The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Terpengaruh Olehnya


__ADS_3

"Dia demam sir, biarkan dia beristirahat dan memulihkan kondisinya jangan lupa berikan vitamin agar tubuhnya tidak lemah."


Ucap dokter itu pada daren, dokter itu keluar dari kamar lexia lalu daren menutup pintu kamar dan kembali di tepi tempat tidur lexia dan menatapnya.


Gadis ini menyembunyikan sesuatu dariku, pikir daren dan dia benci kenyataan itu, dia mau gadis ini memberitahu jika ada sesuatu yang mengganggunya atau mengganjal di dalam pikirannya.


Baru kali ini daren begitu khawatir, dia duduk di sisi lexia lalu memegang tangannya yang panas dia mengambil kompres dan menaruhnya di kening lexia.


Bibir lexia yang setengah terbuka menyulutkan gairah daren, "Sial!" Umpatnya.


Dia akhirnya meninggalkan lexia sendirian di kamarnya sebelum otak kotornya bertindak jauh untuk menyerang lexia sekarang juga.


~


Siang itu daren duduk di meja kerjanya dan seseorang mengetuk keras pintunya, Barbara masuk dengan wajah sumringah yang terpampang di wajahnya.


"Daren, kau tahu? Lovely akhirnya berangkat denganku ke LA, dia mau menerima pengobatan di sana, aku tidak tahu apa yang membuat pikiran anak itu berubah, aku sangat senang sekali." Ucap kakaknya.


"Benarkah? Bagus kalau begitu. Menurut kakak apakah tingkat keberhasilan dari pengobatannya akan berhasil?"


"Ya, menurutku seperti itu, dokter di sana mengatakan kalau ada beberapa pasien yang sudah sembuh dengan gejala yang sama seperti lovely." Ucapnya senang.


"Berapa lama waktu yang di butuhkan untuk kesembuhan lovely?" Tanya daren.


"Aku tidak tahu Daren tapi tingkat keberhasilannya mencapai 89 persen, dan aku sangat antusias jika lovelyku akan segera sembuh."


"Mengapa kau kelihatan Tidak senang daren?" Tanya kakaknya padanya.


"Bagaimana kita akan menjelaskan nanti kepada tuan Burchard mengenai lovely, kita telah membohonginya." Ucapnya.


Barbara menghela napasnya dan bersedekap, "Seharusnya hal ini kita pikirkan baik-baik sebelum memperkerjakan gadis itu, tidak ada jalan lain kan kalau lovelyku sembuh, aku akan jujur kepada tuan Robert dan meminta maaf padanya."


Daren berdiri dari kursinya lalu menatap pemandangan dari jendela.


"Tuan Robert tidak semudah itu memaafkan seseorang Barbara, dia pria keras kepala dan benci di bohongi."


"Lalu bagaimana? Apakah kita akan terus menyembunyikan lovelyku? Itu tidak mungkin kan." Ucap Barbara.


"Sudahlah! Lagi pula belum saatnya, kita masih membutuhkan lexia, segeralah bawa lovelia berobat ke LA, biar urusan di sini aku yang akan mengurusnya." Ucap daren memandang kakaknya.


~


Lexia terbangun, dia berkedip beberapa kali dan menyadari ada sesuatu di keningnya. Dia mengambilnya lalu menatapnya.


"Siapa yang mengompresku?" Lexia menatap ruangannya yang temaram lalu segera berdiri dan mengambil handuk hendak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


"Kau bangun!"


Suara berat itu mengejutkan lexia, dia berbalik dan menatap William tengah duduk di kursi dekat jendela sambil menatap lexia di dalam kegelapan.


"Kau ! Kenapa kau ada di kamarku?" Ucap lexia menatapnya dengan marah.


"Kau terlihat sakit lexia, bagaimana keadaanmu?" Tanyanya.

__ADS_1


"Aku baik, kau boleh pergi." Ucap lexia.


William terkekeh, baru kali ini seorang wanita menolaknya dan memperlakukannya dengan seperti itu, hal itu membuatnya senang.


William berdiri dari tempat duduknya, dia memandang lexia dengan tatapan mata yang tajam, perlahan lexia mundur beberapa langkah.


"Apa yang kau inginkan?" ucapnya.


"tidak ada, hanya ingin melihatmu saja, katanya kau sedang sakit." ucap William sambil tersenyum.


Bukan hal yang mudah bagi lexia untuk lepas dari jeratan pria ini, Perkataannya nampak terlihat biasa saja tetapi tindakannya berbanding terbalik.


"Sebaiknya kau keluar, aku benci orang yang keluar masuk seenaknya di dalam kamarku." ucap lexia, dia memberanikan dirinya mencoba menatap wajah William yang terkekeh dengan menjengkelkan.


'Pria ini sinting sama sintingnya dengan daren.' gumam lexia, meskipun begitu segala perkataannya di dengar jelas oleh William.


"begitukah? aku tidak sesinting daren yang menyembunyikan keponakannya dan memperkenalkan gadis lain agar keluarganya dapat selamat dari jeratan tuan Robert."


"ya, kau benar, tapi itu bukan urusanmu kan, lagi pula kau sama buruknya dengannya, apa tujuanmu berpura-pura menjadi bodyguardku? kau pasti punya tujuan lain bekerja di sini bukan?" ucap lexia tajam, Sepertinya kata-katanya sedikit mempengaruhi William.


"Haha, kau cukup tajam juga lexia, tapi sayang sekali apa yang kulakukan di sini bukan urusanmu."


"Bagus, kalau begitu kau bisa pergi kan."


William tersenyum puas, dia menatap lexia dengan seringai miring, bulu kuduk lexia seakan meremang di tatap seperti itu.


"Kau tuli ya, apa telingamu tidak mendengar dengan benar?"


"Hati-hati sayang, kadang mulut tajammu itu ingin kubungkam di bibirku." bisiknya serak.


Lexia melirik benda-benda yang ada di sekitarnya jika pria ini bersikap kurang ajar padanya dia akan melemparkannya, apalagi jika pria ini berani mencium lexia, dia ingin menendang bagian apa saja dari tubuh pria yang berdiri di hadapannya ini dengan angkuh.


"Kau seharusnya pergi, daren sebentar lagi akan datang."


Dia terkekeh, seringai jahat membingkai di wajahnya. "Sekarang kau membutuhkan bantuan daren, ck tidak menarik." Dia memperbaiki jasnya lalu berjalan menuju pintu keluar.


"Aku pergi lexia, sebaiknya kau jaga dirimu lebih tepatnya tubuhmu dari daren, kau terlalu sering melempar dirimu kepadanya." ucapnya.


Mata lexia membulat, dia tampak marah dan malu mendengar ucapan William, apakah dia tahu semua apa yang dilakukannya bersama daren? apa dia memantauku? pikir lexia.


William akhirnya keluar dari kamar lexia, membuatnya sedikit bernapas lega. Lexia membanting tubuhnya di atas tempat tidur.


"Mengapa aku bertemu pria-pria seperti mereka berdua?" ucapnya.


Lexia memegang memo yang di tulis Lea kepadanya, nomor itu adalah nomor ponsel Edo, dia ingin segera pergi dari tempat ini.


~


Suara ketukan terdengar dari pintu ruangan daren.


"Masuk."


Wajah tampannya yang khas membingkai di wajahnya, hari ini Daren akan keluar untuk makan malam bersama rekan bisnisnya, dia telah bersiap-siap dan hendak keluar dari ruangannya.

__ADS_1


"Ada kabar apa evan?" tanyanya.


"Sir, ada beberapa dokumen penting tiba-tiba menghilang." ucap evan.


"Dokumen apa Evan?"


"Surat-surat penanda tanganan perusahaan milik Alther tiba-tiba menghilang, dan file-filenya juga ikut terhapus sir." ucapnya.


"Benarkah? Daren berbalik lalu berjalan di meja kerjanya, dia mengetuk-ngetukkan jarinya sambil berpikir.


"Kau sudah mengecek dengan benar? orang-orang yang keluar masuk di perusahaan Burchard dan di mansion ini? sepertinya ada pengkhianat yang menyusup di tempat kita, periksa semua siapapun yang keluar masuk di mansion ini dan laporkan padaku jika kau melihat Sesuatu yang mencurigakan." ucap daren.


"Baik sir."


Evan keluar dari ruangan itu dan segera menutup pintunya. Suara ketukan lain terdengar dari pintu daren.


"Masuk."


Wanita itu masuk dengan gaun seksi berwarna silver yang begitu pas melekat di tubuhnya.


"Kau sudah siap daren? aku senang sekali kau mengajakku ke pertemuanmu dengan rekan bisnismu, Carol pasti tidak akan senang melihatku datang bersamamu." Ucap nency perlahan berjalan mendekati daren.


Daren mengajaknya karena ia ingin memiliki koneksi yang berhubungan dengan keluarga Robert dan informasi tentang tuan robert.


"Jangan sungkan, aku senang mengajakmu." ucap daren membiarkan nency menjalarkan tangannya di tubuhnya.


"Bolehkah aku sedikit berharap daren? jangan kira aku tidak tahu mengapa kau tiba-tiba mengajakku, paman Robert memang membuat segalanya berjalan lancar untukku karena kau begitu terobsesi dengannya, aku bisa memberikan informasi tentangnya, atau apa yang di lakukannya tapi...asal kau tahu daren itu tidak gratis sayang."


Nency tersenyum liar mendambakan bibir daren yang menciumnya dengan liar tapi daren hanya tersenyum miring, dia wanita yang tidak bodoh, pikir daren dan itu bukan ide yang buruk.


Daren menarik tangan nency dan melekatkan di dadanya, tangannya menjalar di wajahnya dia sedikit membungkukkan tubuhnya hendak mengecup bibir wanita itu, tiba-tiba saja ketukan terdengar dari luar membuat nency terlihat gusar.


"Masuk." ucap daren.


Lexia melangkah masuk keruangan Daren dan menatap wanita yang berada di dekapan daren.


"Hai lovelia, lama tidak jumpa." ucap nency terdengar akrab dengan memberikan senyumnya. Lexia menatap daren dan pelukan nency di tubuhnya.


"Oh, hai apa aku mengganggu? aku bisa bicara lain kali saja jika kalian sibuk." Ucapnya.


"Oh, tidak apa-apa kau bisa bicara dengan pamanmu, aku akan menunggumu di luar Daren." bisik nency melekatkan tubuhnya pada daren.


Lexia menatap daren yang terlihat tenang dan tidak sedikitpun terkejut dengan kedatangan lexia.


"Ada apa? bagaimana dengan demammu." tanyanya.


"Aku baik, oh ya aku ingin menanyakan di mana Evan aku ingin mengirimkan surat untuk nenek Rossie jika dia berkunjung ke sana lagi, karena aku tidak bisa kesana bukan?"


Daren memperhatikan reaksi lexia, dia sama sekali tidak terlihat marah ataupun gusar dan daren tidak menyukai ketenangan yang lexia perlihatkan.


"Ada apa? kenapa kau memandangku?" tanya lexia.


"Tidak, hanya saja kau tidak heran melihat nency bersamaku, aku mengajaknya Karena urusan..

__ADS_1


"Bukan urusanku kau bersama dengan siapa." ucap lexia. "Aku hanya ingin bertemu dengan Evan bukan denganmu."


Entah mengapa ucapan lexia membuat hati daren mendidih, kata-katanya yang tidak peduli dia bersama wanita lain seakan menyentil egonya, dia merasa tidak puas dengan ucapannya, apakah hanya dia yang terpengaruh dengan gadis ini? sedangkan lexia tidak terpengaruh dengannya?


__ADS_2