The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 25


__ADS_3

Hanna Tan namanya, usianya 16 tahun dan sebentar lagi dia akan berusia 17 tahun bulan ini, dia adalah seorang putri dari keluarga Tan, ibunya bernama Angelica yang berasal dari Vancouver dan ayahnya bernama Jerry Tan berasal dari Taiwan, keduanya dipertemukan ketika mereka masih kuliah di universitas Vancouver, akhirnya mereka menikah dan memiliki seorang putri yang diberi nama Hanna Tan. Putri cantik dengan wajah oval bermata coklat meskipun mata ibunya berwarna biru, tubuhnya semampai, sehingga dia terlihat cantik dan normal layaknya seperti gadis di usianya.


Hanna bersama kedua orang tuanya hanya sampai usia 13 tahun saja, karena badai salju yang parah, mereka berdua kecelakaan dan tidak bisa tertolong pada saat itu, dan akhirnya meninggal dunia, dia akhirnya tinggal dari satu keluarga ke keluarga yang lainnya yang merupakan kerabat ayah maupun ibunya yang mau menampungnya, meskipun begitu, dia tidak mau memberatkan sanak familinya yang juga serba kekurangan, apalagi saat itu ucapan dari keluarga ayah dan ibunya membuatnya berpikir aneh, mereka selalu mengatakan tentang darah yang tidak sama, meskipun begitu hanna tidak memperdulikannya, akhirnya Hanna tinggal seorang diri dan menyewa satu flat ketika usianya beranjak 16 tahun, dan pada saat itu hanna sudah mendapatkan pekerjaan.


Dia adalah gadis mandiri, cekatan, ramah meskipun dia juga terkadang suka ceroboh.


Dia mendapat pekerjaan di keluarga Caesaar berkat bantuan tetangganya, Nyonya Lenny yang tinggal di sebelah kamar Hanna, dan karena pada saat itu mereka membutuhkan seorang pelayan untuk membersihkan gudang makanan, maka Hanna pun di panggil oleh Nyonya Lenny yang sudah lama bekerja pada keluarga Caesaar.


Sudah 6 bulan sejak Hanna bekerja di mansion ini, dia terkadang menyiram bunga membersihkan dapur dan membersihkan gudang makanan, satu hal yang sangat di sukai Hanna ketika dia mulai tinggal dimansion itu, selain memiliki kamar gratis serta kamar mandi untuk dirinya sendiri, dia sangat senang dengan taman di mansion itu, tempat yang begitu luas layaknya sebuah kastil, dia dapat makan di tengah-tengah taman, meskipun kadang dia di marahi oleh Nyonya Lenny, tetapi hal itu tidak menghentikan Hanna dari berekreasi dan menyenangkan dirinya sendiri.


Hari itu sangat kebetulan sekali dia disuruh mengantar teh jahe untuk tuan muda di mansion ini bernama Dazon Caesaar, sebenarnya Hanna sama sekali tidak mau membawanya, dia suka melakukan hal-hal ceroboh di luar keinginannya, sehingga hal yang terjadi tidak sesuai dengan harapannya.


Setelah membawakan teh jahe, tuan muda itu menyuruhnya membawa pie Apple di tengah malam seperti ini, apa dia mau sarapan di malam seperti ini? Pikir Hanna.


Lagi-lagi dia yang membawa makanan untuk tuan muda itu, Hanna meletakkan nampan di atas mejanya, dan segera beranjak keluar, tidak sengaja dia melirik tuan muda yang katanya tampan itu, karena para pelayan yang senior sering membicarakan ketampanan tuan Axton dan tuan Dazon. Hanna ingin membuktikannya sehingga tanpa dia sadari matanya berpindah dan melirik kepada Dazon. Hanna begitu terkejut ketika tuan muda itu juga menatapnya, dia segera memalingkan wajahnya, dan Segera keluar dari tempat itu.


"Huuf, apa dia melihatku? Ck lupakan, aku harus kembali ke kamarku, ini sudah lewat tengah malam." Ucap Hanna sambil berjalan kembali menuju kamar pelayannya.


~


Dazon menyandarkan kepalanya di kursi, matanya beralih pada Pai Apple yang di taruh di atas meja. Dia menghirup aromanya dan tak menyangka wanginya dapat membuat dirinya berselera untuk sedikit mencicipinya. Dia mengambil sendok kecil itu lalu memotongnya sedikit dan menyuapnya.


"Lumayan." Ucapnya. Dazon masih mengingat bagaimana mata itu mengalihkan penglihatannya ketika mata mereka bertemu, gadis itu terlihat gugup dan hendak meninggalkan kamar Dazon secepat mungkin.


~


Suara burung bersahutan di desa itu, tepatnya di desa bernama Turtle The Reaves, penghuni disalah satu rumah yang tinggal di ujung paling sudut dekat sungai itu masih terlelap, cahaya matahari telah berkilauan masuk dari jendela kamarnya.


Fairley mengernyitkan alisnya karena tubuhnya begitu berat dan terasa sesak, dia membuka kedua matanya dan melihat Ax sedang memeluknya erat, sehingga dada dan pinggangnya menempel erat di tubuh Ax.


"Ugh Ax, lepaskan aku tidak bisa bernapas." Ucap Fairley, dia mendorong tubuh Ax ke samping dan mencoba mengangkat tangan besarnya dari pinggangnya.


Fairley segera bangun dan terduduk di atas tempat tidur, dia meraba-raba apa saja di sampingnya, untuk dikenakannya, matanya langsung terkena cahaya yang menyilaukan sehingga dia tidak bisa melihat handuk untuk dia kenakan.

__ADS_1


Setelah mencari-cari handuk dan dia tidak temukan, Fairley menemukan kaos Ax yang dibuang Sembarangan semalam sampai terjatuh di lantai kamar.


"Ugh, tubuhku masih sakit." Gumam Fairley meringis, sambil mengenakan kaos Ax yang kebesaran di tubuh polosnya. Dia kemudian beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.


Ketukan itu nyaring terdengar, Fairley mengalihkan perhatiannya kepada pintu mereka yang diketuk oleh seseorang.


Fairley segera menghampiri Ax dan membangunkannya, "Ax bangun, ada orang diluar rumah." Ucap Fairley menggoyangkan tubuh Ax agar dia terbangun.


"Erm, ada apa Fairley, siapa yang datang?" Tanyanya sambil menguap.


Ax segera bangkit dari tempat tidurnya, dia kemudian menuju keruang tamu dan segera membuka pintunya. Dia begitu terkejut ketika melihat siapa yang datang di pagi hari seperti ini.


"Mom?" Ucap Ax terkejut.


"Hai sayang." Ucap lexia, dia kemudian menarik anaknya dan memberikan kecupan di pipinya, sedangkan ayahnya masih berdiri di halamannya, melihat-lihat tempat tinggal putranya.


"Kenapa kalian ada di sini?" Tanyanya.


"Surprise." Teriak lexia ceria. Lexia kemudian mendorong putranya ke samping agar dia bisa masuk dan segera mencari Fairley.


Fairley lalu memeluk ibu mertuanya itu, dia sedikit malu karena masih mengenakan pakaian Ax yang kebesaran di tubuhnya.


"Segeralah mandi, biar ibu yang menyiapkan sarapan untuk kita semua." Dia mendorong Fairley masuk ke dalam kamar mandi, dengan wajah sumringah dia segera masuk ke dapur dan mulai mengeluarkan semua bahan-bahan yang telah di belinya untuk kebutuhan putra dan menantunya.


Ax Kemudian masuk dan melihat ibunya sudah mengenakan celemek yang biasa Fairley kenakan.


"Apa tidak akan apa-apa Mam? Bagaimana kalau kakek sampai tahu mam dan dad datang ke sini?" Ucap Ax, dia duduk di meja makan sambil memperhatikan ibunya bersenandung senang sambil membuat sarapan.


"Tenanglah sayang, sudah ada izin dari kakekmu, karena kondisi Fairley yang sedang hamil, dia harus makan makanan sehat dan bergizi, jadi kakek membiarkan ayah dan ibu untuk datang kemari, menyiapkan makanan untuk kalian dan mengisi perbekalan kalian selama sebulan, bersyukurlah ax , ini semua berkat Fairley, ayah tidak akan membiarkanku berbuat semauku seperti ini jika saja Fairley tidak hamil." Ucap lexia memutar bola matanya.


"Kenapa kau tidak memperbaiki pagarmu, Ax? Pagar rumahmu sedikit lagi akan rubuh, sekali saja terkena angin, maka pagar itu tidak bisa di selamatkan, apalagi terlihat sangat bahaya, banyak ranting-ranting tajam, kaki Fairley bisa saja terkena." Ucap daren sambil kembali memperhatikan dapur Ax dan terlihat tidak setuju dengan jendelanya yang bergoyang dan berbunyi.


"Oke Dad, nanti aku akan memperbaikinya." Ucap Ax sambil menggaruk kepalanya.

__ADS_1


"Gunakan pagar dari besi, agar lebih aman." Perintah ayahnya.


"Itu tidak mungkin dad, rumah-rumah di sini di desain dengan menggunakan kayu, semuanya menggunakan kayu, jadi akan terlihat aneh jika aku satu-satunya yang menggunakan pagar berbesi."


"Benarkah? Tapi keselamatan kalian lebih penting kan, nanti aku akan suruh orang untuk memperbaikinya, ini demi menantuku yang lagi hamil, dia tidak boleh merasa tidak aman di rumahnya sendiri."


"Oke Dad, terserah dad saja." Ucap Ax tidak mau lagi membantah ayahnya, jika tidak, Daren tidak akan berhenti mengomelinya.


°°°


Mereka berempat sarapan bersama, terlihat kebahagiaan di wajah mereka, "Sebentar lagi ibu akan melahirkan, kalian berdua harus datang melihat adikmu Ax, dia pasti ingin melihat kakaknya." Ucap lexia sambil mengelus perutnya.


"Dan sebentar lagi dia akan memiliki teman bermain, jika Fairley kelak akan melahirkan." Ucap Ax. Suasana di pagi itu terasa sangat bahagia, lexia yang sebentar lagi akan memiliki anak keduanya dari keluarga Burchard dan Ax sebentar lagi akan menjadi seorang kakak juga akan memiliki buah hati sendiri bersama Fairley.


Selama mereka berdua tinggal di desa Turtle, tidak jarang, Ayah dan ibunya selalu datang mengunjunginya, lexia selalu mengirimkan kebutuhan-kebutuhan rumah tangga kepada Ax dan kadang Thomas atau Evan yang datang membawa kiriman untuk mereka berdua, tuan Caesaar ingin agar menantunya tetap sehat dan bayi dalam kandungannya tidak kekurangan sesuatu apapun.


~


"Kau yakin Daz?" tanya Daneil kepada Dazon.


"Aku yakin kawan, liburan Sebentar lagi tiba, bagaimana jika kita memberikan surprise untuk Ax dan Fairley? kita bertiga bisa berkunjung ke desa itu, lagi pula aku mendengar kakek memberikan keleluasaan kepada bibi dan paman atau siapa saja yang ingin pergi ke tempat Ax." Ucap Dazon.


"Keleluasaan itu hanya di berikan kepada Ayah dan ibunya serta kakek yang ingin membawakan kebutuhan mereka Daz, bukan kepada kita, kalau kakek sampai tahu, kita berdua bisa habis." Daneil menggelengkan kepalanya, dia memikirkan resiko jika dia mengikuti rencana dazon.


"Kau terlalu khawatir Neil, bagaimana kau bisa menikmati hidupmu jika kau terlalu patuh, ck, setidaknya aku ingin melakukan apa yang kuinginkan, lagi pula aku ingin memberikan ucapan selamat kepada mereka berdua, Sebentar lagi Axton akan menjadi seorang ayah." Ucapnya.


"Siapa yang sangka secepat itu Ax menikah dan memiliki bayi." ucap Daneil terkekeh.


"Jadi kapan rencanamu Daz." tanya Daneil mempertimbangkan semuanya.


"Emm, Minggu ini, dan jangan lupa ajak Jennifer, dia pasti bosan pergi ke pesta terus menerus mengikuti gaya hidup ibunya, setidaknya di desa itu kita bisa berekreasi di sana, kata Ax pemandangan di sana sangat indah."


"Oke, aku akan menghubungi Jennifer jika waktunya sudah tepat, kau tinggal menghubungiku kapan tepatnya kita akan berangkat, dan jangan sampai ketahuan oleh Evan dan Sebastian, bisa-bisa dia melaporkanku ke kakek." ucap Daneil.

__ADS_1


"Jangan khawatir aku tidak akan membiarkan mereka berdua tahu rencana kita, aku juga harus berhati-hati kepada Thomas, akhir-akhir ini dia cenderung berpihak kepada ayah dan kakek, meskipun begitu selain Thomas aku memiliki satu orang koneksiku yang setia, namanya Reil, dia cukup mampu dan tangguh, bisa di bilang dia lebih kaku dibandingkan dengan Thomas, wajahnya selalu datar dan tentu saja dia lebih mendengarkanku dibandingkan ayah." senyum puas tersungging di wajahnya.


__ADS_2