
Menjelang malam, Sherin memilih bersantai di ruang keluarga dengan sepiring buah yang sudah di siapkan oleh bibi untuknya. Tidak lupa juga segelas orange jus yang baru saja dia seruput sedikit.
Merasa butuh hiburan di tengah kesendiriannya, Sherin pun meraih remote TV yang ada diatas meja di depannya kemudian menekan tombol merah betulis on untuk menyalakan TV di seberangnya. Beberapa chanel tidak membuat Sherin tertarik hingga akhirnya Sherin terus mengganti dan baru berhenti ketika merasa tertarik dengan acara yang sedang tayang di chanel TV itu.
“Loh itu kan Lena sama tuan Erlan..” Sherin mengangkat satu alisnya begitu mendapati Lena dan Erlan yang sedang menghadiri sebuah acara besar yang memang di tayangkan secara live oleh chanel TV tersebut. Karena penasaran dengan siapa saja yang datang ke acara besar yang di adakan oleh keluarga Gilbert itu Sherin pun memutuskan untuk menyimak.
“Apa Alex nggak datang? Tapi kalaupun datang kan dia pasti ngajak aku sebagai pasangan. Apa lagi aku adalah istrinya.”
Sembari bergumam, Sherin terus menonton acara yang sedang berlangsung sangat meriah dan mewah itu. Tidak hanya di hadiri Erlan saja, acara itu juga di hadiri oleh banyak pengusaha sukses yang juga Sherin ketahui.
Sekitar 15 menit fokus dengan acara meriah yang sedang tayang itu, tiba tiba kedua mata Sherin membulat dengan sempurna kala rupa suaminya juga berada ditengah para pengusaha sukses itu. Namun bukan kehadiran Alex yang menarik perhatiannya, melainkan kehadiran Melisa yang berbalut gaun peach mewah di samping Alex. Wanita yang adalah sekretaris Alex itu terlihat sangat cantik dan elegant. Itu juga membuat pembawa acara di TV tersebut bertanya tanya kenapa Alex malah mengajak sekretarisnya, bukan istrinya.
Seketika Sherin kembali merasakan hancur sehancur hancurnya. Kebahagiaan yang tadi memenuhi hati dan pikirannya seketika sirna karena melihat Alex bersama dengan Melisa. Air mata langsung membanjiri pipi Sherin. Dia tidak menyangka jika ternyata Alex lebih memilih mengajak wanita lain yang hanya sekretarisnya dari pada mengajak Sherin yang jelas adalah istrinya.
“Kamu benar benar keterlaluan Alex.. Kamu jahat.. Huhuhu..” Tangis Sherin. Tubuhnya terguncang begitu hebat karena tangisannya. Alex berhasil membuatnya jatuh seketika dari ketinggian yang berhasil membuat Sherin merasa begitu sangat hancur.
------------
“Kamu kenapa sayang?” Tanya Erlan pada Lena yang sejak tadi hanya diam saja. Bukan diam karena tidak bahagia. Tapi karena merasa malu dan tidak percaya diri berada di tengah orang orang hebat.
“Erlan.. Aku malu.. Disini sangat ramai dan di penuhi oleh orang orang kaya.” Jawab Lena dengan polosnya.
__ADS_1
Erlan tertawa geli mendengar apa yang Lena katakan. Pria itu benar benar semakin merasa kagum pada istrinya. Lena meskipun sudah menjadi istrinya tapi sedikitpun tidak pernah menyombongkan diri. Lena tetap rendah hati dan tidak bertingkah seenaknya pada siapapun termasuk pada para pekerja di rumahnya dan Erlan.
“Hey.. Buat apa malu. Disini kita semua sama. Kita adalah tamu yang di undang oleh keluarga Gilbert. Tidak seharusnya kamu berpikiran seperti itu sayang. Tetap tenang dan percaya diri. Oke?”
Lena menatap Erlan dengan wajah sendu. Meski sekarang dirinya adalah istri dari pengusaha ternama, namun Lena tetap saja merasa dirinya bukan apa apa. Lena tetap merasa seperti dulu saat belum bersama dengan Erlan. Apa lagi Lena juga bukan wanita yang bisa percaya diri jika sudah berhadapan dengan banyak orang.
“Ada aku disini sayang. Tersenyum dan tunjukan kecantikan kamu.” Senyum Erlan dengan mengedipkan sebelah matanya.
Lena mengangguk pelan. Dia menarik napas dalam dalam kemudian menghelanya perlahan. Lena berusaha mengumpulkan keberanian dan kepercayaan dirinya karena tidak ingin membuat suaminya malu dengan tingkahnya yang selalu merasa minder jika sedang berada di tengah banyak orang.
“Tuan Harrison..”
“Ah tuan Gilbert.. Selamat atas kehamilan istri anda tuan. Kami ikut merasa bahagia dengan kabar itu.” Senyum Erlan langsung menyalami teman lamanya itu.
“Apa apaan itu. Panggil saja aku Rayan. Kaku sekali.” Tawa geli Rayanza.
Erlan ikut tertawa merasa lucu dengan kekonyolan mereka. Keduanya kemudian larut dengan obrolan tentang pertemanan mereka yang memang sudah terjalin sangat lama.
Sementara Lena, dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya dia menyapa Alana, istri dari Rayanza Gilbert. Kebetulan pesta besar besaran nan meriah itu di adakan untuk merayakan tujuh bulanan kehamilan kedua Alana.
“Akan sangat bosan kalau kita mendengarkan obrolan mereka. Lebih baik kita sedikit menyingkir saja dari sini. Kita cari tempat yang nyaman untuk mengobrol, bagaimana nyonya Lena?” Tanya Alana memberi saran.
__ADS_1
“Panggil saja saya Lena nyonya.” Senyum Lena yang merasa enggan jika di panggil dengan embel embel nyonya.
“Baik Lena. Kalau begitu kamu juga bisa panggil saya Alana saja. Kita berteman sekarang.” Balas Alana tersenyum.
Lena mengangguk setuju. Setelah itu keduanya dengan kompak menjauh dari Erlan dan Rayanza yang asyik dengan obrolan mereka tanpa menyadari istrinya yang menjauh.
Alana mengajak Lena sedikit menjauh dari Erlan dan Rayanza, suaminya. Dan tempat yang menurutnya nyaman adalah meja yang ada di pojokan ruangan. Mereka berdua duduk dengan saling berhadapan. Keduanya tampak sangat akrab meski baru mengenal satu sama lain.
Ketika sedang asik mengobrol sambil menikmati hidangan yang tersedia, perhatian Lena teralihkan pada sosok Alex. Lena tidak menyangka jika Alex juga akan datang ke acara tersebut.
“Ada apa Lena?” Tanya Alana ikut menatap ke arah yang di tatap oleh Lena.
“Ah tidak. Tidak ada apa apa. Hanya tadi saya merasa ada teman yang saya kenal saja.” Jawab Lena sekenanya.
Alana mengangguk anggukan kepalanya mengerti.
Sementara Lena, dia menoleh lagi kearah dimana dirinya melihat sosok Alex. Dan disana ternyata juga ada Melisa yang di gandeng dengan mesra oleh Alex.
Lena mengeryit bingung. Lena tau siapa dan bagaimana Melisa. Semua orang di perusahaan Alex memang banyak yang mengatakan bahwa Melisa adalah sekretaris kesayangan Alex. Dan itu sejak Lena juga masih berhubungan dengan Alex. Namun saat itu Lena tidak mau ambil pusing karena menganggap mungkin Alex baik pada Melisa karena memang Melisa selalu bisa dia andalkan dalam masalah pekerjaan. Namun tidak untuk kali ini, Lena merasa ada sesuatu di antara Alex dan Melisa. Terlebih Alex yang malah datang dengan Melisa, bukan dengan Sherin istrinya.
“Sudahlah Lena.. Apapun itu, segala sesuatu yang menyangkut tentang Alex dan Lena bukan lagi urusan kamu. Fokus saja dengan kebahagiaan kamu bersama Erlan. Jangan pedulikan yang lain. Apa lagi Alex dan Sherin.” Batin Lena menyadarkan agar Lena tidak terlalu ambil pusing dengan apa yang di lihatnya. Toh apapun yang terjadi pada hubungan Sherin dan Alex sekarang itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Lena juga sudah tidak mau lagi berhubungan dengan Alex maupun Sherin.
__ADS_1