
“Sebelumnya saya minta maaf kalau selama saya bekerja disini saya banyak melakukan kesalahan pak.”
Alex mengeryit. Pria itu tidak tau kenapa tiba tiba Melisa berkata seperti itu. Karena menurut Alex sendiri Melisa sudah bekerja begitu bagus. Dia pintar, cekatan, juga tegas. Ucapan itu seharusnya Alex yang mengatakan, bukan Melisa. Karena memang Alex lah yang punya banyak salah pada Melisa. Alex sudah bertindak seenaknya pada Melisa tanpa sedikitpun memikirkan perasaan wanita itu.
“Jadi sebenarnya kedatangan saya kesini adalah untuk memberikan surat pengunduran diri saya pada pak Alex.” Lanjut Melisa sembari meletakan amplop putih di atas meja Alex dan mendorongnya pelan mendekat pada Alex.
“Maksud kamu apa? surat pengunduran diri untuk apa?” Sesaat Alex menjadi orang bodoh karena tidak bisa langsung mencerna dengan baik apa yang Melisa katakan. Padahal bahasa Melisa sudah begitu jelas langsung mengutarakan maksud kedatangan nya.
Melisa menghela napas. Alex tampak berbeda sekarang. Pria itu terlihat santai dan tidak mudah terpancing emosi.
“Saya yakin pak Alex tau apa maksud saya. Kalau begitu saya permisi pak.”
Melisa yang tidak ingin berlama lama di dalam ruangan Alex pun segera bangkit dari duduknya. Dia melangkah cepat menjauh dari meja kerja Alex menuju pintu. Melisa juga tidak ingin ada tuduhan tidak baik lagi terhadap dirinya. Dan setelah ini Melisa berharap bisa menjalani hidupnya dengan tenang.
Untuk Alex, dia menatap amplop putih yang di sodorkan oleh Melisa padanya. Alex sebenarnya tau apa yang Melisa maksud. Hanya saja Alex tidak mengerti kenapa tiba tiba Melisa memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Padahal Alex sudah tidak lagi berbuat kasar dan memaksa Melisa untuk menuruti segala keinginan nya. Tapi siang ini tiba tiba Melisa datang setelah beberapa hari tidak masuk dan menyerahkan dengan tenang surat pengunduran dirinya.
“Kenapa? Kenapa dia tiba tiba mengundurkan diri dari perusahaan? Apa aku melakukan kesalahan? Apa aku sudah membuatnya tersinggung?” Alex bertanya tanya dalam hati. Pria itu tidak merasa melakukan kesalahan pada Melisa beberapa hari ini. Justru sebaliknya, Alex terus memikirkan Melisa yang seperti menghilang di telan bumi beberapa hari ini.
Alex meraih amplop berisi surat pengunduran diri Melisa. Pelan pelan dia membuka dan membaca surat tersebut. Melisa benar benar ingin menjauh darinya.
Alex menarik napasnya dalam dalam kemudian menghembuskannya perlahan lewat mulut. Ingin sekali rasanya Alex berlari dan mencegah Melisa pergi. Tapi Alex berusaha untuk menahan dirinya. Alex tau Melisa akan semakin membencinya jika dia melakukan itu. Alex juga tau Melisa juga sudah cukup tertekan karena sikapnya. Melisa sudah cukup menderita lahir dan batin karena perbuatan nya.
__ADS_1
“Huh dasar perempuan murahan. Gatel.” Cibir salah seorang karyawan.
Melisa memejamkan kedua matanya sesaat. Cibiran itu benar benar menusuk ke relung hatinya. Begitu perih juga sakit. Namun Melisa juga tidak bisa berbuat apa apa untuk membela dirinya. Tentu saja karena Melisa sendiri menyadari bahwa kedekatannya dengan Alex selama ini memang tidak wajar. Meski itu memang bukan kemauan Melisa sendiri.
Melisa terus melanjutkan langkahnya keluar dari gedung perusahaan Alex. Melisa sangat berharap semoga setelah ini hidupnya akan jauh lebih tenang. Melisa juga sudah bertekad akan mengembangkan bisnis kuenya tentunya dengan bantuan adik adiknya, David dan Farid.
Tidak mau lama lama berada di sekitar perusahaan Alex, Melisa pun segera menaiki motor metiknya. Sesaat Melisa menoleh menatap gedung perusahaan Alex untuk yang terakhir kalinya karena mulai besok Melisa tidak akan lagi datang ke perusahaan itu. Melisa akan benar benar lepas dari cengkraman Alex.
Melisa menghela napas kasar kemudian segera menstater motornya melajukannya dengan kecepatan sedang.
Tanpa Melisa tau, Alex menatapnya dari kejauhan. Ingin sekali Alex mengejar Melisa namun sekali lagi, itu benar benar tidak mungkin. Alex tidak ingin membuat Melisa semakin di cap buruk oleh orang orang di sekitarnya.
Awalnya Alex sudah sangat bahagia saat melihat motor Melisa di parkiran. Tapi kemudian kebahagiaan itu sirna karena apa yang Melisa berikan padanya, yaitu surat pengunduran diri.
Karena hal tersebut Alex menjadi tidak fokus melakukan pekerjaan nya. Bahkan sampai menjelang malam yang dia lakukan hanya diam terduduk di kursi kerjanya tanpa melakukan apapun. Alex benar benar merasa ada yang hilang dari dirinya.
Deringan ponsel membuat Alex berdecak. Dia meraih benda pipih itu dan menghela napas merasa malas saat nama Sherin tertera di layar ponsel menyalanya. Alex tau Sherin pasti menelepon nya untuk menanyakan kapan dirinya pulang karena sebelumnya memang wanita itu memintanya untuk makan malam di luar.
“Halo...”
“Ya Alex.. Aku sudah siap siap. Kamu sudah di jalan pulang kan? Kamu nggak lupa kan kalau malam ini kita akan makan malam di luar?”
__ADS_1
Alex menyandarkan punggungnya merasa sangat frustasi. Ingin sekali Alex berteriak untuk melapangkan dadanya yang sedang terasa sesak. Tapi Alex menahan nya. Dan itu karena janji yang Alex buat pada mamahnya yang menangis kecewa padanya kala itu.
“Ya.. Aku pulang sekarang.” Jawab Alex singkat.
Alex langsung memutuskan sambungan telepon itu begitu saja. Dia tidak ingin mendengar lagi pertanyaan yang Sherin lontarkan padanya. Pertanyaan yang malas untuk Alex jawab.
Karena sedang berusaha menjadi suami dan tentunya laki laki yang baik, Alex pun membuktikan persetujuannya atas permintaan Sherin. Yaitu mengajak Sherin untuk makan malam di luar. Walaupun sebenarnya itu Alex lakukan dengan sangat terpaksa. Tapi janjinya pada sang mamah membuat Alex tidak berdaya. Bahkan untuk menentukan pilihan nya sendiri saja sekarang Alex merasa bingung.
--------------
“Kak, tadi ada tante tante cantik datang kesini. Katanya dia mau pesan kue untuk besok pagi. Alamatnya jauh banget tapi kak. Gimana dong?” Ujar David pada Melisa yang baru saja selesai berbelanja. Ya, Melisa memang langsung mampir berbelanja setelah dari perusahaan Alex.
“Oh ya? nama tante nya siapa?” Tanya Melisa mengeryit bingung.
“Eum.. Sebentar kak, tadi dia ninggalin kartu nama sama David. Ah ini dia..” David merogoh saku celana jins yang di kenakan nya mencari kartu nama yang di berikan oleh wanita yang tidak di kenalnya tadi siang lalu menyodorkan nya pada Melisa yang langsung menerimanya tanpa berpikir.
Melisa terkejut ketika melihat kartu nama tersebut.
“Tapi kan besok minggu ya.. Sekolah David sama Farid juga libur. Jadi kami berdua bisa bantuin kakak. David juga siap jadi ojek nemenin kakak nganterin kue pesanan tante itu. Banyak banget loh kak pesan nya. 8 pacs katanya. Kakak kalau setuju langsung hubungi segera katanya.” Lanjut David yang tidak memperhatikan ekspresi terkejut kakak nya.
“Nyonya besar Smith..” Gumam Sherin lirih.
__ADS_1