SAYANG

SAYANG
Episode 76


__ADS_3

Bertubi tubi kebahagiaan yang menghampiri Lena, bertubi tubi pula penderitaan yang di rasakan oleh Sherin. Wanita itu semakin merasa tidak di hargai oleh Alex yang bahkan sekarang memilih untuk tidur terpisah dengannya. Alex memang sudah tidak lagi mengajak Melisa atau wanita lain ke apartemen nya. Namun sikapnya yang begitu cuek dan tidak perduli justru semakin membuat Sherin merasa menderita sendiri. Sherin hanya akan bertatap muka dengan Alex saat pagi hari di meja makan. Selebihnya Sherin tidak bisa lagi jika tidak secara sengaja begadang menunggu kepulangan Alex yang selalu lewat tengah malam.


“Alex... Vitamin dan susuku habis. Aku merasa sedikit tidak enak badan hari ini. Boleh aku nitip saat nanti kamu pulang dari kantor?”


Alex berhenti mengunyah makanan dalam mulutnya ketika permintaan itu terlontar dari mulut Sherin. Pria itu menoleh kemudian menghela napas pelan dengan tatapan datarnya.


Sherin yang mendapat tatapan seperti itu langsung menundukan kepala khawatir jika permintaannya memancing emosi Alex. Karena Sherin tau apa akibat jika dirinya membuat Alex emosi. Tentulah perlakuan kasar yang akan dia dapat dari Alex.


“Ya sudah nanti aku beliin.” Jawab Alex singkat.


Sherin terdiam kemudian kembali menegakkan kepalanya. Perlahan seulas senyum terukir di bibir Sherin. Wanita itu merasa sangat senang karena ternyata Alex mau menuruti permintaannya. Walaupun sebenarnya itu adalah kebohongan karena pada kenyataannya Vitamin dan susu hamil milik Sherin masih ada stoknya.


“Terimakasih..” Senang Sherin merasa sedikit di perhatikan oleh Alex.


“Hem..” Sahut Alex yang kembali menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.


Setelah menyelesaikan sarapannya, Alex bangkit dari duduknya kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Sherin. Pria itu tidak berbasa basi sekedar mengatakan “Aku berangkat atau mungkin aku pergi” pada Sherin. Alex bersikap seolah tidak ada Sherin di sekitarnya.

__ADS_1


Namun untuk kali ini Sherin sepertinya tidak terlalu memusingkan sikap Alex. Dia sudah terlanjur merasa seperti di beri harapan pagi ini karena tidak biasanya Alex mau dia mintai tolong.


“Oke Sherin.. Kamu hanya harus sedikit bersabar.. Kamu cantik dan kamu pintar. Alex pasti akan kembali seperti dulu lagi. Bahkan Alex akan memiliki cinta yang begitu besar untuk kamu, lebih besar dari cinta Alex untuk Lena dulu. Semua proses..” Senyum Sherin bergumam.


Awalnya Sherin sangat pesimis Alex mau dia mintai tolong mengingat Alex yang sering begitu emosi jika berbicara dengannya. Tapi kali ini, Alex bahkan begitu santai menyahutinya seolah tidak sedikitpun merasa terbebani dengan permintaan tolongnya.


“Lihat nak.. Papah kamu sebenarnya sangat menyayangi kita. Hanya saja papah kamu masih belum menyadarinya.. Bantu mamah terus ya sayang. Sehat sehat di dalam sana.. Papah pasti akan sangat bahagia jika kamu lahir nanti.” Sherin menunduk sambil mengusap perutnya yang mulai terlihat membuncit. Sikap Alex pagi ini benar benar membangkitkan harapannya yang hampir saja terkubur karena ke putus asaan.


------------


Alex mengangguk saat mendapat sapaan dari karyawan yang pagi itu juga baru turun dari sepeda motornya. Seperti biasa, Alex hanya diam saja tanpa menjawab sapaan ramah dan sopan dari para pekerjanya. Itu yang terkadang menjadi guncingan pada karyawan yang bekerja padanya. Alex di pandang sombong. Tidak seperti papahnya, tuan besar Smith yang begitu ramah pada siapa saja.


Alex melangkah lebar menuju lift. Saat Alex masuk ke dalam lift saat itu juga Melisa masuk. Wanita itu baru saja membeli sarapan karena memang tadi saat di rumah dia tidak sempat sarapan. Melisa bangun kesiangan karena tidak bisa tidur semalaman akibat meminum kopi.


“Pagi pak...” Sapa Melisa ramah dan sopan.


Alex menoleh. Bukannya menjawab sapaan Melisa, Alex justru memperhatikan penampilan Melisa dari atas sampai bawah. Seperti biasanya, Melisa selalu berpenampilan sexy dan tentunya sangat menarik dimata Alex. Tapi entah kenapa kali ini Alex merasa sedikit tidak nyaman dengan penampilan Melisa. Apa lagi saat melihat bagian dada Melisa yang seperti hendak menyembul keluar dari tempatnya. Padahal biasanya Alex akan merasa terpanggil untuk melakukan itu pada Melisa.

__ADS_1


Alex mengalihkan pandangan ke depan dengan di sertai helaan napas kasar. Pria itu kemudian melepaskan jad hitam yang di kenakannya dan menutupi bagian depan tubuh Melisa dengan sangat lembut.


“Jangan berpenampilan seperti ini lagi mulai besok. Aku sedang tidak ingin menghabiskan tenaga diatas kamu.” Katanya datar.


Melisa terkejut dengan apa yang Alex lakukan. Terlebih apa yang Alex katakan yang secara tidak langsung mengatakan Melisa harus berpenampilan sedikit tertutup. Itu benar benar suatu hal di luar pemikiran Melisa mengingat Alex sendirilah yang memilihkan baju baju sexy dengan belahan dada rendah padanya. Alex juga yang selalu menginginkan Melisa berpenampilan sexy setiap bekerja.


Tidak lama kemudian pintu lift terbuka. Alex keluar lebih dulu dari Melisa dengan langkah tenang dan santai. Pria itu bahkan tidak menoleh lagi pada Melisa dan terus melangkah menuju ruangannya hingga akhirnya menghilang di balik pintu ruangannya.


Melisa yang masih di kuasai dengan keterkejutan akan apa yang Alex lakukan dan katakan padanya masih mematung di dalam lift. Wanita itu kemudian menunduk menatap jas hitam milik Alex yang menutupi bagian depan tubuhnya. Itu benar benar sesuatu yang sangat langka yang pernah Alex lakukan padanya. Padahal biasanya Alex akan langsung menggodanya dengan merendahkan sebelum akhirnya menguasainya.


Beberapa saat di kuasai oleh keterkejutan karena tingkah Alex, Melisa pun akhirnya tersadar. Melisa segera menggelengkan kepalanya tidak ingin terlalu berharap Alex benar benar bersikap baik padanya.


“Enggak enggak. Mungkin saja pak Alex hanya sedang bahagia. Kamu jangan berharap sesuatu yang tidak mungkin Melisa.” Gumam Melisa kemudian melangkah keluar dari lift menuju meja kerjanya yang ada di depan ruangan Alex.


Melisa menghela napas. Dia mendudukan dirinya di kursi kerjanya lalu melepaskan jas milik Alex yang menutupi bagian depan tubuhnya. Ketika hendak meraih berkas yang harus di bacanya sebelum di berikan pada Alex, Melisa kembali terdiam. Tiba tiba ingatan Melisa mengarah pada sikap Alex beberapa waktu terakhir. Seingat Melisa sudah hampir satu minggu Alex tidak bersikap seenaknya padanya. Saat menawarkan pulang pun Alex benar benar mengantarnya ke rumah, tidak membawanya ke apartemen miliknya untuk kemudian di perlakukan seperti budak oleh Alex. Apa lagi Alex juga yang membiayai rumah sakit teman sekelas David yang David pukuli. Alex bahkan tidak mengungkit apapun setelah apa yang dia lakukan. Sebaliknya, sejak saat itu sikap Alex justru sedikit demi sedikit berubah padanya. Dan pagi ini Alex memintanya untuk tidak lagi berpakaian sexy seperti kemauannya di awal Melisa menjadi sekretarisnya.


“Apa ini cuma perasaanku saja?” Melisa bertanya tanya sendiri dalam hati. Wanita itu benar benar tidak menyangka jika Alex akan bersikap demikian padanya.

__ADS_1


__ADS_2