SAYANG

SAYANG
Episode 46


__ADS_3

Alex masih tidak habis pikir jika memang Lena benar benar mengadukan apa yang dia katakan siang tadi saat mereka tidak sengaja bertemu di depan parkiran. Alex sudah lama mengenal Lena. Dan Alex tau bagaimana Lena.


“Enggak, nggak mungkin Lena mengadu pada Erlan. Lena bukan perempuan se manja itu.” Gumam Alex tidak percaya dengan pemikirannya sendiri.


Alex kemudian menghela napas hingga suara Sherin yang muntah muntah di dalam kamar mandi membuat lamunannya buyar. Beberapa hari ini Sherin memang sering sekali muntah muntah entah itu di pagi ataupun sore hari. Dan Alex merasa sangat bosa dan jijik mendengar suara Shiren yang terus muntah muntah itu.


“Dasar perempuan menyebalkan.” Gerutu Alex yang akhirnya memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan Sherin.


Sementara Sherin, wanita itu terus saja muntah muntah di dalam kamar mandi. Memang sudah tidak heran lagi jika Alex tidak perduli padanya. Jangan perduli pada Sherin yang sedang muntah muntah. Sherin menangis pilu saat di sakiti dengan sengaja olehnya pun Alex tidak perduli.


Setelah di rasa tidak lagi mual, Sherin pun membasuh mulutnya. Wanita itu menghela napas berat. Beberapa hari ini entah kenapa dirinya sering sekali mual. Sherin juga sering merasa lemas dan pusing secara bersamaan.


“Apa besok aku ke dokter saja untuk mengecek kesehatanku?” Gumam Sherin menatap pantulan wajahnya di cermin. Sherin tidak tau harus mengadu pada siapa akan keluhannya itu. Pada Alex itu tidak mungkin. Pada mamah mertuanya lebih tidak mungkin lagi.


Sherin menarik napasnya dalam dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Wanita itu menundukkan kepalanya menatap perutnya yang masih tampak rata.


“Sehat sehat ya sayang.. Mamah kuat karena kamu.” Senyum Sherin merasa pilu sendiri. Sekarang dirinya benar benar tidak punya tempat untuk mengadu dan berkeluh kesah. Keluarganya tidak setuju dengan pernikahannya dengan Alex. Itu membuat Sherin merasa enggan untuk berkeluh kesah pada mereka. Baik pada kedua orang tuanya maupun pada kakaknya.


“Kita sama sama berjuang ya sayang yah.. Mamah yakin suatu saat nanti pasti papah kamu bisa menerima dan menyayangi kamu sebagaimana seharusnya.” Sherin berusaha untuk tetap kuat. Dia selalu yakin pada prinsip hidupnya bahwa selalu ada pelangi setelah hujan. Sekarang mungkin dirinya menderita. Tapi Sherin yakin suatu saat nanti dirinya akan hidup bahagia, di cintai dan mencintai seperti apa yang Sherin inginkan.


---------------


Di tempat lain, tepatnya di kediaman mewah keluarga Erlan, Lena sedang merenung seorang diri di balkon kamarnya. Lena masih tidak habis pikir dengan apa yang Alex katakan padanya siang tadi. Bisa bisanya Alex merendahkannya seolah olah Lena lah yang menyalakan api di antara mereka. Sedangkan Lena sendiri sebenarnya adalah korban dari ketidak setiaan Alex. Tapi pria itu justru bersikap seolah Lena lah tersangkanya dan dirinya adalah korbannya.


Lena menghela napas dan menggelengkan pelan kepalanya berusaha untuk mengabaikan apa yang Alex katakan tentangnya. Toh, Alex tidak tau apa apa tentangnya. Dan Alex bukan orang yang harus dia pikirkan kata katanya.

__ADS_1


“Sudahlah.. Anggap saja angin lalu..” Gumam Lena lirih. Lena tidak mau larut memikirkan sesuatu yang tidak penting apa lagi jika itu berhubungan dengan Alex.


Lena kemudian memutar tubuhnya berniat untuk masuk ke dalam kamarnya dan Erlan. Namun kehadiran Erlan yang begitu tiba tiba dan seperti menghadangnya berhasil mengejutkan Lena.


“Erlan..” Gumam Lena dengan detak jantung yang berdetak begitu cepat karena keterkejutannya.


Erlan tersenyum melihat ekspresi terkejut istrinya. Erlan bisa menebak apa yang tadi sedang di pikirkan oleh istri tercintanya.


“Maaf kalau aku mengejutkan kamu sayang.. Aku hanya ingin menunjukan sesuatu.” Ujar Erlan dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.


Lena mengeryit bingung menatap Erlan yang tersenyum memperlihatkan ketampanannya yang semakin bertambah itu.


“Oh ya? Apa itu?” Tanya Lena penasaran.


Lena mengerjapkan kedua matanya beberapa kali melihat paperbag yang Erlan sodorkan padanya.


“Ini untuk kamu sayang. Maaf kalau aku lupa memberikan barang penting ini untuk kamu.” Kata Erlan.


Lena beralih kembali menatap pada wajah tampan suaminya. Lena tidak bisa menebak isi dari paperbag warna hitam itu. Tapi yang pasti Lena yakin di dalam paperbag itu berisi barang berharga yang Erlan tujukan untuknya.


“Eum.. Ini apa?” Tanya Lena yang masih tidak menerima paperbag tersebut.


“Kamu bisa membukanya sendiri sayang.” Jawab Erlan.


Lena menghela napas. Selama ini Erlan sudah banyak memberikan berbagai hal yang tentu tidak bisa Lena balas karena apa yang Erlan berikan padanya tidaklah sedikit.

__ADS_1


Dengan perasaan ragu, Lena menerima paperbag tersebut. Lena kemudian membukanya dan meraih sesuatu dari dalam paperbag tersebut.


“Erlan ini...” Lena tidak percaya dengan apa yang di pegangnya sekarang. Itu adalah ponsel berharga keluaran terbaru yang Lena pun tidak menyangka bisa memegangnya.


“Aku benar benar minta maaf sayang. Aku melupakan hal sepenting ini karena aku terlalu sibuk dengan perasaan bahagia aku bisa memiliki kamu. Aku lupa kalau kamu juga butuh komunikasi dengan teman teman kamu supaya kamu tidak merasa jenuh setiap hari.” Erlan menyela dengan sangat lembut. Erlan tidak bohong. Dia benar benar lupa bahkan sempat tidak terpikirkan bahwa istrinya juga membutuhkan alat komunikasi agar tidak merasa sendiri meskipun setiap hari harus di rumah.


Lena menggelengkan kepalanya. Meski Lena sendiri mengakui dirinya merasa bosan dan jenuh karena tidak bisa kemana mana, namun rasa bosan dan jenuh itu akan sirna begitu saja saat Erlan pulang. Dengan kata lain Lena hanya merasa kesepian dan tidak lengkap tanpa Erlan di sampingnya.


“Erlan, apa yang kamu berikan buat aku itu sudah begitu banyak. Dan aku merasa ini tidak perlu. Aku tau harga handphone ini. Aku pikir kamu bisa menggunakan uang kamu untuk hal yang jauh lebih penting. Jadi aku..”


Cup


Lena berhenti berbicara saat tiba tiba Erlan mengecup singkat pipi kanannya. Dan sekali lagi Lena terkejut atas apa yang Erlan lakukan.


“Memangnya apa lagi yang penting di hidup aku selain kebahagiaan kamu sayang?” Tanya Erlan dengan wajah yang begitu dekat pada wajah Lena.


Lena hanya diam. Erlan sudah banyak mengeluarkan uang untuknya. Dari mulai bertanggung jawab atas kontrakan yang terbakar karena keteledoran Lena sampai mengganti semua kerugian dua tetangga kontrakan Lena dulu.


“Hey sayangku, cintaku, dan tentunya istriku. Dengar baik baik. Yang aku prioritaskan dalam hidup aku sekarang itu adalah kebahagiaan kamu. Jadi selama apa yang aku lakukan itu bisa membuat kamu merasa nyaman dan bahagia di samping aku, aku akan selalu melakukan itu.” Senyum Lena menangkup kedua pipi Lena dengan lembut.


Lena tidak bisa berkata apa apa mendengarnya. Dia hanya bisa menangis terharu yang detik berikutnya langsung berhambur memeluk Erlan dengan erat.


“Makasih Erlan, makasih untuk semua yang sudah kamu lakukan buat aku..” Tangis Lena memeluk Erlan erat.


Erlan hanya tertawa pelan mendengarnya sambil membalas lembut pelukan erat Lena. Pria itu merasa sangat geli dengan ucapan terimakasih yang Lena lontarkan. Ucapan yang tidak seharusnya Lena ucapkan menurut Erlan. Karena bagi Erlan membuat Lena merasa aman, nyaman, juga bahagia adalah tanggung jawab utamanya sebagai seorang suami.

__ADS_1


__ADS_2