
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu. Tanpa di sadari hari pernikahan Melisa dan Alvin akan di adakan besok. Hal itu membuat Melisa di tuntut untuk menghentikan sementara aktivitas nya membuat kue yang artinya Melisa juga harus menurut toko kuenya.
Banyak para pelanggan yang mengirim ucapan selamat pada Melisa atas pernikahan nya dengan Alvin. Hal itu membuat Melisa merasa sangat terharu juga tersanjung karena banyak orang yang perduli padanya.
Melisa menghela napas. Wanita itu mendongak menatap langit bertabur bintang malam ini. Sudah tiga hari ini dirinya tidak berjumpa dengan Alvin. Tentu saja, orang tua jaman dulu bilang calon pengantin harus di pingit lebih dulu sebelum di pertemukan kembali untuk kemudian mengusapkan janji suci di hadapan Tuhan.
Tak ayal, rasa rindu Melisa rasakan. Meski memang mereka masih bisa berkomunikasi lewat sambungan telepon, namun tidak bertemu secara langsung nyatanya membuat Melisa tidak puas. Melisa ingin bertemu secara langsung dengan Alvin, mengobrol tentang berbagai hal, juga bercanda gurau bersama pria itu.
“Alvin.. Aku masih nggak nyangka aku bisa jatuh cinta beneran sama kamu.” Gumam Melisa dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
Ya, awalnya Melisa memang hanya setengah hati menerima Alvin karena bayangan Alex yang selalu menghantuinya. Namun seiring berjalannya waktu, perasaan itu tumbuh di hati Melisa. Tidak hanya karena kelembutan Alvin, tapi juga karena kebaikan keluarga Alvin yang mau menerima Melisa apa adanya tanpa sedikitpun mempermasalahkan bagaimana masa lalu Melisa dulu.
Melisa tidak tau apakah ada pria sebaik Alvin yang mau menerima dirinya apa adanya.
Melisa berpikir mungkin tidak ada pria yang mau menerima nya jika tau bagaimana masa lalunya. Karena Melisa sendiri tau kehormatan wanita adalah mahkota paling berharga bagi wanita itu sendiri. Sedangkan Melisa, kehormatan nya sudah di renggut dan di injak injak oleh Alex dulu. Bahkan Alex juga sampai berniat menghancurkan hubungan nya dengan Alvin dengan cara menunjukkan video yang tidak sepantasnya padanya yang kemudian tidak sengaja juga di lihat oleh Alvin. Beruntung nya Alvin benar benar tulus menerima Melisa apa adanya sehingga Alvin tidak mempermasalahkan apapun dan bagaimanapun masa lalu Melisa. Bahkan dengan begitu terang terangan Alex menceritakan bagaimana masa lalu Melisa pada kedua orang tuanya yang ternyata juga mau menerima Melisa dengan kebesaran hatinya. Luar biasanya lagi, nyonya Genie yang tidak lain adalah mamahnya Alvin tanpa sedikitpun merasa malu menceritakan masa lalunya pada Melisa yang kemudian membuat Melisa merasa tidak sendiri dengan masa masa kelamnya. Hal itu lah yang kemudian membuat Melisa merasa semakin mantap memilih Alvin sebagai calon suaminya.
Melisa sendiri tidak tahu harus bagaimana mengungkapkan rasa syukur nya. Karena dalam kehidupan yang selama ini dia anggap kejam ternyata masih ada keluarga yang begitu tulus dan baik mau menerima nya tanpa sedikitpun mengungkit apa yang sudah terjadi di masa lalu. Apa lagi keluarga tersebut adalah keluarga yang berasal dari kalangan atas. Sesuatu yang sebenarnya sangat mustahil ada bahkan tidak pernah sedikitpun terlintas di benak Melisa. Namun pada kenyataannya keajaiban itu memang ada dan Melisa adalah salah satu dari orang beruntung itu karena mendapatkan keajaiban yang tidak di sangka sangka.
Deringan ponsel yang begitu nyaring membuat lamunan Melisa buyar. Wanita itu menoleh menatap ponselnya yang ada di atas tempat tidur. Perlahan seulas senyum terukir di bibirnya. Melisa berpikir mungkin yang menghubungi nya adalah Alvin, calon suaminya.
__ADS_1
Tidak mau membuat calon suaminya menunggu lama, Melisa pun bergegas meraih ponselnya kemudian menilik layar menyala benda pipih itu. Dia mengeryit ketika mendapati nomor baru yang tertera disana, bukan nomor Alvin.
“Nomor baru? Tapi nomor siapa? Apa mungkin nomor pelanggan yang tidak aku simpan?” Melisa bertanya tanya sendiri. Pasalnya Melisa memang tidak menyimpan semua nomor para pelanggan nya. Dan beberapa hari ini memang banyak nomor masuk yang mengucapkan selamat atas pernikahan nya dengan Alvin yang akan di adakan dua hari lagi.
Penasaran dengan siapa yang menelepon nya, Melisa pun segera mengangkatnya.
“Halo, selamat malam. Ada yang bisa saya bantu?” Begitulah Melisa terbiasa menyapa para pelanggan nya dengan ramah.
“Melisa, ini aku Alex.”
Seketika ekspresi Melisa berubah. Wanita itu tidak menyangka jika yang menelepon nya adalah Alex. Ingin sekali rasanya Melisa memutuskan sambungan telepon itu, namun itu tidak mungkin karena kalau Melisa melakukan itu Alex pasti akan beranggapan Melisa takut padanya.
Alex tertawa di seberang telepon. Pria itu sebenarnya sedang sangat kacau sekarang. Namun dia berusaha menutupi nya dari Melisa. Alex bahkan menghubungi Melisa karena ingin mendengar suara Melisa. Namun seperti biasanya, Alex selalu melontarkan kata yang tidak ingin Alex katakan sebenarnya.
“Hey perempuan. Kamu mungkin bisa bangga sekarang karena ada laki laki bodoh yang masih mau menikahi kamu setelah kamu aku pakai. Tapi perlu kamu tau, apa yang kamu rasakan itu tidak akan berlangsung lama karena sejatinya laki laki tetap menginginkan perempuan yang suci dan bersih. Perempuan yang bisa menjaga kehormatan nya.” Kata Alex dengan nada sombongnya.
Melisa menela ludah. Mati Matian dia berusaha menahan amarahnya sekarang. Melisa hapal betul bagaimana Alex. Pria itu memang selalu berusaha menghancurkan kepercayaan diri bahkan merusak mentalnya dengan mengungkit segala sesuatu yang telah terjadi.
Melisa menarik napas dalam dalam kemudian menghembuskan nya dengan perlahan lewat mulut. Melisa tau menghadapi Alex tidak harus dengan otot, tetapi dengan otak. Maka dari itu Melisa merasa dirinya harus tetap santai dan tenang. Karena hanya dengan begitu dirinya baru bisa membalas apa yang Alex katakan.
__ADS_1
“Ya tuan. Saya setuju dengan apa yang anda katakan. Perempuan yang bisa menjaga kehormatan dan kesucian nya lah yang selalu di idamkan oleh laki laki yang baik.” Ujar Melisa dengan tenang.
“Bagus kalau kamu tahu itu. Jadi kamu sadar bahwa kamu dan Alvin tidak pantas bersama.”
“Mungkin menurut sebagian orang termasuk anda saya ini perempuan hina, perempuan rendahan yang tidak pantas bahagia. Tapi tuan, adanya perempuan seperti saya juga karena laki laki brengsek yang tidak punya hati seperti anda. Seharusnya anda sadar, dengan anda menghina saya, itu artinya anda juga sedang menghina diri anda sendiri. Jangan lupakan bahwa anda yang menodai saya dengan paksa tuan. Itu artinya anda lebih rendah dan lebih hina dari saya. Bukan begitu?” Lanjut Melisa membalikan ucapan sinis Alex dengan tenang.
Alex mengepalkan tangannya mendengar itu. Melisa bisa menjawab dengan sangat tepat sasaran.
“Kamu yang menggodaku Melisa. Kamu berpenampilan terbuka di depanku. Kamu sengaja memancingku kan? Kamu ingin aku melakukan itu agar aku mau menuruti semua yang kamu mau, iya kan?” Alex mulai terbakar emosi.
Melisa yang mendengar itu tersenyum penuh kemenangan. Ucapan nya berhasil membuat Alex marah.
“Ternyata selain bejat, anda juga pandai berkilah ya tuan. Anda melemparkan kesalahan anda pada orang yang menjadi korban kebejatan anda sendiri. Sungguh sangat miris. Ternyata anda tidak hanya seperti binatang yang tidak punya pikiran. Tapi bahkan lebih parah dari itu.” Melisa tetap berusaha santai. Dia tidak ingin Alex selalu merasa menang setelah menghina nya.
“Kamu...”
“Sepertinya memang tidak ada artinya berbicara dengan anda tuan. Itu hanya membuang buang waktu.” Sela Melisa yang kemudian langsung memutuskan sambungan telepon begitu saja.
Melisa menghela napas. Kali ini Melisa tidak akan terpengaruh dengan apapun yang Alex katakan. Melisa tau Alex berkata seperti itu hanya untuk menghancurkan kepercayaan diri dan mentalnya.
__ADS_1
Sedangkan Alex, pria itu sangat marah. Dia bahkan sampai membanting ponselnya saking murkanya. Ucapan Melisa berhasil membakar hati dan pikirannya.