SAYANG

SAYANG
Episode 80


__ADS_3

“Sepertinya kamu sudah akrab dengan Alana, sayang?”


Lena tersenyum kemudian naik ke atas ranjang tempat suaminya sedang berbaring. Lena baru saja selesai membersihkan dirinya setelah pulang dari acara pesta yang di adakan oleh Rayanza Gilbert.


“Ya.. Dia sangat baik dan sederhana. Dia tidak seperti nyonya kaya kebanyakan. Cara bicaranya pun asik. Dan aku merasa nyambung ngobrol sama dia. Kita bahkan sudah saling tukar nomor handphone. Yah.. Kita berteman.”


Erlan tertawa pelan. Pria itu menggeser tubuhnya agar bisa lebih dekat lagi dengan Lena yang masih mendudukan dirinya dengan menyandarkan punggung di pangkal ranjang mereka. Setelah dekat, Erlan meletakan kepalanya di pangkuan Lena yang langsung mendapat belaian lembut di kepalanya dari Lena. Belaian yang membuat Erlan merasa sangat nyaman.


“Oh ya? Apa saja yang kalian berdua obrolkan? Boleh aku tau sedikit?” Tanya Erlan menatap Lena yang menunduk sambil terus membelai rambut kecoklatan nya.


“Sebenarnya tidak ada yang penting. Kami hanya mengobrol ringan saja. Berbicara tentang diri kami sendiri. Kamu tau Erlan, dia sedikitpun tidak menyombongkan dirinya. Aku benar benar kagum sama dia.”


Erlan tertawa pelan. Dari yang Erlan tau Alana memang bukan berasal dari keluarga yang sama seperti Rayan. Bahkan dari isu yang beredar Alana adalah anak dari mantan pelayan di rumah Rayan dulu.


“Aku berharap ada pertemuan selanjutnya antara aku dan Alana.” Senyum Lena melanjutkan.


Erlan hanya tersenyum saja. Pria itu mendengarkan apa yang Lena katakan dengan tatapan penuh perhatian pada kekasih hatinya itu.


“Sudah cukup bicara tentang dia sayang.. Sekarang aku mau tanya sama kamu..”


Lena mengeryit.


“Tanya apa?”


“Tentang anak. Apa kamu ingin memiliki anak denganku?” Tanya Erlan dengan ekspresi serius.


Sesaat Lena terdiam. Dia membalas tatapan serius Erlan padanya. Kalau di ingat ingat, mereka sudah cukup lama bersama. Mereka juga sering melakukan itu, entah itu pagi, siang, ataupun malam. Tapi sampai sekarang Lena belum juga hamil dan itu baru Lena sadari sekarang.

__ADS_1


“Hey.. Kok malah ngelamun sih?” Erlan menoel ujung hidung mancung Lena membuat Lena tersadar dari lamunannya.


“Ah ya... Maaf Erlan aku tidak bermaksud mengabaikan kamu. Tapi setahu aku setiap orang yang memutuskan untuk bersama pasti ingin memilik anak. Begitu juga dengan aku. Aku tentu saja ingin sekali memiliki anak. Tapi sepertinya aku harus sedikit bersabar. Karena sampai sekarang aku belum juga hamil.” Mendadak ekspresi Lena berubah sendu. Lena merasa sedih karena sampai sekarang belum juga hamil.


Melihat ekspresi sendu istrinya, Erlan pun bangkit dari berbaringnya. Pria itu duduk di samping Lena kemudian meraih dengan lembut tubuh Lena ke dalam pelukannya. Erlan tidak bermaksud membuat Lena sedih. Erlan hanya ingin menanyakan tentang kesiapan Lena untuk memiliki anak dengan nya.


“Maaf.. Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuat kamu sedih sayang..” Bisik Lena memejamkan kedua matanya. Menyesal sekali rasanya karena dirinya bertanya seperti itu karena pada akhirnya Lena menjadi sedih seperti sekarang.


Lena menggelengkan kepalanya mendengar permintaan maaf suaminya. Lena kemudian melepaskan diri dari pelukan Erlan dan mendongak menatap wajah tampan suaminya itu.


“Enggak.. Kamu nggak salah. Mungkin memang Tuhan belum mempercayakan kita untuk itu. Aku yakin kita akan memiliki banyak anak. Dan kita akan bersama sama membesarkan anak anak kita.” Katanya.


Erlan tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Pria itu juga merasa demikian. Mungkin Tuhan sedang menyuruhnya dan Lena untuk lebih bersabar lagi dalam menanti kehadiran buah hati di tengah tengah mereka.


“Tapi sayang.. Aku pikir selain kita harus bersabar, kita juga harus lebih rajin lagi berusaha.” Ujar Erlan yang perlahan mendekatkan wajahnya pada Lena.


Sudah tidak lagi merasa canggung pada Erlan, Lena pun langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Erlan. Dan satu kecupan singkat dia daratkan lebih dulu pada bibir tipis Erlan.


“Kamu benar. Kita harus lebih giat dan rajin berusaha.” Senyumnya.


Erlan yang merasa mendapatkan lampu hijau perlahan mulai membaringkan tubuh Lena. Pria itu menatap lekat lekat wajah cantik Lena yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta setiap detiknya.


Dan malam itu mereka kembali melakukan apa yang memang biasa mereka lakukan dengan penuh cinta.


------------


Sementara di tempat lain tepatnya di apartemen Alex, Sherin terus mondar mandi di ruang tamu menunggu kepulangan Alex. Malam semakin larut bahkan jarum jam sudah hampir mengarah ke angka satu. Namun Alex belum juga pulang. Di telepon berkali kali pun sama sekali tidak di angkat. Hal itu membuat Sherin merasa semakin tidak tenang. Sherin takut jika ternyata Alex masih bersama dengan Melisa.

__ADS_1


Pintu utama apartemen terbuka membuat Sherin langsung menoleh. Alex masuk ke dalam apartemen dengan wajah lelahnya setelah seharian ber aktivitas di luar.


“Kamu..” Alex menatap datar pada Sherin yang menatapnya dengan kedua mata sembab serta hidungnya yang memerah. Tanpa bertanya pun Alex tau Sherin habis menangis.


“Kenapa? Kenapa kamu perlakukan aku seperti ini Alex? Apa salah aku? Apa dosa aku sama kamu sampai kamu begitu kejam ke aku?” Tanya Sherin. Suaranya bergetar dengan kedua mata berkaca kaca menatap penuh kesakitan pada Alex.


Alex berdecak. Entah apa yang di maksud oleh Sherin, Alex tidak tau. Padahal Alex juga sudah menuruti keinginan Sherin yang meminta di belikan susu hamil dan vitamin tadi pagi.


“Aku capek, mau istirahat.” Ujar Alex tidak perduli. Pria itu berniat berlalu ketika Sherin tiba tiba mencegat langkahnya.


“Aku belum selesai bicara sama kamu.” Sherin kembali berkata masih dengan suara bergetar dan air mata yang menggenangi kedua indra penglihatan nya.


“Selama ini aku tidak pernah protes mau kamu melakukan apapun Alex. Aku bahkan diam dan hanya menangis saat kamu tidur dengan perempuan lain tepat di depan kedua mata aku. Aku juga pasrah meskipun kamu memilih pindah kamar dan tidur terpisah dengan aku. Tapi kali ini.. Kali ini kamu benar benar keterlaluan Alex.”


Alex menyipitkan kedua matanya menatap tidak suka pada Sherin yang berani bersikap begitu berani padanya.


“Apa maksud kamu Sherin? Jangan memaksa aku berbuat kasar sama kamu.” Tekan Alex yang mulai di kuasai emosi.


Sherin menggelengkan kepalanya. Air mata menetes membasahi pipinya dengan senyuman miris pertanda kepiluan hatinya.


“Jangan kamu pikir aku nggak tau apa apa Alex. Aku bukan perempuan bodoh. Aku tau kamu menghadiri pesta mewah keluarga Gilbert dengan Melisa. Kamu tau Alex? Apa yang kamu lakukan itu sudah menjatuhkan harga diri aku di depan publik. Kamu lebih memilih mengajak sekretaris murahan kamu itu dari pada aku. Istri kamu sendiri. Aku bisa terima apapun yang kamu lakukan selama ini. Tapi tidak untuk kali ini. Kamu sudah sangat melampaui batas. Kamu kejam dan tidak berperasaan.” Marah Sherin dengan air mata yang terus berlomba lomba menetes menyebrangi kedua pipinya.


Alex berusaha untuk menahan emosinya. Dia tidak ingin berbuat kasar pada Sherin mengingat kehamilan wanita itu yang sudah semakin besar.


“Dengar baik baik Sherin. Sejak awal aku sudah memperingati kamu untuk jangan masuk lebih dalam ke kehidupan aku. Tapi kamu sangat keras kepala dan tidak perduli dengan apa yang aku katakan. Jadi jangan salahkan aku kalau aku berbuat seperti ini. Karena sedikitpun aku tidak pernah mencintai kamu. Satu lagi, jangan pernah merendahkan Melisa. Karena dia jauh lebih baik segalanya dari kamu.”


Alex berlalu setelah mengatakan kata kata yang begitu menusuk hati Sherin. Pria itu sama sekali tidak perduli bahkan meski Sherin menangis begitu pilu di depannya.

__ADS_1


__ADS_2