SAYANG

SAYANG
Episode 53


__ADS_3

Lagi dan lagi, apa yang Lena rasakan sangat berbanding terbalik dengan apa yang Sherin rasakan. Lena begitu sangat di istimewakan oleh Erlan. Sedangkan Sherin, dia di rendahkan dan sama sekali tidak di anggap keberadaannya oleh Alex.


Seperti saat ini contohnya. Sherin tertidur di sofa karena terus menunggu kepulangan Alex yang sampai malam larut belum juga pulang ke apartemen nya. Sherin sudah beberapa kali menghubungi Alex namun Alex sama sekali tidak merespon. Sepertinya pria itu memang sengaja mengabaikannya.


Sherin bahkan tadi menunggu sampai beberapa jam di meja makan karena menganggap Alex akan pulang dan makan malam dengannya. Namun karena menunggu terlalu lama, Sherin pun akhirnya memutuskan untuk makan lebih dulu lalu menyuruh agar asisten rumah tangga yang bekerja padanya dan Alex membereskan meja makan saja.


“Pak tolong jangan disini pak.. Saya tidak enak dengan nyonya Sherin..”


Sayup sayup Sherin mendengar suara seorang wanita. Perlahan Sherin membuka kedua matanya. Begitu kedua matanya sudah terbuka dengan sempurna, Sherin terdiam sesaat. Sherin bertanya tanya sendiri apakah yang di dengarnya tadi benar benar suara seorang wanita? Tapi Sherin merasa tidak mengenali suara itu. Itu jelas bukan suara asisten rumah tangganya yang akrab di sapa bibi itu.


“Apa itu hanya mimpi? Tapi aku tidak memimpikan apapun tadi.” Batin Sherin.


Pelan pelan Sherin bangkit dari berbaringnya. Dia terduduk dengan kedua kaki yang masih berselonjor di sofa.


“Pak saya mohon jangan pak.. Saya...”


Suara itu kembali terdengar membuat kesadaran Sherin langsung penuh. Wanita itu menolehkan kepalanya dan mencoba untuk semakin menajamkan pendengarannya memastikan apa yang di dengarnya tidaklah salah.


“Diam dan turuti saja mauku.. Ini apartemenku dan aku yang berkuasa disini.”


Itu adalah suara tegas Alex. Dan suara itu berasal dari kamar mereka. Karena penasaran, Sherin pun akhirnya menurunkan kedua kakinya dan bangkit dari sofa lalu melangkah pelan menuju kamarnya dan Alex yang pintunya sedikit terbuka itu. Padahal yang Sherin ingat, Sherin selalu menutup pintu kamarnya dan Alex tanpa membiarkan nya terbuka sedikitpun.


“Tapi pak saya...”

__ADS_1


Suara wanita itu semakin jelas terdengar seiring dengan semakin dekatnya langkah Sherin ke kamar mereka.


Detak jantung Sherin mulai bekerja di atas normalnya. Kedua tangan yang berada di samping kanan dan kiri tubuhnya mengepal erat karena setelah suara wanita itu berhenti menyusul suara ******* yang Sherin yakini itu adalah suara wanita tersebut. ******* itu bahkan seperti sebuah jeritan yang tertahan.


Begitu sampai tepat di depan pintu kamarnya dan Alex alangkah terkejutnya Sherin melihat Alex yang sedang menggagahi seorang wanita yang Sherin sendiri mengenalnya. Wanita itu adalah Melisa, sekretaris Alex sendiri.


Sherin terpaku di tempatnya. Apa yang dia lihat sekarang benar benar berhasil menghancurkan hatinya. Alex dengan sangat tega membawa seorang wanita ke kamar mereka.


Tidak kuat melihat apa yang sedang Alex lakukan dengan Melisa, Sherin pun langsung memutar tubuhnya tidak mau menyaksikan lebih lanjut lagi. Sherin juga menutup kedua telinganya tidak mau mendengar suara menjijikan itu. Suara Alex dan Melisa yang saling bersautan pertanda mereka berdua sedang sangat menikmati apa yang sedang mereka lakukan sekarang.


“Ya Tuhan...” Tangis Sherin menggelengkan kepalanya menolak apa yang baru saja di lihatnya. Air mata sudah tidak bisa Sherin bendung lagi sekarang. Menyaksikan suaminya bercinta dengan begitu panas di kamar mereka membuat Sherin merasa sangat hancur sekarang. Tapi Sherin tidak bisa berbuat apa apa. Jangan kan untuk mencegah apa yang Alex dan Melisa lakukan. Untuk menggerakkan tubuhnya sekarang saja Sherin rasanya tidak mampu.


Sherin menangis terisak dengan tubuh yang meluruh ke lantai di samping pintu kamarnya dan Alex. Detik itu juga Sherin teringat akan dosanya pada Lena. Sherin menggeleng lagi. Dia tidak menyangka jika akan menyaksikan apa yang mungkin dulu pernah Lena saksikan. Yaitu saat dirinya dan Alex bercinta di apartemen itu dan di kamar Alex.


Tangisan Sherin semakin menjadi. Wanita itu tidak pernah membayangkan itu akan terjadi. Sherin tau Alex memang sering bergonta ganti wanita. Tapi Sherin tidak pernah berpikir itu akan tetap berlanjut setelah mereka menjalin hubungan secara diam diam di belakang Lena. Sherin kira dirinya sudah cukup untuk Alex yang saat itu memang selalu menghubunginya jika sedang ingin melakukan hal itu.


Suara Alex dan Melisa ternyata juga berhasil menarik perhatian bibi yang saat itu sedang berada di dapur. Asisten rumah tangga yang sudah tidak lagi muda itu langsung menubruk Sherin yang menangis terisak terduduk di lantai di samping pintu kamarnya dan Alex.


Bibi sempat menatap ke dalam kamar dan melihat secara langsung apa yang sedang Alex lakukan. Tapi bibi hanya diam saja. Semua penghuni kediaman Smith memang sudah tau tabiat buruk Alex. Itu sebabnya semua pelayan yang masih muda di haruskan mengenakan baju yang sopan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.


“Mari saya bantu nyonya.” Bibi membantu Sherin yang tubuhnya melemas kemudian memapahnya dan mengajaknya melangkah menuju kamar tamu yang tidak di gunakan di apartemen Alex. Bibi tau bagaimana perasaan Sherin sekarang. Wanita manapun pasti akan merasa sangat hancur jika melihat suaminya bercinta dengan wanita lain di kamar mereka.


Bibi membantu Sherin duduk di tepi ranjang berukuran besar itu.

__ADS_1


“Sabar ya nyonya.. Nyonya harus kuat. Nyonya tenang saja, saya akan selalu ada disini untuk menemani nyonya.”


Tangisan Sherin semakin hebat sampai membuat bibi yang tidak tega akhirnya berinisiatif memeluk Sherin. Bibi berusaha untuk menenangkan Sherin yang sampai kesusahan bernapas karena isak tangisnya.


“Ya Tuhan.. Hiks hiks.. Sakit sekali bi..”


Bibi hanya bisa diam sembari mengusap punggung bergetar Sherin. Menyaksikan sendiri bagaimana panasnya permainan Alex dan Melisa di kamar tidur mereka pasti membuat Sherin sangat shock. Begitu pikir bibi sekarang.


Setelah merasa tenang, Sherin pun meraih kedua tangan bibi dan menggenggamnya erat.


“Bibi saya mohon sama bibi. Apapun yang tadi bibi lihat, usahakan agar mamah tidak sampai tau.”


Bibi terkejut mendengar permohonan Sherin. Tugasnya mengikuti Sherin dan Alex bukan hanya membantu Sherin membersihkan apartemen, tapi juga untuk memantau perkembangan hubungan mereka berdua.


“Nyonya tapi nyonya besar..”


“Saya mohon bi.. Alex akan menceraikan saya kalau sampai mamah tau apa yang dia lakukan. Saya mohon bantu saya...” Sela Lena menatap bibi dengan penuh harap. Kedua matanya tampak membengkak dengan kelopaknya yang memerah akibat terlalu lama menangis.


Bibi menghela napas dan menunduk menatap kedua tangannya yang di genggam oleh Sherin. Wanita itu sangat tidak tega pada Sherin sekarang. Bibi sendiri tau bagaimana rasanya di khianati karena dulu dirinya juga pernah di perlakukan seperti itu oleh mendiang suaminya.


“Saya mohon bi.. Cuma bibi yang bisa membantu saya menyelamatkan rumah tangga saya..”


Bibi memejamkan sesaat kedua matanya kemudian kembali menegakan kepalanya membalas tatapan penuh harap Sherin. Bibi kemudian menganggukkan kepalanya menyanggupi permohonan Sherin padanya.

__ADS_1


“Baiklah nyonya. Saya tidak akan mengatakan apapun pada nyonya maupun tuan besar.” Balas bibi.


Sherin mengangguk pelan. Rasa sakit itu benar benar memporak porandakan hati juga pikirannya. Tapi sekali lagi Sherin sadar bahwa itulah konsekuensi yang harus dia jalani karena memilih Alex sebagai pria yang dia cintai.


__ADS_2