
Karena Lena yang tidak mau keluar dari kamar dan turun dari lantai dua rumah itu, Erlan pun meminta pada pelayan untuk membawakan saja makan siangnya dan Lena ke atas. Dan hal itu membuat para pekerja di rumah itu saling menatap bingung. Terutama tukang masak.
“Apa nyonya sakit?” Tanya pelayan yang bertugas memasak pada pelayan yang lainnya yang jauh lebih muda darinya.
“Tidak mbok. Tadi waktu saya dan Mina ke atas nyonya baik baik saja. Nyonya hanya mengatakan dia sedang ingin di kamarnya.” Jawab si pelayan yang tadi ke atas secara langsung dengan satu pelayan lagi untuk mengecek keadaan Lena.
“Begitu ya.. Syukurlah kalau begitu. Ya sudah, sebaiknya kalian bantu saya menyiapkan makan siang untuk di bawa ke atas. Tuan bilang kita cukup menaruhnya di depan kamarnya saja. Nanti biar saya yang mengetuk pintu untuk memberitahu tuan.” Perintah juru masak yang juga adalah pelayan paling senior di rumah Erlan.
“Baik mbok..” Angguk pelayan tadi.
Tiga pelayan termasuk si mbok segera bergegas membawa makanan ke lantai atas. Mereka bersama sama membawa hidangan yang akan di sajikan untuk makan siang Lena dan Erlan.
“Taruh saja disini.” Perintah si mbok lagi sambil menaruh makanan yang di bawanya di atas meja panjang yang berada tepat di samping pintu kamar Erlan dan Lena.
“Ya mbok..” Angguk pelayan lainnya.
Setelah menaruh makanan yang di bawanya, para pelayan itu kemudian berlalu dari depan kamar Erlan dan Lena kecuali si mbok. Wanita tua itu mengetuk pintu kamar Erlan dan Lena yang tidak lama kemudian di buka oleh sang tuan.
“Maaf mengganggu tuan. Makan siangnya sudah siap. Apa perlu saya siapkan juga di kamar anda?”
Erlan melirik meja dimana banyak menu makanan yang tersaji disana. Pria itu kemudian tersenyum. Para pekerjanya selalu mengerjakan dengan baik perintahnya.
__ADS_1
“Eum.. Terimakasih mbok. Biar saya dan Lena saja yang menata sendiri makanannya di balkon. Mbok boleh istirahat. Selamat makan siang.” Jawab Erlan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Bukan rahasia lagi memang kalau Erlan adalah seorang yang ramah dan baik hati. Meski saat marah pria itu bisa bertindak diluar dugaan orang orang yang mengenalnya.
“Baik tuan, kalau begitu saya permisi.”
“Ya...”
Wanita yang adalah juru masak di rumah mewah itu kemudian segera undur diri dari hadapan Erlan.
Sedangkan Erlan, pria itu mulai membawa makanan itu masuk ke dalam kamarnya dan menatanya di atas meja yang ada di balkon kamarnya dan Lena. Pria itu tersenyum setelah semuanya tersaji. Setelah itu dia masuk kembali ke dalam kamar dan mendekat pada Lena yang begitu pulas tertidur di atas ranjang mereka.
Erlan merasa sangat tidak tega sebenarnya jika harus membangunkan Lena, namun saat itu sudah waktunya makan siang. Erlan tidak mau jika sampai istrinya abai dalam masalah kesehatan. Dan sebagai pria yang bertanggung jawab penuh atas Lena, Erlan tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Hey.. Waktunya makan siang sayang..” Erlan berusaha dengan sangat pelan membangunkan Lena. Tangan besarnya dengan sangat hati hati membelai pipi putih bersih nan mulus Lena. Rasanya begitu sangat lembut dan membuat Erlan merasa sayang jika harus berhenti mengusapnya.
“Masih ada waktu untuk mengagumi ketampananku ini nanti sayang. Lebih baik sekarang kamu bangun. Aku sudah menyiapkan makan siang kita di balkon. Aku tau kamu tidak akan mau turun ke bawah.” Ujar Erlan.
Lena memutar jengah kedua bola matanya meski memang dia tadi sempat mengagumi sosok tampan Erlan, namun Lena juga merasa enggan jika sekarang harus mengakui itu. Erlan pasti akan semakin percaya diri nantinya. Apa lagi setelah apa yang pria itu lakukan dengan memberi begitu banyak tanda pada tubuhnya.
“Apa perlu aku membantumu bangun sayang?”
“Oh tidak tidak. Tidak perlu Erlan. Aku bangun sekarang.” Jawab Lena dengan cepat.
__ADS_1
Lena kemudian bangkit dari berbaringnya dengan gerakan cepat dan turun dari ranjang. Dia bahkan melangkah lebih dulu dari Erlan menuju balkon untuk menghindar dari Erlan yang pasti akan semakin gencar menggodanya.
Melihat tingkah Lena, Erlan tertawa pelan. Pris itu merasa sangat gemas dengan tingkah istrinya itu.
------------
Seminggu berlalu setelah pernikahan Alex dan Sherin, mereka masih tinggal di kediaman Smith. Itu membuat Sherin merasa sedikit aman meski memang Alex selalu menyakitinya jika sedang berdua. Tidak hanya menyakiti fisik, tapi juga hati dan perasaannya.
“Alex pikir akan lebih baik kalau Alex dan Sherin tidak tinggal disini mah. Karena bagaimana pun juga Alex kan sudah punya apartemen sendiri. Bukankah seorang istri akan lebih merasa nyaman jika mempunyai tempat tinggal sendiri dan hanya berdua dengan suaminya mah?”
Nyonya besar Smith menoleh dan menatap putra tunggalnya yang tersenyum dengan begitu santai. Bagaimana pun wanita itu tau seperti apa putranya. Dia begitu sangat keras kepala dan masih tidak mau menerima pernikahannya dengan Lena.
“Tidak Alex. Kalian berdua tetap tinggal disini. Mamah mau memastikan sendiri Sherin dan bayi dalam kandungannya baik baik saja.” Tolak nyonya Smith dengan sangat tegas.
Alex berdecak pelan. Pria itu merasa tidak leluasa jika harus tinggal bersama dengan kedua orang tuanya. Apa lagi mamahnya yang setiap hari di rumah dan bisa memantau segala apa yang terjadi di dalam rumahnya. Itu benar benar sangat mempersulit Alex dalam melakukan sesuatu pada Sherin agar Sherin merasa tidak betah bersamanya.
“Mah tapi kan..”
“Alex jangan banyak bertingkah. Tinggal bersama mamah dan papah bukan pilihan buat kamu selama kamu masih tidak mau menerima kenyataan bahwa Sherin adalah istri kamu. Mamah tau siapa dan bagaimana kamu Alex.” Sela nyonya besar Smith.
Alex menghela napas kasar. Pria itu benar benar sudah merasa sangat gatal ingin menggempur mental Sherin. Alex ingin menunjukan pada Sherin akibat dari Sherin yang bersikeras masuk ke dalam kehidupannya.
__ADS_1
“Dengar Alex, bagaimanpun cara janin itu tumbuh di rahim Sherin jika memang benar itu adalah darah daging kamu, dia berhak untuk hidup dan mamah sama papah akan menjamin segala yang terbaik untuk dia. Tidak perduli siapa perempuan yang mengandungnya.” Tekan nyonya besar Smith yang membuat Alex merasa enggan lagi untuk berbicara.