
Sejak sore itu Lena menjadi begitu sangat terbuka pada Erlan. Bahkan jika Lena sedang menginginkan hal itu Lena tidak sedikitpun merasa malu menggoda Erlan lebih dulu.
Untuk Erlan, sebagai seorang suami yang memang sangat mencintai istrinya Erlan tentu sangat senang dengan apa yang Lena lakukan. Erlan bahkan selalu dengan semangat menuruti apa yang Lena mau. Namun meski gairahnya selalu menggebu gebu saat melakukan nya, Erlan selalu melakukan dengan penuh cinta dan kelembutan.
“Erlan...” Panggil Lena sambil memainkan jari lentiknya di dada bidang Erlan.
“Hem.. Kenapa sayang?” Sahut Erlan bertanya dengan lembut. Pria itu terus mengusap lengan terbuka Lena yang begitu nyaman berada di dekapan hangatnya.
“Kamu masih ingat sama kue lapis yang di berikan mbok nggak?” Tanya Lena yang tiba tiba menginginkan kue lapis buatan Melisa yang pernah di pesan para pelayan nya.
“Ya sayang. Kenapa? Apa kamu ingin membeli kue itu?” Jawab Erlan yang kemudian bertanya karena kepekaan nya pada Lena yang memang begitu kuat.
Lena tersenyum merasa sangat senang karena Erlan langsung peka dan mengerti dengan apa yang dia inginkan tanpa harus Lena merengek dan meminta lebih dulu padanya.
“Ya Erlan.. Boleh tidak aku membelinya? Tapi aku juga ingin langsung bertemu dengan perempuan yang di sebut mbak Mel itu. Aku ingin minta di ajarkan secara langsung cara membuatnya. Kamu mau kan temenin aku buat ketemu sama dia?” Lena melepaskan diri dari dekapan Erlan kemudian menatap penuh harap pada Erlan yang tidak langsung mengiyakan kemauan nya.
__ADS_1
Sesaat Erlan terdiam. Akhir akhir ini dirinya lumayan sibuk. Selain karena ada proyek baru yang harus dia sering pantau secara langsung, Erlan juga sedang sibuk karena baru saja menjalin kerja sama dengan perusahaan lain. Erlan bahkan tidak yakin akan bisa menemani istrinya makan siang beberapa hari ke depan. Tapi melihat tatapan penuh harap Lena, rasanya Erlan tidak tega jika harus mengatakan dengan jujur bahwa dirinya akan sangat sibuk beberapa hari ke depan dan untuk waktu yang belum bisa Erlan tentu kan.
“Eum.. Boleh boleh saja sayang. Tapi aku nggak bisa nemenin untuk hari hari ini. Tapi kalau hari Minggu aku pasti bisa. Nggak papa kan nunggu hari Minggu? Kita juga kan harus menelepon mbak Mel itu untuk menanyakan kesediaan nya bertemu dengan kita dan mengajak kamu membuat kue lapis itu. Ya kan?”
Lena mengangguk dengan sangat antusias. Dia tidak keberatan meski keinginan nya tidak langsung terwujud. Lena akan sabar menunggu sampai hari minggu itu tiba. Hari dimana suaminya memang tidak akan di sibukkan dengan urusan pekerjaan.
“Oke..” Katanya kemudian masuk kembali ke dalam dekapan hangat Erlan.
Erlan menghela napas merasa sangat lega karena Lena mau bersabar dan mengerti dirinya. Padahal Erlan sudah berpikir kalau Lena tidak bisa menunggu dengan sabar, Erlan akan meminta Kenzie yang menggantikan nya memantau pembangunan proyek yang sedang berlangsung itu. Tapi beruntungnya Lena mau mengerti dan dengan sabar menunggu sehingga Erlan tidak perlu terlalu membebani Kenzie dengan pekerjaan lainya. Karena Kenzie sendiri sebenarnya sudah sangat sibuk mondar mandir kesana kemari dengan tugas yang tidak sedikit.
“Sudah malam sayang.. Lebih baik sekarang kita tidur.” Kata Erlan sambil mengecup singkat puncak kepala Lena.
“Kamu masih tidak mau cerita sama mamah tentang apa yang terjadi sebenarnya Alex? Atau kamu mau mamah menyelidiki sendiri apa yang terjadi sama kamu melalui jalur hukum?”
Alex menelan ludah mendengar apa yang nyonya besar Smith tanyakan padanya. Alex memang sama sekali tidak melakukan tindakan apapun untuk membalas apa yang sudah Alvin lakukan padanya sampai dia harus masuk ke rumah sakit dan di rawat sampai hampir satu Minggu lamanya. Itu bukan karena Alex tidak mau menuntut. Tapi karena Alex tidak mau jika sampai Melisa terkena masalah. Karena bagaimana pun juga apa yang terjadi berhubungan dengan Melisa. Mamah nya pasti akan sangat murka dan tidak akan tinggal diam. Di tambah lagi dengan Sherin yang sangat membenci Melisa. Bukan tidak mungkin juga Sherin akan mengompori mamahnya untuk melakukan hal yang lebih.
__ADS_1
“Sudahlah mah, nggak perlu di bahas lagi. Lagian Alex juga nggak papa kan? Alex sudah boleh pulang oleh pihak rumah sakit. Itu hanya musibah mah.. Namanya musibah kita kan tidak tau kapan datangnya.” Alex mencoba berkilah dengan tenang. Sebenarnya Alex ingin sekali mempolisikan Alvin. Namun Alex masih berpikir panjang. Bukan tidak mungkin justru dirinya yang akan di tuntut oleh Alvin dan Melisa atas apa yang sudah dia lakukan pada Melisa dulu. Apa lagi bukti video itu masih ada di memori ponselnya.
Disamping itu Alex juga merasa sangat menyesal. Karena tidak bisa menahan emosinya melihat kedekatan Alvin dan Melisa tanpa sadar Alex sudah menginjak injak harga diri Melisa. Bahkan Alex membuat Alvin tau apa yang telah terjadi antara dirinya dan Melisa.
Sementara Sherin yang duduk di sofa seberang brankar tempat Alex duduk hanya bisa diam mendengarkan. Tidak ada yang dia pikirkan sekarang. Sherin hanya berpikir logis bahwa mungkin memang Alex hampir saja di begal di jalanan. Atau mungkin juga ada orang yang tidak suka pada Alex dan berniat mencelakainya. Sesederhana itu pemikiran Sherin terhadap apa yang suaminya alami.
Nyonya besar Smith menghela napas kasar mendengar apa yang Alex katakan. Wanita itu paling tidak suka jika ada orang yang melukai putranya, baik itu secara sengaja ataupun tidak. Karena menurutnya juga sebesar apapun kesalahan putranya orang lain tetap tidak boleh melukainya. Hanya dirinya yang berhak menghakimi putranya. Hanya dia yang berhak memberikan hukuman pada putranya.
“Tidak Alex, mamah yakin kamu bohong. Mamah tau siapa dan bagaimana kamu. Kalaupun memang kamu di rampok, tidak mungkin barang barang kamu tetap utuh. Jujur sama mamah Alex, apa yang terjadi sebenarnya? siapa yang membuat kamu menjadi seperti ini?”
Alex berdecak. Mamahnya sangat keras kepala sekarang.
“Mamah akan suruh orang untuk..”
“Mah tolong.. Kalau mamah ingin perusahaan kita jauh dari berita berita yang tidak baik, akan lebih baik jika mamah tidak melakukan apapun. Alex sudah dewasa mah, Alex sudah bukan anak kecil lagi. Apa yang terjadi sama Alex biarlah itu menjadi urusan Alex. Mamah tidak perlu turun tangan apa lagi sampai menempuh jalur hukum. Toh semuanya baik baik saja kan? Alex masih hidup mah. Tidak perlu berlebihan.” Sela Alex yang tidak mau jika sang mamah sampai turun tangan menyelidiki semua yang terjadi padanya.
__ADS_1
Sherin yang tadinya berpikir simpel mendadak menjadi curiga. Sherin mulai berpikir bahwa apa yang terjadi sebenarnya tidak sesederhana yang dia pikirkan.
“Apa ini ada hubungan nya lagi dengan Melisa?” Batin Sherin bertanya tanya.