SAYANG

SAYANG
Episode 126


__ADS_3

Malam ini Alex kembali pulang larut. Namun kali ini bukan karena Melisa, melainkan karena pekerjaan yang menuntutnya untuk segera menyelesaikan semuanya. Alex tidak mau ambil resiko mendapatkan semprotan amarah dari kedua orang tuanya. Terlebih Alex pernah membuat salah satu rekan bisnis yang sangat di gadang gadang oleh sang papah memutuskan begitu saja hubungan kerja sama yang sedang berlangsung, yaitu Erlan. Alex sedang berusaha menunjukkan pada sang papah bahwa perusahaan nya bisa maju tanpa harus bekerja sama dengan perusahaan Erlan.


Karena hal itulah Alex menjadi sering pulang telat. Dan kepulangan Alex yang selalu telat itu menimbulkan rasa curiga di hati dan pikiran istrinya, Sherin. Apalagi Sherin sendiri tau bagaimana Alex yang sangat suka bermain dengan wanita. Sherin curiga Alex telat karena hal tersebut. Tidak jarang Sherin juga curiga pada Melisa yang dia anggap adalah wanita yang sangat berniat menghancurkan hubungan rumah tangga nya dengan Alex.


“Awas saja kamu Melisa kalau diam diam masih menemui suamiku. Aku yang akan menghancurkan kamu dengan tanganku sendiri.” Batin Sherin.


Sherin menghela napas kemudian bangkit dari duduknya di sofa di ruang tamu. Alex melewati nya begitu saja. Pria itu bahkan seolah tidak menganggap keberadaan Sherin disana tadi. Dengan langkah sedang Sherin mendekat ke pintu kamar yang di tempati oleh Alex. Ya, sampai sekarang mereka berdua memang masih tidur terpisah. Alex benar benar tidak mau tidur satu ranjang dengan istrinya.


Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Sherin membuka begitu saja pintu kamar Alex. Dan begitu pintu tersebut dia buka, Sherin tidak menemukan siapapun di dalam kamar Alex. Namun suara gemericik air dari kamar mandi membuat Sherin menghela napas. Alex tidak biasa nya langsung membersihkan diri begitu masuk kedalam kamar nya.


Sherin kembali merasa tidak percaya pada suaminya itu. Sherin berpikir mungkin Alex baru saja menghabiskan waktu dengan wanita di luar sana seperti kebiasaan nya dulu.


Rahang Sherin mengeras. Membayangkan Alex bersama wanita lain membuat dadanya berdenyut ngilu. Sherin tidak ingin berbagi apapun dengan wanita lain. Apa lagi jika sampai berbagi pria. Itu hal sangat tidak ingin Sherin lakukan. Sherin ingin Alex menjadi miliknya sendiri.


“Alex, sampai kapanpun dan apapun yang terjadi, kamu hanya boleh menjadi milik ku saja. Tidak perduli bagaimana pun caranya.” Gumam Sherin dengan kedua tangan mengepal serta rahang yang mengeras karena amarah yang menguasai nya.


Ceklek


Suara pintu kamar mandi yang dibuka membuat Sherin langsung menoleh kan kepalanya dengan cepat. Sherin menelan ludah begitu pandangan nya bertemu dengan pandangan tajam Alex. Alex seperti sedang menahan sesuatu di dalam dirinya yaitu amarah.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan disini Sherin?” Tanya Alex dengan nada penuh penekanan.


Sherin yang mendengar itu mengerjap kan beberapa kali kedua mata nya. Amarah yang sempat menguasai hati juga pikirannya kini telah berganti dengan rasa takut karena nada menekan Alex saat bertanya padanya.


Sherin mundur pelan saat Alex melangkah mendekat padanya. Tatapan tajam Alex benar benar membuat nyalinya ciut seketika. Padahal tadi Sherin sudah sangat menggebu ingin bertanya tentang darimana saja Alex sampai malam ini kembali pulang telat.


“Jawab pertanyaan aku Sherin. Apa yang kamu lakukan di kamarku hah?!”


Dalam sekejap tanpa Sherin sadari Alex sudah berdiri di depan nya. Kedua tangan nya mencengkram kuat bahu lemah Sherin membuat si empunya meringis karena cengkraman kuat tangan besar Alex.


“Alex.. Sakit..” Rintih Sherin yang entah sejak kapan sudah tersudut di tembok. Sherin sendiri tidak menyadari kapan punggungnya bersentuhan dengan tembok yang terasa begitu dingin.


Sherin benar benar di liputi rasa takut sekarang. Alex begitu sangat marah padanya karena Sherin masuk tanpa izin ke dalam kamar nya.


“Alex.. Maaf.. Aku, aku hanya ingin bertanya kenapa kamu pulang larut malam terus akhir akhir ini. Aku sama sekali Akkhh !!” Ucapan terbata bata Sherin tersela oleh pekikan nya karena Alex yang melempar keras tubuhnya ke arah ranjang. Beruntungnya Sherin mendarat tepat diatas ranjang empuk itu sehingga tubuhnya tidak terbentur ke lantai yang pasti akan berakibat fatal mengingat Sherin yang sedang hamil besar.


Alex yang hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang itu melangkah kembali mendekat pada Sherin. Kali ini amarah nya benar benar sedang sangat membludak. Alex seperti orang yang sedang kerasukan karena tidak perduli pada Sherin yang sedang mengandung anak nya.


Begitu sampai di depan Sherin, Alex langsung menjambak rambut tergerai Sherin membuat Sherin harus mendongak menahan sakit akibat rambutnya yang di tarik begitu kasar oleh Alex.

__ADS_1


“Aku aku.. Hiks hiks..”


“Diam !!” Bentak Alex yang secuilpun tidak merasa iba dengan Isak tangis Sherin. Amarah membuat Alex buta dan lupa bahwa wanita yang sedang berada dalam cengkraman nya sedang mengandung benihnya.


Sedang Sherin, wanita itu benar benar tidak berdaya. Tenaganya tidak cukup kuat bahkan untuk sekedar melepas kan cengkraman tangan besar Alex di rambutnya.


“Kamu sudah menghancurkan segalanya Sherin. Kamu membuat aku kehilangan Lena dan kamu juga membuat aku harus hidup bersandiwara. Kamu perempuan brengsek !!” Teriak Alex tepat di samping wajah Sherin.


Sherin memejamkan kedua matanya kuat kuat. Teriakan penuh amarah Alex membuat tubuh Sherin bergetar hebat.


“Seharusnya kamu sadar, dari awal aku tidak pernah sedikitpun mempunyai rasa sama kamu Sherin !! Seharusnya bukan kamu yang menikah dengan ku karena memang bukan kamu perempuan yang aku inginkan menjadi pendamping hidup ku !!”


Alex terus meluap kan amarah nya pada Sherin. Tidak perduli meskipun Sherin menangis terisak dengan tubuh bergetar. Alex terus melimpah kan segala kesalahan pada Sherin yang dia anggap sudah menghancurkan kebahagiaan di dalam hidupnya.


Dan teriakan membahana penuh amarah Alex berhasil membangunkan bibi yang saat itu sudah terlelap. Karena khawatir dengan keadaan Sherin, wanita tua itu langsung melompat dari tempat tidurnya dan berlari menuju asal suara teriakan Alex.


Begitu sampai di depan pintu kamar Alex yang terbuka, bibi hanya bisa menangis melihat Sherin yang berada di cengkraman Alex. Ingin sekali bibi berlari dan mendorong tubuh Alex yang begitu sangat tidak berperasaan memperlakukan Sherin begitu kejam. Tapi itu tidak mungkin bisa bibi lakukan. Bibi sadar siapa dirinya. Bibi juga tidak mau mengambil resiko yang pasti akan berimbas pada dirinya juga keluarganya.


“Ya Tuhan.. Kuatkan nyonya. Jangan biarkan hal buruk sampai menimpanya. Sadarkan juga tuan muda Tuhan...” Tangis bibi yang hanya bisa membatin melihat pemandangan memilukan di depan matanya secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2