
Tubuhnya seketika menegang, matanya membulat sempurna mendengar penuturan dazon yang berbicara di telinganya. Suaranya nyaris seperti berbisik, begitu berat dan kesusahan untuk mengungkapkan yang tertahan di hati dan pikirannya.
"Apa yang kau katakan dazon?" Ucap Hanna dengan hati-hati. Dia masih diam, tidak bersuara sedikitpun, pelukannya semakin erat, dan napasnya terasa berat di tengkuk hanna.
"Mungkin kali ini aku betul-betul akan melepasmu Hanna." Bisiknya.
Hanna terkejut, ucapan dazon seakan langsung menusuk jantungnya.
"Melepasku? Apa maksudmu." Ucap Hanna mendorong tubuh berat dazon.
"Maafkan aku Hanna."
Hanya itu ucapan dazon, dia tidak menjelaskan dengan terperinci alasannya, entah mengapa hati hanna terasa sakit, dan yang di pikirkannya akhirnya menjadi kenyataan, akan ada wanita lain yang akan berdiri di sampingnya, dan menjadi orang yang menempati posisi paling berarti disisinya?
"Aku akan memulangkanmu ke Atlanta." Ucapnya, Dazon bangkit dan melepaskan pelukannya dari Hanna, dia kemudian berdiri dan membelakangi Hanna, wajahnya terlihat merah padam, tetapi masih terlihat ketenangan pada sikapnya.
Dia berbalik dan sedikit melengkungkan bibirnya. "Kau pasti senang bukan? kau akan mendapatkan kembali kebebasanmu, aku tentu tidak akan melepaskanmu begitu saja tanpa jaminan hidup serta fasilitas yang akan aku berikan, karena akulah maka kau tidak bisa melanjutkan apa yang menjadi keinginanmu." Dia terdiam membelakangi hanna, lalu berjalan dan keluar dari kamar Hanna.
Hanna duduk mematung, matanya terasa perih, dan tanpa dia sadari air matanya jatuh di pipinya, dia memegang dadanya dan memukul-mukulnya, dia ingin menghilangkan rasa perih di hatinya, saat melihatnya melangkah keluar dari pintu kamar, dia ingin mengenyahkan sakit yang di sebabkan olehnya. Rasa sakit ini, apakah karena aku mencintai pria itu? pikir Hanna.
~
Malam kian larut, hanna masih belum tidur, dia berbaring dalam kegelapan sambil menatap jendela dan pendar lampu dari kejauhan yang berwarna keemasan.
Suara pintu kamar yang dibuka, langkah berat itu milik dazon, hanna cepat-cepat menutup kedua matanya, dia merasakan pergerakan di sampingnya, dia berbaring di samping Hanna, dan menarik tubuhnya agar lebih dekat dengannya, bernapas panjang dan perlahan-lahan menarik tubuh hanna menghadap kepada dirinya.
Jantung hanna berdegup kencang, tetapi dia mencoba bernapas senormal mungkin layaknya seperti orang yang sedang tertidur.
Dia mengusap rambut Hanna, lalu kedua matanya, hidungnya, dan bibirnya dan membelai pipinya. "Aku akan mengingat ini semua, maafkan aku." Bisik dazon. Dia lalu beranjak pergi, meninggalkan hanna sendiri di kamar yang gelap itu, hanna masih menutup matanya, tanpa dia sadari air matanya jatuh di pipinya.
~
Pagi hari pertama kali yang di rasakan Hanna di negara yang di sebut sebagai kota Abadi itu, tubuhnya terasa dingin, tetapi menyesakkan, saat dia keluar ke meja sarapan, tidak ada seorangpun ada di sana, hanya makanan yang lengkap terhidang di atas meja, malam itu, dazon pergi dari penthousenya, entah dia pergi kemana, mungkin ke keluarganya dan menemui siapapun wanita yang akan menjadi pendampingnya.
Hanna duduk di meja makan dan menikmati sarapannya seorang diri, pintu membuka dan pengawal bernama Loue baru saja tiba dan menghampiri Hanna.
"Pagi Nona, ini untuk anda dari tuan Dazon." Ucapnya.
"Malam ini tepat pukul 7 kita akan kembali ke Atlanta, jadi saya ingin anda bersiap-siap." Ucapnya.
"Oky." Ucap hanna tersenyum tipis, pengawal itu sedikit membungkuk dan segera pergi.
~
~
"Bagaimana? Apakah dia sudah menerimanya?" Tanya dazon.
"Ya tuan, Nona Hanna sudah menerimanya."
"Bagus, meskipun dia telah kembali ke Atlanta, tetap tempatkan beberapa penjaga di sekitar Hanna, mungkin saja kelompok Crounus mengintainya." Perintah dazon.
"Baik Tuan."
Dazon berada di club terkenal di Milan, siang itu, dia duduk sendiri sambil menyesap minumannya, tiba-tiba seseorang menepuk punggungnya.
"Kau di sini daz." Ucap Axton.
"Kenapa kau tahu aku ada di sini?" Tanyanya, tanpa memandang wajah Ax.
"Mungkin karena aku mengikutimu." Balas Ax, kata-kata ini pernah diucapkan oleh dazon kepadanya ketika dia sedang bertengkar dengan Fairley.
Dazon mengangkat bahunya dan menyesap kembali minumannya. "jadi, kau akan menerima begitu saja keputusan kakek?" Tanya Ax.
Dazon senyum tertahan, "Apa yang ingin kau dengarkan Ax? Lagi pula aku tidak memiliki seorang kekasih seperti dirimu dulu." Ucap dazon, matanya masih memandang ke depan.
"Benarkah? Kurasa kau tidak pernah bisa berbohong di depanku Daz, siapa wanita itu? Siapa wanita yang membuatmu minum di club di siang hari seperti ini?" Ucap Ax sambil menyenggol lengannya.
Dazon tertawa pelan, lalu menggelengkan kepalanya, "dia bukan seperti yang kau pikirkan Ax, kami tidak memiliki hubungan seperti dirimu dan fairley, ataupun seperti Daneil dan jennifer, yang memiliki cinta, dan saling memiliki, aku...tidak seperti kalian."
Ax tertawa, dia kemudian menepuk-nepuk punggung dazon. "Apakah harus mengungkapkan perasaan cintamu untuk menyadari bahwa wanita itu penting untukmu dan kau membutuhkannya, katakan ! Apa yang kau rasakan ketika bersama dengannya?" Tanyanya.
"Aku merasa...bahagia, erm nyaman, dan merasa hidup." Ucapnya.
"Apalagi daz?"
Dazon berbalik, lalu terdiam sebentar, dengan mata terbuka lebar dia bergumam, "Saat kupejamkan mataku, hanya wajahnya saja yang kulihat, aku merasa tersesat dan
bingung jika dia tidak dalam jangkauanku,
saat aku bernapas, aku hanya ingin menghirup wangi tubuhnya, dan...dan saat aku melepasnya aku baru menyadari.....dia sangat berarti bagiku." bisiknya, dia heran dengan dirinya sendiri, mengapa kalimat itu bisa keluar dari bibirnya.
"Jadi tunggu apalagi Daz, katakan perasaanmu kepada wanita itu, jangan menunggu terlalu lama," Dazon menatap tajam kepada Ax, dia segera berdiri dan beranjak dari club itu, tetapi ponselnya berdering nyaring membuat Dazon menatap siapa yang telah meneleponnya.
"Kakek?" Bisiknya.
"Halo kek,"
"Berangkatlah ke mansion, ada yang ingin kakek katakan kepadamu, sekarang !" Perintahnya.
"Baik kek." Jawabnya
"Ck, aku masih punya kesempatan sampai jam 6 sore, pesawatnya akan berangkat tepat pukul 7 malam." Gumam Dazon, dia segera naik ke atas mobilnya dan segera berangkat ke mansion kakeknya.
~
~
Siang itu hanna tidak banyak melakukan kegiatan, baju-bajunya tetap berada di dalam kopernya, untung saja dia belum membongkar semua pakaian yang dia bawa sejak kedatangannya kemari, dan beruntung, karena malam ini dia akan berangkat.
Hanna menatap ponselnya dan membuka foto-fotonya, dia kemudian berhenti pada satu foto yang dia tidak sangka tersimpan di album fotonya.
"Sejak kapan aku mengambil fotonya?" Ucap Hanna.
Matanya terpaku pada foto Dazon, senyum terbersit di bibirnya, ironis sekali, karena sehari saja dia tidak melihat pria itu, mengapa dia begitu merindukannya, sangat merindukannya.
"Bodoh ! Perasaan seperti ini harusnya aku tanam dalam-dalam, hanya aku saja yang merasakannya, sebaiknya kau lupakan semuanya Hanna." Bisik hanna kepada dirinya sendiri.
~
~
Tuan Caesaar membuang foto-foto kebersamaan dazon dengan Hanna di hadapan Dazon. Foto-foto itu berjatuhan dan tergeletak di lantai.
__ADS_1
"Lupakan dia ! Dia tidak memiliki jodoh dengan keluarga Caesaar." Ucap tuan caesar.
Foto-foto kebersamaan dazon dan hanna tergeletak di lantai begitu saja, "sudah aku bilang daz, kakek tidak akan menyetujui wanita yang kau bawa ke keluarga ini, kali ini kakek harus melakukan ini, harus, sebagai pemimpin bos mafia di keluarga Caesaar, kau harus menanggungnya, kau ingat? persyaratan yang kakek ajukan ketika kau lebih memilih pekerjaan seperti ayahmu ini, kau ingat apa yang kau katakan kepada kakek? Kau ingat janjimu daz?"
Dazon tertunduk dan menatap foto yang tergeletak di lantai, ketika dazon mengecup Hanna.
"Aku mengingatnya." Ucap dazon.
"Bagus, jika kau mengingatnya, siapa saja yang mengambil peran sebagai pemimpin tertinggi di Milan, dia harus menerima resiko, jika suatu saat kakek akan menjodohkan dengan wanita pilihan kakek, karena ini merupakan sumpah kakek kepada seseorang, itulah mengapa kakek membuat persyaratan seperti itu." Ucapnya.
"Sayang sekali Daz, kau harus tinggalkan wanita itu, sesuai dengan janjimu." Ucap tuan Caesaar.
Dazon tertunduk, tangannya mengepal keras.
"Baik kakek."
~
~
Mereka semua sangat khawatir, mereka berdiri di luar ruangan tuan Caesaar, menunggu apa yang akan terjadi dengan dazon.
Dazon keluar dari ruangan kakeknya dan menatap wajah-wajah khawatir sepupu mereka yang berdiri di sana, apalagi melihat wajah daneil yang memandangnya dengan tampang kasihan, membuat dazon hanya menaikkan bahunya dan tersenyum tipis.
"Aku pergi sebentar." Ucapnya.
Mereka semua menatap dazon, tidak tahu penghiburan apa yang cocok untuknya saat ini.
"Ingin sekali aku mengejeknya, tetapi melihat tampangnya yang merana, aku jadi tidak tega." Ucap daneil menghela napasnya.
tidak tahan dengan suasana itu,
Lexia mondar mandir di ruang santai bersama dengan Daren, Xaphier dan Nara.
"Mengapa ayah bisa bertindak seperti itu? Bukan seperti ayah yang biasanya, dia tidak pernah mencampuri urusan cinta atau masalah yang menyangkut perasaan kita, tetapi kenapa baru sekarang?" Ucapnya.
"Duduklah sayang, nanti kepalamu pusing." Ucap daren menarik tangan istrinya dan mendudukkannya di pangkuannya.
"Erm...sepertinya aku tidak heran dengan sikap ayah." Ucap Xaphier, dia seperti memikirkan sesuatu yang penting, dan mencoba-coba mengingatnya.
"Kenapa?" Tanya Nara.
"Yah, apa kalian tahu apa persyaratannya jika kau memilih bekerja sebagai pemimpin besar mafia menggantikan posisi penting kakek sebagai pemimpin besar mafia di milan yang bekerja di dunia bawah yang sangat berbahaya."
"Ada persyaratan seperti itu?" Ucap lexia mengernyitkan alisnya.
"Dulu, sebelum aku mengambil alih pekerjaan ayah, aku juga menerima persyaratan dari ayah seperti halnya dazon, tetapi untungnya kakek masih belum menemukan keluarga yang selama ini di cari-carinya, dia memiliki janji di masa lalu kepada seseorang, dan dia bersumpah sebelum dia mati, dia harus memenuhi janji itu." Ucap Xaphier.
"Beruntung Ax tidak menyukai senjata atau tertarik dengan pekerjaan ayah yang berbahaya, waktu itu dia hanya sibuk mengejar cinta fairley dan hidup sementara di Desa Turtle the Reaves sebagai petani." Ucap lexia.
"Berbeda dengan Dazon, sejak kecil dia suka mengoleksi senjata-senjata mainan, dan berpura-pura menjadi bos mafia." ucap Nara tersenyum mengingat putranya.
"Pertanyaannya sekarang, apakah dazon memiliki seorang kekasih?" ucap daren tiba-tiba.
Xaphier dan Nara mengangguk bersamaan.
"Ck, putraku yang malang, aku tidak tahu, waktu perjodohan itu akan tiba, ketika dazon yang mengambil posisi itu." Ucap Xaphier.
~
~
Hanna sudah berada di dalam mobil yang akan membawanya ke bandara Internasional Milan dan akan membawanya kembali ke Atlanta, matanya menatap pemberian dazon yang dititipkan dazon kepada pengawalnya.
Sebuah kotak segi empat berwarna hitam berukir huruf D besar di sana. Hanna kembali membukanya, sebuah kunci apartemen dan tiga kartu Golden black, serta surat untuknya yang begitu singkat.
Aku tidak mahir mengucapkan perpisahan, kau tahu itu Hanna, terimalah pemberianku ini, jangan menolaknya, aku hanya ingin kau mengetahui, bersamamu membuatku bahagia meskipun sebentar.
"Selamat tinggal Dazon." Bisik Hanna.
~
~
Empat orang pengawal telah datang menghadap kepada tuan Caesaar, salah satu pengawal meletakkan sebuah cincin kecil di atas meja tuan Caesaar.
Mata tuan Caesaar beralih menatap cincin berukir huruf R di bagian dalam cincin itu.
"Kau sudah baikan Thom?" Tanyanya.
"Ya tuan, aku baik-baik saja." Ucapnya.
"Cincin apa ini?" Tanyanya.
"Cincin ini berkaitan dengan orang yang selama ini anda cari-cari tuan." Ucap thomas.
"Cincin ini milik Ben Reaver Junior atau Riel yang menyamar menjadi pengawal di mansion, dia bekerja di Oklahoma selama 7 tahun, dia menjalankan tugasnya dengan sempurna, tetapi sayang sekali tuan, dia mengidap penyakit yang sama seperti ayahnya."
"Putra Ben Reaver?? Benarkah?" Ucap tuan Caesaar terkejut, dia kemudian mengambil cincin itu dan memperhatikannya dengan seksama.
"Ya tuan, baru-baru ini dia tertangkap oleh kepolisian Atlanta setelah pembunuhan ke 8 kalinya, kami masih menyelidiki mengenai penyebab dia menderita penyakit seperti itu, menurut salah satu dokter yang menangani penyakit Riel, dia melakukan semua itu karena trauma masa kecil yang dialaminya."Jelas paulo.
"Apakah ada kaitannya dengan serum itu? racun itu tidak hilang begitu saja dari tubuh Ben saat itu, obat yang diminumnya hanya mengurangi gejalanya setiap setahun sekali, dan saat dia membutuhkan obatnya aku tidak ada di sana, ini semua salahku sehingga terjadi hal mengerikan ini kepadanya, hingga bertahun-tahun lamanya." ucap Tuan Caesaar sambil tertunduk.
"Dimana dia sekarang, apa dia baik-baik saja?" Tanyanya.
"Ben Rever Junior masih berada di rumah sakit tuan, dan kami sudah menyelidiki mengenai latar belakang Ben Reaver tuan, setelah dia wafat, dia meninggalkan seorang putra dan seorang putri." Ucapnya.
"Siapa nama putrinya? Siapa nama putri Ben Reaver, sejak dulu aku sudah mendengar jika Ben memiliki seorang putri kecil." Ucapnya, Tuan Caesaar menegakkan punggungnya.
"Namanya Ana Reaver tuan." Ucap Thomas. "Dan kami masih menyelidiki keberadaannya, kami akan sekuat tenaga mencari keberadaan Nona Ana reaver sebelum hari pernikahan tuan Dazon tiba." Ucapnya.
~
~
Pukul 7 Bandara Internasional Milan.
Hanna sebentar lagi akan berangkat dan naik ke pesawat. Pukul 7 tepat dia berdiri mengikuti dua pengawal yang berjalan di hadapannya dan dua di belakangnya, mereka memindai setiap orang yang berada di dekat Hanna.
"Apa mereka tidak berlebihan? Aku bisa kembali tanpa pengawalan mereka koq." Gumam Hanna.
"Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu pulang seorang diri." Ucap suara berat yang sangat dirindukan oleh Hanna, dia lalu berbalik dengan cepat ketika mendengar suara itu. Hanna begitu terkejut melihat Dazon sudah berada di sampingnya.
__ADS_1
"Da...dazon?" ucap Hanna.
"Kau sepertinya senang sekali meninggalkan Milan." ucap dazon mengangkat satu alisnya, mendekatkan wajahnya kepada Hanna.
"Bi..bisa di bilang begitu, akhirnya aku terbebas darimu." ucap Hanna gamang.
"Benarkah?" bisik Dazon.
Hanna kembali menatapnya, cahaya matanya bersinar ketika menatap wajah pria yang sejak tadi memandangnya, Hanna pikir tidak akan pernah bertemu lagi dengannya, keheningan di antara mereka sangat menusuk.
"Dazon aku....
"Kabari aku jika kau telah tiba di Atlanta Hanna, mungkin itu pesan terakhir yang akan kau kirimkan kepadaku." ucapnya. Matanya tajam menatap hanna, seakan tatapannya ingin menahan Hanna untuk tidak pergi, tetapi mulutnya berkata lain.
Sakit...itu yang hanna rasakan, sakitnya sangat menusuk dan perih di hatinya, dia mencoba tersenyum sebelum berangkat, dia ingin memperlihatkan wajahnya yang baik-baik saja kepada dazon.
Sebentar lagi Hanna akan benar-benar pergi dan mereka akan betul-betul berpisah, Untungnya pesawat yang akan di naiki oleh hanna adalah pesawat pribadi milik Dazon.
Hanna berjalan terus sambil menyeret kopernya, dia berbalik sebentar kepada dazon yang menatap punggung Hanna. Tiba-tiba saja dia menghentikan langkahnya, dia meninggalkan kopernya di sana dan berbalik arah, dia berjalan menuju ke tempat Dazon.
"Sekarang ! atau tidak sama sekali." bisik Hanna.
Dia menarik Syal berwarna hitam milik Dazon yang melingkar sempurna di lehernya, tarikannya membuat kepala dazon menunduk sejajar dengan Hanna, lalu begitu saja, Hanna mencium Dazon, ciuman intens yang menuangkan segala kerinduannya kepada pria ini, Ciuman itu membuat Dazon hampir saja goyah dengan keputusannya. Keempat pengawalnya berbalik dan mencoba melindungi privasi tuannya.
Ciuman itu masih berlangsung hingga hanna sendiri yang kesulitan bernapas, setelah ciuman panjang itu, hanna melepaskan bibirnya, tetapi tatapannya masih menahan mereka disana.
"A..aku pergi daz, selamat tinggal." bisik Hanna.
"Ngomong-ngomong, seharusnya aku tidak mendengarkan 20 hari datang bulanmu, kebohonganmu membuatku kehilangan kesempatan," Ucap Dazon.
Hanna tertawa, "Mungkin itu keberuntunganku, aku tidak akan terlalu memikirkanmu karena itu." Ucapnya. Mata dazon membelalak.
"Nona sudah saatnya." Ucap salah satu pengawal.
Kali ini Hanna betul-betul akan berangkat dan meninggalkan Dazon. Dia tersenyum kearah dazon dan akhirnya berjalan meninggalkan dazon.
Hanna terlihat semakin jauh, wajah dazon terlihat sangat kesakitan, kepergian Hanna membuatnya menyadari betapa berarti Hanna untuknya, tangannya terkepal erat sehingga buku-buku jarinya terlihat menonjol.
"Bodoh ! apa yang kau tunggu, kejar dia."
Dazon terkejut, dia menatap Ax dan daneil berdiri si belakangnya, mencoba memberikan semangat kepadanya. Wajah bingung Dazon membuat Ax menjadi tidak sabar.
"Kejar dia atau kau akan menyesalinya seumur hidupmu." Ucap Ax. Tanpa menunggu lagi Dazon berlari menuju koridor itu tetapi sayang sekali Puluhan pengawal berdiri menghalangi dazon dan membentengi dazon dari mengejar Hanna.
"Sial ! mereka cepat juga." Umpat Ax.
"Pengawal-pengawal itu sangat setia kepada Tuan Caesaar, coba lihat di sana paulo yang biasanya melayani Dazon turut berdiri membentengi dazon dan menentang kepergiannya."
Paulo tiba-tiba berjalan dan menghampiri Dazon. "Tuan Dazon, ini dari tuan Caesaar." ucap paulo. Dia segera menyerahkan ponsel itu kepada dazon.
"Jangan pernah berpikir untuk melarikan diri dari kakek, dazon, aku akan melindungi wanita itu dari serangan Crounus sampai hari pernikahanmu tiba, jadi percuma kau lari, kau harus memenuhi janjimu pada kakek."
Dazon menutup ponselnya, menatap tajam kepada paulo, dia kemudian membanting keras ponsel itu di lantai hingga hancur berantakan di hadapan semua pengawal-pengawalnya, dazon kemudian berbalik dan kembali berjalan menuju Ax dan daneil.
"Kita ke Club." Ucap Dazon.
Ax dan daneil mengikuti kemana dazon pergi, dia sangat khawatir melihat keadaannya.
~
~
~
Musik begitu keras yang memekakkan telinga, berdentum-dentum, silih berganti wanita-wanita mencoba mendekati ketiga pria tampan yang sedang duduk di ruangan VVIP itu. Wangi parfum menguar di udara. "Jenni akan membunuhku jika dia mengetahui aku ada di sini." Ucap daneil.
"Bagaimana denganmu Ax?"
Ax mengambil minumannya dan mengangkat bahunya, "Aku memberitahu fairley, kita hanya menemani dazon." Ucap Axton terus memperhatikan dazon yang dari tadi diam tidak menggubris mereka.
"Jangan terlalu banyak minum Daz, aku tidak mau kau nanti berteriak-teriak di jalan, sudah cukup tahun lalu kau membuat keonaran sampai-sampai polisi campur tangan." Ucap Daneil.
Dazon tiba-tiba tertawa terbahak-bahak membuat Daneil terkejut, Ax menepuk punggungnya.
"Kita pulang sekarang, sebelum dia berubah bertambah gila." Ucap Ax.
~
Perjalanan itu mmbuat hanna sangat kelelahan, hampir 10 jam dia duduk di pesawat, ketika dia tiba, empat orang pengawal berada di samping kiri dan kanannya, kini mobil telah menunggunya, hanna sedikit jengah ketika di perlakukan seperti Nyonya besar.
"Kita akan kemana?" Tanyanya.
"Tuan Dazon sudah mempersiapkan Apartemen khusus untuk anda Nona, anda akan tinggal di sana." Ucap Loue.
"Maksudmu kalian akan mengawalku juga di apartemen itu?" tanyanya.
"Ya nona, tenang saja, kami memiliki tugas dalam mengawal Nona, dan kami tinggal tidak jauh dari apartement anda, jadi setiap saat kami akan segera datang." Ucapnya.
"Ok baiklah," Biar bagaimanapun semua telah di putuskan, dan Hanna hanya akan menerima semua fasilitas yang diberikan dazon untuknya.
~
Derap langkah kaki terdengar, puluhan kepolisian beserta detektif Nick begitu panik, pasalnya orang nomor satu yang paling di cari serta pembunuh paling berbahaya dan mengerikan telah mengelabui perawat dan melarikan diri dari ruang perawatan.
"Sial ! kenapa hal ini bisa terjadi." Ucap Nick sambil mengacak rambutnya.
"Apa kau memasang microchip padanya? sistem kecil, untuk melacak keberadaan Riel?" tanya Detektif Rainey kepadanya.
"Tentu saja aku memasangnya, kita tinggal melacak keberadaannya." Ucapnya.
~
Tubuh dazon di hempaskan di atas tempat tidurnya sendiri. Sementara Ax dan daneil bersusah payah membawa dazon ke penthousenya.
"Hanya ini yang bisa kita lakukan, keputusan kakek telah final." Ucap Ax, dia berbalik dan kemudian meninggalkan Dazon, mereka berdua meninggalkan penthouse milik dazon dan segera kembali kepada istri-istrinya.
Mata Dazon terbuka, dia kemudian menutup wajahnya dengan lengannya.
~
Napasnya begitu berat, pelariannya begitu menyedihkan, ketika mendengar nama adiknya disebut-sebut membuat Riel menyusun rencana keluar dan ingin bertemu dengannya.
Dia berlari terus, menghindari jalan raya, ketika polisi-polisi hilir mudik, mereka terus muncul dan berpatroli semalaman, wajahnya yang kusut dan berminyak dipajang, terpampang di berita lokal kota Atlanta.
__ADS_1
"Aku hanya ingin melihatmu Ana, hanya itu saja, semoga kita segera bertemu." gumamnya.