The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Melda vs Monica


__ADS_3

Melda sedang duduk di night club seven tempat yang di kunjunginya cukup pribadi karena hari ini dia ingin menemui seseorang. Dia cukup malas untuk bertemu dengannya, tetapi Melda datang juga dan mau mengikuti permainan gadis itu. Melda mengetuk-ngetukkan jarinya di meja sambil melihat jam di pergelangan tangannya, sudah 15 menit dia menunggu kedatangan gadis itu tetapi dia belum datang juga.


Dia menggeleng tidak percaya lalu mengangkat gelas kosong ke mulutnya, dia menaruhnya cukup keras di atas meja karena sudah ke sekian kali dia menghabiskan minuman itu.


"Gadis kurang ajar itu menyuruhku datang tepat jam 9 malam dan sekarang sudah lewat 15 menit, awas saja kalau dia datang nanti."


Keluh Melda masih duduk di sofa itu sambil menyilangkan kedua kakinya. Tidak lama pintu dengan tulisan VIP itu pun terbuka, Monica muncul dengan mengenakan dress ketat berwarna ungu dengan sungglasses yang masih dikenakannya.


"Malam Melda." Ucap Monica langsung duduk di depan Melda tanpa meminta maaf karena keterlambatannya.


"Sial kenapa panas sekali di ruangan ini, kau tidak panas?! Aku haus sekali." Ucap Monica tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Kau pikir sedang berbicara dengan siapa young girl? Kau tahu berapa lama aku menunggumu disini? Kau terlambat 15 menit. Aku bukanlah orang yang memiliki banyak waktu senggang dan menunggumu selama 15 menit Monica, 15 menit, kau pikir aku orang yang memiliki banyak waktu, aku sangat sibuk !" Ucap Melda dengan bibir setipis pisau sambil bersedekap menatapnya tajam.


"Mau bagaimana lagi, aku harus melarikan diri dari pengawal ayahku yang mengawasiku 24 jam nonstop, ukh semua karena gadis sialan itu." Ucap monica sambil mengambil rokok di tasnya dengan pemantik dan mulai menyalakan rokoknya.


"Jadi, apa yang kau inginkan dari pertemuan kita hari ini darling?" Tanyanya.


Monica menaikkan alisnya lalu menghisap rokoknya dan menghembuskannya. "Aku ingin menyingkirkan gadis itu, dia penghalang besar bagiku untuk bersama dengan Daren." Ucapnya.


Melda menaikkan alisnya. Lalu tersenyum miring. 'Saingan terbesarmu ada di sini darling.' gumam Melda tapi tetap mendengarkan rencana Monica.


"Aku tidak bisa kembali ke Swedia Sebelum wanita itu hancur, yah meskipun Daren tidak bisa kumiliki nantinya tetapi aku ingin wanita sialan itu enyah dari hadapan daren, jadi aku bisa pergi dengan damai ke Swedia, tidak akan ada yang memilikinya sampai aku kembali dan menjadi kekasih yang baik hati untuk menghapus kesedihannya dan menjadi pelipur laranya, bagaimana? Ideku cemerlang bukan?" Senyum Monica membayangkan hal itu terjadi dan keinginannya dapat tercapai.


'Gadis ini gila, Sebelum kau datang Daren sudah menjadi milikku, setelah gadis itu enyah maka giliranmu pun akan tiba selanjutnya.' pikir Melda sambil menyesap minumannya.


"Jadi apa rencanamu sweet heart? Kau pastilah memiliki rencana yang matang karena kau nekat melarikan diri dari ayahmu." Ucap Melda.


"Ya, aku memiliki satu rencana yang hebat, dan kau bisa membantuku Melda, oh ya aku ingin tahu mengapa kau mau membantuku Melda bukankah kau memiliki hubungan keluarga dengan gadis itu?" Tanyanya.


Melda tertawa. "Hubungan keluarga tidak memiliki pengaruh apapun, aku akan tetap membantumu Monica, jadi katakan kepadaku apa rencanamu." Ucapnya.


"Aku ingin kau memasukkan aku ke mansion tuan Caesaar sembunyi-sembunyi, aku bisa menyamar menjadi apapun, Oh ya, aku bisa menyamar menjadi seorang pelayan dan masuk ke mansion itu." Ucap Monica antusias.


"Terus? Apa yang ingin kau lakukan setelah masuk ke mansion?"


"Hem, kau akan lihat aksiku, aku akan menyusup ke kamar Daren dan membiarkan dia memiliki tubuhku, jika perlu aku tidak akan mengenakan apapun di hadapannya sehingga dia bisa membuang istri kasarnya itu, ukh..dia hanya mengandalkan dada besarnya dan anaknya saja, jika dia tidak memiliki itu semua tubuhku tidak bisa dibandingkan dengannya." Monica menatap tubuh moleknya lalu berkacak pinggang.

__ADS_1


Melda tidak setuju dengan rencana gila gadis egois dihadapannya ini, dia tidak ingin hal itu terjadi, pria mana yang akan menolak jika gadis dengan tubuh seperti Monica tidak mengenakan apapun? dan dia akan menyerahkan tubuhnya? bahkan Daren pun akan meninggalkan gadis sialan itu dan menyerang tubuh molek Monica. Melda memutar otaknya dan segera memberikan rencana lain karena rencana Monica sama sekali tidak menguntungkannya.


"Darling?? Sepertinya penjagamu sudah ada di depan pintu." Senyum Melda kepada Monica. Wajah Monica terheran dan menganga melihat empat pengawal dengan tubuh besar sudah berada di depan pintu masuk.


"Sialan ! Kenapa mereka bisa menemukanku?" Ucap Monica.


"Mungkin karena aku yang menghubungi ayahmu jika kau sekarang berada di sini bersamaku." Ucap Melda dengan tenang, senyum profesionalnya tidak pernah hilang, dia tidak terpengaruh sama sekali dengan kemarahan Monica.


"Kau ! Apa yang kau lakukan Melda? Kau kan ada di sini untuk membantuku bersama dengan Daren?!!" Teriak Monica dia berdiri sambil menunjuk wajah Melda di hadapannya.


"Aku sama sekali tidak melihat keuntunganku dengan membantumu sweet heart, lagi pula pria yang kau inginkan itu adalah milikku jadi aku tidak bisa membiarkan rencanamu itu berhasil." Ucap Melda tersenyum tipis.


"Kau ! Jadi selama ini kau mengincar Daren??! Wanita tua sepertimu??!" Monica ternganga setelah itu dia tertawa keras.


"Kau bercanda iya kan?? Daren tidak akan mungkin menyukai nenek-nenek sepertimu Melda, lihat saja tubuh dan wajahmu sudah lapuk termakan usia, kau seperti kayu yang lama di jemur di matahari, bagaimana mungkin kau bisa percaya diri seperti itu??" Monica tertawa seperti kegirangan seakan mendapatkan candaan yang luar biasa untuknya.


"Diam ! Kau tahu apa? Gadis egois dan gila sepertimu tidak pantas bersama dengan Daren, melirik kepadamu saja daren terlihat takut." Ucap Melda sambil menyesap minumannya. Darah Monica terasa sudah mencapai puncak kepalanya, dia mengambil botol minuman dan menuangkannya di atas kepala Melda, seluruh wajah dan tubuhnya basah dengan siraman minuman keras yang menyengat.


"Apa yang kau lakukan gadis bodoh !" Bentak Melda.


"Gadis gila." Umpat Melda sambil mengambil saputangan di dalam tasnya, tetapi ada sesuatu yang membuat dirinya tersenyum.


"Rencana yang dibicarakan gadis itu boleh juga, tetapi bukan Monica yang menyusup ke mansion itu tetapi aku. Daren akan kudapatkan kali ini, dia harus melihat diriku seutuhnya hingga dia bisa berpaling dari gadis kasar itu." Ucap Melda lalu mengambil tasnya dan segera keluar dari club itu.


~


Pagi ini mereka berempat sarapan bersama, suasananya cukup canggung di antara Xaphier dan Nara, mungkin karena pertengkaran mereka pagi ini, lexia mendengar bujukan mautnya kepada Nara. Lexia melirik kepada Xaphier, dan dia terus melirik kepada Nara yang tidak memperdulikan kehadiran Xaphier di sampingnya.


Lexia sedang menyuap bubur bayi kepada Ax yang sudah mulai makan, selagi mereka semua sarapan, lexia masih memperhatikan mereka berdua.


"Sayang? Bagaimana kalau hari ini kita jalan-jalan di sekitar taman, udaranya sangat cerah, Ax juga suka terkena sinar matahari pagi." Ucap Daren kepada lexia yang tidak hentinya mengerling Xaphier dan Nara.


"Lexia sayang?" Panggil Daren yang sejak tadi menyadari jika lexia asyik menatap pengantin baru di hadapannya ini.


"Lexia?"


"Oh, ya ada apa daren?" Tanyanya.

__ADS_1


"Kita ke taman sekarang?!" Ucapnya dengan matanya yang memerintah.


"Ah, ok baik sayang setelah aku bereskan makanan Ax." Ucapnya. Daren menggelengkan kepalanya melihat tingkah lexia yang ingin mengetahui masalah Xaphier dan Nara.


~


"Berhenti menatap mereka lexia, Xaphier akan marah jika kau ikut campur urusan mereka." Ucap Daren sambil menggendong Ax di taman, mereka bertiga berjalan bersama sesekali menatap dan tersenyum melihat kegembiraan Ax ketika mereka berjalan-jalan.


"Aku tahu Daren..tapi aku sedikit penasaran, mengapa mereka bertengkar? Dan kenapa Nara marah kepada Xaphier? apa yang terjadi ?" Tanyanya.


Daren menggeleng. "Bukan urusan kita sayang, tapi jika kau ingin mengetahuinya aku akan memberitahukan sedikit saja." Ucap daren, membuat lexia heran mendengarnya.


"Kau mengetahuinya Daren? Kenapa bisa?" Tanyanya.


"Erm, siapa saja akan tahu mengapa Nara marah kepada Xaphier. Malam itu ketika aku membawa Ax ke kamar sekitar pukul 12 malam aku..aku mendengar teriakan Nara, suaranya sangat keras ketika dia menjerit, setelah itu aku membawamu ke kamar dan melewati kamar mereka lagi, dan sekali lagi Nara meminta agar Xaphier berhenti, erangan Nara sangat terdengar jelas." Ucap Daren menyesal memberitahukan cerita ini kepada lexia, wajahnya nampak lebih penasaran dibandingkan sebelumnya.


"Jadi sayang, berhenti bertanya-tanya lagi, Nara akan malu jika orang-orang mendengar jeritannya malam itu." Ucap Daren sambil memberikan kecupan di bibir lexia.


"Erm oky, aku tidak akan bertanya lagi." Tapi ucapan lexia tidak sama dengan ekspresi di wajahnya, dia ingin menginterogasi Nara ketika mereka tiba di rumah nanti.


~


Kediaman Burchard


Mereka berdua sedang sarapan pagi, Lovelia telah memasak untuk Alvin, dia menyuruh pelayan untuk tidak membantunya dan menyiapkan sendiri makanan mereka berdua. Pagi-pagi sekali Lovelia membuat pancake, dengan cekatan dia membuatnya sambil bersenandung senang.


Alvin baru saja turun dari lantai 3 kemudian menghampiri lovelia dan menatap sarapan yang dibuat olehnya. Alvin bersiul melihat semuanya tersaji di atas meja, pancake dengan sirup maple serta dua gelas susu hangat sudah tersaji di atas meja.


"Kau bisa memasak lovelia?" tanyanya. lovelia tersenyum lalu menatap Alvin. "Hanya itu saja yang aku bisa buat dengan benar paman, aku masih harus banyak belajar." ucap lovelia. Mereka berdua duduk dan menikmati sarapan mereka, Alvin tidak henti-hentinya memuji masakan lovelia membuatnya tersipu dengan pujiannya.


"Hari ini aku akan berbicara dengan ayah untuk memutuskan pertunanganku." ucap Alvin membuat Lovelia terkejut.


"Ke..kenapa paman?" tanyanya.


"Aku akan memberitahukan setelah Masalah dengan ayah beres, setelah itu aku akan sering datang kemari lovelia, dan berhenti memanggilku paman, cukup panggil dengan namaku saja." ucapnya.


Wajah lovelia tentu saja merona, entah apa yang Alvin ingin beritahukan Kepadanya. "Tunggu aku lovelia, setelah aku bicara dengan ayah aku akan datang menjemputmu." janjinya.

__ADS_1


__ADS_2