
Mobil SUV mewah itu sudah tidak terlihat lagi berkat Evan yang menghalangi mobil mereka sehingga daren dengan leluasa segera menuju ke tempat Alvin dan lovelia bersembunyi. Kali ini Lexia dan Ax sama-sama tertidur karena kelelahan, sementara itu lexia yang kadang terbangun untuk memastikan putranya dapat tidur dengan nyaman di pelukannya.
Hutan yang di lewati Daren cukup membuatnya kesulitan untuk mengetahui posisi keberadaan villa Alvin, dia menepikan mobilnya dan segera memperhatikan ujung jalan yang bercabang yang ada di hadapannya.
Daren mempelajari dengan seksama peta yang ada di tangannya kemudian mengecek kembali posisi villa Alvin yang betul-betul tersembunyi itu. Setelah mempelajari posisi villa Alvin, dia segera mengambil sisi jalan yang tepat dan melirik tulisan kecil yang terpaku dengan papan kecil bertuliskan 'Wrong turn', Daren mendengus, kemudian menggeleng semoga jalan yang diambilnya adalah tempat dimana Alvin bersembunyi.
Villa minimalis berlantai 3 dengan bangunan yang bertingkat dan berlevel-level di sesuaikan dengan kontur tanah yang bertingkat, di dominasi dengan kayu dan batu yang alami, disesuaikan dengan pencahayaan yang apik sehingga waktu siang dan malam villa itu tampak terlihat menarik dan bercahaya.
Daren kembali menatap villa unik yang berdiri dengan betul-betul tersembunyi, pemandangan yang sangat indah di villa itu karena dikelilingi oleh sungai yang mengalir dengan pemandangan pegunungan yang sejuk dan hijau.
"Lexia, kita sudah sampai sayang." Ucap Daren membangunkan lexia yang tertidur sambil memeluk putranya. Daren segera mengambil Ax dari pelukan lexia dan segera keluar dari mobil mereka. Lexia membuka matanya dan melihat di sekelilingnya.
"Sudah sampai?" Ucapnya, dan segera membuka pintu mobil dan menatap pemandangan spektakuler yang terpampang dihadapannya.
"Wow." Ucap lexia mengamati di sekelilingnya. Karena Daren sibuk menggendong Ax yang mulai rewel maka lexia bergegas mengambil barang-barang yang ada di bagasi mobil dan menaruhnya di atas rerumputan yang tertata dengan rapi.
Langkah kaki itu membuat Daren berbalik dan senyuman terukir di wajah Alvin, tetapi sepertinya dia sangat ingin tahu bagaimana Daren menemukan villa tersembunyinya ini.
"Ck, aku kagum dengan pencarianmu daren, kau bisa menemukan villa yang tersembunyi ini, seharusnya aku melakukan sesuatu agar villaku tidak mudah di temukan lagi." Ucap Alvin.
"Hai lexia." Sapa Alvin santai tanpa merasakan tatapan Daren yang tajam menyorot langsung kepadanya.
"Sebelum tatapan tajammu menembus jantungku, sebaiknya kalian masuk, lihat saja si kecil tampan itu dia nampak kedinginan, ayo masuk, lovelia sedang menyiapkan makan malam." Ucapnya riang.
"Kau tahu kami datang?" Tanya Daren mengikuti Alvin naik ke undakan untuk segera masuk ke ruang utama.
"Tentu saja aku tahu, sejak mobil kalian mendapati jalan yang bercabang aku menempatkan cctv di sana dan menaruh papan di pinggir jalan dengan tulisan 'Wrong turn' haha aku ingin lihat ekspresi wajah orang yang membacanya."
"Ya, itu nampak kekanakan Alvin." Ucap Daren menatap ruang tamu minimalis yang indah dan mengendus aroma masakan yang nikmat.
"Kekanakan tapi menghibur bukan?" Ucapnya ceria. Langkah kaki menggema di lantai berkeramik itu, lovelia berlari, bukannya kepada pamannya tetapi kepada lexia yang sudah mengambil Ax dari tangan Daren dan menenangkannya agar tidak rewel.
"Ahh, Axton..ukhh lucunya, aku ingin menggendongnya lexia." Ucap lovelia sambil bermain-main dengan Ax yang menatap lovelia dengan ekspresi datar dan bersandar di bahu ibunya.
"Kau nampak cantik lovelia." Ucap lexia menyenggol bahu lovelia. Dia tersenyum malu-malu, tentu saja karena dia yang memberitahu lexia mengenai hubungannya dengan Alvin.
__ADS_1
"Ehhem, Sebelum kita merayakan kegembiraan di antara kalian berdua, tentu kau tahu dengan jelas apa alasanku datang kemari Alvin." Ucap Daren berdehem dan langsung bertanya ke intinya.
"Baiklah aku akan menjelaskannya semua, kau ingin ikut sayang?" Ucap Alvin menoleh kepada lovelia yang masih terpaku menatap wajah imut Ax yang masih mengabaikan keberadaan lovelia.
"Kau saja yang menjelaskan kepada Paman, aku ingin bersama lexia dan Axton." Ucapnya.
"Baiklah, ikut aku Daren." Alvin berjalan menuju ruangan yang lebih mirip ruangan kerja, dipenuhi beberapa rak buku dan meja kerja serta dua monitor untuk mengetahui siapa saja yang mencari keberadaan villanya.
"Ck, kau menyiapkan semuanya Alvin." Daren memperhatikan setiap benda-benda yang ada di ruangan itu.
Mereka duduk di kursi coklat yang berada di tengah-tengah ruangan. Alvin menarik napas dan mulai menjelaskan satu persatu kepada Daren, dan sekali lagi memperlihatkan riwayat kesehatan Lovelia serta ayah dan ibunya.
~
Mata lexia membulat, mereka kini berada di kamar yang di tujukan untuk lexia Daren dan putranya.
"Kau pasti bercanda?" Ucapnya. Lovelia menggeleng, dia menyiratkan kepedihan yang nyata bahwa selama ini dia mengira dia adalah anak kandung ibunya meskipun perasaan sayangnya tidak berubah kepada ibunya Barbara.
"Ja..jadi kau bukan cucu dari tuan Juan Robert?" Ucap lovelia sambil menutup mulutnya. "Astaga, aku bisa bayangkan kemurkaan di wajah tuan Robert, aku tahu persis bagaimana ekspresi murkanya ketika menatapku sewaktu aku berpura-pura menjadi dirimu lovelia, akhh dia pasti sangat geram karena sekali lagi di bohongi oleh keluarga Burchard." Ucap lexia menggeleng putus asa.
"Tenanglah, ini semuanya bukan kesalahanmu lovelia, ini semua karena ambisi nenek sihir, maksudku ibumu ehhem yang membohongi tuan Robert agar ikatan mereka masih terjalin." Lexia Berbalik menahan malu karena sudah mengatakan terang-terangan dihadapan lovelia mengenai ibunya yang seperti nenek sihir.
Lovelia terkikik pelan. "Kau tidak perlu malu lexia, aku tahu kau dan ibuku tidak cocok, ahh ibuku sangat ambisius, apalagi mengenai status dan jabatan, kadang semua itu membuatku takut berlama-lama di dekatnya tetapi melihatnya menderita karena penyakitnya, aku tidak bisa diam dan melihatnya begitu saja meskipun dia bukan ibu yang melahirkanku, aku selalu berdoa semoga ibu sekarang baik-baik saja." Ucapnya.
"Jadi kapan kau akan menikah dengan Alvin?" Ucap lexia gamblang, membuat pipi lovelia sekali lagi merona, dengan malu-malu lovelia memperlihatkan cincin di jari manisnya. "Alvin menunggu kedatangan kalian untuk menjadi saksi pernikahan kami."
Lexia memeluk lovelia perlahan. "Aku turut bahagia dengan pernikahanmu lovelia, kau beruntung mendapatkan Alvin." Ucap lexia.
"Oh ya, sebelum aku kesini aku sudah menyiapkan hadiah istimewa untukmu, dan sama seperti Nara kau juga kuhadiahi sesuatu yang special." Ucap lexia sambil berkedip. "Bukalah nanti kalau kau sudah di kamarmu, Alvin pasti suka."
~
Tatapan Daren membulat sempurna, semua yang didengarnya membuat suaranya terasa tercekat tidak mau keluar. "Benarkah semua ini Alvin?" Tanyanya. Alvin mengangguk dan melihat Daren sedikit terguncang dengan kenyataan yang dikatakan Alvin dan semua itu benar adanya.
"Jadi selama ini kau juga tidak tahu menahu mengenai lovelia?" Tanya Alvin, dia menepuk bahu Daren seakan memberikan kesempatan untuk mencerna informasi mengejutkan ini.
__ADS_1
"Itulah mengapa kau berani mengutarakan keinginanmu kepada lovelia?" Tanyanya. Alvin mengangguk dengan penuh tekad meskipun banyak halangan untuk mencapai semua itu.
"Aku sudah mengatakannya juga kepada ayah, dia tampak sangat marah, dia ingin menemui lovelia tetapi aku membawanya kabur sebelum sempat bertemu dengan ayahku, meskipun dia tahu lovelia tidak memiliki hubungan kekerabatan denganku, tetapi ayah masih tidak menerima perasaan kami, dia mengatakan perasaan cintaku kepada lovelia tidak masuk akal baginya, jadi itulah mengapa aku membawa lovelia sejauh mungkin, aku tidak ingin ayah menyakitinya." Ucapnya.
"Dan karena kalian datang di saat yang tepat, aku ingin segera melangsungkan pernikahanku dengan lovelia, aku ingin dia resmi menjadi milikku dan istriku seutuhnya." Ucap Alvin membuat Daren ternganga.
Daren memijit pelipisnya dia tidak menyangka keterkejutannya bertuntun seperti ini. Daren mengambil napas lega meskipun kesedihan masih terasa di hatinya mengetahui lovelia bukanlah putri kandung Barbara, dan ternyata kakaknya juga berbohong selama ini, tetapi dia akhirnya menyetujui keinginan Alvin untuk menikahi Lovelia.
"Jangan membuatnya bersedih, aku tidak perduli mengenai hubungan darah atau tidak yang jelasnya Lovelia adalah keponakanku satu-satunya kau harus menjaganya dan jangan membuatnya menangis." Ucap daren menepuk bahu Alvin cukup keras agar dia merasakan kesungguhannya.
"Tentu Daren aku mencintai lovelia, aku akan menjaganya dan membuatnya bahagia." Ucap Alvin memberikan senyum tipis kepadanya.
~
Ketukan jari yang tidak sabar itu membuat darah Melda serasa mendidih, dia tidak ingin menghabiskan waktunya hanya untuk menunggu pria setengah baya itu. Pintu diketuk dan tuan caesaar mempersilahkannya masuk.
"Maaf saya terlambat tuan caesaar, beberapa dokumen yang harus saya urus Sebelum saya kemari." Ucapnya sedikit membungkuk.
"Tidak apa-apa Roger, kau bisa duduk dan menjelaskan semuanya kepada Melda." Tuan caesaar duduk dengan tenang seakan tidak ada sesuatu yang penting yang akan terjadi dia masih menyempatkan dirinya menyiram pot kecil tanaman kesukaannya di samping jendela kerjanya. Hal itu tentu saja membuat Melda geram seakan apa yang diinformasikan oleh Roger tidaklah penting.
"Baiklah Nyonya Melda saya akan membacakan point penting mengenai isi wasiat ayah asuh anda, selama anda menyandang nama besar keluarga Caesaar anda harus menjaga nama baiknya dan tidak mengotori dengan tindakan tidak senonoh yang sudah terbukti selama ini, selanjutnya beberapa aset dari tuan Jack Caesar yang telah beralih fungsi dengan tidak sebagaimana mestinya, dua perusahaan yang dibangun oleh tuan Jack Caesaar tidak berjalan dengan sebenarnya sehingga hal itu menjadi salah satu penyebab pencabutan nama Caesar di nama anda, nah itu baru point' penting kedua Nyonya Harper."
Melda yang sudah tidak tahan dengan semua ucapan tidak masuk akal itu segera memukul meja sekeras-kerasnya.
"Point-point penting yang anda bacakan tidak masuk akal bagiku, mana bukti-buktinya tunjukkan padaku, aku sudah mencurahkan segenap kekuatan, fikiranku untuk memajukan perusahaan ayah, dan dengan mudahnya kalian menendangku? Itu tidak akan berhasil, aku akan memastikan itu semua tidak akan berhasil !" Suara Melda penuh getaran kemarahan dan kebencian yang besar.
"Kau ingin bukti??" Suara itu terdengar tajam, Xaphier masuk begitu saja ke dalam ruangan ayahnya. Dia melemparkan beberapa foto di atas meja yang menunjukkan foto-foto melda yang tidak senonoh dan beberapa foto fulgar lainnya.
"Jadi kau masih ingin bukti lain lagi?? Aku masih punya banyak bukti yang membuatmu harus ditendang dari nama keluargaku."
Jangan Lupa yaaa tmn2 readersqu😊 vote, jempol like dan comentnyaaa, yaaa👍🙆💕
__ADS_1