The Dark Sapphire Eyes

The Dark Sapphire Eyes
Part 19


__ADS_3

Terdengar barang yang diseret, Fairley sedang menarik sesuatu dengan keras sampai masuk ke dalam rumah, setelah itu Fairley berlari-lari kecil dan membangunkan Ax yang masih tidur, hanya mengenakan boxer, Selimut mereka sudah teronggok di lantai kamar.


"Ax, ax bangun, coba lihat ini." Ucap Fairley sambil menggoyangkan tubuh Ax yang masih ngantuk.


"Hem ngantuk, Sebentar lagi Fairley." Ucap Ax sambil menutup kepalanya dengan bantal agar matahari yang bersinar tidak menyilaukan pandangannya.


"Ada kotak besar di halaman rumah, aku masih belum melihat isinya, ayoooo bangunlaaaah, aku tidak mau membukanya sendirian." Rengek Fairley membuat Ax mengucek-ucek matanya dan akhirnya bangun dari tidurnya, Fairley menarik tangannya agar segera mencuci mukanya supaya dia fresh kembali.


Setelah mencuci mukanya, terlebih dahulu dia mengecup bibir Fairley, dia hanya mengenakan singlet dan boxernya, Ax lalu keluar dari kamar dan akhirnya mengingat kejadian semalam. Kini, matanya kali ini benar-benar terbuka.


"Semalam aku melihat seseorang, tapi hanya sekilas bayangan saja, lalu kotak ini ada begitu saja di atas kayu di belakang rumah kita." Ucap Ax.


"Benarkah?" Mata Fairley terbuka lebar mengharap sesuatu luar biasa dari kotak besar seukuran lemari ini.


Mereka berdua membukanya, kemudian mereka melihat isinya, mata Fairley membelalak, saking terkejutnya, dia kemudian melompat kegirangan lalu meremas lengan Ax.


"Siapa yang mengirimkannya?" tanya Fairley.


"Entahlah sayang, sebaiknya kita periksa kembali."


Mereka memeriksanya dan saling memandang terkejut, segala sesuatu yang mereka perlukan ada di dalam kotak itu untuk sebulan kedepan.


"Ax ? Kira-kira siapa yang menaruh kotak ini?" Tanyanya.


"Apakah Mom yang menaruhnya?" Ucap Ax.


"Tapi kau akan dianggap gagal jika kau menerima kota ini Ax?"


Ax mengambil tulisan yang sengaja di tempel di samping dinding kotak dus itu.


"ini hadiah pernikahan untuk kalian, aku terlambat memberikannya." Dz


"Ini dari Dazon?" Ucap Fairley tersenyum.


"Katanya ini hadiah pernikahan kita, jadi tidak apa-apa kan." Bisik Ax melihat kotak itu penuh berisi kebutuhan sehari-hari mereka, senyuman terangkai di bibirnya.


"Tapi, bagaimana jika kakek mengetahuinya, apa dia akan menganggap kita gagal?" Tanya Fairley mengambil barang-barang pokok kebutuhan mereka.


"Bukan kita yang gagal, aku kan tidak memintanya, ini hanya sebuah hadiah pernikahan kita berdua dari Dazon.


Fairley mengikat rambutnya yang panjang dan mulai membongkar satu persatu isinya. "Wow, Ax lihat, semua yang kita butuhkan ada di sini." Wajah sumringah dan tatapan gembira Fairley membuat Ax tersenyum lalu menarik tubuh mungilnya dan memeluknya erat.


"Kau sesenang itu menerimanya?" Tanyanya sambil memberikan kecupan-kecupan kecil di pangkal lehernya.


"Mm, aku sangat senang, kita bisa berhemat, uang yang kita miliki bisa di simpan." Ucap Fairley tersenyum sumringah.


Terdengar suara pagar yang dibuka, Ax membuka pintu rumahnya dan menatap pria kecil berlari masuk ke halaman rumahnya, dia berlari tergopoh-gopoh dan berhenti di depan pintu rumah mereka.


"Morning, kau sudah siap?" tanyanya.


Ax menggaruk kepalanya, dia kemudian memutuskan mempercayai bocah kecil ini. "Beri aku waktu 5 menit, aku akan segera berpakaian." Ucap Ax segera masuk ke dalam kamar dan bersiap-siap.


Junior memandang Fairley dan kotak besar yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Apa itu?" Tanyanya.


Fairley tersenyum, dia kemudian mengalihkan perhatiannya kepada bocah kecil yang penasaran dengan isi kotak itu.


"Hanya perlengkapan kebutuhan sehari-hari, kau sudah sarapan?" Tanya Fairley.


"Ya, ibuku membuatkanku sandwich, meskipun di dalamnya penuh dengan sayuran, tetapi aku tetap memakannya." Ucapnya bangga.


"Benarkah? jadi bagaimana dengan paprika, kau juga menyukainya?" ucap Fairley menahan tawanya, wajah Junior tiba-tiba mengkerut seakan menulikan pertanyaan Fairley.


"Oh ya, boleh aku tahu? Apa yang akan dikerjakan suamiku bersama ayahmu?"


"Well, hanya menggarap ladang, tanah milik ayahku cukup luas, kami tidak bisa mengerjakannya sendiri." Ucap junior sambil mengetuk-ngetukkan kakinya menuggu Ax yang baru saja keluar dari kamar.


Ax berbalik kepada Fairley dan mengecup pipinya, "Aku pergi sebentar, mungkin dengan mengikuti bocah ini, aku bisa mendapatkan pekerjaan."


"Hati-hati di jalan Ax, tapi bagaimana dengan makan siangmu?"


"Jangan khawatir, aku akan segera pulang kalau sebentar lagi makan siang." Ucapnya.


Junior memutar kedua matanya mendengarkan pembicaraan mereka berdua.


"Ayolah, kita hanya akan bertemu dengan ayahku bukan mau pergi berperang." Ucap junior menarik tangan Ax. Keduanya pergi dan berjalan bersama menuju kebun milik Junior.


~


Langkah kakinya menggema di ruangan besar itu, nampak seseorang sedang sarapan seorang diri di meja makan panjang, dia mengiris makanannya tanpa mengkhawatirkan apapun.


Dazon mengangguk, dia kemudian menyimpan peralatan makannya, menyeka mulutnya dengan serbet dan mengambil ponsel yang diberikan Thomas kepadanya.


"Halo Dad." Ucap Dazon.


"Harusnya kau lebih hati-hati lagi Daz, sepertinya ayah mengetahui apa yang kau lakukan di desa itu."


"Ya, aku tahu, tentu saja kakek akan segera mengetahuinya Dad." Ucap Dazon, matanya tiba-tiba teralihkan, dia menatap sosok gadis dari balik kaca jendela, dia sedang menyiram bunga bersama seorang wanita yang berada di sampingnya.


"Apa yang akan kakek lakukan?" Tanyanya, matanya masih terpaku pada gadis itu, dia tersenyum sambil menyiram bunga, terlihat tanpa beban seakan-akan kegiatan yang dilakukannya adalah kegiatan favoritnya.


"Entahlah Daz, tapi ingat, kakekmu selalu memegang kata-katanya, jadi sebaiknya, jangan pernah berpikir pergi kesana lagi." Ucap sang ayah.


"Oke Dad."


Dazon meletakkan ponselnya, dia tiba-tiba berdiri dari kursinya, dia berjalan sampai di depan kaca besar yang memperlihatkan pemandangan taman.


Gadis itu tiba-tiba berbalik, Seketika dia menunduk sedikit ketika mata mereka saling bertemu, begitupun wanita yang ada di sampingnya, mereka kembali mengerjakan tugas mereka, kali ini tanpa ada tawa di wajah mereka.


~


Luas tanah itu membuat Ax melebarkan matanya, seorang pria sedang menggarap lahannya, setelah menyadari kedatangan putranya dan seorang pria yang berjalan di sampingnya, dia kemudian menghentikan pekerjaannya.


"Jadi, kau yang dimaksud oleh junior? Aku baru pertama kali melihatmu di desa ini." Ucapnya.


Ax memegang tangannya, mereka saling bersalaman. "Namaku Axton sir, kami baru saja pindah ke desa ini." ucapnya.

__ADS_1


Roy memandang Ax dan menilainya, tatapannya jatuh pada bentuk tubuhnya yang tinggi tegap dan otot di perutnya terlihat jelas membentuk di kaos hitam yang dikenakannya.


"Jadi, kau ingin bekerja denganku? meskipun hanya menggarap tanah, tetapi pekerjaan ini tidak mudah, apa kau sanggup?" tanyanya.


Ax tentu saja segera menyanggupi, dia akan mengerjakan segalanya, untuk memperoleh pekerjaan di desa ini sangat sulit, tidak ada seorangpun di desa ini yang menerima seorang pekerja, mereka suka melakukan pekerjaannya tanpa membayar orang lain, apalagi Ax masih baru di desa ini, sungguh sulit, hanya untuk sekedar berbincang dengan penduduk desa ini.


Roy berjalan ke rumah kecil yang ada di sudut, tempat untuk menyimpan segala keperluan pekerjaannya, dia mengambil satu cangkul dan memberikannya kepada Ax.


"Gunakan ini, kau bisa menggemburkan tanah mulai dari ujung sana." tunjuk Roy pada sebuah papan yang diberikan tanda berbentuk tanda panah.


Ax mengambil napas panjang. "Oke sir." Ax segera berjalan dan segera mencangkul tanah yang akan di jadikan tempat menanam sayuran-sayuran.


~


Sudah dua jam mereka berdua bekerja di bawah terik matahari, Ax terlihat lelah, tetapi dia tidak menghentikan dirinya dari mencangkul tanah dengan sebaik-baiknya sampai terlihat menggembur. Dia menghapus keringat yang jatuh menetes di wajahnya, karena teriknya matahari, Ax melepaskan kaos hitam yang di kenakannya, hingga perutnya yang berotot dapat terlihat menyenangkan mata.


Roy melirik Ax, dia menaikkan alisnya dan tidak mau kalah dengan penampilan Ax, dia juga melepaskan pakaiannya, tetapi secepat itu dia mengenakannya kembali ketika melihat putranya menggeleng.


"Itu semakin memperjelas semuanya dad, sebaiknya jangan mencoba bersaing dengan perut buncit seperti itu." ucap junior sambil memainkan mainannya yang terbuat dari kayu.


~


Fairley bersenandung sambil membongkar kotak berisi semua kebutuhan pokok mereka, setelah memasukkan semuanya ke lemari dan kulkas, dia segera ke kamar, dia mengambil keranjang cucian yang berisi cucian kotor mereka, Fairley mencucinya dengan manual, dia menggunakan tangannya untuk mencuci semua pakaian mereka berdua.


Setelah menghabiskan waktu untuk mencuci, kini Fairley menyiapkan makan siang, dia mengeluarkan bahan-bahan dari kulkas, dan mulai memotong-motong semua sayuran itu di dapur kecil mereka, hari ini dia berencana membuat makanan kesukaan Ax yaitu Grilled chicken serta salad.


Fairley menatap jam di atas mejanya Sekarang sudah pukul 1 siang, makanan yang dibuatnya pun telah tersedia di atas meja tetapi Ax belum juga kembali.


~


"Hei Axton kemarilah, kita makan siang bersama." Teriaknya.


Ax menghentikan pekerjaannya dan berbalik kemudian menyimpan cangkul itu di atas bebatuan dan berjalan mendekati pondok, di sana Roy dan junior sudah duduk sambil membuka bungkusan yang dibawa oleh junior.


"Kita makan siang dulu, setelah itu kita bisa mengerjakannya lagi, dengan bantuanmu, tanah ini akan lebih cepat ditanami sayur-sayuran." ucapnya, dia memberikan sandwich tuna kepada Ax, tanpa bicara apapun, Ax melahap makanan yang ada di tangannya.


"Makanan ini lezat, terimakasih makanannya." ucap Ax, setelah makan dia meneguk air mineral di botol dan meneguknya perlahan.


"Kenapa kau memilih tinggal di desa ini? tempat ini memang tenang tetapi, kau lihat sendiri, di desa ini sangat sulit menemukan pekerjaan." ucap Roy sambil menatap Ax.


Ax berpikir sebentar lalu menjawab pertanyaannya. "Kami tinggal di sini hanya sementara waktu."


"Oh ya, itu bagus, usia seperti kalian lebih sesuai tinggal di kota yang berisik itu, kalian tidak akan berkembang jika hidup di desa ini."


~


"Membosankan, haaa mereka semua sungguh sibuk, Daneil berada di mansion kakeknya dan Ax berada di desa itu, sungguh sangat membosankan," gumam Dazon menyandarkan kepalanya di kursinya sambil menatap langit malam yang terlihat mendung.


Terdengar ketukan pintu dari ruangannya. "Masuk." ucap Dazon.


"Tuan makan malam telah siap." Ucap salah seorang pelayan kepadanya. Dazon berdiri dan kembali mengingat gadis yang menyiram bunga pagi itu. Keingintahuannya kembali menggerogotinya, dia heran, mengapa gadis yang sepertinya berusia sama dengannya bisa dipekerjakan di mansion ini?


Langkahnya semakin terdengar sampai ke ruang makan, matanya kini menelusuri setiap pelayan yang lewat, 'gadis itu tidak ada.' bisik Dazon.

__ADS_1


__ADS_2