SAYANG

SAYANG
Episode 89


__ADS_3

Pukul 10 pagi menjelang siang, Erlan mengajak Lena untuk lebih dulu jalan jalan. Pria itu ingin membuat Lena bahagia di usianya yang genap 31 tahun. Erlan ingin bisa mengukir senyuman manis di bibir Lena setiap saat yang memang sudah Erlan janjikan pada dirinya sendiri.


“Apa kamu menginginkan sesuatu sayang?” Tanya Erlan saat langkah mereka sampai di depan sebuah toko perhiasan.


Saat ini Erlan memang sedang mengajak Lena keliling mall di dekat hotel tempat mereka bermalam. Erlan berpikir mungkin istri tercintanya ingin membeli atau sedang membutuhkan sesuatu yang Erlan tidak bisa menebaknya.


Lena menoleh pada Erlan. Dia menatap ke arah toko perhiasan tempat dirinya dan Erlan berada di depannya sekarang. Lena kemudian menggelengkan kepalanya.


“Tidak..” Jawabnya pelan.


Erlan menyipitkan kedua matanya. Selama mereka bersama Lena sama sekali tidak pernah meminta apapun padanya. Lena selalu menikmati dan menggunakan apa saja yang ada. Lena bahkan tidak menggunakan semua fasilitas yang Erlan berikan padanya.


“Apa kamu serius?” Tanya Erlan lagi menatap lebih lekat pada Lena.


Lena mengeryit. Tatapan Erlan seolah sedang tidak percaya dengan penolakan pelan Lena. Bagaimana tidak, yang Erlan tau wanita sangat senang sekali jika di belikan atau di tawari apakah ingin membeli sesuatu atau tidak. Tapi Lena, dengan tenang dia menggelengkan kepalanya menolak tawaran Erlan.


“Memangnya aku harus membeli sesuatu sekarang?” Tanya balik Lena yang membuat Erlan menghela napas.


“Menurut kamu sendiri bagaimana?”


Lena berdecak pelan. Sesungguhnya Lena sama sekali tidak ingin membeli apapun. Apa yang di sediakan Erlan di rumah sudah lebih dari cukup menurutnya.


“Mungkin kamu ingin baju baru, sepatu, gaun, atau mungkin mengoleksi perhiasan yang kamu tidak punya di rumah sayang..” Kata Erlan menjelaskan.

__ADS_1


Lena terkikik geli kemudian. Bagaimana mungkin Lena masih menginginkan semua itu jika semua yang Erlan sediakan dirumah saja belum Lena kenakan sebagian besarnya. Tentu karena Lena lebih suka mengenakan baju simpel yang tidak terlalu ribet menurutnya.


“Eum.. Aku sama sekali nggak ingin membeli apapun sekarang Erlan. Di rumah juga masih banyak, baju dan gaun yang belum aku kenakan. Dan juga, aku tidak terlalu suka mengenakan perhiasan.”


Erlan terdiam. Pria itu kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya mengerti. Erlan hampir lupa siapa istrinya. Lena tidak seperti wanita kebanyakan yang gila dengan kemewahan dan harta. Lena adalah wanita sederhana yang tidak pernah bergantung pada siapapun. Selain itu, Lena juga bukan wanita yang tamak dengan menginginkan banyak barang sedang apa yang di milikinya sudah cukup menurutnya.


“Baik kalau begitu. Lalu untuk makanan, apa kamu ingin membelinya? Camilan yang manis atau pedas mungkin? Kamu juga boleh membelikan untuk si mbok dan mbak yang di rumah.” Senyum Erlan.


“Oh ya? Kamu serius?” Tanya Lena dengan sangat antusias.


“Tentu saja sayangku..” Jawab Erlan.


Mendengar itu, Lena pun dengan semangat melingkarkan kedua tangannya di lengan kekar Erlan. Lena melangkah dengan semangat untuk membeli camilan dan beberapa makanan yang ingin dia beli untuk para pekerja di kediaman mewah Harrison.


Setelah puas membeli berbagai macam makanan yang akan di bagikan pada semua pekerja di rumah, Lena pun mengajak Erlan untuk pulang.


“Sayang..” Panggil Erlan begitu mereka sudah memasukan semua yang di beli ke dalam mobil dengan bantuan pak satpam yang juga ikut membawakan semua makanan yang Lena beli.


“Ya..” Sahut Lena menatap Erlan dengan wajah berseri seri. Lena merasa sangat senang karena bisa berbagi dengan semua orang yang ada di dekatnya.


“Sekali lagi aku tanya sama kamu. Kamu yakin nggak ada yang perlu kamu beli? Maksud aku untuk kamu sendiri, bukan untuk mbok dan yang lain nya.” Tanya Erlan menatap Lena serius.


Lena menghela napas dan memutar jengah kedua bola matanya. Sepertinya Erlan tidak percaya dengan jawaban Lena yang memang tidak ingin membeli apapun untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Cup


Lena berjinjit dan mengecup singkat pipi Erlan yang begitu serius menatapnya.


“Aku serius suamiku. Aku sedang tidak membutuhkan apapun untuk diri aku sendiri.” Jawab Lena setelah memberikan ciuman singkat di pipi Erlan.


Dengan senyuman malu malunya, Lena kemudian masuk ke dalam mobil lebih dulu. Entah kenapa Lena merasa sangat gemas melihat Erlan yang begitu serius menatapnya sehingga tiba tiba Lena berinisiatif mencium Erlan.


Erlan yang mendapat ciuman singkat tiba tiba dari Lena terdiam. Pria itu mengerjapkan beberapa kali kedua matanya sebelum akhirnya seulas senyum perlahan menghiasi bibir tipisnya. Erlan menyentuh pipinya yang baru saja di cium oleh Lena. Mendapat ciuman dari Lena secara tiba tiba baginya bagaikan mendapat kejutan yang sangat membahagiakan. Rasanya lebih membahagiakan dari memenangkan tender.


Erlan menghela napas kasar dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Pria itu kemudian masuk ke dalam mobilnya menyusul Lena yang sudah duduk dengan tenang di kursi samping kemudi.


“Kita pulang sekarang ya sayang..” Ujar Erlan pelan juga lembut.


Lena hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban. Malu sekali rasanya karena tiba tiba mencium Erlan. Apa lagi Lena mencium suaminya di tempat terbuka, yaitu di parkiran mall dimana banyak orang yang berlalu lalang. Bahkan satpam yang membantunya dan Erlan membawa berbagai makanan yang di belinya masih berdiri di samping mobil mewah Erlan.


Lena memejamkan kedua matanya erat erat. Wajahnya memerah sampai terasa panas. Lena tidak bisa membayangkan apa komentar orang orang yang tadi melihatnya mencium Erlan. Apa lagi mengingat Erlan yang bukan orang sembarangan. Lena yakin banyak juga wanita wanita di luar sana yang merasa iri dan mungkin juga merasa jijik melihat apa yang Lena lakukan dengan mencium Erlan tiba tiba.


Sepanjang perjalanan menuju pulang Lena sama sekali tidak mengatakan apa apa. Dan hal itu di mengerti oleh Erlan yang diam diam tersenyum geli dengan tingkah menggemaskan istrinya. Rasanya Erlan ingin mengurung Lena terus menerus di dalam pelukannya tanpa berniat melepaskannya barang sedetikpun.


Begitu sampai di rumah, Lena langsung memberikan sendiri semua yang dia beli pada para body guard juga pelayan di rumah mewah Erlan. Lena merasa sangat bahagia karena bisa berbagi dengan orang orang yang juga selalu membantunya dan Erlan.


Erlan yang mengawasi apa yang di lakukan istrinya itu hanya menggeleng dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya. Erlan tidak pernah berpikir jika dengan berbagi istrinya akan begitu sangat bahagia dan ceria.

__ADS_1


“Sayang.. Aku benar benar tidak tau apa kekurangan kamu sampai detik ini. Kamu begitu sempurna dengan apa adanya diri kamu.” Gumam Erlan semakin merasa kagum pada sosok cantik istrinya sendiri.


__ADS_2