SAYANG

SAYANG
Idemu...?


__ADS_3

Sejujurnya, mendengarkan orang lain berbicara, menemukan orang seperti apa mereka memalui pemikirannya, tidak terlalu membuatku bersemangat. Tapi, karena ini adalah kelas, aku harus fokus.


“Sebuah inspirasi, datanglah padaku.” Ono menengadahkan tangannya ke atas.Dia, orang pertama yang harus kuhadapi--yang harus kudengarkan isi kepalanya seperti apa.


“Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan. Jika tidak punya ide lebih baik diam saja.” Komentar Vicky.


“Tentu saja punya! Semuanya dengarkan!” Kami semua terdiam, perhatian kami tertuju pada Ono. Ono menarik nafasnya.


Di sebuah kerajaan kuno, tinggallah beberapa pangeran yang …


Ono mulai menuturkan idenya, menceritakn sebuah kisah yang menakjubkan kepada kami semua. Kami terhanyut oleh ceritanya, tapi, masalahnya adalah… aku kesal. Bagaimana bisa ceritanya lebih baik dari yang sudah ku pikirkan semalaman?


“Ide yang bagus!” Puji pak Abdul.


“Tapi bukankah ini terlalu panjang?”


“Dan juga, memerlukan banyak pemain dan biaya.”


“Benar! Menciptakan efek kabut, naga, kemudian hutan rawa, apa di sini ada hutan rawa?”


“Penduduk desa, itu terlalu banyak!”


“Benar! Ini cerita yang bagus, tapi kita juga harus mendengarkan ide dari yang lainnya. Kita akan menyeleksinya setelah ini, benar bukan?” Tanya pak Abdul kepada kami semua. Kami menganggung.


“Sekarang giliranku! Ha-ha-ha!” Vicky tertawa terbahak-bahak.


“Semangat sekali.” Komentarku pelan. “Seperti anak SD yang ingin pergi piknik.”


“Ucapanmu sangat menyebalkan Leva, huh! Seolah, kau mulai membenciku.”


“Jangan khawatir. Aku sudah membencimu.” Koreksiku, jujur?


Dia menatapku tidak percaya.


“Sudahlah. Aku mulai saja,” Vicky menaik nafasnya, dia pun mulai bicara.


“Pernahkah kalian mendengar tentang Leukemia? Tentu saja belum pernah! Ha ha ha! Aku merasa sangat pintar! Ha ha ha!” Lanjut Vicky.


Aku memicingkan mata menatapnya, di dunia ini kenapa bisa ada orang seperti dia?


“Kanker otak!” Jawab Abi tidak bergairah.


“Bagaimana kau bisa tahu?” Tanyanya serius, sungguh serius.


“Itu terlalu familiar!” Jelas Adit, setengah kesal.


“Adit, kau juga mengetahuinya? Jangan-jangan kalian juga?” Tanyanya syok, dia benar-benar syok, lho!


Kami semua pun mengangguk secara bersamaan. Dia tambah syok.


“Memangnya ada apa dengan Leukemia?” Tanya Tiwa melerai.


“Aku ingin membuat film tentang Leukemia!”


“Maksudmu tentang kehidupan seseorang yang menderita Leukemia?” Tanya Fairel memperjelas.


Vicky menggelengkan kepalanya.


“Atau tentang ‘apa itu Leukemia?” Tebak Ono.


“Benar!” Vicky mengacungkan jempolnya.


Semua orang menatapnya tak bergairah, gadis ini punya selera yang aneh. Sementara itu Vicky mengangguk dengan senyuman percaya diri.


“Hmm hmm. Aku tahu kalian takjub karena ide brilian ini datang dariku. Oh betapa senangnya!” Katanya bangga.


Teman-teman yang lain dengan wajah kosong menatap Vicky. Jika ini adalah anime, mereka semua pasti sudah terlihat ‘putih’.


“Isi filmnya adalah; di mana kita semua berdiskusi tentang Leukemia, kemudian mencapai kesepakan di akhir bahwa Leukemia itu adalah ‘kanker otak!’ Hahaha, ide ini terlalu menakjubkan sampai-sampai aku tidak bisa berhenti tertawa! Wah aku merasa benar-benar pintar!”


“Yang lain?” Tanya pak Abdul mulai kesal.


“Apa maksudnya yang lain Pak? Saya belum memaparkan idenya.” Protes Vicky tidak setuju.


“Kita tidak perlu mendengarkannya lebih banyak lagi, kan?” Sindir Fajar.


“Apa maksudmu?”


“Vicky, idemu terlalu menakjubkan sampai-sampai aku tidak sanggup untuk mendengar keseluruhannya.” Kata Adit


meyakinkan sambil memegang pundaknya Vicky, yang lainnya mengangguk. Vicky tampak bingung.


“Membosankan!” Kataku, aku mengucapkannya secara tidak sengaja. Entah kenapa yang lainnya malah menatapku.


Vicky menatapku dengan jengkel.


“Sekarang, giliranku.” Kata Adit, dia memulai dengan menghela nafas panjang.


“*Tahun 2032, terjadi sebuah ledakan besar di ruang angkasa. Ledakan dahsyat yang berasal dari partikel-partikel planet yang mulai tak beraturan dan saling bertabrakan itu sampai ke bumi. Ledakan berskala besar mencapai permukaan bumi, bumi dalam keadaan kacau dan terlihat mengerikan.


Banyak korban jiwa yang berjatuhan, tumbuhan menjadi kering dan layu, laut tercemar oleh bangkai binatang, mayat manusia yang tak terurus, airnya pun mulai mengering. Kehidupan manusia dilanda kehausan dan kelaparan, mereka saling memakan satu sama lain untuk bertahan hidup, meminum darah untuk menghilangkan kehausan, satu persatu mereka mulai mati dan membusuk, tinggal tulang.


Tidak ada yang peduli dengan apa yang terjadi pada orang lain, mereka hanya peduli pada dirinya sendiri. Kegelapan merasuki pikiran manusia, mereka mulai liar dan tak terkendali dan akhirnya jatuh ke lingkaran setan. Bumi hancur lebur menjadi debu, tak tersisa apapun lagi. Kejadian itu bernama ‘kiamat*’. Sekian!”


Yang benar saja!


“Hanya itu?” Tanya Tiwa kemudian. Adit mengangguk.


“Cerita yang kelam!” Gumam Fajar sambil memegangi dagunya. Dia punya kebiasaan seperti orang tua.

__ADS_1


“Aku tidak bisa membayangkan berapa pemain yang harus dihadirkan untuk membuat film yang seperti ini.” Komentarnya.


“Sekitar seribu!” Jawab Adit bersemangat.


“Kau terlihat ‘percaya diri’.” Komentar Fairel. Adit tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


“Kuharap ada yang punya ide yang lebih masuk akal lagi.” Ucap pak Abdul.


“Itu sangat masuk akal!” Bela Adit.


“Ya itu masuk akal. Tapi … hahahaha! Yang lain!”


“Aku aku!” Abi bersemangat. “Ini tidak begitu bagus seperti Ono, tidak membosankan juga seperti Vicky, juga tidak kelam seperti Adit, tapi ini seperti -”


“Kau tidak harus mengatakannya!” Kata Vicky dan Adit bersamaan.


“Ini cerita yang akan membuat kalian−”


“Bisa langsung pada intinya?” Fajar memotong.


“Ini cerita romantis. Kau tahukan kalau aku menyukai hal-hal yang romantis, karena aku adalah orang yang romantis!”


“Benarkah?”


“Aku tidak tahu itu!”


“Aaaa! Kalian dengarkan saja, jangan memotong. Cerita berawal dari seorang gadis cantik yang berjalan melewati lembah dengan sebuah keranjang kosong di tangannya menu―” Abi mulai bercerita.


“Kenapa dia melewati lembah? Dia dari mana dan akan ke mana?” Fajar memotong.


“Ke pasar dan dia dari hutan!”


“Maksudmu gadis cantik yang tinggal di hutan?”


“Ya! Gadis ini tinggal bersama neneknya di … Aaaaa! Sudah kukatakan jangan memotong!”


Fajar mengangguk.


“Cerita berawal dari seorang gadis cantik yang berjalan melewati lembah dengan sebuah keranjang kosong di tangannya menuju pedesaan terdekat dari hutan tempatnya berasal.”


“Kukira kau mengatakan dia akan ke pasar!” Potong Fajar lagi.


“PASARNYA ADA DI DESAAAAAAAAA!” Teriak Abi.


Kami semua tertawa.


“Begitu sampai di desa dia bertemu dengan seorang pemuda yang berpakaian pengemis, pemuda itu menghampiri sang gadis kemudian mengulurkan tangannya.Tanpa berpikir panjang sang gadis memberikan sebagian umbian yang ada  di dalam keranjangnya kepada pemuda pengemis itu, kemudian sang gadis−”


“Bukankah keranjangnya kosong? Sejak kapan dia mengisi keranjangnya dengan umbian?” Kali ini Ono yang memotong.


“Itu karena keranjang sang gadis adalah keranjang ajaib.Dia bisa mengambil apa saja yang dia inginkan di dalam keranjang. Lalu sang gadis―”


“Itu karena dia hanya bisa mengambil apa saja yang ada di kebunnya. Keranjang itu terhubung dengan kebunnya yang ada di hutan.” Jelas Abi cepat.


“Ohhhh!” Kami semua mengatakannya serentak.


“Sang gadis kemudian membeli tomat dan―”


“Kenapa dia tidak menanam tomat di kebunnya?” Potong Fajar, lagi.


“Karena dia baru dua hari tinggal di hutan!”


“Lalu bagaimana dengan ‘umbian’?” Tanya Ono bingung.


“Dia menanamnya ketika dia sampai di hutan!”


“Umbiannya tumbuh dalam dua hari? Kemudian umbian itu dalam dua hari ber-um-bi?”


“Itu karena tanahnya tanah yang ajaib!”


“Ohhhh.” Kami semua serentak mengangguk.


“Lalu sang gadis membeli tomat―”


“Kupikir kau akan mengatakan sang gadis kemudian berkenalan dengan pemuda pengemis yang ternyata


pemuda pengemis itu adalah seorang pengeran!” Potong Fajar, lagi dan lagi.


“SANG GADIS KEMUDIAN MEMBELI TOMAT-LABU-BAWANG-KACANG-GULA DAN IKAN! SE-LE-SA-I!” Teriak


Abi keras dengan nafas terengah-engah.


Tatapan semua  orang yang ada di kelas, tiba-tiba menjadi kosong.


“Ka-u ya-kin sudah selesai?” Tanya Ono was-was.


“Ya!” Jawab Abi singkat.


“Aku sama sekali tidak menemukan bagian romantisnya.” Komentar Fairel. Juga was was.


“Yang ada hanya gadis yang pergi ke pasar, kemudian membeli tomat dan labu dan selesai!” Tiwa juga berkomentar.


“He-he-he!” Cara tertawa yang tidak meyakinkan, “Cerita yang sangat singkat!” Kata pak Abdul, sepertinya dia berniat memuji tapi tidak berhasil.


“Benar-benar romantis!” Sindir Vicky.


“Berhenti mengejek! Aku sendiri merasa aneh.” Kata Abi kemudian. “Seharusnya ada bagian tengah dan


bagian akhir. Tapi kenapa sudah selesai ya?” Tanyanya dengan wajah yang benar-benar polos.

__ADS_1


“Bukankah itu idemu? Kenapa malah bingung?” Ono protes.


“Itu karena kalian terus memotong, jadi aku sudah lupa apa yang ingin aku katakan.”


“Jadi itu berpengaruh?”


“Tentu saja!”


“Jadi ini kesalahan kami?” Tanya Vicky. Abi mengangguk.


... semua terdiam.


Beberapa dari teman-teman kelasku telah mengungkapkan pendapatnya, sekarang giliranku, kan?


“Aku penasaran…” Gumam Ono pelan.


“Benar juga! Aku cukup penasaran, ide seperti apa yang ada di kepala


itu?” Kata Fajar.


Apa maksudnya?


“A-a-alien!” Ucapku.


Ini sulit dipercaya, ini pertama kalinya aku kehilangan kepercayaan diriku. Ada apa dengan kebanggaanku sebagai seorang penghayal? Aku tidak yakin dengan ideku sendiri. Telebih, aku terbata-bata!


“Alien? Ada apa dengan alien?” Tanya pak Abdul.


“A-alien ke bumi!” Woi woi woi, aku bahkan kesulitan bicara. “Alien turun kebumi!”


“Ya?”


Di dalam anime, jika tokoh utama dalam keadaan gugup apa yang akan dia lakukan? Diam beberapa detik, menarik nafas dalam-dalam, kemudian membayangkan apapun di sekitarnya menjadi labu. Yah, meskipun sudah dibayangkan seperti itu, mereka tetap saja terlihat seperti manusia.


Ahhhh! Ini akan membunuhku. Aku tidak pernah membayangkan akan membicarakan isi pikiranku pada orang sebanyak ini. Apa yang terjadi dengan privasiku yang berharga?


“Suatu hari …” Aku akan mencoba, meskipun aku tidak yakin ini akan berhasil.


“Suatu hari sekelompok tuan alien yang berasal dari matahari datang ke bumi!”


“Tunggu sebentar!” Abi memotong! “Maksudmu aliennya tinggal di matahari?”


“Ya!” Aku mengangguk. “Menurutku matahari ada penghuninya.” Kataku meyakinkan.


Ya, aku sungguh berpikiran begini. Awas saja jika mereka berani menentangku.


“Be-begitu! He he!” Komentar Fajar ragu.


“Kedatangan para tuan alien mengejutkan penduduk bumi, karena begitu tiba di bumi tuan alien dengan segera―”


“Tuan alien?”


Aku mengangguk. “Tuan alien dengan kekuatan mecrofiksnya yang sangat dahsyat segera―”


“Mecrofiks itu apa? Ini pertama kalinya aku mendengarnya!” Tanya Fairel.


“Mecrofiks adalah jenis kekuatan yang dimiliki oleh tuan-tuan alien untuk membangkitkan tanaga matahari sehingga matahari terus bersinar dan menghasilkan panas, mecrofiks juga memiliki bentuk dan kemampuan yang lain yaitu tali penarik!”


“Oh ... Jadi?”


“Dengan mecrofiks itu tuan alien menarik matahari ke arah bumi hingga matahari itu bertabrakan dengan bumi!”


“Woi woi!”


“Penduduk bumi kepanasan dan kehausan karena matahari yang berada sangat dekat dengan bumi!” Lanjutku.


“Tentu saja!” Komentar Adit.


“Tapi dalam keadaan gundah yang menyelimuti manusia bumi tiba-tiba seorang pahlawan hadir sebagai sosok penolong, pahlawan utusan dari raja sungai dan raja laut yang bersatu untuk mengusir matahari dari bumi. Dengan kekuatan herogen air dan herogen laut pahlawan itu menyiram matahari dengan penuh semangat, akhirnya matahari kedinginan dan menggigil. Matahari pun pergi menjauh dari bumi dan tak pernah bersinar lagi.Selesai!”


 Mereka semua terdiam beberapa saat.


“Aku tidak tahu harus berkomentar apa.” Kata Fairel.


“Dia punya imajinasi yang tinggi!” Komentar Fajar.


“Aku tidak bisa membayangkan jika matahari tidak menyinari bumi lagi, apa kita semua masih bisa hidup?” Abi ikut berkomentar.


“Entahlah, tapi aku cukup penasaran dengan ‘herogen’, bisa kau jelaskan Leva?” Tanya Fajar lagi.


Sementara itu yang lainnya hanya tersenyum, tidak, lebih terlihat seperti tertawa yang ditahan.


“Herogen adalah arwah penjaga air yang bisa menyemburkan air yang berasal dari seluruh laut dan sungai yang ada di bumi!”


“Begitu ...!”


“Oke. Lalu selanjutnya, bagaimana dengan Fairel?” Tanya pak Abdul.


Sial! Dia mengabaikanku.


“Hmmm. Ini tidak begitu menarik!” Kata Fairel, “Tidak terlalu banyak imajinasi yang dilibatkan, hanya sedikit  memutar otak dan membuat penasaran, meskipun bagian awal akan sangat membosankan, tapi pada bagian akhir adalah sesuatu yang akan membuat film ini menjadi sangat mengagumkan, sesuatu yang tidak terduga-duga oleh penonton akan terjadi di bagian akhir.”


“Horror?”


“Ya sedikit, ini juga masuk kategori misteri.”


“Sepertinya menarik!”


“Bisa mulai?”

__ADS_1


“Ada sekelompok―


__ADS_2