
Pagi itu lexia di suguhi dengan 4 pengajar yang terlihat begitu profesional, mata lexia sedikit lesu melihat keberadaan mereka, tetapi lexia menerimanya dengan cukup senang jika ini hukuman yang daren maksud maka lexia akan menerimanya, di bandingkan dengan serangan-serangan daren pada tubuhnya.
"Dia adalah Mr.jack Anville dia adalah pengajar profesional di bidang sejarah." Lexia menatapnya, pria tua botak dengan wajah serius serta kacamata berbingkai di wajahnya menatap lexia dengan pandangan menilai.
"Dan kau pasti mengenalnya dia adalah nona Lucie, yang akan mengajarimu mengenai tingkah laku, sopan santun dan etika." Lexia tersenyum tipis menatap Nona Lucie yang sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Dan dia adalah Nyonya erine Caranove, dia akan mengajarimu mengenai Aritmatika dan hitung-hitungan." Lexia menelan ludahnya dan duduk dengan posisi tegap, wajah sangarnya dengan alis dan bibir tipis panjang membuat tubuh lexia bereaksi, dia harus menjaga tingkah lakunya serta kata-katanya jika dihadapan nyonya satu ini.
Dan selanjutnya, Mr.Ryan Anthony dia akan mengajarimu mengenai sains." Pria ini begitu muda, Sepertinya lebih muda di bandingkan Daren. Wajahnya terlihat ramah dan senyum mengembang di wajahnya.
Evan selesai memperkenalkan pengajar-pengajar lexia. "jadwal pertemuan akan saya berikan kepada anda sebentar lagi, untuk hari ini sampai di sini dulu." Ucap Evan kepada mereka semua.
Mereka semua berdiri begitupun lexia, sementara daren masih duduk di sana menatap lexia, tangannya berada di keningnya, matanya sama sekali tidak berpindah dari wajah lexia.
"Duduk." Ucap Daren.
Lexia mendengus kemudian kembali duduk sementara mereka semua telah keluar dari ruangan itu. Dia terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu, lalu mulai berbicara dan menatap lexia yang telah duduk dihadapannya.
"Mengenai syarat yang kau ajukan, aku akan menyetujuinya jika kau juga bisa memenuhi permintaanku."
Lexia mengerutkan keningnya. "Permintaan? Kenapa ada permintaan?" Tanya lexia.
"Jika kau melakukan tugasmu dengan baik, dan tidak memikirkan tentang melarikan diri lagi dari sini, maka aku akan mengikuti syarat-syarat yang kau ajukan, tetapi...jika satu saja syarat yang kukatakan kau langgar, jangan salahkan aku dengan hukuman yang akan aku berikan." Ucap daren.
"Deal, aku akan mengikuti semua syarat-syarat yang kau katakan, dan jika kau menyentuhku atau menyerangku jangan salahkan aku jika aku melarikan diri lagi dari tempat ini." Balas lexia menatap daren dengan tajam sambil menyilangkan kedua tangannya.
"Ck, oke selama kau mematuhi aturan di rumah ini, dan menjalankan tugasmu dengan benar, aku tidak akan menyentuhmu."
'Apa sih yang dipikirkan pria tua ini? Mengapa dia selalu ingin menyerangku?' Gumam lexia menatapnya.
Daren tersenyum mendengarkan gumaman lexia.
"Kau ingin tahu mengapa aku selalu ingin menyentuhmu?" Ucap daren tersenyum sambil memperhatikan gerak tubuh lexia yang tidak tenang dan gelisah dengan pandangan daren yang tajam.
"Karena kau membuatku bergairah lexia, dibandingkan wanita lainnya, Tubuhmu....
"Stop ! Apa sih yang kau katakan, kau betul-betul mesum." Lexia berdiri tangannya mengepal menatap daren yang masih tersenyum sambil menatap lexia yang marah.
__ADS_1
"Berhenti menggigit bibirmu, atau aku tidak akan memperdulikan kontrak sialan itu." Ucap Daren.
Mata lexia membulat, dia menggeram, lexia lalu pergi meninggalkan daren dengan pikiran Kotornya.
~
Dentuman musik terdengar memekakkan telinga, suara-suara teriakan dan goyangan wanita penggoda meliuk di lantai dansa, sambil mengedipkan matanya kepada tamu yang hadir, tempat itu bukan ditujukan bagi kalangan menengah apalagi kelas bawah ataupun sembarang orang.
Club itu didirikan oleh William Luther, beberapa orang bekerja kepadanya, dan dia menerima dengan tangan terbuka siapa saja yang ingin bekerja untuknya termasuk Edoardo, dia menerima pemuda itu, tetapi pekerjaan yang dilakukannya hanya pekerjaan remeh.
Edo berjalan di tengah-tengah para wanita yang menggoyangkan tubuhnya, Edo berjalan dengan serius sedang mencari seseorang. Sebuah ruangan VIP yang di jaga oleh beberapa bodyguard tengah berdiri di sana.
Dengan berani Edo melangkah dan mendekati pintu itu.
"Tempat ini terlarang untukmu."
"Kembali bekerja." Ucap salah satu pria yang berdiri di sudut.
"Aku ingin bertemu dengan tuan William Luther." Ucap Edo dengan wajah datar.
"Dia tidak bisa di temui sekarang, kau harus membuat janji."
Seseorang membuka pintu dan mengangguk kepadanya. "Kau ! Masuklah kebetulan tuan Luther ingin berbicara denganmu."
Edo masuk ke ruangan besar dan begitu berbeda dengan suasana berisik di club itu, tempat itu tenang, bahkan terlalu tenang membuat Edo merasa tidak nyaman.
Matanya beralih kepada William yang sedang memegang senjata dan di belakangnya bertumpuk senjata canggih keluaran terbaru.
William melirik kepada Edo. " Kau yang bernama Edoardo?"
"Em, ya sir namaku Edoardo."
"Dan kau yang membawa lexia pergi dari keluarga Burchard bukan?"
"Em, lexia adalah teman kecilku, dan dia membutuhkan pertolonganku, apakah.. apakah dia baik-baik saja?" Tanyanya.
William menyeringai, lalu tertawa keras.
__ADS_1
"Jangan khawatir, dia di sana baik-baik saja, dia kembali menjadi tuan putri di sana meskipun aku tidak menjamin dengan serangan daren kepadanya, pria itu menginginkan lexia."
"Apa? Apa maksud anda sir." Wajah Edo terlihat khawatir.
"Kau pasti mengerti apa maksudku."
"Aku akan memberimu tugas, cukup mudah, dan kau juga bisa bertemu dengan lexia, bagaimana?" Ucap William.
~
Lexia berbaring, matanya masih terbuka lebar, cahaya dari luar membuat lexia tidak kunjung terlelap. Suara-suara di keheningan membuat lexia segera bangkit dari tempat tidurnya.
"Suara apa itu?" Tanyanya.
Suara gedoran pintu kamar lexia terdengar begitu keras.
Untungnya lexia mengunci pintu kamarnya, dan mengintip dari lubang pintu.
"Daren? Apa yang dia lakukan berteriak keras seperti itu? Dasar pria pemabuk, brengsek." Caci lexia.
Suara gedoran masih terdengar keras, lexia tentu saja tidak mau membukanya, dia sedang tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.
"Ugh, seharusnya aku merekamnya dan memperlihatkan kelakuannya malam ini." Gerutu lexia, dengan tidak perduli lexia kembali ke tempat tidurnya dan memperhatikan jika pintu kamarnya betul-betul sudah terkunci dan menaruh kursi di depan pintunya untuk berjaga-jaga.
Daren memiliki kunci cadangan di kamarnya bisa saja malam ini dia tidak sadar dan menerobos masuk ke dalam kamar lexia dan menyerangnya.
~
Daren berdiri cukup lama di sana, di kamar lexia, setelah dia tertidur pulas dia masuk seperti perkiraan lexia, bahwa daren masuk dengan kunci cadangan yang di pegangnya.
Daren cukup mampu mengendalikan dirinya, matanya menatap tajam ke arah lexia dan merekam satu persatu di kepalanya, dia tahu itu tidak wajar melakukan sesuatu seperti ini, tapi gara-gara kontrak sialan itu daren harus menahan dirinya.
Diapun bertanya-tanya mengapa gadis yang usianya terpaut cukup jauh dengannya ini begitu diinginkannya? dia begitu menginginkan tubuh sialan seksi itu. Daren memijit-mijit keningnya, dia berjalan di kegelapan kamarnya sambil menatap pemandangan kota dari jendela kamar lexia.
Jika lovelia Sudah sembuh dan kembali kerumah ini, apa yang harus aku lakukan kepada lexia? pemikiran ini membuat daren menyunggingkan senyuman di bibirnya. Rencana-rencana terbentuk dengan sendirinya di kepala daren, "Aku tidak akan membiarkan kau pergi dari pandanganku", bisiknya.
Daren berjalan menghampiri lexia yang tertidur pulas, kecupan manis dia berikan di bibirnya, "kau tidak akan pernah bebas dariku, kau milikku lexia." Bisik daren.
__ADS_1
Daren akhirnya keluar dari kamar lexia, malam itu lexia bermimpi mengerikan, seorang pria tengah mengawasinya dan mengurungnya di dalam sebuah sangkar burung begitu besar, dia berteriak-teriak keras meminta tolong tetapi dia tidak bisa pergi dari jeratan pria itu.