
Erlan mengeryit melihat istrinya yang tampak sangat berbunga bunga malam ini. Padahal biasanya jika sedang mendapatkan tamu bulanan nya, Lena pasti akan terus merasa kesal tanpa alasan. Bahkan helaan napas Erlan yang dia dengar saja bisa membuat Lena salah paham. Tapi sekarang tidak, Lena terus terlihat sumringah sejak Erlan pulang sore tadi. Lena juga menyambut Erlan dengan sangat hangat bahkan memberikan ciuman di bibir tipis Erlan sekilas.
“Sayang...” Panggil Erlan mendekat pada Lena yang sedang berbaring miring sembari menyusui Rezvan di atas tempat tidur king size mereka.
Erlan berbaring di belakang Lena. Pria itu menempelkan dagunya yang lancip di lengan Lena dengan tangan yang sengaja dia genggamkan pada tangan kecil Rezvan. Hal itu membuat posisi mereka terlihat sangat romantis sekarang.
“Enak banget anak Daddy nyusu nya sampe Daddy nya di cuekin dari tadi ini....” Kata Erlan menatap gemas pada putranya.
Lena terkekeh geli. Rezvan memang sangat kuat menyusu padanya. Tidak heran jika tubuhnya begitu cepat berisi. Bahkan di usianya yang baru menginjak dua bulan, berat badan Rezvan sudah mencapai 7 kg.
“Gantian dong de.. Daddy juga mau..” Kata Erlan yang sukses membuat wajah Lena langsung merona karena malu.
“Iiihh.. Kamu apaan sih? Nggak boleh ngomong begitu di depan Rezvan.” Ujar Lena berusaha menutupi rasa malunya yang sebenarnya sudah di ketahui oleh Erlan.
Erlan terkekeh geli mendengar nya. Gemas sekali rasanya jika sudah melihat istrinya yang tampak malu malu saat dia goda.
“Iya deh iya.. Ngomongnya kalau kita lagi berdua aja. Terus kalau kamunya juga sudah selesai.”
Lena hanya diam. Namun dia berusaha menahan senyumnya. Wajah cantiknya yang memerah tidak bisa menyembunyikan rasa malu karena godaan suaminya kali ini.
“Dasar cabul.” Gerutunya.
Erlan tertawa pelan. Tidak masalah Lena menggerutui nya apa. Yang terpenting bagi Erlan dia hanya bersikap seperti itu pada istrinya sendiri. Dan itu sah sah saja menurutnya.
“Oh ya sayang, boleh tidak aku tanya sesuatu sama kamu?”
Ekspresi Lena langsung berubah. Kerutan muncul di keningnya mendengar apa yang Erlan katakan.
“Apa?” Tanya Lena penasaran.
“Sejak aku pulang tadi kamu kayanya lagi bahagia banget. Kamu terlihat semakin cantik karena terus terusan senyum. Kalau aku boleh tau memangnya kamu lagi bahagia karena apa sih hem?”
__ADS_1
“Oh itu.. Memangnya keliatan banget ya?”
“He’em..” Angguk Erlan mencium lengan terbuka istrinya.
Lena menghela napas. Wanita itu menatap lurus ke depan sembari mengingat kembali obrolan nya dengan Sasha sore ini sebelum Erlan sampai di rumah.
“Tadi tuh Sasha kesini. Aku yang suruh sih sebenernya. Aku penasaran banget dengan kedekatan Kenzie sama dia. Makannya aku langsung nanya sama Sasha. Dan sepertinya memang benar mereka sedang dekat. Tapi sayang nya Sasha nggak merasa itu hal yang sepesial. Sasha mengira Kenzie mendekati nya sebagai teman biasa saja. Tapi aku maklum, Sasha memang kurang cermat kalau masalah berhubungan dengan lawan jenis. Tapi apapun itu aku berharap semua yang terbaik untuk Sasha. Dia itu teman yang baik.” Jawab Lena panjang lebar.
“Oohh itu.. Kirain apa. Tapi sayang, sepertinya memang Kenzie itu suka deh sama Sasha. Soalnya aku perhatiin sejak dia dekat dengan Sasha dia selalu bersemangat. Kenzie juga menjadi sumringah setiap paginya. Apa lagi kalau abis makan siang sama Sasha. Pokoknya berkas aja sampai di senyumin sama dia.”
“Oh ya? Ya ampun.. Semoga saja mereka berjodoh ya...” Senyum Lena penuh harap.
“Aamiin.. Kita do'akan saja yang terbaik buat mereka. Aku yakin Kenzie nggak mungkin main main kalau memang suka sama Sasha sayang. Aku tau dan paham betul bagaimana Kenzie.”
Lena mengangguk percaya. Penilaian suaminya terhadap Kenzie tidak mungkin salah. Kenzie adalah orang kepercayaan Erlan yang pasti juga sangat dekat dengan Erlan.
“Ya sudah sayang, Rezvan kayanya sudah nyenyak tidurnya. Sini biar aku pindahin biar kamu juga bisa istirahat.”
Lena pelan pelan bangkit dari berbaring miring nya begitu juga dengan Erlan. Lena membenarkan bajunya yang sedikit berantakan sedangkan Erlan, dia memindahkan tubuh gempal putranya dengan sangat pelan dan hati hati ke ranjang milik Rezvan sendiri. Setelah itu keduanya pun sama sama naik ke tempat tidur dan berpelukan mesra. Namun sebelum benar benar memejamkan kedua matanya kedua terlebih dulu melepaskan rasa rindu setelah hampir seharian tidak bertemu karena kesibukan Erlan menangani perusahaan yang semakin hari memang semakin maju dengan sangat pesat.
------------
“Kak..”
Melisa sedang membereskan peralatan membuat kuenya saat tiba tiba David memanggil nya. Wanita itu menoleh kemudian tersenyum manis pada adiknya yang tampan itu.
“Eh iya dek, ada apa?” Sahut Melisa kemudian bertanya.
David menghela napas pelan kemudian segera melangkah mendekat pada Melisa. Remaja tampan itu mengambil alih semua peralatan kue yang ada di tangan Melisa kemudian segera menaruhnya di tempat yang seharusnya.
Melisa yang melihat itu hanya tersenyum saja. Adiknya memang ringan tangan dan tidak segan membantu nya tanpa di suruh.
__ADS_1
Namun Melisa kemudian mengeryit saat mendapati ekspresi David yang tampak tidak seperti biasanya. David tampak murung meski dia berusaha menutupi nya dari Melisa.
“Kamu kenapa dek? Ada masalah di sekolah?” Tanya Melisa penuh perhatian.
David menghela napas. Dia berdecak pelan kemudian duduk di kursi yang ada disamping Melisa. Saat ini mereka berdua masih berada di toko kue.
“Nggak ada kak. David hanya sedang merasa waktu begitu sangat cepat berlalu. Tanpa terasa sebentar lagi kakak akan menikah sama kak Alvin. Itu artinya kakak nanti bakal di bawa sama kak Alvin. Kita nggak akan bisa selalu sama sama lagi setiap hari. Apa lagi David dan Farid sibuk sekolah. Kita pasti bakal susah banget buat ketemu.” Ujar David mencurahkan kegalauan hatinya karena sebentar lagi Melisa akan menikah dengan Alvin. Bukan tidak senang kakaknya akan menikah, David hanya khawatir dirinya dan Farid menjadi tidak punya waktu untuk bersama kakak tercinta mereka.
“Jadi sekarang kamu yang berubah pikiran nih? Kamu mau kakak tunda saja pernikahan kakak sama kak Alvin?” Tanya Melisa meraih bahu tegap adiknya.
David menoleh menatap kakaknya yang tersenyum manis padanya. Remaja tampan itu meraih tangan Melisa yang berada di pundaknya kemudian menggenggam nya dengan lembut namun juga erat.
“Ya nggak begitu juga kak. David bahagia kok dengan pernikahan kakak dan kak Alvin. David hanya nggak bisa bayangin aja apa jadinya David dan Farid tanpa kakak nantinya. Kakak bakal punya kehidupan baru sama kak Alvin.” Kata David menatap Melisa sendu.
Melisa tertawa pelan. Ekspresi adiknya benar benar sangat menggemaskan sekarang. Wajahnya yang tampan terlihat sangat lucu dengan ekspresi nya sekarang.
“Ya ampun.. Jadi ceritanya adik kakak nggak mau nih jauh jauh sama kakak? Begitu?” Tanya Melisa merasa lucu.
“Yaialah kak. David sama Farid itu sayang banget sama kakak. Kita berdua nggak mau jauh jauh sama kakak. Kita berdua mau kita selalu sama sama. Tapi kita berdua juga tau kita nggak mungkin terus menahan kakak disini. Kakak berhak untuk mendapatkan kebahagiaan dan kami berdua nggak mau jadi penghalang kebahagiaan kakak.”
Melisa mengangguk anggukan pelan kepalanya. Melisa tau dan paham apa maksud adiknya karena Melisa sendiri juga merasa tidak bisa jauh dari kedua adiknya. Itulah yang kemudian membuat Melisa sempat ragu saat hendak menerima pinangan dari Alvin.
“Kamu nggak perlu khawatir tentang apapun dek. Kita akan tetap bersama karena kakak juga nggak akan bisa tenang kalau jauh dari kalian berdua. Kemanapun kakak pergi bahkan meski kak Alvin membawa kakak, kalian juga harus ikut dan kak Alvin sudah setuju dengan itu.” Senyum Melisa.
David mengeryit tidak percaya dengan apa yang kakaknya katakan.
“Kakak serius? tapi kan kak...”
“Nggak ada tapi tapian dek. Kita akan tetap bersama sama. Kalian adalah segalanya buat kakak.” Sela Melisa dengan senyuman yang menghiasi bibir nya.
David tersenyum mendengar nya. Dia merasa sangat lega setelah mendengar apa yang Melisa katakan. Karena itu artinya meski Melisa sudah menikah, David dan Farid tidak akan kehilangan sosok Melisa yang sudah benar benar seperti ibu juga ayahnya.
__ADS_1