
Hari itu juga Alex membawa anaknya pulang ke apartemen. Dia mempercayakan pengasuhan putranya pada bibi. Alex juga meminta bibi untuk memastikan segala yang terbaik untuk putranya. Bahkan Alex sendiri yang berbelanja kebutuhan untuk putranya mulai dari susu sampai perlengkapan lain nya. Alex mungkin memang tidak bisa menerima kehadiran Sherin di sisinya. Tapi anaknya, apapun alasan nya dia adalah darah dagingnya, bagian dari dirinya yang tidak bisa dia abaikan begitu saja.
“Bi, ini adalah semua keperluan untuk anak saya. Pastikan segala yang terbaik untuk anak saya. Dan kalau memang ada yang kurang bibi bisa langsung kasih tau saya. Mulai detik ini bibi juga tidak perlu lagi mengurusi pekerjaan di apartemen ini. Bibi cukup fokus mengurus anak saya saja. Karena saya sudah menyuruh orang lain untuk setiap hari datang dan membereskan apartemen ini. Untuk makan, bibi bisa pesan apa saja yang bibi mau dan saya yang akan membayarnya.” Jelas Alex memberitahu bibi tugas baru yang akan di emban oleh wanita yang sudah tidak lagi muda itu.
“Baik tuan. Tapi mohon maaf, kalau boleh bibi tau siapa nama anak anda tuan?”
Alex berdecak. Dia sama sekali tidak kepikiran untuk menamai putranya. Tentu saja karena Alex sendiri meragukan bahwa bayi yang saat ini sudah berada di dunia yang sama dengan nya bukan darah dagingnya saat masih berada di dalam kandungan Sherin. Tapi ternyata setelah melakukan tes DNA, bayi itu benar benar adalah darah dagingnya. Hasil hubungan gelapnya dengan Sherin dulu. Hubungan yang hanya di dasari oleh nafsu saja dan tanpa adanya sedikitpun rasa cinta di hati Alex untuk Sherin.
“Saya belum memikirkan nama untuk dia. Jadi untuk sekarang panggil saja dia dengan sebutan dede.” Jawab Alex.
Bibi hanya mengangguk saja.
“Baik tuan.” Katanya.
Bibi yakin jika sekarang keadaan Sherin baik baik saja, pasti dia sudah memberikan nama yang bagus untuk putra yang di lahirkan nya. Bibi juga yakin Sherin pasti akan sangat bahagia dengan kehadiran putranya di tengah tengahnya dan Alex.
“Anu tuan, maaf sebelumnya. Kalau boleh saya tau bagaimana keadaan nyonya sekarang?” Tanya bibi yang sebenarnya sangat ingin sekali menjenguk Sherin di rumah sakit.
__ADS_1
“Bibi tidak perlu menanyakan tentang Sherin lagi. Saya akan secepatnya menceraikan dia. Tugas bibi sekarang hanya merawat anak saya dengan sebaik baiknya. Sherin tidak akan kembali lagi ke sini.” Jawab Alex yang kemudian berlalu begitu saja.
Bibi menggelengkan kepalanya tidak menyangka mendengar apa yang Alex katakan. Hati pria itu benar benar sekeras baja. Bahkan keadaan Sherin sekarang juga tidak bisa membuatnya merasa iba.
“Ya Tuhan nyonya.. Semoga anda secepatnya sembuh nyonya. Tuan muda sangat membutuhkan anda sebagai ibunya..” Batin bibi merasa pilu dengan nasib malang Sherin.
Pandangan bibi kemudian beralih pada bayi yang terlelap dengan begitu tenang di keretanya. Bayi laki laki itu sangat tampan dengan hidung mancung yang jika di lihat lihat wajahnya persis seperti wajah cantik Sherin.
“Kasihan sekali kamu nak.. Kamu harus hidup dengan keadaan yang tidak semua orang inginkan. Tapi tenang saja, bibi akan berusaha semampu bibi untuk menjaga dan merawat kamu supaya kamu tumbuh menjadi anak yang baik.” Gumam bibi dengan senyuman penuh keyakinan.
Sedang Alex, pria itu memilih masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan jiwanya yang bergejolak. Alex sendiri tidak tahu pasti apakah keputusan nya mengambil putranya dari Sherin sudah benar atau justru salah. Karena sebenarnya Alex sendiri tidak ingin hidup repot. Alex ingin selalu hidup bebas tanpa harus menanggung beban apapun. Kalaupun memang dirinya harus di bebani itu harus oleh orang yang memang benar benar Alex harapkan hadir dalam kehidupan nya.
Alex mulai berpikir keras. Keturunan nya harus menjadi orang yang hebat yang tentu di hormati dan di segani oleh orang banyak. Oleh karena itu Alex merasa dirinya tidak bisa sembarangan memberikan nama pada putranya. Apa lagi jika sampai Alex melakukan sedikit saja kesalahan pastilah keluarga Sherin akan memandang rendah padanya. Begitu pikir Alex pada keluarga Sherin yang sebenarnya tidak pernah berprasangka apapun padanya selama ini.
------------
Hampir tiga hari tidak datang menemui Melisa, malam ini Alvin pun datang dengan sebuket bunga mawar yang akan dia berikan pada pujaan hatinya Melisa. Meski memang Melisa masih mendiamkan nya karena pertanyaan seputar pernikahan yang di lontarkan oleh mamahnya tempo hari.
__ADS_1
Alvin menghela napas. Tiga hari ini dirinya pergi keluar kota karena urusan bisnis. Dan Alvin tidak memberitahu Melisa karena memang dirinya yang sangat sibuk disana dan tidak ada waktu untuk memegang ponselnya guna memberitahu Melisa tentang kepergiannya ke luar kota selama tiga hari ini.
Alvin tersenyum menatap sebuket bunga yang ada di tangan nya. Pria itu berharap Melisa akan menyukai bunga yang dia bawa untuknya malam ini. Alvin juga berharap Melisa sudah tidak lagi marah padanya karena masalah pertanyaan yang di ajukan oleh mamahnya. Pria dengan setelan jas hitam itu kemudian turun dari mobilnya dan melangkah dengan santai menuju teras depan rumah Melisa. Saat sudah berada di depan pintu utama kediaman sederhana itu Alvin pun kembali menghela napas. Tiga hari tidak bertemu dengan Melisa membuat Alvin merasa mau mati saja. Rasa rindu yang membelenggu nya membuat Alvin tidak bisa menahan diri untuk datang langsung menemui Melisa bahkan meski dirinya belum istirahat sama sekali setelah kepulangan nya sore ini dari luar kota.
Alvin mulai mengetuk pintu yang tidak lama kemudian di buka oleh Melisa.
Sesaat mereka terdiam. Melisa juga merindukan sosok Alvin sebenarnya. Namun Melisa selalu bisa menahan diri dengan tidak menghubungi Alvin yang memang tidak datang beberapa hari ini. Namun Melisa melakukan itu bukan tanpa alasan. Tentu karena Melisa kembali merasa tidak pantas juga takut untuk semakin maju ke dalam hubungan yang lebih serius dengan Alvin. Apa lagi Alvin dan keluarganya juga bukan orang sembarangan. Alvin tidak berbeda dengan Alex yang memang sudah bergelimang harta sejak lahir ke dunia ini. Hanya saja sikap keluarga Alex dan Alvin berbeda. Keluarga Alvin meskipun kaya tapi tetap rendah hati. Sedang keluarga Smith, mereka cukup arogan di kalangan masyarakat.
“Hy...” Sapa Alvin tersenyum manis.
Melisa hanya diam saja. Dia menatap Alvin yang membawa sebuket bunga di tangan nya. Melisa bisa menebak untuk siapa bunga itu nantinya. Dan tentu saja untuk dirinya.
“Ah ya.. Ini buat kamu.” Kata Alvin yang kemudian menyodorkan bunga tersebut pada Melisa.
Melisa menatap bunga yang Alvin sodorkan padanya. Sesaat dia terdiam sebelum akhirnya menerima bunga yang Alvin berikan.
“Terimakasih.” Katanya pelan.
__ADS_1
“Iyah, sama sama..” Balas Alvin mengangguk dengan senyuman yang menghiasi bibir tipis nya.