
Tepat setelah Erlan dan Lena selesai dengan kegiatannya, pintu kamar mereka di ketuk dari luar. Erlan dan Lena yang saat itu sedang duduk di atas tempat tidur dengan pakaian tidur yang sudah lengkap sama sama tertawa. Mereka mempunyai pikiran yang sama kali ini. Yaitu berpikir bahwa yang ada di balik pintu kamar mereka saat ini pasti adalah si mbok yang membawa Rezvan di gendongan nya.
“Sebentar, biar aku buka pintu dulu.” Senyum Lena.
“Oke..” Angguk Erlan tersenyum juga.
Lena kemudian turun dari tempat tidur. Wanita yang sudah rapi dan tampak segar dengan dress tidur warna pink manisnya itu melangkah cepat menuju pintu untuk membukanya.
Dan begitu Lena membuka pintu kamarnya, ternyata memang si mbok yang berdiri disana.
“Hey, anak mommy bangun ternyata..” Senyum Lena lebar begitu melihat Rezvan yang sudah membuka kedua matanya di gendongan pekerja yang paling tua di rumah suaminya itu.
“Maaf mengganggu nyonya. Tapi tuan muda sepertinya bisa merasakan kehadiran nyonya di rumah. Dia bangun dan menangis tadi makannya saya bawa kesini.” Kata si mbok yang merasa tidak enak hati karena mengganggu waktu berdua Lena dan Erlan.
“Haha.. Mbok bisa saja. Iya mbok nggak papa. Saya benar benar sangat berterimakasih loh karena mbok dan yang lain sudah menjaga Rezvan dengan sangat baik selama saya pergi.” Tawa Lena merasa lucu dengan sikap tidak enak hati si mbok padanya.
“Nyonya tidak perlu berterimakasih. Sudah menjadi tugas saya membantu nyonya dan tuan.” Senyum wanita tua itu menatap Lena.
Lena hanya tersenyum dengan anggukan kepalanya. Wanita itu kemudian mengambil alih Rezvan yang ada di gendongan si mbok.
“Kalau begitu saya permisi nyonya.” Si mbok pamit undur diri setelah Rezvan berada di gendongan Lena.
“Ah ya ya mbok. Sekali lagi terimakasih banyak loh..”
“Sama sama nyonya.” Angguk si mbok pelan.
Si mbok pun berlalu setelah menganggukkan kepala menjawab kata terimakasih Lena. Wanita tua itu berniat untuk kembali beristirahat karena besok harus bangun pagi pagi sekali untuk bekerja seperti biasanya.
Sedangkan Lena, dia menutup kembali pintu kamarnya dan membawa Rezvan melangkah mendekat pada Erlan yang masih duduk di atas tempat tidur mereka.
“Jagoan Daddy yang pinter. Sini sini sama Daddy.” Erlan mengulurkan kedua tangan nya meminta Rezvan pada Lena.
Lena pun naik kembali ke tempat tidur dan menyerahkan Rezvan ke gendongan suaminya yang kemudian langsung menciumi dengan gemas seluruh wajah tampan putranya.
__ADS_1
Rezvan yang di ciumi dengan gemas oleh Erlan memberi respon dengan membuka mulutnya seperti menganggap ciuman Erlan adalah pusat asi. Hal itu membuat Lena tertawa merasa sangat geli. Di usianya yang memasuki bulan ketiga Rezvan memang banyak mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang pesat.
“Oak.. Akh.. Oak..” Rezvan bersuara seolah protes karena Erlan terus saja menciumi wajahnya.
“Anteng yah sama mbok tadi.. Pinter banget jagoan Daddy satu ini.. Daddy jadi gemes.” Kata Erlan yang memang tidak tau dengan perotesan putranya.
Lena yang tentu jauh lebih mengerti Rezvan dari pada Erlan pun langsung membuka kancing baju yang ada di bagian dadanya bermaksud untuk memberikan asi pada putranya.
“Sepertinya Rezvan haus. Biar aku susuin dulu.” Kata Lena.
Erlan menurut saja. Pria itu kembali memberikan Rezvan pada Lena yang langsung menyusuinya.
Benar saja, begitu mendapatkan sumber makanan nya, bayi tampan itu begitu sangat bersemangat menyedotnya. Itu membuat Erlan dan Lena terkekeh geli.
“Ya ampun.. Haus banget kayanya jagoan nya Daddy..” Erlan mengusap penuh kasih sayang kening putranya. Kali ini Rezvan benar benar bisa di ajak bekerja sama. Rezvan baru terbangun setelah Erlan selesai menuntaskan hasrat tertundanya selama dua bulan terakhir pada Lena, istrinya.
“Sayang...” Erlan kemudian memusatkan perhatian nya pada Lena yang sedang fokus menatap Rezvan yang menyusu padanya.
“Hem...” Sahut Lena menatap Erlan yang tersenyum penuh arti padanya.
“Rezvan? Siap punya adek?” Tanya Lena tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh suaminya.
Erlan menganggukkan kepala dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Sebenarnya Erlan tau istrinya sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang dia katakan. Namun Erlan tetap berusaha bersikap seolah dirinya tidak paham dengan reaksi istri tercintanya.
“Ya ampun Erlan.. Masa iya bayi yang baru berusia dua bulan lebih seperti Rezvan sudah siap punya adek. Aku aja baru mendapatkan tamu bulanan ku kemarin dan itu adalah yang pertama setelah aku melahirkan Rezvan. Masa iya sudah harus hamil lagi..” Geleng kepala Lena benar benar tidak habis pikir. Bukan menolak untuk hamil lagi, hanya saja menurut Lena dirinya perlu waktu untuk memberi jarak yang cukup pada Rezvan agar bayi tampan itu tidak kekurangan kasih sayang dan perhatian darinya juga Erlan.
Erlan tertawa geli mendengarnya. Lena benar benar menganggap serius candaan nya.
“Iya iya sayang.. Aku mengerti dan aku paham. Aku cuma bercanda kok. Aku juga tau kok Rezvan itu masih terlalu dini untuk punya adik.”
Lena menghela napas kasar kemudian berdecak. Candaan suaminya benar benar sangat tidak lucu kali ini menurut nya. Erlan membuatnya sangat terkejut dan tidak percaya.
“Nggak lucu tau bercandanya.” Lena mencebikkan bibirnya merasa kesal karena candaan suaminya.
__ADS_1
Namun Erlan bukannya merasa bersalah dan minta maaf, dia justru kembali tertawa melihat ekspresi istrinya yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
“Gemes banget tau.” Erlan mencubit pelan hidung Lena karena merasa gemas.
“Iiihhh.. Erlan, sakit tau.” Lena cemberut karena Erlan malah semakin meledeknya. Pria itu sama sekali tidak menyesal karena sudah membuat istrinya kesal kali ini.
“Hahaha...” Tawa Erlan merasa geli.
----------------
Di kediamannya, Sasha baru saja selesai membersihkan dirinya. Wanita itu melepaskan handuk yang menggelung rambut basahnya kemudian duduk di atas ranjang. Pikiran Sasha kembali tertuju pada Kenzie. Sasha sebenarnya masih sangat penasaran dengan apa yang ingin Kenzie katakan padanya. Apa lagi Kenzie sepertinya sangat serius tadi. Tapi nyatanya Kenzie sama sekali tidak mengatakan apapun. Pria itu bahkan sama sekali tidak mencoba mencegahnya saat Sasha menjauh darinya.
“Ya Tuhan.. Kenapa aku sampai berpikir Kenzie menyukaiku? Dasar Sasha bodoh. Nggak mungkinlah seorang Kenzie suka sama aku yang serba kurang begini. Kenzie pasti mencari perempuan yang sepadan sama dia. Bukan perempuan yang serba kekurangan seperti aku..” Gumam Sasha dengan helaan napas pelan di akhir katanya.
Sasha tidak berhenti merutuki dirinya sendiri karena sudah begitu bodoh terpengaruh dengan apa yang Lena katakan. Padahal saat itu jelas jelas Sasha mengelak saat Lena mengatakan nya. Tapi sekarang dia justru berharap apa yang Lena katakan itu benar.
“Enggak enggak, aku nggak boleh begini. Aku nggak boleh mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin. Aku nggak boleh berharap pada Kenzie. Dia tidak mungkin mempunyai perasaan sama aku seperti apa yang Lena katakan. Yahh... Mulai besok aku harus bisa menjauh dari Kenzie.”
Sasha memejamkan kedua matanya. Wanita itu mengubur dalam dalam harapan nya yang belum tentu benar benar terjadi. Harapan yang bisa saja membuatnya sakit karena tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
“Sudahlah. Aku nggak perlu lagi mikirin dia. Belum tentu juga dia mikirin aku.” Sasha kembali bergumam. Dia kemudian menarik napasnya dalam dalam dan menghembuskan nya secara perlahan. Sasha sangat yakin dirinya bisa menjauh dari Kenzie.
Enggan memikirkan lagi apa yang sudah terjadi, Sasha pun memutuskan untuk istirahat. Namun sebelum itu, Sasha lebih dulu mengeringkan rambutnya dan menyisirnya agar rapi.
Tidak jauh berbeda dengan Sasha yang merasa galau, Kenzie pun juga merasakan hal yang sama. Bahkan apa yang Kenzie rasakan jauh lebih dalam dari apa yang Sasha rasakan. Kenzie merasa bodoh dan kecewa pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengungkapkan perasaan nya pada Sasha malam ini. Padahal sejak kemarin Kenzie sudah berencana begitu sangat matang untuk mengungkapkan segala apa yang di rasakan nya. Tapi tadi, tiba tiba Kenzie merasa ragu. Kenzie juga merasa takut Sasha menolaknya. Hal itu lah yang kemudian membuat Kenzie diam dengan rasa bimbang juga bingung.
“Dasar bodoh. Kenapa juga aku harus ragu. Padahal aku sudah lama menyukai Sasha. Aku juga sudah merencanakan nya dari kemarin.” Kenzie berdecak merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri. Kenzie baru sadar mungkin Sasha memilih pulang karena merasa kecewa pada dirinya yang sama sekali tidak mengatakan apapun. Padahal dari awal, Kenzie sudah mengatakan ingin berbicara padanya. Tapi Kenzie malah diam.
“Sasha.. Maafin aku Sha.. Aku memang bodoh. Aku nggak gentle.” Kenzie menelan ludah membayangkan Sasha menjauh darinya setelah ini. Pria itu benar benar merasa sangat tidak rela jika harus kehilangan Sasha. Walaupun memang sebenarnya Kenzie juga tidak yakin Sasha akan menerimanya jika dia mengungkapkan perasaannya.
Merasa tidak tenang, Kenzie pun memutuskan untuk menghubungi Sasha. Pria itu meraih ponselnya yang ada di atas meja kaca di depannya. Kenzie mencari kontak nama Sasha kemudian mencoba untuk menelepon pujaan hatinya itu.
Sekali, dua kali, bahkan sampai tiga kali Kenzie menelepon Sasha. Namun tidak ada jawaban dari Sasha. Sasha sama sekali tidak mengangkat telepon dari Kenzie. Tapi Kenzie tidak menyerah. Dia mengirim pesan singkat pada Sasha yang juga tidak di buka oleh Sasha.
__ADS_1
“Mungkin Sasha sudah tidur Kenzie. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Kamu masih punya kesempatan. Yah.. Kesempatan kedua.” Batin Kenzie mencoba menyemangati dirinya sendiri agar tidak menyerah begitu saja hanya karena kegagalan nya mengungkapkan perasaan pada Sasha malam ini.