
Setelah di rasa Sherin tenang, Bibi pun beranjak dan berniat kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda karena mendengar suara Alex dan Melisa yang bersautan.
Ketika bibi hendak menuju dapur, bibi melihat Alex yang keluar dari kamarnya dan Sherin dengan bertelanjang dada. Pria itu hanya mengenakan celana panjang warna hitamnya. Alex sesekali menghisap rokok yang dia apit di bibirnya. Bibi hanya menghela napas kemudian melangkah menuju dapur. Meski awalnya memang tugas utamanya adalah mengawasi Alex dan Sherin, namun sekarang bibi berubah pikiran. Apa lagi setelah Sherin memohon dengan wajah yang begitu sedih padanya.
Sementara itu di kamar Alex dan Sherin, Melisa menangis sembari memunguti bajunya yang berserakan di lantai. Melisa tidak bermaksud menyakiti hati Sherin. Karena Melisa sendiri juga tidak menyangka Alex akan membawanya ke apartemen kemudian memaksanya. Melisa sudah melihat sebelumnya Sherin yang tertidur di sofa saat Alex menariknya dengan paksa masuk ke dalam apartemennya yang akhirnya berakhir tidak bisa melakukan apa apa di bawah kuasa seorang Alexander.
Jika saja dirinya mampu, Melisa ingin sekali menolak. Namun ancaman Alex selalu berhasil membuat Melisa tidak berkutik. Di pecat dari perusahaan dengan cara tidak hormat pasti akan membuat Melisa sulit mencari pekerjaan di luar sana. Di tambah lagi dengan gaji setiap bulan yang Melisa terima dari Alex bisa membuat Melisa memenuhi kebutuhan adik adiknya. Tidak hanya bisa membuat Melisa mampu membayar berbagai tagihan sekolah adik adiknya, Melisa juga bisa menyenangkan adik adiknya dengan membelikan apa yang adik adiknya mau. Ya, memang secara tidak langsung Melisa menjual tubuhnya pada Alex.
Melisa segera mengenakan bajunya sambil sesekali mengusap air mata yang membasahi pipinya. Hampir setiap hari Alex selalu merendahkannya. Alex melakukan segala yang dia mau tanpa memperdulikan Melisa yang terkadang menangis di bawah kuasanya.
Dengan tubuh lemas bahkan terasa tidak mempunyai tenaga, Melisa keluar dari kamar tersebut. Melisa benar benar tidak bermaksud menghina Sherin, tapi Melisa sendiri tidak bisa berbuat apa apa karena Alex yang memaksanya.
“Apa perlu aku antar kamu pulang Melisa?” Tanya Alex begitu Melisa melintas di hadapannya yang sedang duduk dengan santai sembari menikmati sebatang rokok yang mengepulkan asap.
Melisa mengusap kasar air mata yang terus saja menetes di pipinya. Dengan posisi memunggungi Alex dan tanpa sedikitpun niat untuk memutar tubuhnya Melisa berlalu begitu saja. Demi apapun, Melisa tidak akan pernah bisa memaafkan setiap apa yang Alex lakukan padanya. Alex sudah menginjak injak harga dirinya, Alex merendahkan martabatnya, dan Alex sudah membuat Melisa merasa menjadi wanita paling kejam karena memaksa Melisa melakukan itu di kamarnya dan Sherin.
__ADS_1
Tepat pukul dua dini hari Melisa keluar dari apartemen Alex. Meskipun kedua kakinya terasa sangat bergetar dan seolah tidak sanggup melangkah, namun Melisa tetap saja memaksakan dirinya. Melisa ingin cepat cepat sampai di rumahnya dan membersihkan dirinya. Rasa jijik kini Melisa rasakan. Membayangkan Alex yang begitu lihai mempermainkannya membuat Melisa merasa sangat terhina. Alex benar benar sangat kejam dan tidak berperasaan. Tidak heran jika Lena memilih untuk meninggalkannya dan memilih menikah dengan pria yang sudah jelas lebih baik dari segala hal, yaitu Erlan Dallin Harrison.
Sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumahnya air mata Melisa tidak pernah berhenti menetes. Melisa benar benar bingung harus bagaimana sekarang. Ingin rasanya Melisa berlari sejauh jauhnya dari Alex. Tapi itu sangat tidak mungkin mengingat Alex yang pasti bisa melakukan apa saja dengan uang yang dia miliki.
Sekitar 20 menit perjalanan, Melisa pun sampai tepat di depan rumah sederhananya. Rumah peninggalan kedua orang tuanya yang dia tinggali bersama dua adik laki lakinya.
Melisa turun dari taksi yang di tumpanginya lalu melangkah dengan gontai menuju pintu utama rumahnya. Ketika sampai di depan pintu utama rumahnya Melisa hampir saja frustasi ketika tidak kunjung menemukan kunci yang setiap hari dia bawa yang akhirnya dia temukan juga di dalam tas selempang yang dia kenakan.
Melisa segera membuka pintu bercat coklat terang tersebut dan masuk ke dalamnya.
Tidak terasa air mata kembali menetes membasahi pipi Melisa. Namun dengan cepat Melisa mengusapnya. Melisa tidak ingin jika sampai adiknya tau dirinya sedang menangis sekarang.
“Ya dek... Kakak abis lembur. Kamu sebaiknya tidur ya.. Kakak ke kamar dulu.”
“David nggak bisa tidur kak, tadi panji menangis karena kakak nggak pulang pulang. Baru tadi dia mau tidur itupun setelah aku bilang kakak akan pulang sebentar lagi.” Ujar adik Melisa cepat, David begitu biasa dia di panggil oleh orang orang yang mengenalnya.
__ADS_1
Melisa menelan ludahnya susah payah. Perasaan bersalah itu kini dia rasakan. Kedua adiknya pasti akan sangat kecewa jika tau uang yang mereka nikmati selama Melisa bekerja di perusahaan Alex adalah hasil dari Melisa yang selalu memuaskan Alex. Mereka berdua pasti akan merasa sangat jijik pada Melisa yang tidak pernah bisa keluar dari lingkaran setan itu hanya karena takut pada ancaman Alex.
“David juga sangat khawatir sama kakak. Setiap hari setiap kakak belum pulang David selalu merasa khawatir. David takut terjadi sesuatu yang buruk pada kakak..”
Melisa tersenyum merasa sangat terharu dengan perhatian adiknya itu. Air mata semakin deras menetes. Beruntung saat itu semua lampu sudah di padamkan dan hanya lampu meja yang menyala temaram saja sehingga David tidak bisa melihat Melisa yang menangis dalam diam.
Melisa membuka mulutnya hendak menjawab apa yang David katakan namun kemudian Melisa kembali menutup mulutnya takut jika sampai David mendengar suara bergetarnya.
Melisa menarik napasnya dalam dalam kemudian menghembuskannya perlahan. Setelah merasa sesak di dadanya sedikit mereda, Melisa pun tersenyum.
“Kamu nggak perlu khawatir David. Kakak bisa jaga diri kakak. Ya sudah, kakak langsung ke kamar ya.. Kamu juga istirahatlah.”
Setelah berkata dengan begitu tenang Melisa pun melangkah menuju kamarnya. Melisa sangat berharap David tidak akan tau apa yang dia lakukan bersama Alex. Karena jika sampai David tau, bukan tidak mungkin David akan sangat marah dan kecewa bahkan mungkin merasa malu dan jijik memiliki kakak seperti Melisa.
Sementara David, remaja yang masih berusia 17 tahun itu hanya bisa menghela napas pelan. Jika saja bisa David ingin sekali menggantikan posisi kakaknya menjadi tulang punggung keluarga. David ingin posisinya berguna sebagai seorang pria di dalam keluarganya. Dengan begitu kakaknya tidak akan pulang malam dan sering mengeluh pusing karena kurang istirahat.
__ADS_1