SAYANG

SAYANG
Episode 154


__ADS_3

Setelah Erlan mewujudkan keinginan nya untuk bertemu dan secara langsung membuat kue lapis legit bersama si penjual kue yang ternyata adalah Melisa itu Lena merasa sangat lega juga senang. Wanita itu merasa sangat puas dengan hasil kue buatan tangan nya dengan Melisa secara langsung.


Malam ini Lena berniat memberikan kejutan kecil untuk suaminya yang sedang fokus dengan pekerjaan nya di ruang kerjanya. Lena juga ingin berterimakasih atas apa yang sudah suaminya lakukan. Karena berkat suaminya, Lena bisa bertemu langsung dengan Melisa bahkan sekarang menjadi akrab.


Lena menatap secangkir coklat panas diatas nampan yang sedang di bawanya dengan senyuman manis yang menghiasi bibir pink alaminya. Wanita itu berharap Erlan akan menyukai coklat panas buatan nya.


Namun saat hendak masuk ke dalam ruangan kerja suaminya, Lena pun melihat salah satu pelayan di rumahnya menenteng sesuatu di dalam kresek putih yang bisa Lena lihat dengan jelas apa isinya.


Ya, isinya adalah pembalut wanita. Suatu barang yang memang sangat di butuhkan oleh wanita setiap bulan nya. Dan melihat barang tersebut tiba tiba Lena teringat tentang tamu bulanan nya yang belum juga datang. Padahal seingat Lena dirinya terakhir kali kedatangan tamu bulanan nya itu adalah dua bulan yang lalu.


“Ya Tuhan...” Gumam Lena lirih.


Karena hal itu Lena pun mengurungkan niatnya masuk ke dalam ruang kerja Erlan. Dia meletakan nampan yang dia gunakan sebagai alas membawa secangkir coklat panas itu di atas meja panjang tempat berbagai furnitur menghiasi setiap sisi rumah.


Tidak lama setelah Lena berlalu, Erlan pun keluar dari ruangan kerjanya karena memang aktivitasnya sudah selesai.


Erlan mengeryit ketika pandangan nya tidak sengaja tertuju pada secangkir coklat panas diatas meja yang beralaskan nampan. Erlan menebak coklat tersebut belum lama di tinggal.


Saat itulah si mbok melintas. Erlan langsung memanggil nya dan menghentikan nya.


“Saya tuan..” Angguk si mbok dengan sopan.


“Ya mbok. Saya mau nanya, ini yang naruh coklat panas disini siapa?” Tanya Erlan.


Si mbok menatap coklat panas yang di tunjuk oleh Erlan. Wanita tua itu kemudian tersenyum. Dia tau siapa yang membuat coklat panas tersebut.


“Maaf tuan, tapi saya tadi melihat nyonya di dapur dan membuat coklat panas. Setelah itu nyonya membawanya dari dapur. Mungkin itu adalah coklat panas buatan nyonya yang di tujukan untuk tuan.”


Erlan menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang si mbok katakan. Pria itu merasa aneh. Karena jika memang benar Lena yang membuat nya tidak mungkin Lena menaruhnya di atas meja di samping pintu ruang kerjanya. Lena pasti akan langsung memberikan padanya dan masuk ke dalam ruangan nya. Tapi si mbok juga tidak mungkin berbicara seperti itu jika memang itu tidak benar.

__ADS_1


Erlan menghela napas kemudian memutuskan untuk menghampiri Lena yang ada di lantai dua di kamar mereka.


“Ya sudah kalau begitu mbok.” Ujarnya sebelum berlalu. Erlan mengabaikan begitu saja coklat panas buatan Lena karena khawatir dengan keadaan Lena sekarang.


Sementara si mbok, wanita itu hanya mengangguk saja dan melanjutkan kembali niatnya untuk mengisi token listrik yang memang sudah berbunyi di depan.


Sementara itu di kamarnya, Lena membuka laci tempat biasa dirinya menaruh pembalut dan keperluan bulanan lain miliknya. Kedua mata Lena melebar begitu mendapati dua bungkus pembalut yang sama sekali tidak di buka bungkusnya. Pembalut itu masih utuh pertanda belum di gunakan satu pack pun.


“Ya Tuhan... Itu artinya aku sudah dua kali nggak datang bulan..” Lirih Lena.


Lena mulai panik dengan berbagai pemikiran yang memenuhi kepalanya. Lena tidak pernah mengalami hal itu sebelumnya. Tapi sekarang dirinya bahkan sampai melupakan jadwal rutin tamu bulanan nya dua kali dan baru sekarang menyadari nya.


Lena kemudian meraih satu bungkus tes pek yang memang sudah di siapkan. Wanita itu buru buru membawanya ke dalam kamar mandi untuk mengecek kemungkinan dirinya tidak sendiri.


Dengan jantung berdebar Lena mencelupkan stik tes pek itu ke urin yang dia masukan ke dalam wadah kecil. Napas Lena memburu dengan jantung yang bahkan terasa seperti ini meloncat keluar dari tempatnya.


Tatapan Lena terus tertuju pada tes pek yang mulai menunjukan tanda merah yang memang biasanya muncul sebagai hasil positif atau negatifnya.


Ya, Lena positif hamil.


Lena meraih stik itu dengan tangan bergetar. Kehamilan pertama nya adalah sesuatu yang sangat dia tunggu tunggu selama ini. Lena bahkan hampir saja putus asa karena tidak sabar menunggu dirinya hamil. Bahkan sampai hampir saja muncul percikan api dalam rumah tangganya yang begitu sangat harmonis dengan suaminya, Erlan.


“Aku.. Aku hamil?” Lirih Lena dengan bibir dan suaranya yang bergetar. Air mata haru mulai menetes membasahi pipinya. Lena benar benar tidak sedikitpun berpikir bahwa dirinya sedang berbadan dua karena memang Lena tidak merasakan tanda tanda apapun. Lena memang pernah mengeluhkan lemas dan pusing. Bahkan apa yang Lena inginkan rasanya tidak bisa di tahan. Dan sekarang Lena tau kenapa semua itu terjadi. Tentu saja karena di dalam rahimnya sedang tumbuh janin yang selama ini sangat dia tunggu.


Tok tok tok


“Sayang..” Suara ketukan pintu yang di susul dengan suara Erlan membuat Lena menoleh kearah pintu kamar mandi yang memang dia kunci dari dalam. Lena tersenyum lebar dan buru buru mengusap air mata yang membasahi pipinya. Lena yakin Erlan juga pasti akan sangat bahagia dengan kabar kehamilan nya.


Tidak sabar ingin menunjukan hasil tes kehamilan nya, Lena pun buru buru meraih tes pek tersebut kemudian membuka pintu kamar mandi.

__ADS_1


Begitu pintu dia buka, Erlan sudah berdiri disana dengan wajah khawatir. Ekspresi keterkejutan Erlan langsung terlihat begitu Lena membukakan pintu untuknya.


“Kamu nangis sayang? Kenapa? Apa ada yang sakit? Ada yang mengganggu kamu?” Serentet pertanyaan bernada khawatir terlontar begitu saja dari bibir tipis nya. Dan pertanyaan pertanyaan itu membuat air mata haru Lena kembali menetes. Lena tau Erlan sangat mencintainya. Erlan tidak mau Lena tersakiti.


Melihat Lena yang kembali meneteskan air matanya, Erlan pun langsung menarik lembut tubuh Lena ke dalam dekapan hangatnya. Erlan tidak tau apa yang terjadi sehingga tiba tiba istrinya menangis. Erlan langsung berpikir apakah dirinya berbuat kesalahan yang membuat istrinya merasa tersakiti hari ini.


“Sayang aku minta maaf.. Aku minta maaf kalau aku menyakiti kamu tanpa aku sadari. Tolong jangan menangis.” Bisik Erlan memejamkan kedua matanya. Hatinya teriris melihat Lena menangis.


Sedang Lena, dia malah tertawa geli mendengar apa yang Erlan katakan. Lena benar benar tidak habis pikir kenapa suaminya langsung berpikiran bahwa dirinya membuat kesalahan padanya. Padahal Lena sendiri yakin Erlan tidak mungkin berbuat kesalahan yang Erlan sendiri tidak menyadarinya.


Mendengar Lena tertawa, Erlan pun langsung melepaskan dekapan nya. Pria itu memegang kedua bahu Lena dan menatap lekat lekat wajah cantik istrinya.


“Kok malah ketawa?” Tanya Erlan bingung.


“Abis kamu lucu sih. Masa tiba tiba minta maaf begitu. Kamu itu nggak salah, sama sekali nggak salah. Aku menangis itu bukan karena kamu tau.” Jawab Lena masih tertawa.


Erlan menyipitkan kedua matanya menatap Lena yang sedikitpun tidak terlihat menangis karena sedih.


“Terus kamu menangis karena apa?” Tanya Erlan lagi dengan rasa penasaran yang begitu tinggi.


Lena tersenyum penuh arti kemudian langsung menunjukan tes pek yang di pegangnya pada Erlan.


Erlan yang melihat tes pek bergaris dia dengan sangat jelas itu membulatkan kedua matanya. Seolah tidak percaya dengan apa yang di lihatnya Erlan pun mengambil alih tes pek itu dari tangan Lena.


“Sayang ini...”


“He'em.. Aku hamil.” Angguk Lena berkata dengan rasa bahagia luar biasa yang di rasakan nya.


Erlan tersenyum lebar mendengarnya. Pria itu langsung menarik kembali tubuh Lena dan memeluknya dengan sangat erat.

__ADS_1


“Terimakasih.. Terimakasih sayang..” Bisiknya sambil sesekali menciumi rambut Lena.


Lena hanya tertawa saja mendengar ucapan terimakasih yang tidak henti hentinya Erlan lontarkan. Meski sebenarnya Lena ingin sekali menyangkal kata terimakasih itu karena kehamilan nya juga adalah hal yang sangat dia tunggu tunggu. Menurut Lena Erlan tidak harus berterimakasih padanya, tapi pada Tuhan yang sudah memberikan kepercayaan pada mereka berdua dengan kehamilan pertama Lena.


__ADS_2