
Jangan Lupa Tekan Voteee, like and comentnya yaaaa tmn2 readers 😆 Selalu ku tunggu.
🌺HAPPY READING🌺
☕
☕
☕
Dimana..dimana dia sekarang?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Kalian bisa ikut aku." Ucapnya sambil tersenyum sinis kepada ketiga pria yang ada di sana yang menatap jengkel kepada Roy.
~
"Kau pikir bisa masuk semudah itu hanya kerena kau bilang 'ikut aku'?" Ucap salah satu pria sambil mendorong tubuh Roy kebelakang. Senjata dari para pengawal daren mengarah kepada mereka bertiga, Daren melangkahkan kakinya tepat dihadapan pria itu.
"Jika kau masih ingin hidup, menyingkirlah Sebelum senjataku menembus kepalamu." Ucap Daren.
Mereka kemudian mundur beberapa langkah lalu memberikan jalan kepada Daren dan orang-orangnya sehingga mereka dapat masuk ke desa itu. Salah satu dari mereka berlari, dia tentu saja akan melaporkan semuanya ini kepada tuan Arlond.
Daren dan orang-orangnya berjalan begitu saja memasuki desa itu dan tidak memperdulikan pandangan penduduk yang menatap aneh kedatangan mereka. Roy berjalan di depan menunjukkan jalan, beberapa meter dari gerbang ada sebuah bangunan panjang yang cukup besar berwarna krem di lengkapi dengan jeruji di setiap jendelanya, sekali melihat saja Daren dapat mengetahui bahwa tempat itu adalah tempat untuk menahan seseorang.
"Di mana lexia? Mengapa kau bawa kami kemari." Tanyanya, sambil memandang bangunan yang tepat dihadapannya.
Roy berbalik, dia menatap Daren dan kembali menatap bangunan itu.
"Tempat ini untuk menahan orang-orang yang tidak bisa membayar denda, paman dan bibiku di tahan di sini berkat lexia." Ucapnya menyindir.
Daren menatapnya tidak mengerti.
"Peraturan di desa ini sangat ketat, jika seseorang membawa orang asing masuk ke desa kami maka mereka harus membayar denda, paman dan bibiku menyelamatkan lexia dan membawanya kemari, jadi mereka harus membayar 500 dollar untuk denda itu, tetapi tentu saja paman dan bibi tidak akan sanggup membayar tuan Roland dengan jumlah uang sebanyak itu." Ucap Roy.
"Jadi kau ingin aku membayar denda itu?" Tanya daren.
Roy tersenyum miring. "Iya sir, tentu saja anda harus membebaskan paman dan bibiku karena dia telah menolong lexia hingga berakhir di tempat ini."
Seorang pria tua keluar dari bangunan itu, beberapa pria berada di belakangnya sambil memegang senjata.
"Berani-beraninya kau membawa orang asing masuk ke desaku Roy, kau ingin aku menempatkanmu di sel yang sama dengan paman dan bibimu?" Bentaknya. Pria tua itu bertubuh gemuk dan berkumis panjang dengan perutnya yang berlapis-lapis, dia mengenakan jas berwarna coklat lebar dengan dasi merah menyala.
"Bebaskan mereka." Ucap Daren kepadanya.
"Siapa kau!" Ucap pria itu menatap Daren dengan wajah tidak suka.
"Satu juta dollar cukup untuk membebaskan paman dan bibi pria ini." Ucap Daren.
Pria tua itu terkekeh, kemudian dia menggelengkan kepalanya. "Kalian masuk ke desaku dan hanya membayar 1 juta dollar? Kau pasti bercanda bukan?"
"Jika kau ingin bermain-main denganku, aku tentu akan mengikuti permainan busukmu tetapi kali ini aku tidak punya waktu, jadi jangan salahkan aku jika sesuatu yang buruk akan terjadi di desa ini jika kau terus menghalangiku." Ucap Daren tajam.
"Hehe kau menggertakku, maaf saja aku tidak akan termakan dengan gertakan murahan seperti itu, memangnya kau siapa." Ucapnya sambil tertawa dengan sinis.
"Gertakan? Aku tidak menggertakmu, tapi aku sedang mengancammu." Ucap Daren.
"Aku dengar desa ini tidak terdaftar sebagai wilayah resmi di wilayah bagian selatan di kota ini, Desa ini hanya terbentuk dari warisan turun temurun dari nenek moyang kalian bukan?? Jadi...tidak akan menjadi masalah jika nantinya desa ini akan rata dengan tanah, Sekali aku berbicara kau harus mendengarkanku karena aku tidak akan main-main dengan ucapanku, tetapi jika kau terus menghalangiku kau akan menyesal."
"Terima uang itu, sekarang!" Bentak daren.
"Kau pikir siapa dirimu berani berbicara seperti itu tentang desaku? Kau sudah masuk ke wilayah kami dan dengan sombongnya kau mengatakan ingin menghancurkan desaku??"
Daren begitu geram dengan pria tua ini, dia sudah membuang waktunya begitu lama di sini, dia harus bertemu dengan lexia sekarang juga.
Daren tersenyum sinis menatap pria tua yang mencoba memberanikan diri menghadapi daren. "Desa ini tidak salah sama sekali, tetapi yang salah adalah kau, mengapa kau membuat peraturan yang menyusahkan wargamu sendiri? Membuat peraturan tidak masuk akal untuk kepentingan pribadimu." Ucap Daren.
Daren mencoba mengulur waktu, karena orang-orang dari pria tua ini sudah mulai berdatangan sedangkan mereka hanya berenam. Daren segera menekan alat yang diberikan oleh Xaphier dan memberikan pesan kepada Xaphier untuk membawa Pengawal-pengawalnya.
~
Xaphier sedang berada di taman, dia sedang menggendong Axton, dia berjalan bersama-sama dengan Nara, Axton selalu menangis jika pagi tiba, kebiasaan lexia selalu membawanya ke taman untuk melihat air mancur, jadi Xaphier dan Nara setiap pagi datang kemari agar Ax tidak menangis.
Deringan dari ponselnya membuat Xaphier memberikan Ax kepada Nara dan segera mengambil ponselnya.
"Daren?" Ucap Xaphier melihat pesan singkat yang dikirim oleh Daren kepadanya.
"Bawa sebanyak mungkin pengawal?" Ucapnya. Tanpa menunggu lama Xaphier segera berangkat dan mengumpulkan semua Pengawal-pengawalnya. Alat pelacak yang diberikan Xaphier kepada Daren membuatnya dengan mudah mengetahui dimana lokasi tempat mereka berada.
Thomas segera menyiapkan 20 Helikopter dan segera berangkat ke Titik lokasi dimana Daren berada.
~
"Haaa...Aku capek mengintip, apa aku harus keluar ya? Tapi bagaimana jika mereka menangkapku?" Ucap lexia sambil duduk di ruang tamu memikirkan cara untuk menyelamatkan tuan Hendrik dan istrinya.
Suara langkah kaki dari luar membuat lexia mengintip dari balik jendela, dua orang pria sedang mengetuk-ngetuk pintu rumahnya. Lexia segera masuk ke dalam dan mengambil alat penggarap untuk di jadikan senjata dan bersembunyi di belakang dapur. Dobrakan keras dari pintu membuat lexia terkejut.
Dua pria itu mencari-cari lexia. "Dimana wanita itu? Kita harus membawanya, kenapa kejadian seperti ini bisa terjadi? Lagi pula untuk apa dia menyuruh kita membawa wanita itu? Tingkah tuan Arlond sekarang sungguh keterlaluan." Ucapnya.
"Jangan berisik cari terus." Ucap salah satu pria yang memeriksa dari kamar ke kamar.
__ADS_1
Lexia masih sembunyi di belakang dapur paling dalam, ketika salah satu pria masuk ke dalam dapur, lexia lalu memukul keras kepalanya hingga dia terjatuh di lantai dan jatuh pingsan. Setelah itu lexia kembali sembunyi.
"Hei suara apa itu, Jon kau baik-baik saja?" Salah satu pria masuk, dengan cepat lexia kembali memukul kepalanya dari arah belakang dengan keras hingga ia jatuh pingsan dan bergabung dengan temannya.
"Sial ! Aku harus pergi dari sini." Ucap lexia kemudian menengok kiri dan kanan dan segera berlari mencari tempat yang aman.
~
"Kau membuang-buang waktuku." Ucap daren.
Pria tua itu menatap tajam Daren. "Kalian ! tunggu apalagi, tangkap mereka semua." Perintahnya.
Penduduk desa berjalan mendekati Daren dan orang-orangnya, mereka tentu saja kalah jumlah, meskipun para pengawal memiliki senjata tetapi tetap saja mereka tidak bisa melawan orang-orang desa yang membawa tombak dan alat-alat pertanian.
Suara keras terdengar dari langit tiba-tiba muncul 7 helikopter berwarna hitam milik Burchard yang sedang stand by di lokasi penginapan, setelah mendapatkan pesan dari Daren, tidak lama kemudian mereka segera mengudara dengan membawa perlengkapan senjata.
Para penduduk ketakutan, mereka mundur beberapa langkah dan sedikit menunduk karena helikopter itu segera mendarat langsung di lapangan luas di desa.
"Sial !" Umpat pria tua itu.
Dia ingin segera berlari tetapi tubuh gemuknya membatasi langkahnya, Roy dari tadi mengambil kesempatan untuk masuk ke dalam ruang tahanan dan membebaskan semua penduduk desa yang di tahan termasuk bibi dan pamannya.
Pria tua itu terkepung dan tidak bisa melawan, Hendrik dan istrinya keluar dari bangunan itu beserta penduduk lainnya yang di tahan. Hendrik menghampiri Roy yang kini berdiri di dekat daren.
Evan segera menghampiri Daren setelah melakukan pendaratan bersama puluhan orang-oranngnya.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Evan sedikit menunduk.
"Aku baik-baik saja Evan." Ucap Daren kepadanya.
"Siapa sebenarnya kau ini?" Teriak pria tua bernama Arlond itu.
Daren tidak menggubrisnya, kemudian dia menatap tajam kepada pria bernama Roy.
"Bawa aku ke tempat lexia, sekarang !"
Daren pergi begitu saja bersama separuh orang-oranngnya mengikuti Roy yang berada di belakangnya. Tidak lama mereka berjalan, mereka menemui rumah kayu dengan cerobong asap yang keluar mengepul di atasnya.
Roy dengan cepat berlari di susul oleh Daren yang berteriak-teriak memanggil lexia.
"Lexia ! lexia." Terima Daren menatap sekelilingnya, pintu rumah sudah di dobrak serta ada dua orang pria yang pingsan di dalam.
"DIMANA LEXIA !" Bentak Daren kepada Roy.
Roy sibuk membuka-buka kamar dan mencari-carinya. "Dia pasti keluar dari rumah ini karena dua pria ini ingin menangkapnya, dia pasti tidak jauh dari sini."Ucap Roy lalu berlari keluar rumah mencari keberadaan lexia.
Daren berteriak-teriak hingga sampai ke dekat sungai dia terus berlari pelan mencari-carinya.
"Daren?" Lexia keluar dari persembunyiannya di belakang pepohonan dari seberang sungai, kepalanya masih di perban, luka goresan di pipinya masih terlihat di wajahnya, begitupun satu tangan dan kakinya masih di balut perban.
Matanya tidak mempercayai apa yang di lihatnya lexia berdiri di sana menatapnya, Daren kemudian menyeberangi sungai yang cukup dangkal itu hingga sebagian celananya basah terkena air sungai. ketika dia melihat lexia berdiri mematung sambil menatapnya, dia kemudian berlari secepat mungkin kemudian memeluknya dengan erat.
"Lexia, kau betul-betul lexia, aku tahu kau pasti masih hidup, kau tidak akan pergi meninggalkanku begitu saja." Ucap Daren memeluknya begitu erat. lexia membalas pelukannya, dia sangat merindukan Daren. Daren kemudian menatap lexia dan melihat luka di kepalanya dan goresan di wajahnya.
"Aku merindukanmu Daren dan Ax." Ucap lexia dengan suara bergetar menahan tangisnya. Daren mengangkat tubuhnya dan kembali memeluknya erat-erat. Dia menurunkan lexia kemudian menatapnya dan menciumnya keras, seakan ingin menuangkan segala kerinduannya ke dalam ciumannya yang dalam.
Terdengar suara langkah kaki dari seberang sungai. Roy dan evan akhirnya melihat mereka berdua dari seberang sungai, terlihat lexia seperti tenggelam di tubuh Daren karena ciuman intensnya.
"Akhirnya mereka berdua bertemu." Ucap Roy masih menatap mereka berdua. Evan membalikkan badannya, kemudian dia menatap Roy lalu memegang bahunya dan menyuruhnya berhenti menatap Tuannya yang sedang bermesraan.
~
"Kau tidak apa-apa? bagaimana dengan lukamu lexia?" tanya daren setelah beberapa lama akhirnya melepaskan lexia dari ciumannya. Dia memperhatikan wajahnya, kemudian memegang tangannya yang dibalut perban.
"Aku tidak apa-apa Daren, tetapi bibirku Sekarang yang sakit." ucap lexia mendorong Daren karena ciuman kasarnya yang tidak di tahan-tahannya.
"Apa sakit?" ucapnya, mereka berdua menyeberangi sungai dan berjalan ke tempat Evan dan orang-orangnya.
"Mm, tidak juga, aku suka jika kau menciumku seperti itu." Bisik lexia dengan pipi memerah. Daren memegang erat tangannya, mereka berjalan lalu melihat kerumunan orang-orang serta Evan dan Pengawal-pengawalnya yang sedang berdiri di bagian belakang melihat amukan warga kepada pria tua yang bernama Arlond.
"Ada apa Evan?" tanyanya.
"Mereka ingin mengadili pria tua bernama Arlond." Ucap Evan, dia kemudian memandang lexia dan sedikit membungkuk.
"Selamat datang kembali Nyonya Lexia, aku senang anda selamat." Ucap evan.
Lexia hanya tersenyum menanggapinya. Tiba-tiba pria yang bernama Hendrik berbicara kepada warganya, dan menjelaskan beberapa keburukan dan kejahatan Arlond ketika menjabat sebagai pemimpin di desa itu, menggunakan segala kekuasaannya untuk menindas warganya. Tidak lama kemudian para warga membawanya ke dalam tahanan. Meskipun dia berteriak-teriak histeris tidak ada yang mau bersusah payah menolongnya.
Suasana di desa itu kini sangat berubah, mereka membuka gerbang itu selebar-lebarnya, para penduduk desa bahkan keluar untuk bersorak karena di tangkapnya Arlond, mereka sudah begitu lama geram dan kesal dengan segala tingkah lakunya kepada para penduduk, dia memperlakukan penduduk dengan seenaknya.
Suami istri itu mendekati lexia dan Daren ketika mereka melihatnya berdiri tidak jauh dari kerumunan.
"Lexia, kau sudah baikan?" ucap istri dari hendrik itu. Lexia tersenyum kepadanya.
"Saya sudah baikan Nyonya Hendrik, terima kasih kepada kalian yang sudah menolongku, jika kalian tidak menolongku waktu itu, mungkin saja sekarang ini aku sudah lama mati." Ucap lexia.
Matanya beralih kepada Daren. "Dia suamiku namanya Daren Burchard." Ucap lexia.
"Wah suamimu tampan sekali lexia." Pria bernama Hendrik lalu menyenggol tubuh istrinya karena dia berada tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Erm..Terima kasih tuan Burchard, kau sudah datang kemari selain anda datang ingin mencari istri anda, kedatangan anda juga sangat berarti untuk perubahan di desa kami." Ucapnya.
"Saya senang bisa membantu anda." Ucap Daren. "Tiba-tiba suara cukup keras terdengar dari udara, mereka semua menatap puluhan helikopter di atas langit yang perlahan mencari pendaratan yang pas.
"Xaphier benar-benar menanggapi pesanku, kupikir dia tidak akan datang." Ucap Daren. Orang-orang mundur, bahkan masuk ke dalam ruangan karena banyaknya helikopter yang mendarat di lapangan yang luas itu.
Langkah kaki mulai mendekati mereka, Xaphier dan puluhan orang-oranngnya menghampiri daren, kini matanya tertuju kepada wanita yang ada di samping daren. Dia kemudian menambah kecepatan langkahnya.
"Lexia ?!" Ucapnya heran dan terkejut.
"Kau..kau masih hidup." Ucapnya lagi, dia kemudian memeluk adiknya dengan erat. "Syukurlah kau baik-baik saja, kupikir kau betul-betul telah pergi lexia, Karena melihat kedalaman jurang itu aku pikir kau tidak memiliki kesempatan sama sekali." Ucapnya heran.
"Mereka yang menolongku Xaphier." Ucap lexia menatap tuan Hendrik dan istrinya.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan adikku." Ucap Xaphier menyalami mereka berdua. Roy menganga takjub dengan puluhan helikopter yang berjejer di sana dengan pria-pria berjas yang berbaris rapi dan memegang senjata. Dia kemudian berdiri berbalik menatap lexia Daren dan xaphier, siapa sebenarnya orang-orang ini? Pikirnya.
Lexia berpamitan kepada suami istri itu, mereka akan segera pergi dan langsung berangkat ke Oklahoma di mansion ayahnya. "Terima kasih sudah menyelamatkanku paman dan bibi, berkat kalian aku selamat." Ucap lexia.
"Kami senang menolongmu lexia, lain kali mampirlah kemari, kau sudah termasuk bagian dari desa ini juga." ucap pria bernama Hendrik itu.
Setelah berpamitan, mereka semua naik ke dalam helikopter dan segera berangkat meninggalkan desa terpencil itu, Xaphier memberikan dana bantuan cukup besar untuk membangun kembali desa mereka, jumlah yang diberikannya tidak main-main sampai Roy yang melihatnya membuka mulutnya lebar-lebar. "Wow, siapa sebenarnya mereka semua, sepertinya tuan Arlond memilih musuh yang salah kali ini, hehe." Ucapnya.
Dari kejauhan Desa Turtle of the Reaves kini nampak mengecil, lexia menatapnya dari atas helikopter yang akan membawanya langsung menuju kediaman Ayahnya di mansion, dia sudah tidak sabar untuk bertemu Axton pangeran kecilnya.
~
Langkah kaki itu begitu tergesa-gesa, Adrick sedang duduk disana memegang kertas yang ada di tangannya. Ketukan pintu yang tergesa-gesa membuat Adrick mengalihkan pandangannya.
"Masuk."
"Tuan, saya mendapat informasi jika Nyonya Lexia masih hidup dan Sekarang berada di helikopter menuju ke Mansionnya." Ucapnya.
"Benarkah?" Adrick kemudian mengambil napas panjang. "Syukurlah kalau begitu, setidaknya dengan hidupnya lexia, aku tidak akan begitu membenci ayahku, karena dialah lexia mengalami semua ini." Ucap Adrick.
~
Perjalanan mereka cukup jauh, tetapi helikopter milik Xaphier sudah begitu canggih hingga tidak sampai beberapa jam saja mereka sudah tiba di mansion Ayahnya, mereka mendarat dengan selamat di landasan Helipad dekat dengan taman. Dari kejauhan dia melihat Nara sedang menggendong Axton yang sedang bermain-main di dekat air mancur. Begitu turun, lexia berlari menuju putranya.
Nara menyipitkan matanya ingin melihat dengan jelas siapa wanita yang berlari menuju ke arahnya, tiba-tiba dia berdiri tegak sambil menggendong Axton.
"Le...lexia??" Ucapnya.
"Axton mommy sudah datang." Teriak lexia, ketika dia sudah tiba di depan putranya, Axton lalu merentangkan kedua tangannya ingin di gendong oleh ibunya. Lexia kemudian mengambilnya dari gendongan Nara, dia memeluk erat tubuh putranya yang sangat dirindukannya.
Nara menghapus air matanya yang berjatuhan. "Lexia aku bersyukur kau masih hidup, Aku pikir aku tidak bisa melihatmu lagi, Axton setiap hari menangis ingin bertemu denganmu." Ucap Nara sambil menangis.
"Aku baik-baik saja Nara, terima kasih karena selama ini kau menjaga Ax, aku pasti akan gila jika kau tidak ada di sini untuk menjaga putraku." Ucap lexia memberikan ciuman bertubi-tubi di wajah putranya.
"Mom..my, mommya." Ucap Ax, tubuhnya bergoyang karena gendongan lexia.
"Ax jadi anak baik ketika ibu tidak ada bukan?" Ucap lexia kembali mengecup pipi Putranya.
"Sebaiknya kita masuk kedalam, kita harus mengobati luka-lukamu lexia, lihat goresan yang ada dipipimu masih merah." Ucap Nara. Mereka akhirnya masuk ke dalam mansion, tuan Caesaar sudah menunggu lexia dari balik pintu dan langsung memeluknya ketika mereka bertemu.
Air mata jatuh di pipinya, dia hampir putus asa karena telah kehilangan putrinya. "Ayah senang kau baik-baik saja lexia, ayah sangat gembira." Ucapnya sambil menghapus air mata di pipinya.
~
Setelah membersihkan dirinya, lexia Kemudian diobati dan kembali di perban, karena luka-lukanya masih belum sembuh benar.
Daren selalu berada di sampingnya, memegang tangannya kemanapun lexia pergi.
"Daren? bisakah kau melepaskan tanganmu? Aku mau ke kamar mandi." Ucap lexia.
"Apa kau juga akan masuk ke kamar mandi? aku harus melakukan kegiatan privasiku di kamar mandi, kau pasti tidak ingin melihatnya." Ucap lexia bercanda.
"Aku bisa koq, itu menjadi tontonan menarik tersendiri buatku." Ucapnya sambil menaikkan alisnya lalu tersenyum jahil.
"Oh ya, kenapa kau menemui dokter Jhon tadi? bukankah dia bilang luka-lukaku akan sembuh dalam beberapa hari saja?" ucap lexia kepada daren.
"Aku bertanya kepadanya, apakah tubuhmu akan baik-baik saja jika kita bercinta dengan luka-lukamu seperti ini." ucap Daren menempelkan tubuhnya ke tubuh lexia.
Lexia mencubit pipi daren. "Kenapa kau bisa bertanya seperti itu kepada dokter Jhon?" ucapnya gemas.
"Tentu saja aku harus bertanya sayang, aku tidak mau menyakiti tubuhmu." bisik Daren sambil memeluk tubuh lexia dan memeluknya erat-erat. Axton yang duduk di sana kemudian merangkak dan langsung duduk diantara ayah dan ibunya, berusaha memisahkan mereka berdua.
"Jangan memisahkan kami Ax, aku merindukan ibumu." ucap Daren mengangkat tubuh Ax menjauh dari lexia, Axton tiba-tiba menggumam-gumam menggemaskan lalu mengambil boneka dan melemparkannya ke arah ayahnya dan kembali merangkak ke arah lexia.
"Baiklah, ayah akan mengalah karena hari masih siang, tapi malam ini ibumu menjadi milikku Axton." ucap Daren sambil mengangkat tubuh putranya tinggi-tinggi yang tertawa-tawa ketika tubuhnya di angkat.
Ketukan terdengar dari pintu kamarnya, Daren segera membukanya dan melihat Xaphier berdiri di sana. "Ada seseorang yang ingin bertemu dengan lexia." Ucap Xaphier.
"Siapa?" Tanyanya.
"Kemarilah, dia sudah menunggu lexia di ruang tamu. Lexia serta Daren yang menggendong Ax segera keluar dari kamarnya. Mereka langsung menuju ke ruang tamu. Pria itu duduk dengan percaya diri tanpa ada rasa takut sedikitpun. Dia kemudian tersenyum ketika melihat lexia, dia kemudian berdiri menatap lexia.
"Kau ! kenapa kau ada di sini." Ucap daren marah, dia kemudian menatap Xaphier meminta penjelasan kepada Xaphier tentang kehadiran Adrick Rudolf yang berdiri di hadapan mereka.
"Aku tidak akan lama, aku hanya datang kemari ingin bertemu dengan lexia, aku senang kau selamat lexia, aku khusus datang kemari atas nama keluarga Rudolf untuk meminta maaf dengan semua yang menimpamu lexia, aku mengerti jika tidak semudah itu kau akan memaafkanku tapi percayalah aku sama sekali tidak berniat menyakitimu." Mereka semua menatap Adrick.
__ADS_1
Dia melangkah perlahan sambil tersenyum tipis. "Selamat tinggal Lexia Kenzo senang bertemu denganmu, semoga di kehidupan berikutnya kau akan lebih memilihku dibandingkan dengan Daren." Dia Tersenyum sambil menatap Daren dengan sikap memprovokasi, kemudian Adrick melangkah menjauh meninggalkan kediaman Caesaar untuk selamanya.
"Dalam mimpimu Adrick." ucap Daren kesal.