
Lena baru saja selesai mengambil bunga bunga layu di ruang tengah untuk kemudian dia ganti dengan yang segar. Hari ini Lena memang sudah berencana akan memetik bunga di taman belakang rumah untuk menggantikan bunga yang sudah layu di vasnya.
“Apa aku juga harus menambah beberapa tanaman bunga di taman ya?” Lena bertanya tanya sendiri. Di taman belakang memang banyak berbagai jenis bunga yang di tanam. Disana bahkan sudah seperti taman bunga karena hamparan bunga yang begitu luas yang selalu memanjakan mata Lena yang notabenenya sangat menyukai bunga.
“Nanti coba aku bicarakan dulu sama Erlan deh.” Gumamnya tersenyum kemudian.
Lena menghela napas setelah membuang bunga bunga layu itu di tempat sampah. Setelah itu dia melangkah bermaksud menuju taman belakang rumah untuk memetik bunga yang akan dia gunakan untuk hiasan serta penyegar pandangan di ruang tengah.
“Permisi nyonya...”
Baru beberapa kali melangkahkan kakinya, tiba tiba suara pelayan menarik perhatian Lena. Lena pun menoleh dan tersenyum saat mendapati pelayan yang sudah berdiri tidak jauh dari tempatnya sekarang.
“Eh mbak.. Ada apa mbak?” Tanya Lena mengurungkan niat untuk langsung menuju taman. Lena menatap dan menghadap penuh pada pelayan yang sedang berdiri dengan kepala menunduk hormat pada Lena.
“Maaf kalau saya mengganggu anda nyonya. Tapi bodyguard bilang di depan ada teman dari tuan dan nyonya yang ingin bertemu dengan nyonya.”
Lena mengeryit. Lena tidak pernah merasa mengenal satu pun teman Erlan. Apa lagi jika ada orang yang menganggap teman Erlan juga teman nya. Kedengaran nya akan sangat aneh.
“Teman saya dan Erlan? Siapa mbak?” Tanya Erlan penasaran.
“Katanya namanya nona Chilla, nyonya.” Jawab si pelayan tersebut.
Kedua mata Lena membulat dengan sempurna saat mendengar nama Chilla di sebut. Lena tidak menyangka jika Chilla akan datang ke rumahnya dan Erlan.
__ADS_1
Lena menelan ludah kemudian menghela napas kasar. Lena sangat yakin Chilla pasti mempunyai tujuan tertentu datang sekarang. Apa lagi Chilla datang tidak lama setelah Erlan pergi. Lena menebak, itu sengaja Chilla lakukan agar bisa bertemu dengan nya saja.
“Ya sudah katakan pada bodyguard untuk menyuruh Chilla masuk. Saya akan menunggu di ruang tamu.” Kata Lena dengan nada memerintah.
“Baik nyonya. Saya permisi.”
“Ya...” Balas Lena pelan.
Setelah pelayan itu berlalu, Lena kembali menghela napas kasar. Lena sudah tau semuanya dari Erlan, tentang bagaimana Erlan dan Chilla dulu yang begitu dekat. Tapi menurut Lena kedekatan itu sudah selesai dan Chilla tidak seharusnya mengganggu Erlan lagi. Apa lagi dulu status mereka juga hanya sekedar teman karena memang Erlan belum sempat mengutarakan perasaan yang di pendamnya pada Chilla.
“Chilla.. Aku bukan perempuan bodoh. Aku tau apa tujuan kamu kesini bahkan meski kamu tidak mengatakan.” Gumam Lena pelan.
Lena kemudian melangkah menuju ruang tamu untuk menunggu Chilla. Lena akan berpura-pura tidak tau tentang keniatan Chilla datang menemuinya. Lena ingin tau seberapa pintar seorang Chilla, wanita yang pernah berhasil membuat Erlan jatuh hati.
Begitu sampai di ruang tamu, Lena pun mendudukkan dirinya di sofa tunggal dengan sangat tenang. Dia juga menyenderkan punggungnya di sandaran sofa menunggu Chilla yang sedang di persilahkan masuk oleh bodyguard.
Lena menatap Chilla santai. Wanita itu menatap dari atas sampai bawah penampilan Chilla. Seperti saat mereka bertemu pertama kali, Chilla selalu tampil cantik dan menarik. Dan Lena mengakui itu.
“Ya.. Pagi juga Chilla. Silahkan duduk.” Kata Lena pelan.
Chilla tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Wanita itu kemudian mendudukkan dirinya di sofa panjang di samping sofa tunggal yang di duduki oleh Lena.
“Apa aku mengganggu waktu kamu Lena?” Tanya Chilla yang menurut Lena sangat sangat sok akrab padanya.
__ADS_1
“Jujur iya. Kamu membuat aku harus menunda waktu memetik bunga di taman belakang rumah.” Jawab Lena dengan jujur.
Chilla tertawa pelan. Chilla tidak menyangka jika Lena ternyata adalah wanita yang tidak suka berkata manis. Lena terlalu terbuka menurut Chilla.
“Maaf kalau begitu Lena. Aku hanya ingin mengenal kamu. Istri dari teman yang dulu pernah sangat dekat denganku.” Senyum Chilla manis.
Lena memutar jengah kedua bola matanya. Chilla selalu mengulang kata tentang kedekatan nya dengan Erlan di masa lalu. Dan Lena tau apa tujuan dari ucapan tersebut. Tentu saja agar Lena merasa marah dan cemburu kemudian marah pada Erlan sehingga hubungan mereka berdua akan memburuk.
“Erlan itu orang yang sangat baik. Dia tidak pernah sembarangan dalam memilih teman. Apa lagi seorang istri. Erlan memilih kamu pasti dengan alasan yang kuat.”
Lena masih enggan berbicara. Basa basi Chilla terlalu garing menurutnya. Dan Lena merasa tidak perlu menyahuti ucapan tidak berbobot itu.
“Aku mengenal Erlan sudah sangat lama Lena, aku tau seperti apa dan bagaimana Erlan. Dia adalah laki laki yang baik dan penuh tanggung jawab. Dia juga penuh cinta dan kasih sayang. Aku sendiri merasakan itu dulu Lena.” Chilla terus saja berbicara tentang Erlan. Dia sengaja ingin membuat Lena merasa panas dan cemburu dengan terus menceritakan tentang masa lalu indah nya dengan Erlan.
“Erlan itu...”
“Tanpa kamu ceritakan bagaimana Erlan pun aku sudah tau Chilla. Erlan memang laki laki yang sangat baik. Karena itu lah aku sangat mencintainya.” Sela Lena merasa malas jika harus mendengarkan basa basi tidak penting Chilla tentang Erlan.
Chilla terkekeh mendengarnya.
”Ya ya yaa.. Ya ampun.. Maaf maaf.. Aku terlalu hanyut dengan masa indah itu Lena. Aku hampir saja lupa dengan siapa aku sedang berhadapan sekarang.”
Lena menghela napas kasar. Chilla benar benar sangat menjengkelkan. Tapi Lena tidak ingin terpancing. Meski merasa malas bahkan muak, namun Lena akan tetap berusaha tenang dan santai. Itu semua Lena lakukan agar Chilla tidak merasa menang hanya dengan memanas manasinya saja.
__ADS_1
“Jadi sekarang kamu sudah menyadari kan siapa aku Chilla. Aku Marlena Susianti. Dan aku adalah istri Erlan. Jadi aku rasa kamu tidak perlu membicarakan apapun tentang masa lalu indah kamu dengan Erlan. Karena itu hanya masa lalu dan sudah berlalu. Harusnya kamu melupakan itu karena Erlan juga sudah punya kehidupan sendiri. Harusnya kamu fokus saja dengan masa depan kamu sendiri Chilla. Kamu juga tidak perlu membuang buang waktu untuk membuat aku merasa cemburu. Karena apa? Karena aku percaya pada Erlan. Aku tau Erlan adalah suami yang setia. Mungkin kamu pernah dekat dengan Erlan dulu. Tapi sekarang Erlan milikku Chilla. Dia suamiku.” Tegas Lena panjang lebar.
Chilla tidak bisa berkutik mendengar apa yang Lena katakan. Chilla merasa seperti sedang di permalukan dengan ketegasan Lena yang sedikitpun tidak terpancing dengan ucapan nya.