The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part dazon : 40


__ADS_3

Pagi itu, dazon dan beberapa pengawalnya akan mengunjungi thomas yang masih berada di rumah sakit, meskipun lukanya sangat dalam, tetapi dengan pertahanan thomas yang kuat, dia mampu bertahan, dan kemarin malam Thomas telah sadarkan diri.


Dazon berada di mobilnya, dia kemudian menelepon loue kepala pelayannya agar mempersiapkan hanna dan membawanya untuk makan siang dengannya di sebuah restaurant.


Rumah sakit besar Hs Atlanta adalah tempat thomas sedang di rawat, dazon telah berada di sana, dengan enam orang pengawalnya, dia masuk ke dalam lift khusus VIP yang akan membawanya langsung menuju ke kamar perawatan.


Ada tiga penjaga yang mengawasi di depan pintu kamar Thomas, mereka seketika menunduk ketika mereka melihat tuannya.


Dazon masuk, sementara yang lainnya menunggu di luar. Thomas terlihat lemah ketika dazon melihatnya terbaring dengan peralatan medis menempel di tubuhnya.


"Siapa yang sebenarnya menyerangmu?" Ucap dazon.


Dari luar pintu kamar, seseorang menatap mereka berdua, senyuman tersungging di wajahnya. Entah apa yang dipikirkannya, matanya berkilat tajam, seakan apa yang di rasakan oleh Thomas belumlah cukup, sehingga dia memiliki rencana lainnya untuk melenyapkannya.


~


Restaurant itu sangat mewah, dan di sana sudah duduk hanna seorang diri di salah satu meja khusus VIP.


"Dia terlambat, sekarang sudah lewat15 menit dari yang di janjikan," ucap hanna menatap pemandangan dari kaca jendela di sampingnya.


Saat itu langkah sepatu terdengar pelan menghampiri hanna, dia kemudian menarik kursi di hadapannya agar mengganggu lamunan hanna.


Dazon duduk begitu saja di depannya, tanpa mengucapkan apapun, setelah kedatangan dazon para pelayan mulai sibuk menghidangkan makanan untuk mereka, hanna mendengus, ketika seorang pelayan meletakkan makanan pembuka di hadapan mereka.


"Ada apa? Kau marah karena aku terlambat?" Tanyanya.


"Tidak, siapa yang marah, aku hanya berpikir jika kau terlambat sejam atau dua jam lagi, apakah mereka akan setergesa-gesa ini menghidangkan makanan di atas meja, mungkin tidak ! Karena sejak tadi aku hanya minum air putih hampir sejam." Ucap hanna menyipitkan matanya kepada kepala pelayan yang berdiri di samping mereka, dia sengaja mengeraskan suaranya agar di dengar olehnya.


"Kalau begitu makanlah, kenapa sejak tadi kau tidak memperdulikan makanan itu?" Tanyanya.


"Aku sepertinya kekenyangan karena sejak tadi minum air, jadi bukan salahku jika aku tidak bisa menikmati makanan itu." Ucap hanna jengkel.


Wajah pelayan itu memerah, dia kemudian sedikit membungkuk lalu undur diri dari sana. Setelah dia pergi, hanna dengan cepat mengambil makanan yang ada di hadapannya, lalu menaruhnya di atas piringnya.


"Kupikir kau sudah kenyang." Tanya dazon tersenyum. Hanna tidak menjawabnya, dia hanya terus makan, karena sejak tadi dia sangat lapar.


Seseorang baru saja masuk ke dalam restaurant, seakan tahu dazon makan di tempat ini, matanya mencari-cari keberadaan dazon, ketika dia melihatnya, dia akhirnya tersenyum, langkah kakinya percaya diri menghampiri mereka berdua.


"Ah, selamat siang tuan Dazon, kebetulan sekali, aku juga sedang ingin makan di sini." Ucap ketty, dia tersenyum ramah menampilkan senyum indahnya dan ramahnya kepada dazon.


Dazon mengangkat kepalanya, lalu menatap wanita itu. "Selamat siang Nona katty," ucap dazon.


Ketty kemudian menatap wanita yang sedang makan sambil memperhatikannya, dia menoleh kepadanya dengan tersenyum tipis. "Boleh aku bergabung? Sejak tadi aku menunggu temanku datang, tetapi dia belum muncul juga," ucapnya.


"Ya, silahkan." Ucap dazon.


Dengan senang hati ketty duduk di sana, sambil kembali tersenyum dan melirik kepada Hanna, "Oh ya, aku dengar perusahaaan anda menjadi top one di New york, aku ingin mengucapkan selamat kepada anda." Ucap ketty


Dazon mengangkat alisnya, "New york? sepertinya kau salah memberikan ucapan selamat, aku tidak mengurusi perusahaan besar Caesaar di New york, aku hanya bekerja di Atlanta," jawabnya.


"O,oh yah, tetapi bagaimanapun, Caesaar corporation berada di bawah nama anda, sepertinya anda terlalu merendah tuan dazon." Ucapnya tersenyum.


Hanna makan sambil sesekali melirik gadis berambut pirang indah ini, wajahnya bersinar ketika menatap dazon, dan matanya berubah menggelap ketika dia menatap dirinya, jelas sekali gadis itu menyukai dazon. Pikir hanna.


~


Mata itu menatap dengan pandangan mengerikan kepada gadis berambut pirang yang sejak tadi duduk bergabung dengan mereka, sejak pembunuhan yang ke 7 kalinya, sudah lama dia tidak melakukannya lagi sejak polisi dan detektif di tambah orang-orang milik keluarga Caesaar mencari pelaku pembunuhan itu.


Dia terus terpaku pada rambut pirang mencolok itu, tangannya menempel pada pintu masuk dan kukunya seketika menggaruk dengan kuku panjangnya.


"Riel, Sir paulo ingin kau kembali ke penthouse sepertinya ada yang ingin dia bicarakan kepadamu." Ucap loue yang baru saja datang, dia mendadak datang karena dazon meminta loue ke rumah sakit untuk menemani thomas dan mengawasi keadaan di sana.


Riel mengangguk, matanya tajam menatap ke depan, dia kemudian berjalan dan menjauhi tempat penjagaannya.


"Dia sudah pergi Thom, sekarang apa selanjutnya?" Ucap loue lewat Earphonenya.


"Paulo tahu yang akan di lakukannya, Riel bukan orang bodoh, jika kalian bergerak sembarangan kemungkinan besar dia sudah tahu bahwa kita mencurigainya, jangan menimbulkan hal yang membuatnya curiga."


"Baik sir." Ucap loue.

__ADS_1


~


Langkah yang berat, wajah yang selalu datar, tidak ada ekspresi di wajahnya, matanya hanya melirik tajam ketika dia merasakan keinginan yang terdalam untuk memuaskan hasratnya yang kejam yang selalu menguasai dirinya.


Dia tidak langsung menemui paulo seperti yang dikatakan Loue, dia berdiri di sana bersembunyi di salah satu koridor paling gelap, dia memegang Earphone yang ada di telinganya.


"Mereka sudah mengetahui tentangku, sepertinya aku tidak bisa berlama-lama lagi di keluarga itu, padahal masih banyak yang ingin aku lakukan."


Dia melepaskan jas yang membalut tubuhnya, dan menggantinya dengan mantel panjang berwarna hitam.


Dia duduk berdesakan di antara banyaknya barang-barang bekas yang di buang, duduk seorang diri, seakan dia memiliki dunianya sendiri, dia terlihat teronggok seperti halnya barang-barang yang tidak diinginkan di koridor gelap itu, Sejak kecil dia merasa dunia tidak membutuhkannya, maka diapun tidak membutuhkan uluran tangan siapapun untuk membawanya kepada indahnya dunia, dia hanya lebih memilih kegelapan yang menemaninya, sejak saat dia masih begitu muda, seakan hidup melewatinya begitu saja tanpa adanya rasa cinta yang dapat dia rasakan, dia tidak mengenal itu, maka diapun memilih dunianya sendiri, dan menghukum siapa saja yang membuat dirinya merasa terancam. Rambut pirang, ya... pemandangan seseorang berambut pirang sangat mengganggunya sejak kecil. Pria berambut piranglah yang pernah membantai keluarganya, dan dia dibiarkan begitu saja menderita seperti barang yang hendak di buang dan tidak dibutuhkan. Beruntung kematian belum menjemputnya, tetapi dunia yang dia bentuk di dalam kepalanya menjadikannya seperti seorang monster seperti sekarang ini, tidak ada emosi, empati dan rasa bersalah.


~


~


Hanna berada di toilet, setelah mendengarkan ocehan yang membosankan dari wanita itu dan dazon yang terkadang menanggapi pertanyaannya, membuat hanna pamit ingin segera pergi dari kakunya dan membosankannya pembicaraan mereka, dia kini mencuci kedua tangannya di westafel depan cermin, menatap dirinya yang sedikit demi sedikit mengalami perubahan, rambutnya yang berwarna hitam kecoklatan di tata begitu cantik, sehingga jatuh di bahunya dengan alami, make-up yang natural dan alami tetapi terkesan elegan, pakaian yang dikenakan hingga sepatunya semuanya merupakan merk terkenal dengan harga yang memukau. Hanna mengambil napas, dia hendak keluar dari toilet tetapi wanita itu baru saja masuk ke dalam.


Dia sedikit tersenyum, tetapi senyumnya bukan senyum ramah bersahabat, melainkan senyum yang sinis, menghina dengan tatapan meremehkan.


"Hai nona Hanna, kau pasti bosan dengan pembicaraan kami," ucapnya, dia berdiri di depan cermin dan menatap dirinya lalu merapikan make-upnya. "Oh ya, apa kau memiliki rencana berlama-lama bersama dengan Dazon? Karena sepertinya kau harus segera mundur dari sisinya. Kau tahu ungkapan ini? burung gagak biasanya berkumpul dengan kawanannya, bukannya dia memaksakan diri berkumpul dengan kawanan burung elang." Ucapnya.


Hanna menatap wanita itu acuh, dia hendak pergi dan tidak ingin terprovokasi dengan ungkapan anehnya. Tetapi wanita itu tiba-tiba memegang tangan hanna agar dia menatap kepadanya.


"Pikirkan kata-kataku, atau kau perlu sesuatu yang memotivasimu agar kau secepatnya pergi dari sisinya, uang misalnya? Katakan berapa yang kau inginkan agar kau bisa pergi dari sisi dazon? Aku seringkali muak mendengar kisah-kisah cinderella yang mendapatkan pangeran dan segala yang diinginkannya tanpa bekerja keras, dia hanya menjadi benalu dengan mengandalkan kelemahan dirinya sebagai perempuan yang rapuh dan mempergunakan tubuhnya untuk menggaet pria yang diinginkannya, aku tidak seperti dirimu, aku bekerja keras untuk mendapatkan keinginanku.


Napasnya turun naik ketika selesai mengatakan apa yang diinginkannya.


Hanna menaikkan alisnya, lalu sedikit tersenyum kecil. "Mau kuambilkan air? Sepertinya kau cukup kelelahan setelah berpidato, kalau kau begitu menginginkan dazon, bicara kepadanya, nyatakan perasaan hatimu itu, bukannya kau malah marah-marah kepadaku, sepertinya orang berintelek dan memiliki segalanya bukanlah jaminan untuk menilai kesopanan dan caramu memperlakukan orang, sepertinya kau harus lebih banyak belajar nona ketty, bagaimana memperlakukan orang dengan baik." Ucap hanna, tanpa memperdulikan napasnya yang meninggi dan hidungnya yang kembang kempis, hanna meninggalkannya dan menutup pintu di depannya.


~


~


"Dasar wanita tidak tahu diri, aku bodoh jika mengharapkan dia pergi darinya hanya dengan kata-kataku saja, sial ! Berani sekali dia mencoba menasehatiku mengenai tatakrama dan kesopanan." Ketty mengomel sambil merapikan rambutnya dan make-upnya. Dia kemudian masuk ke dalam salah satu toilet di belakangnya lalu menutup pintunya.


Ketty duduk di sana menunggu urusan pribadinya selesai. Suara pintu membuka, langkah kaki itu berat dan berjalan perlahan, ketty mengernyitkan alisnya, merasa suara langkah itu bukanlah milik sepatu seorang wanita.


Dia menutup mulutnya rapat-rapat, kakinya gemetaran. Sialnya, dompet dan ponselnya dia taruh di atas westafel, sehingga dia tidak bisa menghubungi siapapun untuk menolongnya.


Apa dia pria mesum? masuk ke dalam kamar mandi wanita? pikirnya.


Langkah itu kembali bergema di dalam ruangan itu, kemudian terdengar garukan panjang di pintu toilet, suara ketty tercekat dia sangat ketakutan.


"Si..siapa di situ?" tanyanya.


"Se..sebaiknya kau keluar, sebelum aku menghubungi polisi." ucapnya lagi, suaranya seperti hendak menangis.


Kekehan panjang membahana dengan seringaian licik mencela. Dia memainkan kembali tangannya yang mencakar permukaan pintu sehingga bunyinya mengganggu indera pendengaran.


"Apa yang kau inginkan, pergi !" ucap ketty, bibirnya bergetar sempurna.


"yang kuinginkan? ada pada dirimu, berikan rambut cantikmu untukku dan kau bisa pergi."


Kembali ketty menutup mulutnya. Pintu menjeblak terbuka dengan paksa, pria itu membukanya sehingga ketty terperanjat dan ketakutan bukan main. Dia teriak sekencang-kencangnya ketika lelaki itu menariknya paksa.


~


~


Hanna baru saja akan berbelok dikoridor dan akan masuk ke dalam Restaurant, ketika dia mendengar teriakan kencang, hanna berhenti berjalan dan kemudian berlari menuju asal suara.


"Suara itu, suara nona ketty." ucap hanna, dia kemudian berbelok menuju kamar mandi dan segera membuka pintu kamar mandi, dia melihat pemandangan mengerikan terpampang di hadapannya, pria itu tengah menggunting secara acak-acakan rambutnya yang di pegangnya kuat-kuat sementara tangan yang satunya sibuk mencekiknya, ketty terbaring di atas lantai dengan wajah berubah membiru. Hanna mengambil tempat sampah dan berteriak menghambur ke arah pria itu, dia memukulnya beberapa kali ke arah punggungnya.


Cekikan itu terlepas, ketty terbatuk dengan keras lalu mengambil napas meloloskan udara masuk kembali ke paru-parunya, Riel segera berbalik dan berdiri di dengan geram menatap kepada Hanna, mereka saling menatap.


Mereka mendengar langkah kaki berdatangan, sehingga Riel berlari begitu saja, hendak keluar dari kamar mandi, dia sempat menabrak bahu hanna.


Suara tangis pecah keluar dari bibir ketty, hanna terduduk di lantai karena lututnya menjadi lemas seketika. Pintu kamar mandi terbuka, Dazon dan para pengawal berdatangan.

__ADS_1


Dazon segera menghampiri Hanna dan menariknya hingga berdiri. "Hanna kau baik-baik saja? apa kau terluka?" ucap dazon sambil memegang kedua bahunya mengguncangnya.


"Aku baik-baik saja, nona ketty lebih parah dia di serang oleh pria itu." ucapnya.


Dazon mengalihkan matanya kepada ketty yang di bopong oleh kedua pengawal dan hendak di bawa keluar dari kamar mandi ini. "Bawa dia kerumah sakit." perintah dazon.


Ketty tidak mampu berdiri, lehernya masih sakit dan perih oleh cekikan pria itu, matanya membulat sempurna ketika melihat Dazon lebih mengkhawatirkan wanita itu dibandingkan dirinya.


Dia yang di serang oleh penjahat itu, sehingga ketty merasa dia akan mati sebentar lagi, tetapi dazon hanya mengkhawatirkan wanita itu, tanpa sedikitpun mengalihkan pandangan khawatir kepadanya.


Ketty menepis rasa marahnya dan rasa tidak berartinya dirinya di mata dazon. Sekarang dia yakin, menyerah untuk bahagia itu lebih baik, dia berhak bahagia bersama orang yang mencintainya, dia yakin itu, maka dia memutuskan saat itu juga untuk mengikuti saran jennifer. Dia tidak ingin terlibat dengan Dazon dan Hanna lagi.


~


~


"Bagaimana? apa dia kembali ke penthouse?" tanyanya.


"Tidak sir, sepertinya dia sudah pergi, seluruh barang-barangnya sudah tidak ada lagi di sana, hanya satu yang di tinggalkan di atas nakas."


"Apa itu?" tanyanya.


"Sebuah cincin berinisial R, sepertinya cincin itu bukan miliknya, dilihat dari ukurannya yang kecil, cincin itu dimiliki oleh seorang wanita." ucap Loue.


"Mungkin cincin itu milik salah satu korbannya." ucapnya.


Thomas menggertakkan giginya, "Jangan sampai barang itu hilang, laporkan semuanya kepada tuan dazon, karena kita sudah punya bukti yang kuat untuk menangkapnya, Oh ya, satu lagi yang harus kau lakukan, selidiki identitas asli Riel, cari tahu tentang dirinya dan keluarganya, kalau perlu gunakan sistem keamanan kita yang paling canggih untuk melacak identitas asli dan segala sesuatu yang terkait dengannya." ucap Thomas.


"Baik sir."


Thomas sudah tidak sabar bergerak, meskipun lukanya masih belum sembuh dan kering, keinginannya untuk menangkap Riel menggebu-gebu, kalau di perlukan dia bisa bekerja sama dengan kepolisian dan detektif yang selama ini masih mencari-carinya.


~


~


Dazon dan hanna telah kembali ke penthousenya, sejak tadi hanna diam, dia tidak banyak berbicara, dazon yang duduk di sampingnya melirik kepadanya.


"Kau baik-baik saja?"


Hanna menoleh kepada dazon, dan mengangguk perlahan. "Aku baik, aku hanya memikirkan rambut nona ketty yang terpotong dan tersebar di lantai kamar mandi." ucapnya.


"Kau bertemu dengan pelakunya bukan? kau melihat wajahnya?" tanya dazon.


Hanna menggeleng. "Tidak, wajahnya di tutupi oleh tudung berwarna hitam, hanya sedikit bagian hidung dan mulutnya saja yang terlihat sedikit." jawabnya.


"Kemarilah, kau pasti ketakutan tadi." ucap dazon. Hanna menatapnya dengan pandangan menyipit dan menjauhkan tubuhnya. "Aku memang ketakutan, tetapi kenapa aku harus mendekatimu?" tanyanya.


"Karena kau butuh pelukan, aku bisa mengurangi sedikit keteganganmu dengan memelukmu, kemarilah !" perintahnya.


"Mengurangi keteganganku? aku akan semakin tegang jika di peluk olehmu." Ucap hanna, meskipun dia memang mengakui pelukan darinya membuat tubuhnya sedikit rileks, dia merasa aman dan nyaman. Tetapi tentu saja dia tidak akan mengakui keinginannya itu, dia tidak mau lelaki itu besar kepala.


"Kau memang keras kepala hanna." Ucap dazon sambil berdecak, dia menarik tangan hanna, lalu menarik pinggangnya yang kecil ke arahnya, hingga mau tidak mau dia terduduk di atas pangkuan dazon. Tanpa berkata-kata dazon memeluknya, membenamkan wajah hanna di dadanya, membiarkan rasa khawatir dan ketegangannya menghilang.


Hanna tanpa sadar menerima semua itu, dia semakin membenamkan dirinya di tubuh dazon dan menutup kedua matanya.


Dazon tersenyum, melihatnya bergelung dan memposisikan tubuhnya di pelukan dazon, seakan meminta kehangatan darinya. "Sekarang kau sudah lebih baik?" bisik dazon.


Kedua mata hanna terbuka, kali ini dia membiarkan dirinya hanyut dalam dekapan pria itu. Dia kemudian mengangguk. Entah mengapa dia bisa menerima kehangatan yang diberikan pria ini kepadanya, mungkin karena waktu kebersamaaa mereka begitu intens, sehingga Hanna sudah merasa nyaman dan aman bersama pria ini. Dia menutup kedua matanya, dan merasakan napas hangat dazon mengenai wajahnya ketika bernapas.


Hanna kemudian merasakan pergerakan dazon yang mengambil ponsel di sakunya dengan pelan. Dia lalu menghubungi salah satu pengawalnya.


"Bagaimana, apa kalian berhasil menangkap pelakunya?" tanyanya.


"Dia melarikan diri tuan, dan erm thomas ingin berbicara sesuatu yang penting kepada anda."


"Satu jam lagi, hubungkan thomas ke ruanganku."


"Baik tuan."

__ADS_1


Dazon mengetatkan pelukannya di tubuh hanna, dia kemudian mencium puncak kepalanya. Tanpa terasa jantung Hanna berdetak seiring irama napasnya, dia menyukai tempatnya sekarang, teramat menyukainya, meskipun dia akan memungkirinya terus menerus, sampai lelaki ini juga mengakui perasaannya.


__ADS_2