
Erlan mengeryit ketika mendapati Lena yang terlihat tidak semangat begitu keluar dari dalam kamar mandi. Pria itu mencoba menebak nebak apa yang terjadi pada Lena sehingga istrinya itu terlihat sangat lesu.
“Kenapa sayang?” Tanya Erlan pelan. Kali ini Erlan tidak bisa menebak apa yang sedang di rasakan oleh istrinya.
Lena menghela napas kemudian mendekat ke ranjang dan duduk di tepinya. Lena menunduk lesu membuat Erlan semakin merasa penasaran.
Karena Lena tidak kunjung menjawab pertanyaannya, Erlan yang tadi fokus dengan laptopnya di sofa seberang ranjang pun mendekat. Pria itu duduk di samping Lena dan meraih tangan Lena, menggenggamnya lembut.
“Ada apa?” Tanya Erlan lagi.
Lena menoleh menatap Erlan yang menatapnya dengan penuh perhatian.
“Aku.. Aku..” Lena tergagap. Dia benar benar merasa kecewa pada dirinya sendiri saat ini.
“Katakan pelan pelan sayang..” Lirih Erlan.
Sekali lagi Lena menghela napas. Dia mengalihkan pandangan dari Erlan ke depan.
“Aku mendapatkan tamu bulananku lagi.” Ujar Lena dengan suara bergetar. Padahal Lena berpikir dirinya tidak akan mens bulan ini. Tapi nyatanya malam ini justru dirinya mendapatkan tamu bulanan nya itu. Hal itu membuat Lena merasa sangat kecewa pada dirinya sendiri karena tidak kunjung hamil. Padahal mereka selalu berusaha dan tidak lupa memanjatkan do'a serta harapan agar Lena segera hamil.
Erlan tersenyum mendengarnya. Pria itu memang ingin segera memiliki anak dari Lena. Tapi itu bukan berarti dirinya memaksakan kehendak pada Lena agar Lena segera hamil anaknya. Tentu saja Erlan akan menunggunya dengan sabar.
“Aku.. Aku.. hiks..” Lena tidak sanggup meneruskan ucapannya. Isak tangis menyela apa yang ingin Lena katakan.
__ADS_1
Erlan yang merasa tidak tega melihat istrinya menangis sampai terisak segera merengkuh tubuh Lena. Pria itu mendekap Lena dengan sangat lembut. Usapan tangan besarnya di punggung Lena begitu pelan dan perlahan.
“Sayang.. Kamu tidak perlu menangis seperti ini.. Aku tau apa yang kamu inginkan dan apa yang kamu rasakan. Tapi itu bukan berarti kamu harus merasa kecewa pada diri kamu sendiri. Aku tidak menuntut kamu untuk segera memiliki anak dariku sayang.. Aku akan sabar menunggu sampai harapan kita menjadi kenyataan. Kamu juga tidak perlu khawatir. Karena aku sangat yakin Tuhan pasti akan segera memberikan kepercayaan pada kita untuk merawat anugerah terindahnya.” Ujar Erlan panjang lebar.
Bukannya berhenti menangis, Lena justru semakin terisak hebat. Tubuhnya bergetar dalam dekapan Erlan. Lena tidak tau harus berkata apa sekarang. Erlan begitu sangat sabar dan penuh perhatian. Pria itu selalu memahami dan pengertian terhadap dirinya. Erlan tidak pernah menuntut bahkan untuk sesuatu yang sangat Erlan dambakan sekalipun.
“Aku.. Aku..”
“Ssshhhtt.. Menangislah jika itu bisa membuat kamu merasa lega sayang. Tapi setelah ini aku mohon sama kamu, jangan lagi menangis untuk sesuatu yang pasti bisa kita dapatkan bersama.” Sela Erlan tidak ingin mendengar Lena menyalahkan dirinya sendiri. Erlan tau dan paham segala sesuatu membutuhkan proses. Tidak ada yang instan di dunia ini.
Lena hanya bisa mengangguk dalam pelukan Erlan. Lena merasa sangat lega karena Erlan tidak mendesak apa lagi menuntutnya untuk segera hamil.
Selama Lena menangis, Erlan terus memeluk Lena dan berusaha menenangkannya dengan mengusap usap lembut punggung wanitanya.
Beberapa menit setelah menangis, Lena pun melepaskan diri dari pelukan Erlan. Dengan wajah basah karena air mata, Lena menatap Erlan.
Setelah mengusap pipi basah Lena, Erlan pun mengecup singkat kening Lena. Pria itu kembali mengembangkan senyuman di bibir tipisnya menatap Lena yang terus saja diam menatapnya.
“Bagaimana kalau aku tidak bisa hamil?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Lena membuat Erlan mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti kenapa Lena malah bertanya seperti itu padanya.
“Kok kamu...”
“Erlan, bagaimana kalau ternyata aku tidak bisa hamil?” Sela Lena bertanya dengan nada yang sedikit di naikan.
__ADS_1
Erlan menatap Lena lekat lekat. Dari tatapan Lena, Erlan dapat melihat kesedihan juga ke khawatiran yang begitu menekan batin nya.
“Apa kamu akan meninggalkan aku Erlan? Apa kamu akan menikah lagi? Kamu mau mencari perempuan yang bisa memberikan kamu anak? Kamu..”
Cup
Enggan mendengar ucapan yang tidak akan pernah terjadi itu, Erlan pun membungkam bibir Lena dengan ciuman nya. Sementara Lena, dia hanya diam saja tanpa merespon ciuman lembut suaminya.
Erlan melepaskan pagutan bibirnya pada bibir Lena. Pria itu menangkup lembut kedua pipi Lena dan menyatukan kening mereka.
“Tolong sayang... Tolong jangan katakan apapun tentang omong kosong yang tidak akan pernah terjadi. Apapun yang terjadi, aku akan tetap mencintai kamu. Kamu tetap nomor satu di hati aku sayang.. Cuma kamu satu satunya pemilik hati aku. Cuma kamu perempuan yang akan selamanya berada di sisi aku..” Lirih Erlan terus meyakinkan Lena.
“Tapi...”
“Aku mencintai segalanya tentang kamu.” Sela Erlan.
Lena terdiam. Erlan begitu yakin pada cinta nya. Erlan juga begitu sangat yakin bahwa dia akan tetap mencintai Lena apapun yang terjadi. Namun kali ini kebimbangan Lena benar benar sangat sulit untuk di goyahkan. Tentu karena masalah anak. Sudah beberapa bulan mereka bersama namun sampai sekarang Lena belum kunjung hamil. Hal itulah yang membuat Lena berkecil hati dan merasa tidak percaya pada dirinya sendiri.
“Dengar baik baik sayang.. Tuhan itu maha baik. Untuk sekarang mungkin Tuhan belum mempercayai kita untuk memiliki anak. Tapi suatu saat nanti Tuhan pasti akan memberikan kita kepercayaan itu. Kamu tidak perlu ragu apa lagi sampai merasa takut. Semua butuh proses.. Dan kita sebagai manusia hanya harus berusaha. Untuk hasilnya kita serahkan pada Tuhan yang pasti lebih tau apa yang terbaik untuk kita umatnya.”
Lena hanya bisa mengangguk saja. Kesedihan hampir saja menenggelamkannya ke dalam jurang putus asa. Beruntung suaminya adalah pria yang begitu sangat pengertian dan mampu membuatnya sadar bahwa Tuhan tidak akan membiarkan umatnya dalam kesedihan berkepanjangan. Erlan juga membuat Lena berpikir bahwa segala sesuatu tidak ada yang instan. Semua memerlukan usaha juga ketelatenan untuk mendapatkan hasil yang di inginkan.
“Kamu tetaplah yakin sayang.. Jangan pernah merasa ragu dengan segala sesuatu yang bisa kita usahakan sayang..” Erlan kembali melanjutkan.
__ADS_1
“Ya..” Angguk Lena lirih. Lena menyetujui apa yang suaminya katakan.
Erlan tersenyum dengan jawaban setuju istrinya. Pria itu kemudian kembali merengkuh tubuh Lena ke dalam dekapan hangatnya. Erlan tidak mau jika sampai istrinya merasa tidak sempurna. Erlan juga tidak mau kalau Lena sampai putus harapan akan apa yang sangat dia dambakan. Karena Erlan sendiri selalu yakin bahwa Tuhan selalu menyertai umatnya yang mau berusaha dan bersabar dengan hasil yang di inginkan.