
Pak Abdul mengabsen kami satu per satu.
“Baiklah, semuanya sudah di sini. Kita mulai sekarang?” Tanya pak Abdul penuh semangat, masih bertanya.
“Tentu saja!” Jawab Vicky dengan semangat yang membara.
“Matahari akan segera tenggelam, jadi persiapkan peralatan kalian semua.” Kata pak Abdul mengarahkan.
Kemudian mereka menyibukan diri dengan membongkar isi tasnya, kecuali aku yang hanya memperhatikan tanpa berkata apapun. Fajar mengeluarkan sebuah kamera yang tampaknya terlalu mewah.
Hanya dalam dua menit mereka memakai kembali tasnya, sebagian isinya telah dikeluarkan. Sekarang, pertanyaan yang tidak kutanyakan adalah “kita akan ke mana?”
“Leva, silahkan ambil kamera yang ada di Fajar. Kemudian mulai merekam.”
“Aku mulai merekam?”
“Ya! Kau tahu cara menggunakan kamera?”
“Tidak!”
Oooh! Mereka semua mendesah kecewa. Lalu Fajar kemudian mengajariku cara menggunakan kamera, aku cepat belajar karena hal itu sederhana dan mudah. Aku hanya menekan beberapa tombol untuk mengaktifkan, merekam, pause, stop menyimpannya.
Kami mulai.
Mereka menyuruhku berjalan paling belakang, mengikuti mereka yang akan entah ke mana. Mereka menyuruhku diam, apapun yang terjadi. Tentunya pak Abdul dan Tiwa berjalan di sampingku. Aku merekam mereka yang berjalan sambil bicara. Kami berjalan keluar di gerbang samping sekolah ke area persawahan dan setelah sedikit jauh berjalan, kami berhenti, istirahat. Aku berhenti mereka. Beberapa saat kemudian, kami memutar balik, kembali menyusuri jalanan yang tadi kami lewati dan menuju sekolah.
Aneh, kenapa kami harus repot-repot mengitarai jalan jika pada akhirnya kami hanya akan ke gedung kosong yang berada di belakang kantin sekolah? Gedung tua yang kusam, bau dan banyak serangganya?
Dan lagi, tugasku hanya merekam dan mengikuti mereka dari belakang, tidak ada dialog sama sekali. Aku merasa terganggu. Ini menyebalkan! Mereka jadi pemainnya, aku hanya jadi kameramen? Tidak bisa dibanggakan, apa yang harus kukatakan kepada ayah dan Lea jika nantinya mereka datang menonton dan tidak melihat putrinya di dalam film?
Dulu, dulu, aku pernah jadi pot bunga saat pementasan drama di sekolah dasar, aku tidak merasa bahagia, tapi aku juga tidak merasa sedih. Aku tidak kesal atau pun marah. Semuanya biasa saja, entah di posisi seperti apapun orang-orang menempatkanku. Tapi kali ini, kekesalanku terasa jelas, hingga aku mengenali perasaan ini dengan mudah. Ekspresi wajahku pun memperlihatkannya.
“Leva,” Panggil Tiwa dengan suara seakan berbisik. Aku meliriknya sejenak. “Meskipun kau tidak terlihat di kamera, tapi tersenyumlah.”
Kupikir dia akan mengatakan sesuatu yang lebih bijak lagi dari itu, nyatanya dia tidak menyadari kalau aku sedang kesal.
Kami memasuki gudang tua yang kosong, Fairel dan Fajar membuka pintu dengan pelan. Seketika terdengar suara tikus dan kecoa yang lari berhamburan, sinar matahari memancar masuk menerangi ruangan.
Hari mulai gelap, matahari perlahan tenggelam. Kami memasuki ruangan—yang kini, menjadi gelap total ketika matahari benar-benar pergi. Ono, Vicky dan Fajar mulai menyalakan senter, sementara di sisi lain, kami juga menggunakan cahaya kamera untuk penerangan.
Aku masih merekam, pak Abdul mengarahkanku. Pukul sepuluh malam kami akhirnya selesai dan kembali ke kelas.
Pukul dua pagi aku terbangun, tidak ada api unggun seperti yang diinginkan Vicky. Tidak ada seorang pun di ruang kelas, hanya melihat Tiwa dan pak Abdul di teras. Yang lainnya entah ke mana. Sendirian di kelas, membuatku merinding. Kurasa, aku juga akan keluar mencari angin atau mungkin mencari yang lainnya.
Aku berjalan menyusuri koridor, di taman sekolah kulihat Abi dan Vicky yang sedang mengobrol dan tertawa, di sisi lain taman di depan perpustakaan, aku melihat Fairel yang sedang merebahkan tubuhnya di atas rumput sambil menatap langit. Aku menghampirinya. Dia sadar akan kehadiranku dan tersenyum ke arahku.
“Kau selalu sendiri.” Katanya.
“Fairel juga.” Jawabku.
“Hanya kadang-kadang. Tidak mengantuk?” Tanya Fairel lagi.
“Aku ... baru bangun tidur.”
“Benar juga. Tapi aku malah sebaliknya. Aku sangaaat mengantuk!” Katanya sambil sedikit meregakan tubuhnya.
Aku menatapnya tanpa kata.
“Aku akan tidur sekarang.” Katanya lagi.
“Di sini?” Tanyaku heran.
__ADS_1
“Kenapa? Tidak boleh?”
Aku diam saja. Bukannya tidak boleh, hanya saja…
“Selama aku tertidur, kau jangan ke mana-mana!” Larangnya.
Aku hanya mengangguk.
“Karena jika kau ada di sini, aku akan merasa aman.” Gumamnya pelan sambil menutup kedua matanya. Tanpa sadar aku juga mengikutinya, kurebahkan tubuhku di sampingnya, sambil menatap ke atas, ke arah langit‒yang tidak pernah benar-benar kuperhatikan sebelumnya‒hingga aku benar-benar terpana. Kurasa, saat ini mataku sedang berbinar-binar karena pantulan cahaya ribuan bintang yang berkilauan. Indah sekali. Langit di malam hari ternyata se-luar biasa ini. Wah, apa yang kulakukan selama hingga tidak pernah menyadarinya? Perasaan lega apa ini? Aku merasa, hatiku tiba-tiba menjadi luas, hingga alam semesta pun bisa masuk ke dalamnya. Aku belum pernah merasakan perasaan ini sebelumnya. Padahal tidak menyedihkan, tapi air mataku menetes.
“Leva?” Fairel membuka matanya dan menatapku, air mataku terus berjatuhan. “Leva?”
Aku juga bingung dengan diriku sendiri, kenapa menangis? Tapi anehnya, aku menikmatinya. Tangisan ini.
Fairal, terus menatapku tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi dan, menit berikutnya dia kembali tertidur. Dari sudut mataku aku bisa melihat lengkungan bibirnya yang tersenyum. Kenapa?
***
Untukku yang pertama kalinya, mengiris bawang bukan pekerjaan yang benar-benar sulit. Tidak sesulit ketika aku mengerjakan soal matematika atau ketika aku mengangkat batu dengan bobot 10 kg sambil menaiki seribu anak tangga menuju puncak gunung, meskipun aku belum pernah melakukannya tapi saat membayangkannya kurasa itu sulit. Bukan mustahil, tapi sulit. Tapi mengiris bawang sangat sederhana. Hanya perlu mengupas kulitnya yang tipis kemudian iris perlahan. Tapi berhati-hati adalah hal yang sangat penting karena jangan sampai tangan juga ikut teriris dan jika perlu gunakan pisau yang tidak terlalu tajam karena itu akan berhasil untuk menghindari darah bercucuran. Tapi ini bukan tentang cara mengiris bawang, yang ingin kukatakan adalah, ada saat-saat di mana aku tidak menemukan makanan di rumah. Di saat seperti itu, yang biasa kulakukan adalah tetap kelaparan atau menyediakan makananku sendiri—roti tawar dan air putih atau, menangis sampai ada seseorang yang memperhatikanku.
“Leva, kau baik-baik saja?” Tanya Vicky.
“Ya!” Jawabku.
“Maksudku … kau menangis.”
“Ini air mata!”
“Karena itu air mata makanya aku berkata kau menangis!”
“Keluarnya air mata bukan berarti selalu disebut menangis. Air mata menangis selalu diiringi oleh perasaan sedih atau haru.” Jelasku. Hahaha, kok aku tiba-tiba menjadi pintar, ya?
“Itu benar, Leva.” Kata Abi yang tiba-tiba sudah duduk di sampingku sambil memegang sepotong wortel. “Ngomong-ngomong, apa yang akan kau masak?”
“Bawang?”
“Capcai superkick!” Teriak Vicky, “Kita akan memasak capcai super enak di dunia,” katanya dengan mata berbinar-binar.
“Kau penuh semangat seperti biasanya.” Komentar Abi.
“Apa itu salah? Aku hanya berusaha menciptakan energi positif di sekitarku!”
“Benar! Energi positif akan selalu membuatmu dalam keadaan bahagia.” Kata Tiwa, “Kita memang harus mencontohi Vicky, tidak seperti Leva yang selalu dikelilingi oleh energi―” Tiwa berhenti tiba-tiba. Sepertinya, dia ingin membandingkan aku dengan Vicky.
“Tidaaaaaaaaaaak!!!” Teriaknya tiba-tiba, lumayan keras. “Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak! Tidak, Lewa, bukan itu maksudku!”
Selain tiba-tiba menjadi aneh dia juga salah menyebut namaku dengan Lewa!
Kemudian mulai bicara dengan nada yang cepat, “Aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakannya. Aku tidak berniat mengatakan kalau Leva selalu dikelilingi oleh energi negatif, menyerap seluruh energi negatif yang ada di jagad raya kemudian menyebarkannya pada lingkungan sekitar, hidupnya selalu suram tanpa kebahagiaan. Bayangan gelap mengikutinya ke manapun dia pergi. Leva selalu berada dalam kesendirian di dunia manusia karena di sisi lain dia aktif di dunia arwah berteman dengan zombie-zombie yang menakutkan (padahal dia sendiri zombie). Dia disesatkan dalam labirin gelap yang hanya ada neraka yang menghasilkan penderitaan dan siksaan. Bukan karena salahmu jika kau lebih suka minum darah dari pada jamu (kenapa harus jamu?), bukan salahmu jika kau lebih menyukai pisau dari pada pulpen. Kau hanya korban, kau hanya disesatkan oleh setan, kau hanya disesatkan oleh bayangan gelap. Kau hanya dipengaruhi oleh iblis karena jiwamu kecil dan rapuh! Levaaaa …”
Apa benar-benar aku seperti itu? Kenapa ya aku merasa kesal?
Tiwa berhenti, dia menghela nafasnya. Kelelahan karena bicara. Aku yakin dia hanya bermaksud menjelaskan kesalahpahaman di kalimatnya yang pertama, yang belum sempat dia ucapkan. Tapi bukan penjelasan yang dia paparkan melainkan masalah baru yang lebih rumit dari sebelumnya.
“Nah, sekarang kau mengerti, kan, Leva. Aku tidak bermaksud mengatakannya!” Lanjut Tiwa sambil tersenyum lega.
Apanya yang aku mengerti? Apanya yang tidak dia katakan? Bahkan Qarima yang kuanggap paling cerewet di antara semuanya pun kini dikalahkan oleh Tiwa Macdugs.
“Justru, ibu mengatakan semuanya …” Kata Abi hati-hati, karena suasana berubah menjadi tegang. Tentunya hanya Vicky dan Abi yang merasakannya.
“Ya?” Tanya Tiwa pelan. Dia diam, sepertinya memikirkan kembali apa yang baru saja dia katakan.
Dalam sepersekian detik, raut wajahnya berubah. Aku baru saja melihat wajah terbodoh di antara yang terbodoh yang pernah kulihat, dia berubah menjadi bulat dan sangat bulat seperti bola basket. Perlahan berubah menjadi bola futsal, lalu berubah menjadi bola mocha, memutih dan benar-benar putih. Ke mana perginya wajah tenang yang dia perlihatkan sebelumnya?
“APAAAAAAAAAAAAAA?” Teriaknya. Tiwa frustasi, dia panik. Dia sangat panik. Bayangkan saja seseorang dalam kartun yang memegang kepalanya dengan kedua tangannya kemudian menggoncang-goncangkannya. “AAAAAAAAAAA!” Tangisnya meledak. Dia menarik perhatian semua orang, di sekitarnya jadi sangat ramai. “Aku … hiks! Hiks!” Dia juga mengeluarkan ingus. Iiiii!
__ADS_1
“Sudahlah, ibu tidak perlu menangis seperti itu. Lihat, Leva tidak marah, kan?” Tanya Abi sembari menatapku, dia berusaha menenangkan Tiwa.
Aku mengangguk saja dengan wajah super tenang yang kumiliki, yah itu karena ekspresiku memang seperti ini. Dalam keadaan apapun, sedih, bahagia atau pun marah aku tetap seperti ini. Sebenarnya, saat ini aku sedang marah. Marah besar!
“Tapi Leva, hiks …” Dia masih menangis. Membosankan, menemani orang menangis ternyata sangat membosankan. Aku belum pernah mengalami ini sebelumnya.
“Lihat, Leva baik-baik saja. Ibu tidak perlu menangis.”
“Tapi Lewva … Aaaaaa!” Dia semakin menjadi-jadi. Namaku berubah lagi.
“Sekolah ini tidak pernah membosankan. Selalu saja ada kejadian yang menyenangkan.” Kata Fairel yang datang tiba-tiba. Kejadian seperti ini dia katakan menyenangkan?
“Sama sekali tidak!” Bantahku.
“Karena kau dipenuhi kesuraman!” Ejeknya.
Apa dia mengajakku berkelahi?
“Bercanda! Bercanda! Kau tidak harus selalu menanggapi serius apa yang orang-orang katakan.” Kata Fairel. “Cobalah nikmati hidupmu setiap kali kau menghembuskan nafasmu. Hidupmu terlalu berarti untuk kau sia-siakan.”
Fairel diam sejenak, “Kenapa aku tiba-tiba berkata seperti itu? Leva, apakah kata-kataku barusan terdengar keren?”
“Tidak juga.”
“Hahaha. Aku sangat menyukai ekspresimu yang tidak pernah berubah. Seperti tidak ada beban, sangat lugu dan polos, begitu alami―dan sinis.” Padahal tadi dia mengatakanku lugu.
Dia menundukan kepalanya, memegang potongan wortel. Dia berkata, “Tiba-tiba saja aku ingin memakan tanah!”
Apakah ada hal yang lebih aneh lagi dari ini?
“Memangnya tanah bisa dimakan?”
“Tidak tahu! Tapi aku selalu penasaran rasanya seperti apa?”
Ini adalah sisi lainnya Fairel yang benar-benar tidak kuketahui. Seharusnya dalam cerita ini, Fairel adalah satu-satunya tokoh yang berkepribadian normal, berperilaku normal, semuanya normal. Tapi kenapa?
“Seperti apa ya rasanya?”
Tidak bisa dipercaya. Dia benar-benar memikirkannya dengan serius. Biar kuperjelas, tanah itu rasanya sangat sangat sangat tidak enak. Bukan berarti aku pernah mencobanya tapi dibayangkan saja aku sudah tahu jika itu tidak enak.
“Leva. Kau mau mencicipinya untukku?”
Sekarang dia memintaku?
“Tidak mau!” Tolakku. Aku sungguh-sungguh menolak.
“Kenapa? Coba saja, rasanya enak.”
Bagaimana dia bisa menyimpulkan ini enak jika dia sendiri belum pernah merasakannya?
“Coba saja!”
“Tidak mau!”
“Ayo,buka mulut!”
Itu tidak mungkin!
“Leva, buka mulutmu. Aaaaa!” Apa-apaan orang ini.
“Pergi sana!” Kataku kesal.
“Tidak sebelum kau memakannya.” Dia memaksa.
Rasanya aku ingin segera pulang.
__ADS_1