
Lena benar benar merasa sangat lega sekarang karena suaminya kini sudah berada di depan matanya dan dalam keadaan baik baik saja tanpa kurang satu apapun. Hanya saja memang ada sedikit keanehan karena penampilan suaminya yang menurut Lena tidak seperti biasanya. Ya, Erlan sudah lagi mengenakan jas hitamnya. Tapi itu tidak masalah bagi Lena. Yang terpenting sekarang suaminya sudah pulang dan dalam keadaan baik baik saja. Lena berpikir mungkin Erlan meninggalkan jas nya di mobil dan lupa membawanya begitu turun dari mobil.
Lena bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekat pada Erlan yang masih berdiri di ambang pintu kamar mereka.
“Syukurlah kamu baik baik saja. Aku benar benar khawatir karena kamu nggak pulang pulang sudah malam begini.” Ujar Lena dengan kelegaan yang begitu jelas terlihat dari ekspresi nya serta senyum yang menghiasi bibir tanpa lipstik nya.
“Maaf aku sudah membuat kamu khawatir.” Lirih Erlan sembari membelai lembut pipi Lena.
“Tidak papa. Lain kali kabari aku jika memang kamu mau pulang terlambat.” Senyum Lena.
Erlan hanya mengangguk saja. Pria itu akan menceritakan penyebab kepulangan terlambatnya tapi tidak saat itu juga. Erlan merasa dirinya harus membersihkan dirinya dulu sebelum memberitahu Lena tentang apa yang baru saja dia alami.
“Oke, lebih baik sekarang kamu mandi. Aku akan minta tolong sama mbak untuk membuatkan teh atau mungkin coklat panas.”
“Hem tidak perlu sayang. Kita langsung istirahat saja setelah aku mandi nanti.” Tolak Erlan dengan halus.
“Oh oke kalau begitu.” Lena setuju saja. Dia juga berpikir suaminya pasti sangat kelelahan setelah seharian beraktivitas di perusahaan nya.
“Ya sudah aku mandi dulu.” Erlan mencium kening Lena sebelum berlalu menuju kamar mandi. Sebenarnya Erlan merasa sangat tidak tenang sekarang. Erlan takut Lena salah paham padanya. Apa lagi ada Chilla yang terlibat.
__ADS_1
Erlan menghela napas sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Pria itu menoleh kembali pada Lena yang ternyata sedang menatap nya. Erlan sangat berharap Lena mengerti dan percaya dengan alasan nya nanti. Karena Erlan tidak mungkin membiarkan kejahatan terjadi tepat di depan matanya. Siapapun yang berada di posisi terancam seperti itu Erlan pasti akan menolong nya.
“Kenapa sayang?” Tanya Lena pada Erlan yang terus saja diam menatap nya.
Erlan tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya. Setelah itu dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Sedangkan Lena, dia merasa ada yang aneh dari suaminya. Apa lagi saat mendapati Erlan yang menatap nya di depan kamar mandi tadi.
“Enggak enggak, mungkin itu hanya perasaan aku saja. Semuanya pasti baik baik saja. Yah.. Aku percaya pada suamiku.” Batin Lena mengenyahkan pemikiran buruk yang sempat hinggap di kepala cantik nya.
Lena kemudian melangkah lagi menuju sofa. Dia meraih secangkir teh yang baru dia seruput sedikit tadi. Lena kembali menyeruput nya lalu duduk di sofa bermaksud menunggu Erlan yang sedang membersihkan dirinya.
Sekitar 20 menit kemudian Erlan pun selesai membersihkan dirinya. Pria itu keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggangnya.
Namun begitu Erlan selesai dari kamar mandi, Erlan mendapati Lena yang sudah terlelap diatas sofa dengan posisi duduk bersandar. Pria itu menghela napas kemudian segera melangkah menuju lemari baju untuk mengambil baju ganti. Selesai mengenakan setelan piyama tidurnya, Erlan pun melangkah mendekat pada Lena dan membopong tubuh istrinya. Erlan merasa tidak tega jika harus membangunkan Lena yang pasti sudah sangat kelelahan seharian menjaga putra mereka. Dan itu artinya Erlan harus terpaksa menunda waktu untuk menceritakan pada Lena tentang apa yang dia lakukan dengan menolong Chilla di perjalanan pulang tadi.
Erlan membawa Lena menuju ranjang. Pria itu membaringkan Lena dengan sangat pelan dan hati hati di atas tempat tidur mereka. Setelah itu Erlan berganti membopong tubuh putranya yang mulai berisi itu dan memindahkan nya di ranjang bayi nya.
Setelah memastikan Rezvan terlelap dengan tenang di ranjangnya sendiri, Erlan pun kembali melangkah menuju ranjang. Pria itu naik ke ranjang dan berbaring di samping Lena, memeluk lembut istrinya tercintanya itu dan mulai ikut memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
Erlan berharap esok hari dirinya tidak lupa untuk menceritakan apa yang sebenarnya. Karena Erlan tidak ingin ada masalah apapun yang terjadi pada hubungan nya dan Lena. Apa lagi jika itu menyangkut orang lain yang memang seharusnya tidak di kait kaitkan dengan hubungan harmonis mereka berdua.
Tapi ternyata harapan Erlan tidak terkabulkan karena paginya Erlan lupa dengan apa yang ingin dia ceritakan pada istrinya. Di tambah lagi Erlan yang sangat sibuk hari ini. Erlan bahkan berangkat pagi pagi sekali dan tidak sempat sarapan sehingga Lena harus membawakan bekal untuk suaminya itu.
Menjelang siang, Lena menerima sebuah paket yang di berikan oleh si mbok padanya. Lena sempat kebingungan karena tidak merasa memesan apapun. Namun begitu melihat nama penerima di paket tersebut Lena pun paham. Ya, itu adalah paket untuk suaminya.
Awalnya Lena biasa saja, namun akhirnya rasa penasaran menguasainya sehingga Lena pun membuka paket yang di kirim untuk suaminya itu. Lena berpikir Erlan pasti tidak akan marah padanya jika dia membuka paketnya. Bahkan Lena juga sempat berpikir mungkin suaminya itu membeli sesuatu yang di maksudkan untuk nya sebagai kejutan.
Lena membuka paket tersebut dengan sangat semangat. Namun begitu tau isi dari paket itu Lena pun mengeryit bingung.
“Loh ini kan punya Erlan...” Gumam Lena meraih jas milik suaminya itu. Lena sangat yakin itu adalah jas milik suaminya karena memang setiap hari dirinyalah yang menyiapkan apa saja yang akan di kenakan oleh suaminya sebelum Rezvan lahir dulu. Tapi sekarang jas itu ada yang mengirim padanya.
Lena meletakan jas itu di sofa yang di dudukinya dan tepat di sampingnya. Wanita itu mencoba mencari apa lagi yang ada di dalam bingkisan paket tersebut hingga akhirnya dia menemukan secarik kertas yang di lipat menjadi dua.
Penasaran, Lena pun meraih kertas tersebut dan membuka lipatan nya. Disana tertulis ucapan terimakasih yang di tulis menggunakan tangan. Tulisan yang begitu rapi dan cantik. Dan di pojok kertas itu terdapat pula siapa yang mengirimnya yaitu Chilla.
Lena terdiam. Ada rasa ngilu di dalam hatinya membayangkan apa yang sudah terjadi di antara keduanya yang tidak Lena ketahui. Sesuatu yang menurut Lena pasti cukup intim karena jas Erlan saja sampai berada di tangan Chilla.
“Ya Tuhan...” Lirih Lena.
__ADS_1
Pandangan Lena mulai mengabur karena air mata yang menggenangi kedua kelopak matanya. Meski Lena selalu yakin pada kesetiaan suaminya, namun sejatinya Lena tetaplah wanita biasa yang mempunyai kecurigaan terhadap Erlan, suaminya. Apa lagi jika sampai jas Erlan ada di tangan Chilla, wanita yang selalu berharap bisa mendapatkan cinta Erlan kembali.
Lena menelan ludahnya susah payah. Rasa sakit di hatinya tidak bisa dia hindari sekarang. Membayangkan suaminya yang mungkin saja mempunyai hubungan di belakang nya membuat Lena tidak bisa lagi berpikir positif. Bagaimana pun Chilla adalah bagian dari masa lalu suaminya. Chilla juga pernah menjadi sosok yang sangat Erlan dambakan. Dan Chilla adalah cinta pertama Erlan, suaminya.