
Tahun ini memasuki bulan September, ngomong-ngomong hari ini ulang tahunnya Qhaza yang ke 16, dia ingin merayakannya. Sejak pagi Lea dan ayah sibuk mempersiapkan pestanya, bukan pesta besar seperti yang sering kalian lihat di sinetron ketika pemeran antagonis berulang tahun, tapi pesta kecil yang hanya akan dihadiri oleh beberapa orang. Qarima juga ikut membantu, dia antusias. Tapi sampai saat ini, dia masih belum berbicara denganku selain ya dan tidak.
Ramona dan Marlyn datang pagi-pagi sekali ke rumahku, juga Vicky yang membawa banyak kue pesanan Lea, mereka semua datang membantu ayah dan Lea.
“Leva, bantu Qarima merapikan kursinya.” Perintah Lea padaku, sejak tadi aku hanya duduk di tangga memperhatikan mereka semua.
“Aku bisa sendiri.” Kata Qarima.
“Kau tampaknya kesulitan.”
“Aku baik-baik saja, jika dia membantu … dia hanya akan mengacaukan ... nya.”
“Qarima!” Bentak Lea, suasana menegang.
Aku bergerak, hendak ke kamarku.
“Leva, bantu Qarima!” Perintah Lea dengan nada tegas.
Aku mengangguk. Aku menghampirinya, membantunya mengangkat kursi. Qarima menyimpan kursinya dan melakukan pekerjaan yang lain. Dia marah. Aku terus bertanya-tanya, ada apa dengannya?
“Biarkan saja dia.” Kata ayah.
“Yoooo!” Teriak Vicky‒tiba-tiba.
Aku tahu dia bermaksud mencairkan suasana, tapi ‘yoooo?’.
“Leva, kita akan merapikan kursinya bersama-sama.” Katanya kemudian setelah semua orang menatapnya heran.
Kami kembali bekerja, hingga semua selesai dan beristirahat.
Malam pun tiba. Rumah sudah lumayan ramai oleh beberapa orang yang diundang oleh Qhaza. Termasuk Fairel dan El. Seluruh anak-anak di kelas tambahan juga diundang, beberapa orang temannya Qhaza yang tidak kukenali, serta Gin dan Tysha, ikut hadir. Kenapa Tysha harus diundang? Sekarang perasaanku pada Tysha sudah menetap, aku tidak menyukainya!
Nenek dan kakek juga ada di sini, mereka berdua terus berada di sampingku, melarangku pergi ke mana-mana. Orang tua memang selalu berbuat seenaknya. Aku hanya ingin ke toilet, tapi nenek akan mencubitku jika berpindah darinya.
Juga, aku tersadar, ini kali pertamanya Fairel datang ke rumahku. Rasanya, aku lebih senang dari biasanya. Kenapa, ya?
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday to Qhaza …
Mereka semua menyanyikan lagu ulang tahunnya. Qhaza meniup lilin dan memotong kuenya, dia memberikan kue pertamanya kepada ayah dan Lea, kemudian pada Qarima dan aku. Lalu, yang lainnya memotongnya sendiri. Tidak seperti pesta ulang tahun pada umumnya yang setelah acara pemotongan kue selesai, biasanya orang-orang berdansa dengan pasangannya dan diiringi dengan musik mellow. Tapi dikeluargaku, kami jarang melakukannya kecuali saat merayakan pesta ulang tahun Qarima yang ke 17, tahun lalu, halaman rumah dipenuhi oleh teman-temannya.
Tapi kali ini berbeda. Lea telah menyiapkan acara kecil untuk semua. Kami akan bermain Truth or Dare. Permainannya sangat praktis, melibatkan semua orang yang kemudian membuat formasi duduk melingkar, kemudia memutar botol dan menunggunya berhenti dan mengarah ke satu orang.
Orang yang terpilih, harus memilih jujur atau berani. Jika dia memilih jujur, kami akan mengajukan pertanyaan kepadanya dan dia harus menjawabnya dengan jujur. Jika berani, dia harus melakukan apapun yang kami minta tanpa rasa takut. Hanya satu pertanyaan dan perintah untuk satu kali botol berputar. Siapa yang diberi kesempatan oleh si pemutar botollah yang boleh bertanya atau memberi perintah. Sangat sederhana.
Ketika permainan dimulai, Lea mematikan lampu utama dan menyalakan lilin di beberapa sudut ruangan, kemudian memutar music slow.
__ADS_1
Aku duduk di dekat Vicky dan Ramona, di depanku ada Fairel dan El, lalu di samping El ada Gin, kemudian Qhaza lalu Qarima dan di sampingnya adalah Tysha, kuharap mereka tidak saling mencubit. Permusuhan mereka makin memanas akhir-akhir ini sejak kejadian di rumahnya Tysha, mereka sering melakukan perdebatan konyol.
Di sisi lainnya, ada Abi berdampingan dengan Fajar, lalu Ono dan Adit. Di dekat Lea, ada Tiwa dan ayah. Sementara nenek dan kakek telah pergi untuk tidur. Teman-teman dekat Qhaza yang datang telah pergi, beberapa menit yang lalu.
Lea memutar botolnya. Berhenti tepat di depan Qhaza. Ujungnya menghadap ke arah El.
“Qhaza, jujur atau berani?” Tanya Lea.
“Jujur!” Jawab Qhaza.
“Oke, El … kau diberi kesempatan untuk bertanya pada Qhaza!” Kata Lea. El menatap Qhaza.
“Di antara kami semua di sini, siapa yang membuatmu jatuh cinta?” Tanya El. Dia menatap Qhaza serius.
“Ohhh ...” Komentar mereka semua serentak, kecuali aku, Qhaza dan El.
“Yang jelas itu bukan kau.” Kata Qhaza, dia menatap El.
“Wow!” Gumam Fajar dan Fairel serentak.
“Qhaza, kau sama sekali tidak menjawab pertanyaanya!” Protes Lea. “Ibu sangat penasaran dengan perasaanmu terhadap El ... ehem.” Lea memegang kedua pipinya, dia merona. Sungguh merona!
“Aku menjawabnya. Lea, aku mencintaimu!” Tegas Qhaza, mereka semua tertawa, kulihat El tersipu.
Tentu saja Qhaza mencintai Lea, dia ibunya.
“Jujur!” Katanya.
Jujur? Memangnya apa yang ingin aku ketahui? Aku tidak pernah memikirkannya sebelum ini, aku harus bertanya apa?
“Itu … Qarima …” Berpikir Leva, berpikir.
“APA!!?”
GALAKNYA! Aku kaget. Sumpah!
Apa dia marah padaku?
Itu dia! Pertaanyaannya, aku dapatkan.
“Qarima … apa kau marah padaku?” Aku menanyakannya, aku merasa lega. Tapi jawabannya, kuharap juga bisa membuatku lega.
“Hah? Marah padamu? Kenapa aku marah? Marah pada manusia aneh sama saja dengan membuang-buang waktuku yang berharga! Memikirkanmu akan membuat jantungku terobek-robek!”
Aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Tapi, rasanya kata-kata itu―menunjukan bahwa dia sangat marah.
“Qarima sedang marah?” Tanyaku, mempertegas.
“SUDAH KUKATAKAN AKU TIDAK MARAH.” Teriaknya sambil memukul meja dengan keras.
__ADS_1
“Lalu kenapa berteriak?” Tanyaku dengan nada pelan.
“Karena kau sinting!”
“Aku sinting? Kenapa?”
“Dasar *****, bodoh, sialan!”
“Qarima memang marah, mengatakan aku bodoh …” Ucapku lirih. Aku ngotot juga, ya?
“Kenapa … kenapa tidak mati saja sana!” Ucapnya dengan nada datar. Bukan sesuatu yang ingin kudengar. Handak marah, tapi, air matanya mengalir.
“QARIMA!” Bentak Lea.
“Kau lihat, kan, Leva! Lea marah padaku … gara-gara kau!”
“Qarima!” Bentak Lea lagi.
“Kenapa? Ingin mangatakan aku tidak boleh membentak putri kesayanganmu? Selalu saja … selalu Leva yang jadi perhatian kalian semua … apa bagusnya dia? Dia hanya manusia aneh yang hidup seperti mayat! Dia tidak ada bedanya dengan mayat hidup … kenapa? Kenapa aku selalu yang disalahkan jika dia yang berbuat masalah, kenapa dia selalu diperlakukan seperti putri, kenapa semua orang berpihak padanya, kenapa? Kenapa aku tidak bisa membencinya, kenapa aku tidak membencinya meskipun aku berusaha, kenapa wajah polosnya selalu mebuatku iri, wajah polosnya selalu membuatku selalu selalu dan selalu menyukainya, Leva! kenapa aku tidak bisa membencimu????”
Qarima menangis sejadi-jadinya, kata-katanya membingungkan. Tapi kurasa, dia mengungkap semua yang ingin dia ungkapkan, kurasa dia baik-baik saja sekarang.
Lea memeluknya erak, dia tersedu-sedu. Permainan tetap bisa dilanjutkan. Meskipun Qarima keluar dari permainan dan pergi tidur.
Putaran botol selanjutnya berhenti di depanku. Kenapa selalu aku?
“Leva …” Kata Tysha. Kenapa harus dia? Tatapannya tajam, firasatku buruk tentang ini. “Jujur atau berani, Leva?” Tanyanya. Pilihan yang sulit, jika aku memilih untuk berani dia akan menyuruhku lompat dari lantai 17, kemudian mati, itu kemungkinan terburuknya. Jika dia menyuruhku jujur … yah! Aku tidak menyimpan rahasia apapun yang mereka ingin ketahui, jujur saja.
Apa ini pilihan yang benar? Seharusnya aku tidak pernah ikut permainan ini, bagaimanapun juga aku tetap khawatir. Melihat tatapannya yang sangat menantang.
“Ju … jujur!”
“Baiklah. Jadi ... Leva ... di antara Gin dan Fairel, siapa yang kau cintai?”
Tidak keduanya!
Jangan aneh dong Tysha. Kenapa memasukkan Gin ke dalam orang yang aku cintai? Aku pasti sudah gila jika itu terjadi.
Aku diam sejenak, menatap Tysha, lalu kulirik Gin dan Fairel secara bergantian, raut wajah mereka berdua berubah. Menantikan jawaban. Sangat pentingkah jawabanku ini? Kalau begitu, mengundur waktu deh ... supaya masa penantian mereka menjadi panjaaaang. Hahahaha.
Aku terdiam, pura-pura berpikir, lalu menit berikutnya aku memutuskan untuk menjawab, “Lea … dia bertanya apa?”
Yes! Yes! Jawabanku benar, gak? Benar bikin mereka syok gak? Hahaha. Lagi pula, kenapa bertanya tentang cinta padaku? Aku kan tidak mengerti masalah itu, belum pernah merasakannya. Meskipun kelihatan indah dan menyenangkan saat melihatnya di film dan anime, tapi sungguh aku tidak tahu seperti apa rasanya.
Detik berikutnya setelah syok mereka berlalu, mereka tertawa terbahak-bahak.
“Tysha! Pertanyaan apa itu?” Tanya Fajar sambil tertawa.
Tysha hanya diam. Dia berusaha memahamiku, aku ini seperti apa?
__ADS_1