kembali menerimanya lagi, dia tidak seperti Tiwa yang aku selalu menerimanya apapun yang dia lakukan, dia sangat berbeda dengan Vicky yang aku terima bagaimana pun dia, dia tidak seperti yang lainnya yang jika aku benci ya hanya benci dan jika aku suka ya hanya suka. Terhadapnya, aku tidak menemukan kata yang tepat tentang perasaanku.


“Vicky, kau juga ikut!” Katanya, Vicky diam saja. Dia tidak protes begitu aku menganggukan kepala, seharusnya tadi aku menolaknya?


“Bagaimana denganku? Aku tidak diundang?” Qarima tiba-tiba muncul. Dia bersama Gin, akhir-akhir ini mereka memang sering bersama.


“Ini hanya untuk teman-teman di kelas tambahan!” Kata Tysha menolak, tapi dia tetap tersenyum.


“Jadi maksudmu kami bukan temanmu? Oooo begitu, kau tipe orang yang suka memilih teman!” Sindir Qarima, mereka memang tidak akur. Meskipun aku tidak tahu masalah sebenarnya apa.


“Tidak, bukan begitu maksudku. Tentu saja kalian berdua boleh ikut!” Katanya.


Meskipun Tysha tersenyum, tapi otot wajahnya yang lain mengisyaratkan betapa marahnya dia.


***


Vicky menjemputku di rumah ketika jam lima sore. Aku, Qarima dan Qhaza berangkat bersama. Qhaza meminta ikut karena undangan ini datangnya dari Tysha, akhir-akhir ini dia sering menanyakan Tysha padaku, begitu pula dengan Qarima. Bahkan El.


Populernya dia!


“Maaf aku terlambat!” El di sini, dia juga ikut. “Aku berangkat bersama kalian. Kak Fairel berangkat terlebih dahulu.”


Siapa yang tanya?


“Putri, jika mobilnya tidak muat kami bisa duduk di atas atapnya saja!”


Kalian sudah bisa menebak siapa yang datang.


Qhaza menyetir, Qarima di sampingnya. Aku dan Vicky di kursi tengah, sementara  El, Ramona dan Marlyn di kursi belakang.


“Kak Leva, apa makanan kesukaanmu?” Tanya El manis, setelah kami dalam perjalanan.


“Ice cream!” Jawabku heran.


“Aku juga menyukai ice cream, kita memiliki selera yang sama!”

__ADS_1


“Selera yang sama …” kata Qhaza pelan. “Kau sedang mencari perhatian?”


“Diamlah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu!”


Suasana macam apa ini? Kenapa berubah menjadi tak enak? Tapi syukurlah kami sampai belasan menit berikutnya, cukup dekat. Tapi, apa kami benar-benar sampai? Inikah rumahnya Tysha?


Besar!


“Kalian semua di-di sini?” Tanya Tysha dengan wajah tak enak.


Aku tahu Tysha kaget melihat rombongan yang ikut denganku. Itu bukan urusanku, kan? Bukan aku yang mengajaknya.


“Aku di sini karena Ramona mengundangku!” Kata El cengar cengir, dia berusaha ramah.


“Aku diundang oleh Marlyn!” Kata Ramona.


“Aku diundang oleh Qhaza!” Kata Marlyn.


“Aku diundang oleh kak Vicky!” Kata Qhaza.


“Aku diundang olehmu!” Kata Vicky.


Dalam hati aku mengatakan, “Wow!”


Tysha tidak berkata apapun, dia tetap tersenyum. Tapi menurut pengalamanku yang suka mengamati perubahan wajah, jelas sekali dia sangat marah. Setidaknya dia tidak marah padaku, maka aku akan baik-baik saja.


“Well! Semoga kalian menikmati pesta kecil yang kusiapkan.”


Kami semua mengangguk. Memperhatikan dan mengamati. Ini pesta macam apa? Kami sudah memakai gaun terindah yang kami miliki, bahkan Qhaza memakai jas, tapi … kami di sini hanya datang untuk menonton dvd? Dia menyediakan kue, tidak sebanyak yang disediakan oleh Vicky ketika aku di rumahnya. Terlebih lagi, kenapa dia harus duduk di samping Fairel.


Mereka terlalu dekat, mereka terlalu dekaaaaaattt!


Qarima bahkan tidak menikmati filmnya, matanya sejak tadi melotot ke arah Fairel dan Tysha, dia seperti ingin menelan mereka berdua. Qhaza juga hanya fokus pada Tysha, El tidak bisa berhenti melirik Qhaza, kemudian Tysha, kemudian Qhaza lagi, apa lehernya tidak sakit? Ramona dan Marlyn … mereka berdua melotot di depan televise, matanya berbinar-binar menyaksikan aksinya Frogo yang sedang berebut cincin dengan Golum di dalam film The Lord of the Ring. Vicky juga memperhatikan filmnya, tapi dia tidak seperti Ramona dan Marlyn yang penuh semangat. Tatapannya adalah tatapan penuh amarah, kupikir dia ingin membanting televisinya. Sisanya, mereka menonton dengan normal, duduk diam memperhatikan filmnya sambil menikmati cemilan.


Oh Gin! Sejenak aku melupakannya. Dia juga ada di sini, sejak tadi dia hanya memperhatikanku. Membuatku bingung, kadang aku gugup jika sesekali tanpa sengaja tatapan kami bertemu. Itu salahnya, kenapa terus melihatku?


Fairel dan Tysha, mereka membicarakan apa sih? Mereka berdua tertawa!


Dan ... dipuncak menegangkan di dalam film, para penonton film pun tegang. Akhirnya, kekacauan terjadi. Qarima memecahkan botol di tangannya!


Qhaza memukul Fairel.


El mengambil pisau pemotong kue! Menggenggamnya erat!


Gin semakin dekat denganku!


Vicky menangis!


Ramona dan Marlyn … mereka berdua kita lewatkan saja!


Tapi, APA YANG TERJADI DI SINI????


Gubruk!!! Fairel jatuh ke belakang. Hidungnya berdarah.


Suaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr! Suara televise tidak kalah hebohnya.


“Kau, akan kuhajar!” Teria El. Dia loncat dari tempat duduknya, dia mengejar Qhaza. Qhaza melarikan diri mengelilingi ruangan, dia menabrak meja, vasnya jatuh.


Qarima dan Tysha berkelahi, mereka saling menarik rambut. Sejak kapan?


Gin mendorong Fairel yang sudah bangun, kenapa?


Mereka berdua berkelahi.

__ADS_1


HOREEEE!!! Ramona dan Marlyn berteriak, jagoannya menang.


Vicky menangis, dia semakin menjadi-jadi.


Fajar dan Ono terkena sikunya Fairel dan terkena kue yang dilempar oleh Gin, mereka berdua bergabung. Abi ditabrak oleh Qhaza sampai terjatuh, dia memukul Qhaza dengan kuat, kemudian Adit … dia menyingkir ke pinggir ruangan. Merekam dengan ponselnya‒ Sambil tertawa bahagia.


Apa yang terjadi di sini?


Melihat mereka semua, aku gemetar. Keributan macam apa ini? Ini tidak seperti pesta yang aku bayangkan. Mereka mengeluarkan darah, seperti iblis! Aku takut, aku takut! Aku sangat takut. Tidak tahu, kakiku mundur perlahan ke arah pintu dan … aku berlari sekuat tenaga. Mencari tempat yang aman untukku, mencari tempat yang tenang yang di sana tidak ada seorang pun yang akan berteriak di dekatku. Aku ingin, aku ingin ketenangan. Aku hanya ingin sendiri.


Air mataku berjatuhan, aku sangat takut! Aku benar-benar sangat takut. Aku tidak suka mereka saling menyakiti.


Tapi, aku di mana?


 


 


Beberapa waktu setelahnya aku merasa sangat tenang. Aku mendapati diriku tertidur di bawah pohon yang di sekitarnya pun ada banyak pohon besar. Sepi. Hanya suara jangkrik yang terdengar. Aku tidak ingat aku datang dari arah mana, tapi perasaanku stabil, aku menjadi sangat tenang, pikiranku kosong. Berada sendirian di tengah hutan seperti ini bukan sesuatu yang bisa membuatku takut atau panik, hanya masalahnya sekarang … aku lapar!


Grrr! Grrr! Grrr!


Perutku terus berbunyi.


Seharusnya aku memakan banyak kue tadi di rumahnya Tysha. Tuh kan, memikirkan tentang makanan lagi! Padahal harusnya berpikir cara untuk pulang.


“Bulan yang indah!” Gumamku.


Ini adalah ketenangan yang kuinginkan. Aku memutuskan untuk tetap tinggal untuk sementara waktu‒hingga aku tertidur lagi, karena aku lapar, aku tidak akan membuang-buang banyak tenaga untuk mencari jalan pulang. Lea pasti akan menemukanku.


***


Kurasa, aku hanya tertidur beberapa menit. Aku terbangun karena langkah kaki dan suara ranting yang kudengar semakin mendekat ke arahku. Seseorang sedang berlari dengan tergesa-gesa‒aku melihatnya.


Refleks tubuhku berdiri. Kami saling menatap. Raut wajahnya panik, khawatir. Sangat khawatir. Nafasnya terengah-engah, matanya menatapku dengan perasaan lega tapi air matanya jatuh perlahan. Dia melangkah pelan ke arahku, kemudian memelukku erat. Fairel.


Dia menangis tersedu-sedu, aku bingung. Tapi, pelukannya… aku menyukainya.


“Fairel?”


Dia tidak berkata apa-apa. Hanya melepas pelukannya dan menggenggam tanganku. Aku mengikuti langkah kakinya, kembali.


Kulihat Lea di rumahnya Tysha, sengan menangis tersedu-sedu, dia memelukku erat.


“Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi! Aku tidak ingin … ” Katanya tersedu-sedu.


“Ayah, Lea, aku …” Qarima terlihat menyesal.


Situasi yang membingungkan, kenapa semua orang menunduk? Kenapa mereka semua babak belur?


“Apa saja yang kau lakukan? Aku mempercayakannya padamu!” Teriak Lea pada Qarima.


“Ini salahku …” Kata Qarima, terlihat menyesal.


“Ini memang salahmu!” Bentak Lea.


Seumur hidup aku tidak pernah melihat Lea semarah itu, apa lagi pada Qarima. Dia tidak pernah marah pada Qarima sebelumnya. Atau hanya aku yang tidak tahu?


“Sudahlah! Ayo kita pulang!” Kata ayah.


Kami pulang, setelah berpamitan pada Tysha dan yang lainnya.


Aku tanpa sadar, aku telah menjadi penyebab masalah?

__ADS_1


__ADS_2